Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 15 [ Kesendirian di Malam Hari ]


__ADS_3

Dentingan pedang yang berhadapan dengan kuku Mio terdengar sepanjang waktu. Serangan apapun yang dilakukan Hotaru sama sekali tidak mampu menggores kuku Mio. Mio menangkis semua serangannya dengan sempurna.


"Hahh... haah... hah..." Hotaru kehabisan napas. Dia sudah menyerang Mio selama lebih dari 1 jam tanpa henti.


Lucunya Mio tidak membunuhnya, dia bahkan tidak menyerangnya sekalipun sejak pertarungan (?) dimulai.


"Kau harusnya tau kapan harus menyerah."


Hotaru tak menjawab. Dalam waktu singkat, gadis itu melepas semua pemikirannya dan menarik napas panjang. Sebagaimana yang diajarkan masternya padanya dulu, Hotaru membiarkan pedangnya memimpin dirinya. Jari-jari gadis itu menguatkan pegangannya, tubuhnya agak menekuk dan mendorong tubuhnya kedepan. 


“Argghhhh!!!!” jeritan keras keluar dari mulutnya, keringat mengalir membasahi lukanya. Rambut hitamnya berkibar seperti nyala api di belakang kepalanya. Pedang katana yang beradu dengan kuku tajam menciptakan gema yang cukup indah. Pepohonan mendesir seolah di pengaruhi oleh sesuatu tak kasat mata.


Gerakannya menjadi semakin dan semakin cepat, namun Mio sama sekali tak terpengaruh oleh itu. Perbedaan level mereka terlalu besar untuk ditutupi oleh teknik dan strategi. Meski begitu sinar mata Hotaru justru semakin menyala.


"Mio-senpai! Apa kau tau kenapa perasaanmu semakin hampa belakang ini?"


"?"


TANG CLANGG TANGG


"Menurut penelitian kami... karena jumlah manusia didalam barrier ini semakin berkurang... aliran mana yang dimasukkan semakin bebas."


"Maksudku! Semakin berkurang manusia didalamnya... mana yang dimasukkan paksa ke dalam tubuh Youkai-sama akan semakin sedikit. Karenanya perubahan kalian jadi terganggu!!!" ucap Hotaru sempat-sempatnya menjelaskan ditengah pertarungan.


"Buktinya! Bukankah senpai sudah tidak merasa kesenangan pembunuhan lagi!!!"


Urat Mio berdenyut, "Jangan lupa aku juga tidak merasakan kesedihan atau rasa bersalahnya."


CLAAANGGGGGG


Entah karena kesal atau semacamnya, Mio sedikit serius hingga mementalkan pedang Hotaru jauh darinya.


"Menyerahlah, kau tidak mungkin menang."


Mendengar itu, Hotaru hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang mengandung kesedihan dan keputusasaan serta rasa bersalah yang terus membebani pikirannya.


"Sejak awal aku tau aku tidak mungkin menang."


"....."


"Nee, Mio-senpai... apa kamu tau berapa banyak manusia yang masih hidup disini?"


"......"


"Hanya aku. Hanya aku kau tau. Anak yang kau bunuh tadi... adalah rakyat Amamiya yang terakhir," sesal Hotaru.


"..... Lalu?"


"!"


Hotaru tidak tau lagi harus berkata apa. Setiap kali yang keluar dari mulut Mio hanyalah kata-kata dingin yang menusuk hatinya.


Tidak ada lagi rakyat yang bisa dia lindungi. Sejak awal pembantaian ini, dia berkali-kali dilindungi namun tak pernah berhasil melindungi. Dia sudah siap akan kematiannya sedari awal. Satu-satunya harapannya dari pertarungan ini adalah... bisa mendengar suara hangat Mio yang biasanya.


"Sepertinya percuma saja ya..." gumamnya sedih.


Hotaru dengan cepat menarik tusuk rambutnya. Tusuk itu sudah sangat diruncingkan hingga menjadi seperti jarum raksasa. Gerakan tangannya yang cepat dan gesit membuat Mio langsung waspada jika jarum itu di arahkan padanya.


SLAAAASSSHHHHH


"!!!!"

__ADS_1


Namun... bukannya mengarah ke Mio, jarum itu justru menyobek lehernya sendiri.


Mio terbelalak kaget, tak dia sangka Hotaru akan melukai dirinya sendiri. Darah yang mengalir deras dari leher Hotaru membuat pupil Mio sedikit gemetar.


"..... Hal bodoh macam apa yang kau lakukan?" tanyanya tetap dingin.


"Maaf... Mio... senpai..." ucapnya dengan tenaga terakhirnya.


".... Aku... sudah... tidak kuat... lagi..."


Mio diam tak bergeming sambil memegangi tubuh Hotaru yang mulai dingin. Perasaannya campur aduk. Dia tidak tau perasaan macam apa yang sebenarnya ada dalam dirinya sekarang.


Disisa-sisa kesadarannya, Hotaru menyempatkan diri tersenyum untuk terakhir kalinya pada Mio.


"Tuh kan... kamu... memang Mio-senpai bagaimanapun juga..."


"......"


Tanpa Mio sendiri sadari, air mata mengalir dari mata kirinya. Di tengah ekspresinya yang sangat tenang itu, rasa sesak menguasai sebagian dari dirinya.


"Kenapa... kenapa aku merasa aneh karena tidak merasakan apapun sekarang? Kenapa aku merasa marah karena tidak menghentikannya? Kenapa... bagian kosong dalam diriku begitu menyesakkan sekarang?"


"Kenapa... aku jadi seperti ini?"


.


.


.


.


.


.


"!?"


Bulu putih bersih yang selalu Mio bawa kemana-mana sebagai hiasan pakaiannya mendadak bersinar. Sinarnya begitu menyilaukan cahaya keemasan hingga Mio tak bisa mengalihkan pandangan darinya.


Tepat setelah sinar itu memudar, mata Mio kembali berwarna merah kemudaan seperti sebelumnya.


"......."


Hal pertama yang Mio lakukan setelahnya adalah memandang wajah Hotaru yang mulai membiru sambil sesekali diselingi melihat sekelilingnya.


Di tengah langit malam yang tenang dan dingin, hanya tersisa kesunyian yang menyesakkan. Tak ada suara, tak ada gerakan. Tersisa tubuh tak bernyawa dan darah yang menyebar dimana-mana. Bau darah dan mayat yang menyengat hidungnya tak begitu dia pedulikan. Mio seakan membutuhkan waktu untuk merespon semua yang baru dilihatnya.


Kali ini, gadis itu melihat kedua telapak tangannya yang berwarna merah darah. Darah Hotaru yang masih segar menutupi kedua tangannya.


TES TES TES


"Ah... aku... apa yang... aku lakukan?" tanya Mio pada dirinya sendiri.


Dipeluknya tubuh dingin tak bernyawa itu sangat erat. Kepala Mio tenggelam dalam pelukan itu. Dia tak peduli meski wajahnya basa oleh darah Hotaru.


"Hotaru... maaf... maafkan aku... aku minta maaf..."


Sekarang yang tersisa hanyalah... seorang gadis Kitsune sendiri di gelapnya malam yang sepi.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Istana Arc-Angel, Benua Melayang


TOK TOK TOK


"......."


Hening, tak ada jawaban atas ketukan pintu itu. Gabriel dan Raphael berdiri didepan kamar Luciel dengan wajah penuh tanda tanya. Di tangan Raphael ada nampan berisi makanan yang sengaja dia bawakan untuk Luciel yang belum makan apapun sejak dia masuk ke kamar hari itu.


Gabriel bermaksud menemani Raphael sembari memastikan keadaan Luciel.


"?"


"Apa Lucy gak ada di kamar?" tanya Raphael bingung.


"Tidak mungkin. Kata Malaikat yang menjaga didepan, Lucy sama sekali tidak keluar kamar," jawab Gabriel sama bingungnya.


"!!!"


Pemikiran mereka seketika menuju pada hal yang sama. Tanpa mempedulikan izin dari pemilik kamar, Gabriel langsung mendobrak pintu kamar Luciel yang terkunci.


"LUCY!!!?"


Pilihan mereka bisa dibilang tepat. Hal pertama yang mereka lihat adalah tubuh lemah Luciel yang terbaring di lantai dingin. Raphael menjatuhkan nampannya dan bergegas lari ke Luciel bersama Gabriel.


Beberapa kali Gabriel mengguncang tubuh Luciel sambil menyebut-nyebut namanya, namun sama sekali tak ada reaksi dari wanita itu. Tubuhnya panas hebat dan wajahnya terlihat sangat kesakitan. Napasnya berantakan dan bulu-bulu sayapnya rontok. Jelas Luciel sedang tidak baik-baik saja.


"Bertahanlah Lucy!!!!"


Gabriel langsung menggendong Luciel di lengannya dan dengan cepat membawanya keluar kamar untuk di obati.


Belum sempat Raphael keluar bersama Gabriel, tubuhnya berhenti karena melihat sesuatu. Di meja kerja Luciel, beberapa buku yang terbuka dengan rapi menunjukkan alasan Luciel menjadi seperti itu. Raphael tau kalau Gabriel pasti akan menyelamatkan Luciel bagaimanapun juga. Jadi dia memilih menyelidiki penyebab temannya seperti itu.


Dibacanya buku itu beberapa kalimat. Semakin dia membacanya, semakin tak percaya dirinya dengan apa yang dibacanya. Tak berhenti disana, Raphael langsung menoleh ke penjuru kamar Luciel. Hal yang tak mereka sadari sebelumnya telah ditemukan.


Sebuah lingkaran sihir rumit yang terlukis di lantai kamar Luciel menyita perhatiannya.


"Lucy... kamu..."

__ADS_1


Raphael sangat tidak ingin percaya, namun semua fakta yang dilihatnya terlampir terlalu jelas. Wanita itu keluar dengan perlahan dari kamar Luciel agar tidak merusak barang bukti terlalu jauh.


"Aku harus mengatakan ini ke Ury dan Gaby!"


__ADS_2