
"Youkai-sama!!! Tolong kendalikan diri Anda!!!!!"
"Tidak!!!!!!! Hentikan!!!!!!!!!!"
"Mama!!!!!!!"
"Lilia-sama... tolong jangan sentuh anak saya. Saya akan menggantikannya!!! Jadi saya mohon!!!!"
"Jangan!!!!!!!!"
"Youkai-sama... kumohon jangan bunuh dia..."
"BAJINGAN!!!!!!!!!"
"Menjauhlah darinya!!!!!!!"
"Aku tidak mau mati!!! Siapapun tolong!!!!!!"
"Kota-sama... bukankah Anda sudah berjanji akan menikahi ku....?"
"Lepaskan dia!!!!!"
"HUAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"
"Ka-kazuha... sama!?"
"Lepaskan aku!!!!!!"
"Ku... mohon... sadarlah... Youkai-sama..."
"Kerajaan Amamiya tidak akan pernah melupakan ini!! Kitsuna Mio!! Kau akan membayar dosa ini nanti!!!"
Kekacauan besar terjadi bukan hanya di ibukota Kerajaan Amamiya, melainkan di seluruh penjuru kerajaan. Secara tiba-tiba, Youkai yang sudah melindungi Kerajaan Amamiya selama lebih dari 300 tahun melakukan pembantaian pada rakyat tanpa pandang bulu.
Tentu rakyat mengetahui kalau perubahan itu terjadi bukan karena para Youkai, tapi disebabkan pihak luar yang menyabotase sesuatu. Namun hal itu sama sekali tidak mengurangi ketakutan rakyat akan Youkai yang bergerak seperti monster haus darah yang mengejar mereka.
Bahkan dengan sihir yang tersegel, tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan para Youkai berburu mangsa. Bagian paling mengerikan dari itu bukanlah para Youkai yang tiba-tiba membantai mereka. Melainkan fakta bahwa para Youkai tersenyum kesenangan ketika melakukan pembantaian itu.
Terkadang, alih-alih langsung membunuh rakyat, para Youkai justru mempermainkan hidup mereka seperti seorang psikopat.
Luar Barrier Kerajaan Amamiya
"Tuan Kardinal, apa benar tidak apa-apa pemusnahan Kerajaan Amamiya dilakukan dengan cara seperti ini?" tanya seorang ksatria suci pada atasannya.
Ksatria suci itu merasa tindakan yang mereka lakukan sangat tidak manusiawi. Kardinal menyabotase jiwa para Youkai sehingga saat berada dalam kondisi kutukan, mereka memiliki kegelapan jauh lebih banyak dari cahaya.
Melihat keraguan bawahannya, Kardinal itu tersenyum licik.
"Selama ini kita memusnahkan mereka sendiri. Jadi menurutku ini lebih baik. Tak perlu mengotori tangan dengan darah tercemar mereka."
"......" Sang ksatria tak bisa berkata-kata. Jelas hal ini melanggar kode etik ksatria. Tapi memang benar kalau memusnahkan keturunan makhluk dunia lain adalah pekerjaan kotor ksatria suci.
"Atau apa!? Kau merasa simpati pada mereka!?" tanya Kardinal penuh penekanan.
"!"
"Tidak! Saya tidak berani! Saya tidak akan melanggar perintah Yang Mulia Paus!!" jawabnya cepat.
Sang Kardinal tersenyum, "Bagus. Jadi diamlah dan lihat sampai habis. Kita harus memastikan tak ada seorangpun yang selamat dari Kerajaan itu."
__ADS_1
"Baik!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ibukota Kerajaan Amamiya
"Mio-sama... kenapa...?"
Tubuh seorang ibu yang tubuhnya ditembus tangan Mio gemetaran didepan ajalnya. Tak jauh darinya, ada beberapa anak-anak yang gemetaran ketakutan. Melihat itu, Mio tidak merasakan apapun.
SLAAAASSSHHHHHHH
Tak mempedulikan itu sama sekali, Mio hanya melihat tangan kanannya yang penuh darah. Dia diam sejenak, sebelum akhirnya menjilat darah di tangannya.
"..... Tidak enak..." batinnya tak puas.
"KENAPA!!!?"
"?"
"KENAPA ANDA MELAKUKAN INI!!!?? BUKANKAH ANDA ADALAH YOUKAI PELINDUNG KERAJAAN INI!!!!!!!?" jerit salah satu anak wanita itu dengan mata penuh dendam dan kebencian.
Mio hanya melihat anak itu tanpa menjawabnya.
"Kenapa?"
"Itu bukan urusanmu, bocah!" jawabnya malas.
Anak itu tidak terima ibunya dibunuh dengan tidak adil. Apalagi pembunuhnya adalah orang yang paling dia kagumi. Tanpa memiliki keraguan sedikitpun, anak itu mengambil pisau dapur dan berlari secepat mungkin ke arah Mio sambil mengacungkan pisau itu.
"AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!!!!!!!!"
Gerakan anak itu lambat, sangat lambat di mata Mio. Kitsune ini dengan mudah menghentikannya hanya dengan satu jari. Sebelum si anak sempat melakukan hal lain, tubuh anak itu berputar bagai cucian baju yang baru diperas melintir.
"Kau terlalu banyak bicara, bocah."
"ONII-CHAN!!!!!!!!" tangis adiknya.
__ADS_1
Tak seperti kakaknya, sang adik hanya bisa gemetaran ketakutan tanpa berani mengambil tindakan. Mio tidak punya niatan melepas sang adik begitu saja. Dengan kecepatan yang tidak manusiawi, dia bergerak ke arah sang adik dan menggenggam kepalanya yang kecil dengan tangan kirinya.
"Ahhh.... ahh.... hiks... Okaa-san... Onii-chan... tolong aku..."
Anak itu hanya bisa menangis dan menangis saja. Dia tau dengan jelas kalau kematianlah yang menunggunya.
Sudah dua hari berlalu sejak para Youkai mengalami kondisi tak biasa ini. Dan dalam waktu itu pula, sudah ribuan rakyat yang dibunuh Mio. Pada mulanya, semakin banyak rakyat yang dibunuhnya, semakin senang pula dirinya. Namun akhir-akhir ini, entah kenapa perasaan Mio mulai hampa.
Rasanya dia sudah tidak membunuh untuk bersenang-senang, melainkan sebatas menuntaskan kewajiban. Karena hal itu, gerakan Mio menjadi lebih mudah terbaca dan lebih tenang.
CTAAASSS
Anak panah di tembakkan dan tepat kena di tangan kiri Mio. Namun Mio tidak mengendurkan genggamannya sama sekali. Dia hanya menoleh sedikit untuk mengetahui siapa yang berani menyerangnya.
"Cukup!! Hentikan ini Mio-senpai!!!!!!!!!!"
Dari arah datangnya panah itu, berdiri seorang gadis dengan pakaian compang camping dan beberapa luka ditubuhnya. Mio ingat dengan jelas beberapa hari yang lalu gadis itu tidak akan mengeluarkan tatapan seperti itu. Tapi sekarang, gadis itu menatapnya tajam penuh kemarahan.
"Hotaru? Hebat juga kau masih hidup," ucap Mio malas.
Anak di genggaman tangan Mio merasa sedikit lega karena keberadaan gadis itu. Tapi sayangnya kelegaan itu tak bertahan lama. Dalam waktu sepersekian detik, Mio sudah meledakkan kepalanya hanya dari genggaman tangan.
"!!!"
Hotaru, Tuan Putri Amamiya dipenuhi rasa bersalah, marah dan benci di saat yang sama. Dia berjalan mendekati Mio tanpa rasa takut.
"Mio-senpai... sudah 2 hari sejak hari itu... apa senpai tau betapa banyaknya hal yang terjadi padaku!? Pada kami!!?"
"...... Aku tidak tau, dan aku tidak peduli."
Hotaru kesal, "Hah!!"
"Pasukan samurai yang melindungiku, pelayan yang melayaniku, rakyat yang berada dalam perlindunganku... apa senpai tau berapa banyak dari mereka yang tewas!?"
Perasaan Mio sedikit memburuk, entah karena kata-kata Hotaru atau karena perasaannya semakin sensitif.
"Jadi? Apa yang ingin kau katakan!?"
Hotaru sangat kesal, dia benar-benar mencaci maki Mio dalam dirinya. Tapi di saat yang sama, dia juga mengingat betapa hangat dan baiknya para Youkai selama ini.
"Mio-senpai... kau pasti akan menyesal."
"Tidak akan."
"Tidak, kau pasti. Mio-senpai yang kukenal bahkan akan merasa bersalah sepanjang hari karena membuat anak kecil menangis. Kalau... kamu tidak berhenti disini... kamu akan menyesalinya seumur hidup, Mio-senpai!"
"......."
Untuk pertama kalinya Mio merasa kesal sejak perubahannya. Dia berkali-kali dikutuk dan disumpahi saat membantai rakyatnya, tapi mendengar kata-kata sederhana itu dari mulut Hotaru lebih menusuk hatinya. Ditambah ekspresi gadis itu yang penuh rasa menyesal dan simpati itu membuat Mio semakin panas.
"Kau masih hidup sampai sekarang! Seharusnya kau jangan cari mati, Hotaru!"
Mio membuang muka, dia mengabaikan Hotaru begitu saja.
"Mio-senpai!!!!"
"Ck, kenapa lagi kau ini!!? Bukannya bersyukur aku tidak membunuhmu sekarang juga!!!"
"Apa kau yang sekarang... merasa bersalah dan bersedih barang sedikit saja kalau aku mati?" tanya Hotaru sesak.
__ADS_1
"Tidak akan."
"Haha... jadi begitu... baguslah... lalu aku bisa membunuhmu tanpa rasa bersalah!" tegasnya.