Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 16 [ Kenekatan Sang Arc-Angel ]


__ADS_3

Melihat teman baiknya terbaring lemah di ranjangnya, Uriel tidak tau harus berkata apa. Beberapa waktu yang lalu, Gabriel yang menggendong Luciel di lengannya mendobrak paksa pintu kamar Uriel saat ia sedang bekerja. Melihat kepanikan Gabriel, Uriel tetap tenang dan langsung menyuruh Gabriel membaringkan Luciel di kasurnya.


Gabriel yang terlalu panik tidak bisa berpikir rasional, dia bahkan tidak sadar kalau Raphael tidak mengikutinya.


Barulah setelah beberapa saat di ceramahi Uriel, Gabriel mulai tenang. Dia membiarkan Uriel memeriksa keadaan Luciel. Tak sulit baginya sebagai Arc-Angel tercerdas untuk mengambil tindakan mengobati Luciel.


Uriel kelelahan, terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini disekitarnya.


"Lucy seharusnya baik-baik saja sekarang."


"Syukurlah..." senyum Gabriel lega.


Ditatapnya Gabriel agak lekat, "Anak itu... kenapa Lucy bisa sampai begitu?"


"Ini bukan penyakit normal. Jelas ini adalah gejala kehabisan mana ekstrim. Kita para Arc-Angel punya kapasitas mana yang luar biasa besar. Saat kita yang seperti itu bisa kehabisan mana hanya saat melawan Dewa Kejahatan."


"Jadi bagaimana anak ini bisa begitu?" tatap Uriel tajam.


Gabriel gelagapan harus menjawab apa, dia memang tau kalau Luciel sedang melakukan sesuatu. Tapi dia tidak tau sesuatu itu apa.


"I-Itu... itu loh... itu..."


"Sepertinya aku tau alasannya!" ujar sesenang langsung menarik perhatian mereka.


Orang itu adalah Raphael, dia berdiri didepan pintu sembari melihat Luciel yang mulai membaik setelah Uriel melakukan transfer mana padanya.


"Apa itu?" tanya Uriel.


"Si Lucy ini... dia melakukan transfer mana cahaya ke sayapnya sendiri," jawab Raphael tak habis pikir.


"?"


"Kenapa juga dia melakukan itu?"


"Beberapa waktu lalu, Lucy marah karena mendengar pemusnahan Kerajaan Amamiya, kan? Aku yakin itu karena si anak kecil yang selalu dia bicarakan dulu itu juga tinggal disana. Melihat meski 300 tahun sudah berlalu dan anak itu masih hidup (menurut Luciel) artinya dia bukan manusia," terang Raphael.


"Benar. Aku juga langsung berpikiran begitu. Anak itu pasti salah satu dari Youkai yang melindungi Kerajaan Amamiya," balas Uriel.


"!!"


"Tunggu...!" Uriel menyadari sesuatu dari kata-katanya sendiri.


"Jadi begitu maksudmu Raphael. Kalau begitu, semuanya jadi masuk akal."

__ADS_1


"Ya kan? Tak habis pikir Lucy sampai sebegitunya. Anak itu jauh lebih penting dari yang kukira," kata Raphael.


Gabriel, "?"


"Ha~ahh... kalau karena itu, kita benar-benar harus memarahi Lucy saat dia bangun nanti. Memang hal yang dia lakukan tidak melanggar hukum. Tapi itu membahayakan nyawanya. Dia ini kelewat bodoh apa?" ejek Uriel.


Gabriel, "?"


"Ayolah... begitu-begitu dia temanmu loh~"


"Dia temanmu juga!"


Gabriel, "💢💢💢"


Gabriel tak tahan lagi, "Kalian berdua!! Dari tadi kalian itu bahas apaan sih!? Jelaskan dengan benar dong, biar aku yang lamban ini juga bisa mengerti!!!" bentaknya kesal.


Uriel dan Raphael saling pandang sebelum mereka tertawa karena ekspresi Gabriel.


"Oi!! Aku serius loh!!!"


"Baik, baik... maafkan aku Gaby. Jangan merajuk gitu ah! Biar ku jelasin," seru Raphael masih geli.


"Ekhm... seperti yang kamu tau, anak yang disayang Lucy itu adalah Youkai. Dan Youkai adalah target utama kuil suci kali ini. Berkat laporan kemarin, kita tau kalau rencana mereka adalah menyabotase mana cahaya dan kegelapan dalam tubuh Youkai itu dan memaksa mereka dalam kondisi kutukan di tengah mana kegelapan."


"Karena itu sifat mereka akan menjadi lebih gelap karena ketidak seimbangan mana dalam tubuh ditambah kekacauan aliran mana."


"Jadi... intinya, untuk menetralkan ketidakseimbangan mana itu, perlu menambahkan mana cahaya yang notabenenya sangat kurang. Tapi karena Lucy tidak bisa turun langsung untuk membantunya, dan tak ada ras lain selain Saintess yang memiliki mana cahaya sebanyak itu, Lucy terpaksa mengambil pilihan paling merepotkan."


"Ah!! Jangan bilang!?"


"Ya, pilihan itu adalah melakukan transfer mana dengan mediator. Transfer mana yang dilakukan dengan cara itu akan menggandakan jumlah mana yang dibutuhkan," lanjut Raphael.


"Eh... kalau cuma berganda, harusnya gak sampai bikin Lucy kehabisan mana, kan?" bingung Gabriel.


Uriel mengambil alih penjelasan, "Ya memang. Itu tidak selesai sampai disana."


"Satu-satunya mediator mereka berdua adalah bulu sayap Lucy yang dia berikan 300 tahun lalu. Tapi kau tau sendiri, 'bulu' saja tidak bisa dijadikan objek mediator itu. Untuk melakukan transfer mana spesifik ke salah satu bulu dari ratusan bulu di sayapnya adalah hal yang mustahil."


"Ah!! Jadi karena tidak bisa ke salah satu, makanya Lucy mentransfer mana cahaya ke seluruh sayapnya!" akhirnya Gabriel mulai memahami arah pembicaraan mereka.


"Benar. Dia melakukan itu dengan harapan, bulu di tangan anak itu bisa membantunya keluar dari ketidakseimbangan mana," jawab Raphael.


"Dengan begini bisa dikatakan... anggap mana yang dibutuhkan anak itu agar cahaya dan kegelapannya bisa seimbang adalah 100. Setelah di gandakan menjadi 200, lalu agar 200 mana itu bisa sampai ke bulu yang dibawa anak itu, Lucy harus mengeluarkan mana sebanyak 200 untuk setiap bulu sayapnya."

__ADS_1


"Perkirakan saja bulu di sayap Lucy ada 600 helai. Dengan begitu kurang lebih mana yang harus dikeluarkannya ada 200×600 atau sekitar 120.000 mana," sambung Uriel.


"......."


Gabriel terdiam-diam, bingung harus membalas apa.


"GILA YA!!!!!"


Jeritan yang keluar dari mulutnya, mewakili apa yang dipikirkan Uriel dan Raphael tadi.


"Kita, Arc-Angel cuma punya 100.000 mana loh!!! Tapi dia transfer 120.000!!?? GILA YA!!?? Darimana dia dapat sisa 20.000 nya!?" pusing Gabriel.


Raphael mengangguk setuju, "Ya kan!!!"


Uriel sangat setuju juga dengan mereka. Wanita itu melirik Luciel yang baru saja melakukan hal segila itu sendirian. Ditariknya pipi Luciel hingga sedikit mengendur seperti bakpao.


"Padahal dia bisa meminta bantuan kami juga."


"Dasar bodoh."


"Kembali ke pertanyaanku yang tadi. Darimana Lucy mendapat sisa 20.000 mana-nya?" tanya Gabriel lagi.


Uriel menggeleng tanda tak tau. Sementara itu, Raphael bingung harus berbuat apa. Dia menggenggam lengan kanannya dengan tangan kiri dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Sejujurnya pertanyaan yang satu ini agak sulit dijawab Raphael.


"..... Dia... sepertinya menukar darahnya untuk itu..." jawabnya berat.


"!!!??"


"APA!!!?? LUCY APA!!!???" shock Gabriel dan Uriel.


"...... Kalian bisa melihatnya sendiri di kamar Lucy. Lingkaran sihir yang ada disana... itu adalah lingkaran perjanjian dengan spirit. Kalau membahas spirit, yang mereka inginkan dari kita para Arc-Angel sudah pasti darah kita, kan?" jawab Raphael ragu.


Uriel berpikir sejenak sembari memijit pelipisnya.


"Menukar darah salah satu Arc-Angel pertama dengan spirit... anak itu sudah tidak waras. Dia jelas tau betapa berharganya darahnya. Tapi bisa-bisanya, astaga!!!"


Darah dari 3 Arc-Angel pertama sangatlah berharga. Saking berharganya, berbondong-bondong orang dari berbagai ras yang mengincarnya meski nyawa taruhannya. Satu tetes darah Arc-Angel pertama setara dengan satu tetes embun Yggdrasil yang merupakan potion tingkat Legend. Selain itu, jika seseorang meminum darahnya saat berada di level puncak, mereka bisa menembus batasan yang normalnya mustahil untuk ditembus 99% orang.


Namun darahnya juga bisa menjadi sangat fatal. Darah Arc-Angel pertama bisa menjadi anugerah saat mereka merestuinya. Dan saat tidak, maka darah mereka akan menjadi racun yang mana siapapun yang meminumnya, bahkan makhluk di luar batasan, bisa tewas seketika.


"Kita benar-benar harus memarahinya nanti. Tidak, malahan dia harus diberi hukuman biar sadar betapa nekat tindakannya."

__ADS_1


Gabriel dan Raphael mengangguk bersamaan.


"Setuju!"


__ADS_2