
"Hahhh... haah... hahh...."
Sudah ribuan mil Kaleena berlari tanpa istirahat sambil menggendong Mio di punggungnya.
Meskipun wanita itu juga belum istirahat sama sekali sejak pergi dari Kekaisaran Levana, dia terus memacu kakinya untuk terus berlari tanpa henti. Beberapa kali kaki wanita itu terkilir hingga patah, namun dia tidak mengendurkan kecepatannya. Setiap kali kakinya mengalami masalah, wanita itu menebas kakinya sendiri hingga kakinya tumbuh kembali agar dia bisa terus berlari tanpa henti.
Menyakitkan memang. Tapi tidak bisa berbuat apapun meski keluarganya di bunuh dengan kejam jauh lebih menyakitkan.
Selain karena adiknya dalam kondisi sekarat dan membutuhkan pertolongan, alasan dia terus berlari tanpa istirahat barang sesaatpun adalah karena...
"Apa kau melihat perempuan ini?" tanya seorang pria berarmor putih keemasan pada warga desa sembari memperlihatkan kertas bergambar wajah perempuan.
"Tidak... memangnya ada apa, tuan ksatria? Apa gadis ini melakukan sesuatu?"
"Dia buronan! Buronan dengan tingkat kejahatan tertinggi. Jika kau melihatnya, segera hubungi kami! Dan jika ada yang berani menyembunyikan atau menolongnya, maka mereka akan menjadi musuh Benua Suci!"
Jawaban dari ksatria itu membuat warga desa bergidik ngeri. Mereka mengangguk ketakutan dan menanamkan kata-kata ksatria itu di hati mereka agar mereka tidak ikut terjerumus dalam bahaya.
"Sialan! Mereka cepat sekali! Baru 2 hari saja sudah menyebar di Benua Sihir," batin seorang wanita berjubah coklat kesal.
Wanita itu menurunkan gadis kitsune berjubah sama yang merupakan adiknya itu di bawah pohon. Dengan skill wanita itu, dia membuat pohon-pohon menutupi tubuh dan aura mereka.
Saat ini wanita dryad itu tengah berada di tenggara Benua Sihir. Tujuannya yang berada di tepi laut mengharuskannya pergi cukup jauh dari posisi awalnya. Mempertahankan sihir tingkat Epic yang bisa membekukan waktu di area kecil dalam waktu lama menguras habis mana-nya. Kaleena beberapa kali terpaksa membunuh tumbuhan yang seharusnya dia lindungi dengan cara dihisap daya hidupnya untuk dijadikan mana.
Wanita itu bisa mendengar jeritan-jeritan tumbuhan yang kesakitan atau yang mencerca tindakannya, namun dia sama sekali tidak mempedulikan itu sekarang. Meski tumbuhan adalah temannya, dia rela membunuh mereka demi bisa menyelamatkan adiknya.
"Dugaanku benar. Siapa sangka si paus sinting itu melakukan sesuatu yang aneh sehingga satu kekaisaran teleport ke ujung timur Benua Suci!" batin Kaleena.
"Bagus sih gak ada korban jadinya, makanya Mio gak ditagih hukuman ilahi. Tapi jala*g itu langsung mengecap kami jadi buronan tingkat tertinggi yang harus dibawa hidup atau mati! Yang bingungin, sebenarnya darimana wanita itu dapat kekuatan sebesar itu!? Menteleport 1 kekaisaran itu termasuk sihir tingkat Mythic!! Wanita itu cuma makhluk didalam batasan, sebenarnya gimana caranya!!?"
BUUUUGGGGHHHH
Kaleena memukul pohon disebelahnya hingga tangannya terluka.
"Gak, itu gak penting sekarang. Yang penting, wanita itu punya kekuatan tersembunyi hingga bisa memakai sihir tingkat Mythic, dia memang berbahaya! Aku harus secepatnya pergi ke tempat beliau!"
"Saat ini, satu-satunya yang bisa melindungi kami dari orang sinting itu hanya beliau!"
Kaleena berhenti istirahat walau belum 15 menit dia menurunkan Mio. Dia segera menggendong Mio lagi di punggungnya dan kembali berlari lurus ke tenggara. Sejujurnya Kaleena sendiri belum pernah bertemu siapapun itu yang mungkin bisa membantunya. Hanya saja, masternya pernah berpesan pada dirinya...
"Kaleena... jika suatu saat nanti setelah aku tiada, kalian menjumpai masalah atau salah satu dari kalian terluka parah dan butuh perlindungan... maka pergilah ke tempat ini. Disana akan ada yang dapat membantu kalian. Dia adalah orang yang canggung dan tidak jujur, namun dia orang yang baik. Bila kalian mengatakan kalian adalah muridku, dia pasti akan membantu kalian."
"Dia siapa master?"
Penyihir Agung tersenyum, "Dia adalah guruku."
Pesan masternya itulah harapan terakhir Kaleena untuk menyelamatkan adiknya. Jika hanya dia sendirian, maka Kaleena tak akan sejauh ini. Karena Kaleena bisa berubah menjadi pohon sepenuhnya dan mengalami kondisi "sleep" dalam waktu yang cukup lama. Cukup lama hingga orang-orang akan lupa dengan dirinya. Tapi itu artinya dia melarikan diri sendirian. Dan dirinya sama sekali tidak menginginkan itu.
"Bertahanlah sedikit lagi, Mio. Kita akan segera sampai! Ke tempat masternya master!"
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Istana Arc-Angel, Benua Melayang
Kecemasan yang menyelimuti istana para malaikat ini tak kunjung reda. Bagaimana tidak? Pasalnya salah satu dari keempat Arc-Angel yang tersisa hingga kini belum membuka matanya. Arc-Angel lain telah membungkam mulut para malaikat di istana agar kecemasan itu tak keluar, meski hasilnya membuat malaikat yang ada di dalam justru semakin cemas.
"Ini sudah lebih dari 3 hari... kapan Lucy akan bangun?" ucap Gabriel khawatir.
"Dia tidak akan mati, kan?"
"Hush!!! Kamu itu!!! Ya kali Arc-Angel bisa mati cuma karena kehabisan mana. Lagian Ury dan aku sudah mengisinya kembali!" sanggah Raphael agak marah.
"Lalu kenapa Lucy masih belum bangun juga????" mewek Gabriel.
"I-itu..."
Melihat kecemasan kedua saudarinya, Uriel hanya termenung menatap Luciel yang terlelap dalam mimpinya.
"Lucy tidak akan kenapa-kenapa. Jangan khawatir berlebihan begitu. Dia kuat, dia Arc-Angel terkuat setelah Azrael, kan?"
"Daripada mengurusi sesuatu semacam itu, lebih baik alihkan pikiran kalian untuk hal lain," potong Uriel.
"?"
"Hal apa?"
Uriel melirik ke luar jendela kamarnya. "Sesuatu yang begitu dipedulikan Lucy."
Raphael berpikir sejenak, kemudian dia menyadari maksud Uriel.
"Ah, anak itu!?"
"Iya," angguk Uriel.
"Anak itu... dia yang membuat masalah dengan Benua Suci dan menjadi buronan, kan?" timpal Gabriel tak senang.
Bukannya dia membenci Mio atau semacamnya. Hanya saja dia tidak suka fakta bahwa spirit beast buatan itu membuat saudarinya rela melakukan hal nekat semacam ini.
"Kenapa dengan anak itu?"
Uriel menyeruput tehnya, "Kalau seperti ini terus, cepat atau lambat anak itu akan ditangkap Kekaisaran Anessa."
"Memangnya kenapa? Itukan bukan urusan kita," balas Raphael jujur.
Memang terkesan kejam, tapi yang Raphael katakan benar. Malaikat biasa saja dilarang terlibat dengan urusan manusia dan ras sejenisnya, apalagi Arc-Angel yang merupakan pemimpin mereka. Mereka memang harus bersikap dingin begitu demi menjaga keseimbangan dunia.
__ADS_1
TUK
Uriel meletakkan kembali cangkir tehnya. "Kau yakin? Kalau anak itu tertangkap, kita tidak tau lagi hal nekat macam apa yang akan dilakukan saudari kita yang bodoh ini."
"Ah..."
Seketika ketiganya melihat Luciel yang terbaring di kasur dengan mata lelah. Kalau bukan karena Luciel, mana mungkin mereka repot-repot memikirkan makhluk di dalam batasan yang tak mungkin terlibat dengan mereka selama mereka belum menembus.
"Tapi anak itu sudah menembus, kan?"
"Ya memang, anak yang baru menembus begitu langsung memakai sihir tingkat Mythic sendirian meski tak punya berkat pahlawan seperti gurunya, aku yakin tubuh dan jiwanya hancur."
"Maksudnya?"
"Maksudnya bisa saja kekuatannya rusak atau malah hilang sepenuhnya. Kemungkinan terburuk... gadis itu tidak bisa memakai sihir lagi karena aliran mana yang rusak permanen atau levelnya turun jauh."
"Kenapa kau tidak berpikir kematian adalah kemungkinan terburuknya?"
"Dia tidak akan mati."
"Pede amat, bisa ajakan?"
"Tidak akan."
Gabriel dan Raphael kesal karena Uriel terlalu percaya diri begitu.
"Makanya jelasin kenapa tidak mungkin!!?"
Uriel menghela napas kecil, "Apa kalian lupa? Seseorang yang pasti akan menolong mereka karena hubungan mereka dengan Penyihir Agung?"
Gabriel dan Raphael terdiam sejenak, memikirkan siapa yang dimaksud Uriel.
"Jangan bilang!?"
"Ya."
"Satu-satunya makhluk yang memihak anak itu (Penyihir Agung) saat dia masih baru saja tiba di dunia ini. Satu-satunya makhluk yang tidak mendiskriminasi ras apapun sekaligus guardian Demetria. Dan satu-satunya orang yang disebut Master oleh wanita yang mengalahkan raja iblis."
"Orang itu pasti akan menyelamatkan gadis itu bagaimanapun caranya," sambung Uriel.
"Benar juga, kalau itu dia... pasti anak itu akan selamat. Meski entah akan gimana jadinya," ucap Raphael
"Masalahnya gimana caranya dia yang sekarat itu pergi ke tempat orang itu?" tanya Gabriel.
"Mudah saja, Lucy sudah memprediksi hal ini. Itukah kenapa dia mengirim surat ke murid pertama Penyihir Agung yang berada di Kekaisaran Levana kala itu. Bukan demi menyelamatkan Kerajaan kecil itu, tapi demi menyelamatkan anak itu dan membawanya ke orang itu karena Lucy tau bahwa Penyihir Agung pasti memberitahu lokasi orang itu pada murid-muridnya," jawab Uriel.
"Lucy memprediksi semua itu dan melakukannya dalam waktu sesingkat itu!!?? Hebat!!!!"
"Yah... karena dia jahil, ceroboh dan gegabah, kita sering dibuat lupa kalau dia itu salah satu dari 3 Arc-Angel pertama yang memiliki kekuatan, kecerdasan dan pengalaman yang lebih tinggi dari kita."
"Pufftt... hahahahahaha, bener juga."
"Baiklah, kembali ke topik. Kita bisa serahkan urusan anak itu ke orang itu, kalaupun dia melanggar hukum karenanya, itu bukan urusan kita."
Uriel menyibak rambut Luciel dengan lembut. "Yang harus kita lakukan agar Lucy tidak bertindak gegabah begitu bangun dan masih dalam batasan hukum sehingga kita tidak mendapat hukuman adalah membantu memastikan Kekaisaran Anessa tidak bisa menemukan anak itu."
__ADS_1
"Oke!!!!"