Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 2 [ Sungai Merah Wine ]


__ADS_3

"Omong-omong, Kota-nii… apa sungai merah tadi beneran?" tanya Mio polos dengan mata berbinar-binar.


Kota agak ragu menjawabnya, karena dia tau Mio akan langsung pergi kesana.


"Aku sudah bilang, itu cuma rumor. Mengingat baunya seperti wine, bisa saja memang benar Wine tumpah."


"Dalam jumlah banyak?" tanya Mio tidak percaya.


"I-iya…"


Wajah Mio merenggut, dia sangat tau kakaknya itu tidak pintar berbohong.


"Yasudahlah, aku mau main sama Lilia-nee. Dadah Kota-nii!!!!" jerit Mio melarikan diri dari sana.


"Tu-tunggu…"


"....."


Mio berlari terlalu cepat, bahkan bayangannya sudah tak lagi terlihat di mata Kota.


"Bocah itu… kuharap dia tidak melakukan hal aneh," batin Kota khawatir.


Sayang sekali, kekhawatiran Kota benar-benar terjadi. Mio bukannya pergi mencari kakak ke-3 nya, ia justru menuju ke tempat Kaleena berada diam-diam. Meski Kitsune ahlinya sihir, namun skill assassin juga mengalir dalam dirinya. Tak sulit bagi anak itu pergi tanpa diketahui siapapun.


Iya, siapapun… kecuali…


"Hayo! Kau mana kemana lagi!?"


Tangan seseorang menarik kerah pakaian Miko Mio hingga Kitsune kecil ini melayang, tak menapah tanah. Spontan gadis itu langsung berbalik marah.


"Lepaskan aku, Lilia-nee!!!" jerit Mio kesal.


Nekona Lilia, gadis 16 tahun ini adalah murid ketiga sang penyihir agung. Dia adalah Nekomata dengan rambut hitam panjang lengkap dengan telinga dan ekor kucing berwarna hitam pula. Ada perbedaan besar antara Ras kucing biasa dengan Nekomata. Nekomata tercipta dari jiwa kucing peliharaan yang selama hidupnya tersiksa oleh pemiliknya dan berakhir tewas. Dengan kata lain Nekona Lilia sudah pernah mati sebelumnya, namun tidak membawa ingatan kehidupan sebelumnya.


Nekomata hidup dari memakan mayat dan jiwa-jiwa orang mati. Dia juga spesialis sihir hitam seperti necromancy. Tapi jangan salah paham, Nekona Lilia tidak memakan mayat begitu saja, mayat yang dimaksud adalah mayat monster yang telah di olah seperti makanan biasa. Dan dia juga hampir tidak pernah memakan jiwa, kecuali jiwa kotor yang tidak layak memasuki roda reinkarnasi.


"Kamu… pasti mau turun ke desa, ya?" tanya Lilia curiga.


"Itu bukan urusan Lilia-nee!" jawab Mio ketus.


Lilia menghela napas kecil.


"Karena kelakuanmu yang begini, makanya Master tidak mengizinkanmu turun ke desa."


"Curang! Kenapa cuma Mio yang gak boleh!? Padahal onee-onii yang lain boleh!!!"


"Tentu saja karena kami bukan biang masalah sepertimu."


Lilia berhasil membuat Mio semakin merajuk. Dia sempat tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi adik kecilnya itu. Memang dirinya menikmati saat-saat menjahili sang adik.


Setelah puas tertawa, Lilia menurunkan Mio hati-hati. Dengan senyum cerah, Lilia melirik Mio.

__ADS_1


"Ke-kenapa?" tanya Mio was-was.


"Kalau sendirian memang tidak boleh. Tapi kalau ada yang menemanimu, Master tidak akan marah," ucap Lilia membuat mata Mio seketika berbinar-binar.


"Lilia-nee mau menemaniku!!?"


"Tentu. Lagipula aku memang ada urusan di desa."


Mendengar jawaban itu, Mio langsung melompat ke pelukan Lilia tanpa aba-aba hingga gadis itu agak oleng.


"Lilia-nee, daisuki!!!!!'


"Hahahahahaha!!!"


Bersama Lilia, Mio berjalan santai menuju desa. Sesekali obrolan kecil dan ringan mereka lakukan demi memecah suasana. Sepanjang perjalanan menuruni gunung, Lilia dan Mio bertemu beberapa orang dari desa tersebut. Respon penduduk desa sangat ramah pada mereka. Tak heran, karena penyihir agung dan murid-muridnya selalu menjaga keamanan daerah tersebut.


"Apa kau sudah tau? Lagi-lagi cairan merah itu mengalir di sungai!"


"Ah, aku dengar tadi. Katanya semakin lama semakin banyak ya?"


"Begitulah, aku penasaran sebenarnya itu cairan apa."


"Kalau gitu tanya Penyihir gunung, apakah dia tau?"


"Penyihir gunung kan tau segalanya, mungkin saja begitu."


"Tadi aku lihat muridnya membawa keranjang cucian ke sungai. Apa dia baik-baik saja?"


Mio dan Lilia tak sengaja mendengar pembicaraan dua wanita tua yang membawa sayur-sayuran dari ladang. Lilia melirik Mio sedikit, ada semacam kode mata darinya.


"Kayaknya iya, Lilia-nee."


"Hmm…"


Perasaan Lilia mendadak tidak enak entah karena apa.


"Ayo cari Kalee-nee! Rasanya ada yang janggal," seru Lilia membuat Mio bingung.


Mio hanya mengangguk, dirinya tau kalau firasat Nekomata selalu benar. Jika Lilia bilang begitu, artinya sesuatu yang janggal benar-benar terjadi.


Tanpa membuang lebih banyak waktu, Lilia dan Mio segera menuju tepi sungai. Seperti yang dikatakan Kota dan 2 wanita tua sebelumnya, sungainya benar-benar mengalirkan air merah yang cukup banyak hingga sepertiga sungai berubah warna.


Lilia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Kaleena. Setelah menemukan siluet gadis remaja yang mirip sepertinya tengah mencuci di bagian sungai yang masih jernih, Lilia segera menggandeng Mio menuju Kaleena.


"Kalee-nee! Apa kau baik-baik saja?" tanya Lilia khawatir.


"?"


"Aku baik-baik saja. Ada apa? Kalian berdua kok bisa bersama?" jawab Kaleena santai begitu melihat Lilia dan Mio datang bersama.


"Mio… kukira kau bersama Kota tadi. Ahh… aku tau. Kamu pasti mau menyusup ke desa sendirian tapi ketahuan Lilia, jadinya kamu datang ke sini bersamanya, kan?" sindir Kaleena.

__ADS_1


"T-tidak kok!!!" sangkal Mio mengalihkan pandangannya.


Kaleena menyipitkan matanya, dia curiga. Tapi meski begitu, kecurigaan itu tak bisa di apa-apakan. Hembusan napas keluar dari mulutnya.


"Yasudahlah. Yang lebih penting, kenapa kalian begitu khawatir? Akukan cuma mencuci baju."


Lilia ragu mengatakannya, ".... Rasanya… ada sesuatu yang buruk dari cairan merah itu."


"!"


Kaleena sempat terdiam memikirkan hal itu.


"Aku sudah mengeceknya… anehnya… bukan hanya baunya yang seperti wine. Bahkan rasanya juga rasa wine."


"Wine!?" kaget Lilia.


"Tunggu! Kalee-nee… kamu mencicipinya!? Itu kan bahaya!!!" marahnya.


"Aku itu Dryad. Tenang saja, selama ada tumbuhan, aku tidak akan mati."


"Tetap saja! Itu gegabah…"


"Baiklah… maafkan aku."


"Mou… Kalee-nee memang begitu. Hanya karena kamu setengah abadi, jadi suka bertindak gegabah," keluh Lilia.


"Ayolah, akukan sudah minta maaf. Lagian… bukankah ada yang lebih penting untuk dibahas sekarang?" kata Kaleena mengalihkan pembicaraan.


".... Tentang cairan merah itu, kan? Kalau rasa dan aromanya seperti wine, mungkin itu memang wine," balas Lilia.


"Aku juga berpikir begitu. Tapi sepertinya tidak sesederhana itu."


"Apa maksudmu?"


"Kalau cuma wine… kenapa cairan ini begitu kental? Terus siapa orang bodoh yang membuang wine sebanyak itu setiap harinya? Ditambah firasat burukmu. Ini pasti ada sesuatu, bukan?"


"Kalee-nee benar juga."


Lilia menatap puncak gunung tempat mereka tinggal.


"Ayo kita bicarakan ini dengan Master. Sebelum kita mengetahui benda apa ini, sebaiknya tidak terlibat lebih jauh. Mungkin saja ini berbahaya."


"Baiklah, aku juga sudah selesai mencuci. Ayo kembali," jawab Kaleena diikuti anggukan Lilia.


"Karena sudah begini, maaf tapi… ayo pulang Mi-"


"!!?"


Belum sempat Lilia menyelesaikan kalimatnya, dia langsung di kejutkan. Gadis kitsune kecil yang dari tadi diam berdiri di sebelahnya sudah tidak ada. Bahkan tidak ada tanda-tanda dia pergi kemana karena Mio tidak meninggalkan jejak apapun.


"Mio!!??" panik Lilia dan Kaleena.

__ADS_1


"Mi-Mio… bocah itu 💢"


"PERGI KEMANA LAGI DIA!!!!!!!!!!??????"


__ADS_2