
Ratusan tahun berlalu sejak hari itu. Untuk sekalipun, Mio dan yang lainnya tidak pernah lagi mendengar kabar tentang para Arc-Angel. Begitu luka mereka telah pulih sepenuhnya, Arc-Angel langsung kembali ke Benua Melayang, tempat mereka kembali. Tak pernah lagi ada yang mendengar apapun keluar dari sana. Karena dari awal, Benua Melayang memang bukanlah tempat yang bisa dimasuki sembarangan orang.
Terlepas dari itu, begitu banyak perubahan yang terjadi di gunung ini.
Desa kecil di kaki gunung telah berkembang menjadi begitu besar hingga membentuk sebuah kerajaan kecil yang dilindungi Youkai. Raja dari Kerajaan itu tak lain adalah sang penyihir agung itu sendiri. Pada awalnya dia menolak, namun seiring berjalannya waktu, hati dapat diluluhkan.
⟨ Kerajaan Amamiya ⟩
Kerajaan kecil ini dibangun sangat mirip seperti Jepang pada era Shogun. Ada ciri khas unik yang membuat kerajaan ini berbeda dari yang lainnya. Yaitu rakyatnya memiliki mata dan rambut hitam pekat yang tak lazim dimiliki manusia di Demetria.
Banyak samurai hebat yang tercipta untuk melindungi kerajaan ini. Namun, kekuatan utama yang membuat Kerajaan ini begitu disegani dan diwaspadai kerajaan lain adalah kelima Yokai pelindung kerajaan yang sudah hidup sejak zaman Ratu pertama.
Youkai pertama, Kaleena sang Dryad
Youkai kedua, Tenguna Kota sang Tengu
Youkai ketiga, Nekona Lilia sang Nekomata
Youkai keempat, Jorona Kazuha sang Jorogumo
Youkai kelima, Kitsuna Mio sang Kitsune
Kekuatan kelima Youkai pelindung kerajaan begitu besar, jauh melebihi beast skin biasa. "Youkai" sendiri adalah sebutan yang diberikan Sang penyihir agung pada mereka.
Diantara kelima Youkai itu, Kitsuna Mio adalah yang Youkai yang memiliki kekuatan dan level paling tinggi. Levelnya sendiri telah mencapai hampir 900 di usianya yang ke 346. Meski begitu sifat Mio adalah yang paling supel dan kekanak-kanakan. Dia juga yang paling dekat dengan rakyat. Bahkan tak jarang melihatnya bermain dengan anak-anak di jalanan dengan riang gembira.
Meski sangat disayangi oleh rakyat dan muridnya, sang penyihir agung tidak bisa melawan konsep waktu. Beliau meninggal di usianya yang ke-68 tahun dengan meninggalkan ketiga anak yang akan meneruskan kerajaannya.
Kelima muridnya kala itu tidak memilih untuk pergi keluar dari Kerajaan, melainkan memilih untuk menetap dan melindungi kerajaan yang ditinggalkan master mereka dan tetap setia pada keturunannya, Keluarga Kerajaan Amamiya.
Namun karena tak ada dari mereka yang tertarik akan kekuasaan, tak satupun menerima gelar bangsawan maupun wilayah meski kerajaan sudah semakin membesar. Mereka tetap mendiami gunung yang menjadi wilayah mereka sejak dahulu. Meski begitu mereka cukup sering turun gunung untuk mengecek keadaan ataupun sekedar bermain dan mengakrabkan diri dengan penduduk biasa. Itulah kenapa sama seperti sang master, mereka juga amat dicintai dan dipercaya rakyat Amamiya.
"Mio ini… padahal aku mau pergi ke luar benua setelah sekian lama. Tapi dia bahkan tidak mengantarku?" kesal Kaleena didepan rumah mereka.
"Ma… ma… tenanglah, Kalee-nee. Kamu kayak gak tau si Mio gimana aja," kikik Kota sembari menghisap rokoknya.
"Dia mungkin ada di desa lagi, main sama anak-anak," saur Lilia.
"Lilia-nee… tempat itu sudah bukan desa. Menurutmu ini sudah berapa tahun?" timpal Kazuha.
"Oppss! Kebiasaan."
Kaleena sedikit merajuk. Beberapa waktu yang lalu, Kekaisaran Levana di Benua Manusia mengundang perwakilan dari berbagai tempat untuk menghadiri peresmian terbentuknya Kekaisaran Levana (sebelumnya masih berupa Kerajaan). Dan kali ini, Kerajaan Amamiya mengirim dirinya sebagai perwakilan. Tapi disaat dia mau pergi, adik terakhirnya justru tidak datang mengantarnya.
"Lihat saja anak itu…💢 Nanti saat aku kembali, baru tau."
Geram Kaleena sembari menahan amarahnya.
Kota sedikit cemas memikirkan apa yang akan terjadi nanti, "Ka-Kalee-nee… bukannya kamu harus segera berangkat?"
Kaleena melirik Kota agak curiga, "Ya… Sudahlah. Lagipula aku akan kembali dalam 1 bulan."
"Kalau terjadi sesuatu, panggil aku."
__ADS_1
"Oke!!!"
Tanpa diantar Mio, Kaleena segera terbang dengan sihirnya dan melaju cepat di udara. Tak sekalipun dia menoleh ke belakang, tempat Mio mungkin berada. Hanya keluhan kecil yang selalu keluar dari mulutnya. Ketiga adik seperguruannya diam melihat kepergiannya.
"Dasar Mio itu… padahal siapa yang hampir menangis karena ditinggal Kalee-nee," kikik Lilia geli.
"Mio akan membunuhmu kalau kamu mengatakannya pada Kalee-nee, kau tau," saur Kota sama gelinya.
Kazuha hanya diam tersenyum saja, "...."
Melihat Kaleena sudah tak ada lagi, Lilia berbalik santai kembali ke gunung.
"Tapi Benua Manusia ya… enaknya… aku juga mau jalan-jalan kalau ada kesempatan."
"Kamu bisa pergi kapanpun kau mau, kan?" sindir Kota.
"Iya sih… tapi kalau gak ada urusan, rasanya kayak melarikan diri dari tanggung jawab. Orang kayak kamu tuh yang mungkin bakal gitu…" sindir Lilia balik.
"Apa katamu bocah!? Sudah berani ya sama kakak sendiri!!"
Kota yang kesal menggosokkan tinjunya ke kepala Lilia seperti bor.
"S-Sakit!! Baka Anii!!! Lepaskan aku!!!"
"Salah sendiri masih bocah sudah berani menggoda yang lebih tua!!"
"Bocah, bocah!! Kita hanya beda berapa tahun!!! Kalau dulu sih termasuk jauh, tapi beda 4-5 tahun di umur ratusan itu gak ada bedanya sama anak kembar beda 5 menit!!" sangkal Lilia.
"Kalau Mio mendengarmu, kelakuannya bakal semakin melunjak loh."
"Nah kan, hahahaha…" tawa Kota diiringi kikikan kecil Kazuha.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu, di Ibukota Kerajaan Amamiya
"Hatchiii!!!" bersin Mio.
"Mio-senpai… apa kamu kedinginan?" tanya seorang gadis muda.
Mio tersenyum, dia menatap langit yang sangat cerah di atasnya.
"Tidak, pasti cuma ada yang membicarakanku."
__ADS_1
Mio kembali fokus pada apa yang sedang dia kerjakan. Di tangannya, ada sebuah Lyra kayu yang cantik. Dan didepannya, ada anak-anak dengan mata berbinar-binar menunggunya meminkan Lyra itu. Mio tersenyum hangat pada mereka.
Setelah beberapa saat, ayunan lagu yang lembut dan nyaman di telinga kembali terdengar. Tak lupa Mio juga membuka mulutnya untuk memberi lirik pada nada itu. Suaranya yang begitu indah langsung membuat hati tentram dan damai mendengarnya. Tak jauh dari Mio duduk, gadis berambut hitam yang membawa Lyra miliknya sendiri menatap Mio begitu cermat.
Seiring berjalannya waktu, lagu semakin menunjukkan akhirnya. Nada rendah yang lembut menjadi penutup konser kecil itu.
PROK PROK PROK PROK
Baik anak-anak yang menonton, gadis muda disebelahnya, sampai para orang dewasa yang mendengarnya saat mereka lewat seketika menepukkan tangan serempak ketika lagu telah usai. Mio awalnya tidak terbiasa dan malu saat situasi ini terjadi, namun sekarang dirinya sudah terbiasa dan justru menikmatinya.
"Mio-sama!!! Keren!!!!"
"Mio-sama!!!!! Lagunya cantik banget!!!"
"Terimakasih Mio-sama!!!!"
"Seperti biasa, Lagu Mio-sama yang terbaik!!!!!"
"Makasih…"
Jeritan para anak kecil ini membuat telinga Mio sedikit memerah. Daripada pujian kosong dari bangsawan yang sibuk menjilatnya, pujian jujur dari anak-anak memang yang terbaik.
"Sasuga Mio-senpai!!! Lagumu selalu menyentuh!!!" tangis gadis muda disebelahnya.
"Ah… iya… makasih…" balas Mio agak risih dengan reaksi gadis itu yang terlalu berlebihan.
Suasananya yang hangat dibawah langit senja ini adalah yang paling Mio sukai. Alasannya tidak pernah pergi keluar Benua adalah karena dirinya ingin melindungi suasana ini sampai ajalnya nanti.
"Sudah kuduga kamu disini Mio! Ayo kembali!!"
Namun suara melengking yang dia dengar ini merusak suasana itu.
"Ah!! Lilia-sama!!!"
"Lilia-sama!! Selamat sore!!!!"
"Lilia-sama!!!!!"
Sapaan anak-anak yang menyambut kedatangan Lilia membuat wanita Nekomata ini tersenyum dan melambai balik pada mereka. Sayangnya, berbeda dari anak-anak itu, seseorang justru menekuk wajahnya.
Dengan ekspresi sangat tidak senang, Mio menoleh ke wanita itu.
"Lilia-nee… apa Kalee-nee sudah pergi?"
"Dari tadi. Dia marah tuh karena kamu gak ikut nganter," jawab Lilia santai.
"Kenapa gak ikut? Padahal yang kemarin merajuk karena gak mau Kalee-nee pergi itu kamu sendiri kan?"
Mio melirik ke arah lain dengan mata gemetar, "K-kapan aku begitu…?"
Lilia tidak peduli, dia sudah kebal dengan sisi "Tsundere" adiknya itu.
"Terserahlah, lupakan aja. Ayo pulang!"
__ADS_1
".... Oke…"