
Kelima swordman yang berkumpul mengitari sang Kardinal mengeluarkan cahaya emas. Mio sebenarnya menyukai sihir cahaya Benua Suci, karena tampilannya yang jauh lebih cantik dari yang lain. Meski begitu kali ini dia memikirkan kalau sinar cahaya itu terlihat menjijikkan. Sejak kejadian barrier cahaya, Mio jadi muak melihat sihir cahaya.
Dari formasi itu, muncul lingkaran sihir bertingkat mulai dari bawah kaki mereka hingga jauh di atas kepala. Lingkaran sihir yang teramat rumit dan membutuhkan banyak mana didalamnya.
"Untuk berpikir makhluk di dalam batasan menggunakan sihir tingkat Legend..." batin Mio.
Sang Kardinal mengayun-ayunkan tongkatnya layaknya seorang dirigen yang memimpin orkestra. Sungguh suatu pemandangan yang indah dan jarang dapat dilihat.
"Rubah jala*g!! Kau mungkin bisa menang dengan mudah melawan kami, tapi bagaimana dengan ini!!?" bentak sang Kardinal penuh percaya diri.
[ Golden Angel Compliance ]
Cahaya emas dari lingkaran sihir semakin terang hingga menyilaukan mata. Begitu cahaya mulai meredup, sosok seorang malaikat berzirah emas yang sangat besar muncul dari sana. Sayap emas 3 pasang dan armor lengkap yang membuat tubuhnya sama sekali tak terlihat menghiasi dirinya.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!"
"Apa kau bisa mengatasi ini jala*g sialan!!!? Malaikat cantikku ini!!!!!" tawa lebar sang Kardinal.
Pasukan yang mengikuti sang Kardinal berguguran. Mereka jatuh lemah karena kehabisan mana sementara sang Kardinal sibuk mengendalikan malaikat yang dia summon.
Bukannya takut atau gelisah, Mio tetap tenang sambil memandang rendah Kardinal tak bertanggung jawab itu. Dia tau kalau mereka pasti akan mengeluarkan kartu terkuat mereka meski itu berbahaya daripada terbunuh tanpa bisa melakukan apa-apa.
Mio teringat kakak malaikatnya yang membantunya tersadar dari kutukan dan jadi kesal karenanya.
"Sekali lihatpun aku langsung tau, itu malaikat buatan. Berani-beraninya mereka menciptakan sesuatu yang sangat tidak menghormati pelayan Dewi!"
__ADS_1
Malaikat buatan raksasa itu mengeluarkan pedang emas yang sangat besar. Dia langsung melaju ke Mio dengan gerakan seefisien mungkin. Tentu saja Mio yang jauh lebih kecil seharusnya tak kesulitan menghindarinya. Namun berbeda dari ukurannya, gerakan makhluk itu sangat cepat dan gesit. Beberapa kali mereka beradu pedang di udara layaknya dua kilat yang saling menyambar.
Tapi entah sang Kardinal tidak menyadarinya atau dia lupa, Mio bukanlah petarung fisik. Gadis itu nyatanya adalah yang terlemah fisiknya di kelima murid Penyihir Agung. Alasan dia bisa menjadi yang terkuat, adalah karena tak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya dalam hal pengendalian sihir di dunia ini jika makhluk di luar batasan dikecualikan.
Mio langsung teleport ke arah sang Kardinal tanpa mengucapkan mantra sedikitpun.
"AP-!!!"
"Dasar bodoh, untukmu berpikir tiruan itu bisa menghentikanku! Konyol sekali!" ucap Mio dingin.
Mio merentangkan tangannya ke arah malaikat buatan itu terbang.
"Lihatlah baik-baik, akan kutunjukkan akibat mencari perkara dengan Kerajaan Amamiya!" ucapnya penuh aura membunuh.
Begitu kata itu telah terucap dari mulut Mio, tanpa jeda pengeluaran lingkaran sihir maupun mantra yang panjang, sebuah bola black hole kecil terbentuk dan dilemparkan ke arah malaikat buatan itu. Dan begitu black hole kecil itu mengenai sang malaikat buatan...
JDAAAAAAAAAARRRRRRRRR
GBOOOOOOOOOOUUUUUUUUUUMMMMM
Ledakan sekala besar langsung terjadi tepat didepan mata mereka semua. Bagai kejatuhan bom nuklir, meski jaraknya cukup jauh dari mereka, banyak dari pasukan yang terpental karena anginnya. Ada juga yang mengalami kerusakan fisik karena radiasi ledakan itu. Namun anehnya, meski ledakan besar itu sampai merubah peta, wilayah Kerajaan Amamiya sama sekali tidak tersentuh ledakan maupun efek ledakannya. Sehingga begitu ledakan selesai, pada peta Benua Sihir, terbentuk lubang raksasa membentuk sebuah reverse donat dimana lubangnya mengelilingi lingkaran di tengah yang tak tersentuh ledakan.
Raut wajah penuh keputusasaan keluar dari wajah para pasukan. Mereka tidak lagi memiliki harapan akan kemenangan, tidak... akan kesempatan hidup mereka. Mereka benar-benar mencari lawan yang salah. Sang Kardinal yang berada tepat disebelah Mio dan dipaksa menyaksikan langsung semua itu kehilangan kepercayaan dirinya. Pria itu tidak pernah merasakan tekanan yang semenakutkan ini selain saat berhadapan dengan Pausnya.
Mio berbalik menghadap para pasukan yang masih hidup. Pasukan Ksatria yang semula begitu teratur dan mengikuti perintah, untuk pertama kalinya merasakan ketakutan yang teramat sangat akan kematian meski mereka dari awal adalah ksatria siap mati. Mereka berhamburan ketakutan layaknya semut kehilangan ratunya.
__ADS_1
"Mereka mirip rakyat Amamiya yang melihat kami baru berubah," batin Mio antara sedih dan kesal.
Sang Kitsune melirik Kardinal yang dia tahan disebelahnya dengan sihir kegelapan.
"Karena dirimu, pasukan yang mengikuti mu tidak akan kembali hidup-hidup."
Kali ini tanpa perlu merentangkan tangannya, Mio membuat ratusan lingkaran sihir hitam dibelakang tubuhnya yang semakin bertambah banyak setiap waktu. Jelas akan ada sesuatu yang berbahaya dari sana, para ksatria segera melarikan diri atau membuat barrier dan memasang tameng sebisa mereka. Sayang sekali dihadapan Mio, itu tidak ada gunanya.
[ Shi no Tenshi no Sen no Ya ]
Ribuan anak panah yang tercipta dari sihir kegelapan langsung di tembakkan tepat ke kepala para ksatria. Bahkan jika mereka menghindari anak panah itu, benda itu hanya akan terus mengejar mereka hingga targetnya hancur. Tak ada satupun sihir yang mampu menghalau serangannya. Tak ada satupun item dan artefak yang bisa menghentikannya. Hanya dalam hitungan menit, tak ada lagi satupun dari mereka yang masih mengeluarkan napasnya.
Teriakan dan jeritan Ksatria yang kesakitan ataupun tangisan dan kemarahan mereka, sama sekali tak membuat Mio merasa bersalah. Dia mengalami hal yang sama dengan saat dirinya membantai rakyat Amamiya dulu. Hal itulah yang membuat dadanya terasa sesak.
"Kalau saja dengan nyawa mereka, aku bisa menghidupkan kembali rakyat Amamiya..."
Sang Kardinal memiliki wajah yang penuh keputusasaan. Dia melihat langsung bawahannya mati mengenaskan tepat didepan matanya. Namun bukannya sedih karena hal itu, yang membuatnya ketakutan adalah hidupnya sendiri. Karena pasti akan mati. Kalaupun Mio melepaskannya dan dia kembali ke Benua Suci, dia pasti akan tetap mati di tangan Paus karena gagal menjalankan tugas.
Mio meliriknya lagi, dia tidak merasakan apapun selain dendam dan amarah pada pria yang memimpin pemusnahan Kerajaan Amamiya itu. Hanya dengan melihatnya, sebuah tangan yang terbentuk dari sihir kegelapan mencengkram pria itu sangat kuat hingga tulangnya remuk. Mio mulai berhenti menapak tanah dengan pria itu ikut terbawa oleh tangan itu. Mereka meninggalkan tempat itu dan terbang kembali ke Kerajaan Amamiya.
"Mau kau bawa kemana aku, sialan!!!!" jeritnya tak tau malu.
Gadis itu diam beberapa saat sebelum menjawabnya dengan kalimat sederhana.
"Aku adalah seorang pendosa. Diriku tak berhak membalas perlakuanmu. Karena itu, hukumanmu akan diputuskan oleh para korban secara langsung."
__ADS_1