
Mio menurut tanpa melakukan perlawanan, karena jika dia melakukannya, yang ada kakak-kakaknya akan semakin mengomel nantinya. Kitsune muda itu berkemas dan membawa Lyra nya sambil mengucapkan salam perpisahan dengan anak-anak yang menontonnya.
"Sampai jumpa lagi!! Mio-sama!!! Lilia-sama!!!!" jerit anak-anak sekuat mungkin.
"Iya, sampai jumpa lagi."
Mio dan Lilia melambaikan kembali tangan mereka sebelum berjalan pulang ke arah gunung.
Sepanjang perjalanan, beberapa kali mereka mendapatkan salam hangat dari para rakyat yang tulus menyayangi mereka. Bahkan tak jarang, ada rakyat yang memberikan bingkisan untuk mereka bawa pulang.
"Mio-sama!! Tolong cobalah menu baruku!!" sapa seorang ibu-ibu pemilik warung makan.
Mio menggeleng kecil, sedikit sungkan menolaknya, "Tidak, terimakasih Mikoto obaa-chan. Kami sudah berencana makan bersama setelah ini. Lain kali saja."
"Ara? Sayang sekali. Kalau begitu cobalah besok saja. Ajak Youkai-sama yang lain juga."
"Umm… terimakasih."
Perjalanan pulang mereka cukup santai. Mereka sama sekali tidak terburu-buru dan menikmati semua pemandangan yang mereka lihat. Sesekali mereka juga saling melempar canda satu sama lain selayaknya saudara pada umumnya.
Tak butuh waktu terlalu lama sampai mereka tiba di mansion kecil yang sudah mereka tempati selama ratusan tahun.
"Oh, kalian sudah pulang? Cepatlah masuk. Pestanya sudah mau dimulai," ucap Kota begitu melihat kedua adiknya datang.
"Oke!!!"
Mio dan Lilia langsung masuk ke mansion, berganti pakaian, dan membantu Kazuha menata makanan di meja makan. Selama mereka melakukannya, Kota pergi ke ruangan es untuk mengambil beberapa botol anggur.
Begitu botol anggur dan makanan pendamping telah tertata di meja, maka tak perlu menunggu lama...
"PESTA DIMULAI!!!!!!"
"Bersulang!!!!"
Tentu membuat penasaran kenapa Mio dan kakak-kakaknya langsung berpesta begitu Kaleena pergi. Alasannya sederhana...
"Arghh!!! Kalau ada Kalee-nee... kita pasti tidak bisa minum-minum anggur kayak gini!!" seru Kota setelah meneguk anggurnya.
Kazuha mengangguk-angguk kecil, wajahnya mulai memerah karena mabuk.
"......"
"SETUJU!!!! Si gila kesehatan itu pasti akan langsung membuang anggur atau alkohol apapun yang dia temukan! Bagus! Sudah menyembunyikannya dengan baik, Kazu-nii!!!" jerit Lilia sembari mengacungkan gelasnya.
"Emang ya, hal pertama yang harus dilakukan saat Kalee-nee pergi itu ya ini!! Minum-minum!!!"
"Ayok mabuk sampai pagi!!!!!"
"Ouuu!!!!!!!"
Melihat kedua kakaknya yang sudah mabuk bertingkah gila dan menyeret kakak keempatnya ke dalam kegilaan mereka, Mio sedikit mundur beberapa langkah.
"Mereka bukan kakakku..."
__ADS_1
Dia bukanlah tipe orang yang suka minum sebenarnya. Gadis itu hanya di geret Lilia dan Kota untuk bergabung dengan mereka. Malahan, Mio sedikit trauma melihat anggur merah atau wine. Sangat jelas apa alasannya. Karena setiap kali Mio melihatnya, dia akan teringat kenangan lama yang menyakitkan.
Lagi-lagi gadis itu termenung melihat gelasnya, "..... Luci-nee... dia benar-benar tidak menghubungiku sama sekali... meskipun 300 tahun sudah berlalu."
"Kalau begini, dia pasti sudah melupakanku kan?" pikirnya sesak.
Melihat adiknya termenung sendirian di pojokan, Kazuha sadar dari mabuknya. Dia meninggalkan Kota dan Lilia beserta tingkah gila mereka. Kursi sebelah Mio di tarik pelan, duduklah pria muda itu di sebelah Mio.
"Kamu masih memikirkannya?" tanya Kazuha khawatir.
Kazuha itu bukan tipe orang yang mampu membuka pembicaraan atau sering berbicara saat berkomunikasi. Namun khusus untuk adiknya itu, dia kecualikan.
Mio melirik Kazuha. Terlihat jelas kalau kakaknya khawatir padanya. Jadi dia kembali memasang senyum palsu yang biasa dia gunakan.
"Aku baik-baik saja, Kazu-nii... Aku cuma... sedikit penasaran bagaimana kabarnya..."
"......."
"Ha~ahh... kamu tidak akan bisa membohongi kami, Mio. Menurutmu sudah berapa tahun kita bersama?"
"Kazu-nii... maaf..." tunduk Mio.
"Aku bukannya memarahimu atau semacamnya. Hanya saja... kami ini kakakmu, kamu boleh lebih bergantung pada kami," senyum Kazuha.
Mio tidak menjawabnya, dia hanya mengangguk kecil. Namun perasaannya menghangat. Mio sering lupa kalau dirinya memiliki keluarga dan rakyat yang akan ikut bersedih jika melihatnya sedih. Jadi setidaknya demi mereka, Mio harus menjadi lebih kuat. Secara mental... maupun fisik.
"Are!!! Apa-apaan suasana fuwa-fuwa ini? Hic..." timpal Lilia tiba-tiba.
"!!"
"Lilia-nee... kamu mabuk," ucap Mio kesal.
"Tentu saja wajar aku mabuk di pesta minum, kan!?" balasnya tak terima.
"Justru kalian yang aneh!! Mana boleh kalian tidak mabuk di pesta minum!! Ya gak, Kota-nii?"
"Benar tuh, benar!!!"
"Kota-nii juga mabuk ya..." batin Mio lelah.
Tangan Kota yang memegang botol anggur mulai bergerak merangkul Mio dan tangan satunya merangkul Kazuha. Tatapan intens dari Kota membuat keduanya tidak nyaman.
"Curang kalau kalian tidak mabuk... hic... Lilia!! Lakukan!!!"
"Siap, Kota-nii!!!"
"!?"
"Tu-tunggu... Lilia-nee????"
Mio merinding, didepannya sudah berdiri Lilia dan botol anggurnya yang masih utuh. Senyuman Lilia kala itu membuatnya bergidik ngeri.
"MINUM INI MIO!!!!! MABUK!! AYO MABUK!!!!!" jerit Lilia mencekoki Mio langsung dengan botol anggur tanpa membiarkannya istirahat.
__ADS_1
"Tu- GLUK... GLUK..."
Kepala Mio pusing seketika, botol anggur yang di paksa Lilia untuknya minum langsung habis karena Lilia tak memberinya jeda.
''Nah gitu dong!! Ayo minum!!! Minum yang banyak!!!!"
"......."
Wajah Mio merah padam. Tentu saja seseorang akan langsung mabuk kalau di cekoki anggur sebotol penuh begitu. Gadis Kitsune ini hanya diam saja tanpa reaksi apapun. Dirinya masih linglung seperti orang habis bangun tidur.
"Mi-Mio... kamu baik-baik saja?" tanya Kazuha khawatir.
"......."
Mio tersenyum.
"!!!!!"
Sebuah senyuman menyeramkan yang langsung menyadarkan Lilia dan Kota dari mabuknya. Entah kenapa mereka merinding. Rasanya seperti mereka baru saja melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan.
Dan beberapa detik kemudian, mereka menyadari kesalahan terbesar mereka karena membuat Mio mabuk.
"Mi-Mio?" tanya Lilia takut.
Kepala Mio miring 30°, senyuman itu di tambah matanya yang memancarkan kilatan cahaya membuat ketiga bersaudara itu mundur menjauh dari Mio.
"Kota-nii... Lilia-nee... kalian benar..." ucap Mio tiba-tiba.
"Hic... kalau di pesta minum itu... tentu saja kita harus mabuk... tapi bukannya tak adil kalau hanya aku yang mabuk?"
"A-apa maksudmu Mio? Kamu mulai melantur hal yang aneh..." takut Kota.
Tangan Mio naik keatas, "Hehehehe..."
Bersamaan dengan itu, seluruh botol anggur yang ada di ruangan ini meledak dan airnya berkumpul di atas tangan Mio.
"Mi-Mio...?"
Tapi sesuatu yang aneh terjadi, seharusnya jumlah anggur disana tak sebanyak itu. Namun gumpalan air ini terus membesar dan membesar hingga tak lagi muat di dalam Mansion. Karena itu Mio berjalan keluar mansion dan membiarkan gumpalan air anggurnya terus membesar sampai batasnya.
"O-Oi, Mio... apa yang ingin kau lakukan dengan itu?" cemas Kota diiringi anggukan Lilia dan Kazuha.
"Ehh... apa yang aku inginkan? Fufufu... tentu saja sederhana," seringainya.
"AKU TIDAK MAU MABUK SENDIRIAN, HIC... AYO KITA MABUK BERSAMA, KOTA-NII... LILIA-NEE... KAZU-NII... DAN SEMUANYA!!!!!!" jerit Mio langsung menyadarkan ketiganya.
"MI-MIO!!!! HENTIKAN!!!!!!"
Namun terlambat. Sebelum Kota dan yang lainnya sempat bergerak, gumpalan anggur tadi sudah melayang tinggi di udara dan pecah layaknya balon air yang airnya menyebar kemana-mana dan turun bagai hujan anggur. Tak berhenti di sana, airnya menguap dengan cepat hingga membentuk kabut anggur yang menyebar ke seluruh penjuru kerajaan.
Karena Mio, siapapun yang menghirup kabut itu, baik orang dewasa, anak-anak atau bahkan yang lainnya, akan mabuk seketika. Tanpa ada yang bisa menahannya.
Peristiwa langka dimana satu kerajaan mabuk di waktu yang sama karena efek mabuknya Mio ini akan dikenal sebagai...
__ADS_1
⟨ Hari Mabuk Amamiya ⟩
Dan semenjak itu pula, semua orang di kerajaan paham alasan kenapa Kaleena melarang keras adik-adiknya mabuk, terutama untuk Mio.