Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 18 [ Tanggung Jawab Sang Kitsune (2) ]


__ADS_3

Berkat sisa-sisa mana cahaya yang ada di bulu Luciel. Luka Mio pulih cukup cepat. Memang tidak terlalu kuat, namun sudah cukup untuk sekedar menutup lukanya agar darah tidak keluar lagi. Darah yang sudah hilang dan lengan kirinya yang terputus tidak bisa kembali. Dan dalam kondisi yang seperti ini, Mio tetap memaksakan dirinya untuk membunuh Lilia sebelum waktunya tiba.


Badan Mio sempoyongan seperti orang mabuk. Wajahnya memucat karena kehilangan terlalu banyak darah. Napasnya berat dan sesak pula. Dia menyiksa dirinya sendiri dengan tidak beristirahat tepat setelah lukanya tertutup.


Mio bahkan kesulitan mengangkat katana miliknya dan membawanya dengan menggeret benda itu.


Sesekali Mio memperhatikan barrier yang menyelimuti kerajaannya. Barrier itu semakin terlihat transparan dari waktu ke waktu, pertanda sebentar lagi pemasang barrier sudah mencapai batasnya. Jika saat itu terjadi, pasti tidak akan ada yang bisa menghentikan musuh memanfaatkannya atau membunuh Lilia.


Beberapa kali mata Mio berkedut dan kesadarannya nyaris hilang. Kakinya gemetaran mencoba terus berjalan meski lemas rasanya.


BRUUUKKKKK


Tak peduli berapa kali Mio terjatuh, dia akan selalu bangkit lagi. Dirinya merasa bertanggung jawab atas semua ini. Seolah-olah semua dosa ini disebabkan olehnya, Mio terus melangkah dalam gelapnya malam.


Sejujurnya meski sudah berjalan cukup lama, Mio belum meninggalkan tempat tadi terlalu jauh karena kondisinya. Kalau seperti ini, untuk mencapai tempat Lilia, dia akan membutuhkan berjam-jam jika saja Lilia tetap ditempatnya.


"Menyedihkan. Aku langsung kemari karena tidak lagi merasakan hawa kehidupan Kota-nii dan Kazuha, tapi apa-apaan ini?"


Suara seseorang yang tak asing ditelinga Mio terdengar cukup dekat darinya. Mio berusaha mengangkat wajahnya dan melihat asal suara itu. Lilia menatap Mio tajam sembari menyilangkan tangannya.


"Kenapa kau membunuh Kota-nii dan Kazuha!?" tanya Lilia penuh amarah.


Mio tak menjawab, atau lebih tepatnya tak bisa menjawab. Dia bahkan tidak punya tenaga untuk itu.


"Kau mau diam saja?"


SWOOOOOSSSSHHHHH


Lilia bergerak secepat angin ke depan Mio. Tangan wanita itu mencekik adiknya dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga kaki Mio tidak menapak tanah.


"JAWAB AKU!!! KENAPA KAU MELAKUKAN INI!!!??"


"......"


Mata Mio mulai buram, dia tidak bisa bernapas. Beberapa lukanya bahkan terbuka kembali.


Cekikan Lilia semakin dan semakin kuat. Dia melakukannya atas dasar amarah. Mio bisa merasakan kalau Lilia marah besar.


"Ke... napa... Li... lia... nee... semarah... itu...?" tanya Mio kembali.


"💢💢💢"


Lilia semakin marah mendengar pertanyaan Mio. Mengabaikan kalau Mio juga adiknya, dia melempar gadis itu sekuat tenaga ke arah batu besar didekat mereka.


BUUUUGGGGHHHH


Mio menghantam batu dengan keras hingga batunya retak dan hampir hancur. Gadis itu sempat muntah darah. Tulang rusuknya jelas patah dan organ dalamnya mengalami kerusakan. Meski badannya gemetaran kesakitan, Mio tetap berusaha untuk tetap sadar.


"Kau serius tanya begitu?" kesal Lilia.


Lilia menggenggam tangannya sangat kuat.


"KOTA-NII DAN KAZUHA ADALAH KELUARGA KITA!!! KENAPA KAU MELAKUKAN ITU PADA MEREKA!!!???"


"......."


Mio lagi-lagi hanya diam tanpa menjawabnya. Dibalik pandangannya yang mulai kabur, hati Mio terasa teriris-iris. Dia sangat memahami perasaan Lilia. Dia akan melakukan hal yang sama kalau keluarganya di lukai. Tapi...


"Uhuk!! Uhukk!! Apa... itu berarti... aku harus... tutup mata dengan, uhukkk!! Perbuatan... keluargaku?"


Gadis itu mencoba mengeluarkan suaranya meski sesekali batuh darah.


Namun kata-katanya hanya masuk dan keluar dari telinga Lilia.


"Jangan merasa sok suci, kamu! Kamu sendiri yang membunuh paling banyak, kan?"


Mio tau itu tanpa perlu diberi tau. Tangannya sudah terlalu kotor oleh darah. Makanya dia berniat menyelesaikan semuanya dengan tangannya sendiri dan menanggung semua dosa ini.


"Lilia-nee... padahal Lilia-nee adalah Youkai yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Kota-nii juga sering menjahili orang-orang bersama laki-laki Amamiya lain. Kazu-nii meski tidak akrab, tapi sering membantu rakyat."

__ADS_1


"Kenapa... semuanya bisa jadi begini...?"


Lilia jijik dengan tingkah laku Mio. Dia tidak ingin gadis itu hidup lebih lama lagi karena kemarahan dan dendamnya. Lilia berjalan mendekati Mio yang sudah terluka parah. Begitu Mio berada di depannya, Lilia kembali mencekik Mio dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


Kuku-kuku Lilia yang lebih tajam dari pedang sudah siap menggorok leher Mio.


"Kau sudah membunuh Kota-nii dan Kazuha. Tidak masalah kan kalau aku juga membunuhmu?" tanya Lilia sangat marah.


Mio hanya mengeluarkan sebuah senyuman.


"Maaf... Lilia-nee... aku... belum boleh... mati..."


"Tapi aku tidak peduli dengan keinginanmu, tuh."


Kuku Lilia mengarah ke leher Mio dengan cepat sedangkan Mio hanya diam saja karena memang tidak ada yang bisa dia lakukan. Tapi...


"........"


"........"


"........"


"........"


Tidak ada yang terjadi. Tangan Lilia yang hendak menggorok leher Mio terhenti tiba-tiba.


"?"


Napas Lilia mendadak terasa berat dan napasnya tersengal-sengal. Tangan yang tadinya hendak menggorok leher Mio, kini beralih memegangi kepalanya yang terasa sakit tiba-tiba.


"!?"


"Apa-apaan ini!!???" marah Lilia entah pada siapa.


BRUUUKKKKK


"AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!!!!! HENTIKAN!!!!!!!"


Lilia terus menjerit-jerit sendirian. Mio kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya itu. Dia tidak tau harus melakukan apa dan tidak punya tenaga lagi untuk melakukan sesuatu. Satu-satunya yang bisa Mio lakukan hanya melihat Lilia kesakitan karena sakit kepalanya.


"Li-Lilia-nee?"


"DIAMMM!!!!!"


Mio semakin kebingungan. Dia ingin membantu Lilia hingga melupakan kalau disini dirinya datang untuk membunuh Lilia.


"AMBIL PEDANGMU!!!!!" jerit Lilia tiba-tiba.


"!!"


"AMBIL PEDANGMU DAN CEPAT BUNUH AKU!!!!!"


Mio tersentak kaget dengan perubahan sifat Lilia. Belum sempat dia memikirkan jawabannya, jawaban datang pada dirinya. Lilia menatap Mio tajam. Ada yang tidak benar disini. Mata kanan Lilia berubah warna menjadi emas, warna mata aslinya. Sedangkan mata kiri Lilia tetap merah darah. Mio membelalakkan matanya, dia menyadari alasan keanehan Lilia.


Ini semua karena bulu sayap Luciel yang terlepas dari bajunya saat ini tersangkut di rambut hitam Lilia. Efek dari bulu itu berkurang drastis karena kehabisan hampir semua mana didalamnya. Namun karena bulu itu pernah mengandung mana cahaya yang sangat besar, bulu itu berhasil membawa kembali kesadaran Lilia meski hanya sesaat.


"CEPATLAH BODOH!!!! AKU TIDAK BISA MENAHAN INI LEBIH LAMA LAGI!!!!!" bentaknya.


"!!!"


Lilia menyadari kesadarannya yang jauh tenggelam di kegelapan sempat ditarik ke permukaan. Namun hanya karena sempat di tarik, bukan berarti dia tidak akan tenggelam lagi. Dan sebelum kesadaran itu tenggelam, Lilia bermaksud memberi Mio bantuan terakhir. Karena dirinya juga tidak ingin hidup sebagai monster.


Mio berhasil mendapatkan kembali ketenangannya. Dia juga sadar ini adalah kesempatannya dan kesempatan ini akan hilang dengan cepat. Dengan seluruh sisa tenaganya, dia memaksa dirinya untuk bangkit dan mengambil pedangnya.


Gadis itu berjalan dengan sempoyongan ke arah Lilia yang sedang menahan diri sekuat tenaga. Meski tangannya gemetaran saat memegang pedang, Mio berhasil mengangkatnya dan menusuk Lilia tepat di jantungnya tanpa mendapat perlawanan.


Tenaga Mio kini benar-benar habis. Tubuhnya dan tubuh Lilia ambruk bersama menghantam tanah dalam posisi Mio berbaring di atas Lilia.


"........"

__ADS_1


"........"


Sama seperti kedua saudaranya, Lilia juga terlepas dari kutukan itu di ambang kematiannya. Kedua mata emasnya yang melihat Mio yang bisa hancur kapan saja. Gadis kitsune itu menyusut kembali ke ukuran aslinya. Ekor Mio juga kembali tersisa 3. Namun bukan itu yang menarik perhatian Lilia untuk terakhir kalinya.


"Haha... ada apa dengan wajahmu...? Aku tidak apa... apa... jangan... menangis... begitu..." ucap Lilia sebelum kesadarannya menghilang.


"Ini... pilihanku... sendiri..."


Lilia menghembuskan napas terakhirnya sembari memberikan pelukan terakhir pada adiknya itu.


"........"


Mio tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh dengan deras. Dia hancur secara mental. Setelah membantai habis rakyatnya, kini dirinya telah membunuh ketiga kakaknya dengan tangannya sendiri. Bahkan walau ini adalah keputusan Mio sendiri. Beban mental yang dia rasakan cukup untuk membuatnya hancur.


"Aku minta maaf... aku minta maaf... aku minta maaf... "


"Kota-nii... Kazu-nii... Lilia-nee... aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf..."


"Kumohon... jangan tinggalkan aku sendirian..."


"Aku benci ini... aku tidak mau ini... kenapa semuanya jadi seperti ini..."


"HUAAAAAAAAAAAAAAA........ Kembalikan!! Kembalikan!!! Kembalikan keluargaku!!!!!"


"Hiks... hiks... hiks...."


Bersamaan dengan isak tangis yang memilukan hati itu, mata merah muda Mio perlahan berubah warna menjadi ungu. Tanpa gadis itu sadari, membunuh ketiga Youkai dengan level lebih dari 800 dalam waktu dekat, membuatnya berhasil menembus batasan levelnya.


Kini Mio telah resmi menjadi Spirit Beast diluar batasan dengan level lebih dari 1000.


"Ahh.... benar juga... kenapa aku lupa..."


Mata ungu Mio yang penuh dengan kesedihan saat ini juga dipenuhi amarah, dendam dan kebencian yang jauh lebih besar dari siapapun.


"Akan kubunuh... aku akan membunuh semuanya... Semua orang yang membuat Kerajaan Amamiya menjadi seperti ini!"


"Akan mati di tanganku!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bonus


Pemandangan hamparan bunga matahari indah di pinggir danau yang asri nan hijau, seorang wanita berambut hitam dan telinga kucing berdiri termenung menatap langit.


Tak jauh darinya, dua pria dan satu wanita tua melambai padanya. Sang wanita kucing terdiam sesaat sebelum berlari menuju pelukan mereka dengan mata basah namun penuh senyuman.


"Aku pulang!"

__ADS_1


__ADS_2