
Mio POV
Kugerakkan jari-jari tanganku yang kaku dengan gerakan sederhana. Sesekali, mataku melirik ke arah Youkai lainnya dan rakyat Amamiya secara bergantian.
Sepertinya semua Youkai mengalami hal yang sama. Rasa sakit yang menyiksa kami beberapa saat yang lalu hilang tanpa sisa.
Apa yang sebenarnya terjadi pada kami?
Tiba-tiba kesakitan, dan tiba-tiba hilang. Lalu perubahan wujud ini...
Aneh...
Aku... tidak merasakan apapun...
Rasanya kosong...
"Mio-senpai!!!! Apa kau baik-baik saja!!!!!?" jerit seorang gadis yang terpatung beberapa meter didepanku.
Hotaru... dia sudah melakukan yang terbaik untuk mengambil keputusan cepat, ya... Tapi apa ini?
Bukan perasaan bangga... atau malah senang.
Aku... kesal?
Kenapa?
Kenapa aku kesal?
Saat aku melihat Hotaru dan para rakyat dalam kondisi baik-baik saja, perasaanku memburuk. Apa ini? Kenapa aku merasa seperti ini!?
"Ini menyebalkan, bukan? Padahal kita kesakitan sampai seperti itu. Tapi kenapa mereka malah baik-baik saja?" kata Lilia-nee tidak terima.
?
Loh... seharusnya aku marah mendengar itu. Tapi kenapa aku justru setuju?
"Padahal kita sampai semenderita ini untuk melindungi mereka. Kenapa mereka tidak bisa bertindak sendiri dan terus menerus menjadi beban!?" marah Kota-nii.
Kota-nii!! Apa yang kau katakan!!? Itu tidak benar!!!
"Kota-nii, kali ini aku setuju dengan dirimu."
HAHH!??
Apa-apaan ini? Kenapa yang aku rasakan dan ucapkan jadi berbeda begini!? Tidak, tunggu... apa aku bahkan benar-benar berpikir kalau Kota-nii salah?
Kenapa... kenapa rasanya aku sangat marah?
"Mio-senpai!!! Youkai-sama!!!!!" jerit Hotaru lagi.
"Diam!!!" bentakku kesal.
Hotaru dan para rakyat terbelalak kaget. Tidak heran, aku belum pernah semarah ini pada mereka.
Tapi sekarang dadaku panas... kepalaku panas... kemarahan, kejengkelan, kecemburuan, iri hati, ketidakpuasan... semua hal itu tercampur aduk di dalam kepalaku.
Tenanglah Kitsuna Mio!!
Jelas ada sesuatu yang aneh pada dirimu!!
"..... Untuk sekarang, ayo pergi menjauh dari mereka. Rasanya aku bisa hilang kendali kapan saja karena kemarahan besar ini."
"Mio? Kau mau kemana?" tanya Lilia-nee.
"Ada yang aneh dengan kita, di dalamnya maksudku. Untuk sementara, aku mau berdiam diri di gunung sebelum melakukan sesuatu yang akan kusesal-"
DEEEEGGGGGGG
"!?"
Debaran ini lagi!!! Apa ini...? Panas... tubuhku panas...
Berbeda dari sebelumnya, kali ini sama sekali tidak terasa sakit. Tapi sesuatu yang berbeda... seakan merasuki diriku.
"Hahh... haahh... hah... hahhh..."
Napasku berat... jantungku berdebar terlalu kencang... Kepalaku berdenyut-denyut... Lalu rasa sesak di dadaku ini... apa sebenarnya yang terjadi pada kami!?
__ADS_1
Dan kenapa dari tadi aku terus berpikir...
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!
Begitu!?
APA-APAAN RASA HAUS DARAH GILA INI!!?
Segera kutolehkan kepalaku ke arah para kakak. Keadaan mereka tak jauh berbeda dariku. Mereka begitu kesulitan menahan napsu membunuh yang tertanam teramat sangat jauh dalam hati kami.
Ini buruk, beneran buruk. Kalau begini terus...
"Youkai-sama!! Apa anda semua baik-baik saja!?" tanya seorang samurai pemberani yang mendekat ke arah kami.
Bodoh!! Jangan mendekat!!! Kalau kamu mendekati kami sekarang-!
SLAAAASSSHHHHHHH
Bunyi yang begitu satisfying di telingaku, lengkap dengan pemandangan sadis kepala terlepas dari tubuh membuat dadaku bergejolak.
"K-KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!"
Haha... kenapa?
Kenapa jeritan warga yang panik dan takut ini justru membuatku senang?
Melihat warga kocar kacir ketakutan seperti gerombolan semut yang kehilangan ratunya membuatku terhibur? Kenapa?
"Ahh... aku tidak tahan lagi... Bau darah ini... aku ingin lagi... aku ingin mencium bau darah ini lebih banyak lagi..." seringai Lilia-nee menakutkan.
Kota-nii terlihat sedikit kesal, "Oi oi... jangan lupa kau tidak sendirian! Jangan terlalu berlebihan sampai menyantap jatah kami juga?!"
Huh!? Kenapa Kota-nii berkata begitu!? Mereka ini rakyat Amamiya loh!!! Mana boleh kita Youkai pelindung Kerajaan bersikap seperti ini!!!!
KRAUUKKK KRAUUKKK KRAUUKKK
Bunyi apa itu?
!!!???
Kazu-nii!!??
Kazu-nii menyantap anggota tubuh pria tadi dengan mulut laba-labanya secara langsung!!? Kazu-nii!! Apa yang kau lakukan!?? Dia itu rakyat Amamiya!!!!
"Aku tidak masalah kalau kalian membunuh mereka semua, tapi sisakan tubuhnya untukku," ucap Kazu-nii setelah selesai makan.
Kota-nii dan Lilia-nee menyeringai sadis. "Tentu tidak masalah, tapi daripada pada kami... bukankah seharusnya kamu menanyakan itu ke Mio?"
"Huh?"
"Apa maksudmu Kota-nii? Kenapa bawa-bawa aku?" ucapku tak terima.
Kota-nii mengeluarkan ekspresi yang aneh, "Apa maksudmu apa? Bukankah kau yang terlihat paling ingin membunuh mereka semua?"
Apa? Apa yang dia katakan!?
"Coba kau lihat dirimu, Youkai yang tersenyum paling lebar dan merona merah saat melihat seseorang terbunuh didepan matamu."
__ADS_1
"!!"
Aku segera melirik ke arah danau tak jauh dari sana untuk melihat pantulan diriku di air.
Dan benar saja...
"Kau benar... aku benar-benar ingin membunuh mereka..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Istana Kekaisaran Levana
Setelah mengalami pesta yang begitu melelahkan dan diskusi panjang antar negara, seorang wanita memutuskan untuk beristirahat di kamarnya sembari menikmati teh dan camilan khas Kekaisaran Levana.
Sesekali dia bersenandung kecil dan tersenyum-senyum melihat jendela.
TUK TUK TUK
"Hm?"
Seekor burung merpati berwarna putih bersih beberapa kali mengetuk jendelanya. Sadar bahwa burung itu bukan burung biasa, wanita itu langsung membuka jendela agar burung itu bisa masuk.
Keajaiban terjadi, sesuatu yang semula adalah burung, berubah menjadi secarik kertas dan jatuh ke tangan wanita itu. Tentu saja sang wanita paham kertas apa itu dan apa fungsinya, makanya dia tidak terkejut sama sekali.
"Kertas sihir... kalau sampai dikirim melalui media mahal seperti ini... pasti hal yang sangat penting," batin wanita itu sebelum membacanya.
Tanpa membuang waktu, dia segera membacanya dengan cermat.
"!!!!"
"Apa-apaan ini!!?" bentaknya kaget.
Kertas yang telah dia baca langsung terbakar begitu lepas dari tangannya. Wanita itu bangkit dari kursinya dan dengan tergesa-gesa mengganti gaunnya dengan pakaian yang lebih nyaman digunakan untuk bepergian jarak jauh. Dia tidak membawa apapun bersamanya, termasuk barang-barang yang dia bawa dari Kerajaannya.
BRAAAAAAAAKKKKKKKK
Pintu terbanting hingga mengejutkan ksatria yang menjaga pintu kamar wanita itu.
"Nyo-Nyonya Kaleena, apa ada masalah!?" tanya salah seorang ksatria.
Wanita berambut coklat kayu dan mata hijau daun itu adalah Kaleena, duta dari Kerajaan Amamiya.
"Aku akan kembali ke Kerajaan Amamiya! Tolong bantu sampaikan permintaan maafku pada Baginda Kaisar. Tapi ini urusan mendesak!"
"Tung- Nyonya Kaleena!!!!!!"
Tak menggubris para ksatria barang sedikitpun, Kaleena langsung melaju secepat yang dia bisa ke arah balkon dan dari sana terbang kembali ke Kerajaan Amamiya dengan kecepatan penuh. Sama sekali tak ada ketenangan di wajahnya. Perasaannya benar-benar tidak baik-baik saja setelah membaca surat tadi.
"Kota, Lilia, Kazuha, Mio!! Aku mohon... tolong bertahanlah sampai aku tiba!!" batinnya gelisah.
"Ya Dewi... aku sangat jarang berdoa kepada-Mu. Jadi kumohon... untuk kali ini... tolong dengan sangat, lindungi adik-adikku!!"
Ingatan tentang isi surat yang tadi dibacanya sejenak terlintas di pikiran Kaleena.
__ADS_1