
Tatapan kosong yang Mio keluarkan di tengah-tengah tumpukan mayat tak lagi terasa kehidupan. Mio tidak tau harus berbuat apa lagi sekarang. Saudara-saudarinya dan rakyat yang selalu dia lindungi sudah mati di tangannya sendiri. Bahkan meski dirinya telah mendengar bahwa mereka memaafkannya, Mio tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Di kala itulah, berjalan dua sosok jelita yang tak menapak tanah. Keduanya menatap Mio dengan mata simpati. Rasa tak tega tergambar jelas di mata mereka.
Salah satu dari keduanya memancarkan cahaya keemasan yang hangat. Wanita berambut dan harum bunga matahari dengan mata hijau yang bersinar itu serasa ingin menangis melihat keadaan Mio.
{ Kitsuna Mio... apakah dirimu merasakan penyesalan karena telah menyerang makhluk didalam batasan? }
Pertanyaan yang keluar dari mulut wanita cantik itu sama sekali tak membuat Mio merespon. Mio hanya duduk termenung seperti sebelumnya. Tanpa menatap wanita itu, Mio mulai menggerakkan bibirnya.
"Kalau yang anda maksud adalah rakyat saya, maka saya menyesal. Namun kalau yang anda maksud adalah para serangga yang memaksakan keadaan ini pada saya, bahkan jika waktu terulang kembali, saya akan melakukan hal yang sama," jawab Mio sopan.
Mio bisa langsung mengetahui siapa dua makhluk didepannya hanya dari aliran mana mereka, dan keduanya bukanlah orang yang bisa seenaknya di hadapi dengan kata-kata informal. Mendengar jawaban Mio, wanita tadi menggeleng lembut.
{ Yervant, apa kita benar-benar tidak bisa memberikan pengecualian untuk gadis ini? }
Wanita itu mengeluarkan tatapan memohon pada orang disebelahnya. Namun pria yang memancarkan cahaya biru kehijauan gelap layaknya laut itu menggeleng. Pria dewasa berambut biru laut dan mata emas itu menghela napasnya.
[[ Tugas kita adalah menegakkan peraturan. Tidak peduli apa alasan dibalik pelanggaran itu, selama mereka melanggar aturan, mereka harus diadili. Apa kau lupa itu, Tiana? ]]
{ Tidak mungkin, hanya saja... rasanya ini terlalu menyedihkan... }
Yervant sebenarnya juga setuju dengan kata-kata wanita disebelahnya. Namun yang namanya peraturan tetaplah peraturan. Makhluk di luar batasan tidak boleh ikut campur urusan makhluk didalam batasan agar tragedi zaman dulu dimana ketidak seimbangan kekuatan yang menyebabkan dunia hampir hancur terjadi kembali.
Pria bernama Yervant dan wanita bernama Tiana yang datang bersama entah dari mana itu kini bersama-sama menyentuh pundak Mio dengan masing-masing tangan mereka.
[[ Kitsuna Mio, kuanggap kau sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk hukuman yang akan kau dapatkan ]]
{ Tolong jangan terlalu membenci kami karena ini }
__ADS_1
Mio tidak peduli, dari awal dia sudah bersiap untuk apapun yang akan terjadi, bahkan jika nyawanya terenggut. Toh, untuk apa memikirkan hukuman yang tidak akan lebih buruk dari tragedi yang baru dia alami?
CRIIIIIIIIINGGGGGGGGGG
Cahaya perak yang sangat menyilaukan keluar dari tubuh Mio. Tak selang lama, cahaya itu berubah menjadi gelap sedikit demi sedikit hingga akhirnya berwarna hitam sepenuhnya. Cahaya atau aura hitam yang keluar dari tubuhnya terserap masuk kedalam tangan pria dan wanita itu.
Hanya butuh waktu singkat hingga seolah-olah aura hitam tadi menghilang sepenuhnya dari tubuh Mio. Mio merasakan rasa yang aneh dan sedikit menggelitik namun tidak menyakitkan dari tubuhnya.
"Jadi begitu... hukumanku kali ini adalah menghapus permanen Berkah Sihir Kegelapan (The Blessing of Darkness Magic) dari diriku," batin Mio di tengah-tengah penyedotan.
"Sudahlah, apa gunanya memiliki berkah elemen yang tidak bisa membantuku melindungi orang yang kusayang."
Wanita dan pria itu merasakan bahwa Mio sama sekali tidak peduli meski dirinya kehilangan salah satu berkah elemennya, padahal elemen kegelapan adalah salah satu yang terlangka di dunia ini.
Sebagai catatan, tentu saja orang normal tidak mungkin mampu untuk menarik berkah elemen seseorang secara permanen. Apalagi keduanya bisa melakukan itu tanpa perlawanan dari orang yang mereka tarik berkahnya.
Penyedotan sudah selesai dilakukan, kini Mio tak lagi bisa menggunakan sihir kegelapan tanpa perantara (alat sihir seperti kertas teleportasi tidak termasuk).
[[ Ayo kembali Tiana! Tidak baik jika kita terlalu lama disini ]]
{ Aku mengerti, Yervant }
Wanita dan pria itu berbalik menjauh dari Mio, sesekali wanita itu melirik Mio penuh rasa simpati. Dirinya sudah banyak memberikan hukuman bagi para pelanggar sebelumnya, namun kasus yang menyedihkan seperti Mio sangat jarang dia temui, bahkan meski millenium tahun telah berlalu.
"..... Tolong izinkan saya menanyakan satu hal, Baginda Ratu Peri dan Baginda Raja Spirit..." ucap Mio tiba-tiba.
Tiana dan Yervant berhenti sejenak dan menoleh ke arah Mio.
[[ Ada apa? ]]
__ADS_1
Masih dengan tatapan kosongnya, Mio mengangkat wajahnya agar dirinya bisa melihat jelas wujud kedua orang yang memiliki pancaran aura mana luar biasa besar itu.
"Apakah... pelanggar yang sudah mati akan tetap menerima hukuman pelanggaran batasan ini? Sesuatu seperti... menghukum jiwa mereka atau menghukum mereka di kehidupan selanjutnya."
Yervant mengerutkan keningnya, dia tidak suka alasan Mio menanyakan hal semacam ini tiba-tiba. Karena ujung dari pertanyaan ini pasti bukan sesuatu yang bagus. Meski enggan menjawab, Yervant tetap menjawabnya setelah menggeleng beberapa kali.
[[ Orang yang sudah mati tidak akan menerima hukuman lagi. Karena kematian itu sendiri sudah menjadi hukuman bagi mereka. Namun mereka akan mengalami jeda reinkarnasi yang cukup lama demi memulihkan jiwa mereka ]]
"Terimakasih... atas jawabannya."
Tiana menatap Mio penuh kekhawatiran. Dia juga merasa tidak mungkin pertanyaan seperti ini hanyalah sekedar pertanyaan yang sepintas melewati kepalanya.
{ Dengar nak, jangan coba-coba melanggar batasan hingga mengorbankan nyawamu. Meski kamu tidak akan mendapat hukuman lagi, tapi jiwamu akan mengalami kerusakan yang cukup parah. Jika kamu sudah bereinkarnasi nanti, takutnya masih ada dampak dari kerusakan itu }
Mio tidak menjawabnya, dia tetap menutup mulut hingga Ratu Peri dan Raja Spirit meninggalkan dirinya dan kembali ke dimensi yang berbeda, tempat mereka berasal. Keduanya tidak bisa terlalu lama berada di Demetria karena keberadaan mereka sendiri sudah bisa membuat ketidakseimbangan. Itulah kenapa para peri dan spirit memiliki dimensi mereka sendiri yang terpisah namun tetap terhubung dengan Demetria.
"........"
"........"
Mio bangkit dari duduknya. Dia menggeret kakinya sendiri ke suatu tempat.
Mata cantiknya menatap langit malam penuh bintang yang begitu indah. Rasanya seolah-olah rakyat dan saudaranya sudah menjadi bintang yang menghiasi langit malam.
Mio melirik ke arah portal misterius yang terbentuk tadi dan memunculkan kedua makhluk penjaga Demetria. Sejujurnya Mio tidak menyangka kalau hukuman para pelanggar batasan akan diberikan langsung oleh mereka berdua. Namun dirinya sudah terlalu lelah untuk terkejut.
"Maafkan aku Hotaru... Minna... Maafkan aku Tiana-sama... Tapi aku... baru sadar... kalau aku belum menyelesaikan semuanya."
Di bawah langit malam yang gelap dan terang sekaligus, mata Mio sepintas mengembalikan siluetnya.
__ADS_1
"Aku masih harus mengurus akar dari masalah ini."