Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 24 [ Tombak Amenonuhoko ]


__ADS_3

Mio seketika teringat, kalau yang menyerangnya adalah Kuil Suci, maka artinya pihak yang di panggil Yang Mulia sekaligus pemimpin pemusnahan Kerajaan Amamiya adalah Sang Paus itu sendiri. Mio memang tidak pernah bertemu dengan Sang Paus, dia hanya beberapa kali mendengar tentang wanita itu.


"........."


Gadis Kitsune itu berjalan kecil sembari menggeret pedangnya. Dia berputar dalam lingkaran besar seakan membentuk sebuah pola dari goresan pedangnya. Dan benar saja, bekas goresan pedang itu membentuk sebuah lingkaran sihir raksasa dengan Mio sebagai pusatnya.


Karena goresan yang dibuatnya cukup besar, darah yang Mio keluarkan dari tangannya dapat mengisi kedalaman itu. Gadis kecil itu sama sekali tidak peduli meski dia akan kehabisan darah dan terus melanjutkannya hingga seluruh lingkaran sihir terkena darahnya.


Tubuhnya oleng beberapa saat karena anemia, namun Mio tetap mencoba berdiri tegak di tengah.


[[ Orang yang sudah mati tidak akan menerima hukuman lagi. Karena kematian itu sendiri sudah menjadi hukuman bagi mereka. Namun mereka akan mengalami jeda reinkarnasi yang cukup lama demi memulihkan jiwa mereka ]]


{ Dengar nak, jangan coba-coba melanggar batasan hingga mengorbankan nyawamu. Meski kamu tidak akan mendapat hukuman lagi, tapi jiwamu akan mengalami kerusakan yang cukup parah. Jika kamu sudah bereinkarnasi nanti, takutnya masih ada dampak dari kerusakan itu }


Kalimat yang diucapkan Ratu Peri dan Raja Spirit terlintas di kepalanya.


"Ha... HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!!!"


"Mati?! Jeda reinkarnasi!? Dampak ke kehidupan selanjutnya!!? Pers*tan dengan semua itu!!!!"


"Apa semua itu... bisa lebih buruk dari ini?" tawanya dengan raut wajah sedih.


Mio menundukkan kepalanya dan melihat tanah Kerajaan Amamiya tempatnya berdiri.


"Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku... aku pasti akan menggeret paus sialan itu bersamaku!"


Pikiran gadis itu sudah kacau. Sekarang dia tidak bisa memikirkan hal lain selain membalas dendam dan mati setelahnya. Dengan tangan yang terulur ke depan, gadis itu mulai merapalkan sebuah mantra. Mantra yang jauh lebih panjang daripada semua mantra yang pernah digunakannya.


Kitsuna Mio memang bisa mengunakan sihir tanpa rapalan, namun khusus mantra ini, dirinya tidak bisa. Karena ini adalah sihir skala besar yang memiliki dampak luar biasa. Sihir yang Mio coba gunakan adalah satu-satunya sihir yang hanya bisa digunakan oleh Penyihir Agung Charrlain dan 5 muridnya. Jika dalam keadaan biasa, butuh mereka berlima untuk bekerja sama menggunakan sihir ini. Namun Mio yang sudah menembus batasan dan rela mengorbankan semua mana dan nyawanya, memaksakan diri untuk menggunakan sihir ini sendirian.


[ Yari Amenonuhoko-shin Izanagi ]


Tombak Amenonuhoko Dewa Izanagi, sihir cahaya tingkat Mythic yang diciptakan Penyihir Agung Charrlain dari legenda Jepang. Konon, Dewa Izanagi mengaduk lautan dengan tombak Amenonuhoko (天之瓊矛) untuk menciptakan Pulau Onogoro (淤能碁呂島), yang merupakan cikal bakal Jepang.


Sihir ini adalah rudal yang diciptakan Penyihir Agung Charrlain demi mengalahkan raja iblis sekaligus melindungi Kerajaannya. Sihir tingkat Mythic adalah sihir skala besar yang mampu menghancurkan satu kekaisaran jika berhasil di luncurkan. Normalnya, baik makhluk di dalam maupun di luar batasan, tidak mungkin menggunakan sihir tingkat Mythic diluar benua Melayang dan Iblis karena skala penghancurannya yang terlalu besar.

__ADS_1


Dan sekarang, sihir semacam ini mengarah langsung ke Kekaisaran Suci tempat Kuil Suci dan Paus berada.


"Kuuhugghh!...."


Mio sama sekali tidak menghentikan rapalannya meski muntah darah dan gemetar hebat hanya dari mengucap mantranya. Gadis itu terus dan terus mencoba bangun, bersandar pada pedangnya.


"Sedikit... lagi... kumohon... bertahanlah sedikit lagi..." batin Mio terengah-engah.


[ Yari Amenonu-


"Kughhhttt...."


Belum sempat mantra terucap, Mio lagi-lagi muntah darah. Namun gadis itu sama sekali tidak menyerah. Matanya memancarkan tekad yang sangat kuat untuk berhasil.


Gadis itu menggertakkan giginya kuat-kuat hingga berdarah, dalam satu tarikan napas, Mio mengucapkan mantra terakhirnya.


[ Yari Amenonuhoko-shin Izanagi ]


Mio dengan lantangnya mengucapkan nama dari sihir itu. Dan seketika, lingkaran sihir raksasa yang dibuat dari goresan dan darahnya bersinar emas terang hingga sinarnya melayang ke udara.


"!!!"


Tentu saja Kaleena yang tengah menuju ke Kerajaan Amamiya secepatnya langsung menyadari arti dari langit yang berubah warna itu.


"Yari Amenonuhoko-shin Izanagi!!? Kenapa sihir itu bisa... gawat, situasinya lebih gawat dari yang kukira. Aku harus bergerak lebih cepat lagi!!!" batin Kaleena panik.


Sebelumnya Kaleena sudah mengeluarkan semua yang dia bisa untuk segera sampai ke Kerajaan Amamiya. Namun meski dia sudah mengeluarkannya, tetap membutuhkan waktu yang lama karena jarak yang begitu jauh. Ibukota Kekaisaran Levana berada tepat di tengah Benua Manusia, sedangkan Kerajaan Amamiya jauh di pelosok Benua Sihir, jelas saja waktu yang diperlukan tak sedikit.


Kaleena mengabaikan rasa sakit di kakinya akibat terus melaju tanpa jeda istirahat. Dia memaksakannya diri menggunakan pohon-pohon sebagai tolak dorongan agar kecepatannya meningkatkan meski harus melukai kakinya.


Sayang sekali, tak peduli secepat apa dia melaju sekarang, semua itu tak akan lebih cepat dari peluncuran sihir Mio.


Begitu langit berubah warna di seluruh Demetria, beberapa orang yang mengetahui arti sebenarnya hal itu segera menyiapkan antisipasi karena tak ada yang mengetahui apa target dari sihir itu. Tentu saja Kekaisaran Suci adalah sebuah pengecualian. Hanya dalam sekali lihat, para pemimpin disana langsung mengetahui kalau Kardinal yang dikirim untuk menghancurkan kerajaan Amamiya gagal melaksanakan tugasnya.


"Siapa yang memasang sihir itu!? Apa dia bodoh!!?" batin Kaleena tak tau lagi harus bagaimana.

__ADS_1


"Sebenarnya situasi macam apa yang memaksanya menggunakan sihir ini???"


CRIIIIIIIIINGGGGGGGGGG


Langit yang berubah warna menjadi emas, mendadak berubah kembali ke warna aslinya yang hitam malam. Cahaya emas itu bagaikan kaca yang pecah dan pecahannya berkumpul menjadi beberapa bagian. Dari beberapa bagian itu, tergambar garis-garis yang menghubungkan titik emas yang satu dengan yang lain hingga bentuk akhirnya adalah sebuah rasi bintang yang sangat cantik nan besar. Seakan tergambar seorang pria yang hendak melempar tombaknya.


Melihat langit yang seperti itu, Kaleena mengeluarkan keringat dingin. Masternya memang mengajari kelima muridnya agar mereka bisa menggunakan sihir itu jika bekerja sama, tapi tak sekalipun sihir itu pernah mereka gunakan. Jadi sejujurnya ini adalah kali pertama dia melihat sihir ini dalam wujud aslinya.


Tubuhnya gemetar, hanya dari melihatnya saja dia sudah ketakutan. Perasaan merinding dan was-was ini seakan komet siap jatuh ke atasnya kapan saja. Hal yang sama juga terjadi pada makhluk lain didalam batasan. Rasanya bagai mereka diperlihatkan wujud asli Dewa Kematian.


Siapa saja yang terkena sihir itu, akan dipastikan akan tewas seketika jika dirinya adalah makhluk didalam batasan yang tidak memiliki artefak tingkat Mythic ke atas yang mampu menahan serangan itu.


Pemandangan layaknya fatamorgana yang memikat hati sekaligus mematikan ini juga membuat seseorang yang tak pernah memasang ekspresi panik mulai berkeringat dingin. Dari balkon istananya, dia memandang langit malam yang begitu indah itu dengan mata tak senang.


"Ck, Penyihir Agung sialan! Sudah mati masih saja membuat masalah untukku. Seharusnya kalian hancur dengan tenang. Kenapa justru meninggalkan sesuatu yang merepotkan seperti ini."


"Yang Mulia!!! Apa yang harus kita lakukan!? Kalau kita tidak melakukan apapun, Kekaisaran Anessa bisa hancur!!" jerit seorang kardinal ditemani beberapa kardinal lainnya.


Wanita yang disebut "Yang Mulia" oleh para kardinal itu meremas tongkatnya penuh kemarahan.


"Apa boleh buat, ambilkan benda itu! Tanpa itu, mustahil untuk lolos dari sihir tingkat Mythic!" seru wanita itu pada para pelayannya.


Para pelayan wanita itu segera mengambil benda yang dimaksud wanita itu tanpa membuang waktu lebih lama lagi.


"Murid jala*g itu benar-benar memaksaku menggunakan itu!! Memakainya hanya membuatku dalam masalah, tapi jika tidak dipakai, masalahnya justru akan semakin merepotkan."


"Menghindari 100% mata Benua Melayang sudah tidak mungkin lagi kalau itu digunakan. Salah-salah seluruh rencana kami selama ini bisa gagal karena kesalahan kecil."


Para pelayan telah kembali dengan sesuatu yang dimaksud wanita itu. Sesuatu itu diletakkan dengan hati-hati di atas bantal merah oleh pelayan sebelum diserahkan pada Yang Mulia mereka. Tangan putih wanita itu terulur untuk mengambil sesuatu itu dan memakainya.


Sebuah perubahan yang cukup mengejutkan seluruh makhluk di dalam ruangan itu terjadi pada wanita yang merupakan pemimpin tertinggi Kekaisaran Anessa dan Kuil Suci, Yang Mulia Paus.


"Setelah ini, aku akan berada di kondisi tak bisa memerintah langsung Kekaisaran Anessa. Akan kuserahkan pemerintahan pada Kardinal Pertama dan Kuil Suci pada Saintess!" seru sang Paus diikuti kepatuhan bawahannya.


"Sebelum aku kembali, pastikan untuk menangkap siapapun yang meluncurkan sihir itu hidup atau mati dan bunuh semua orang yang selamat dari Kerajaan Amamiya!!" ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


"BAIK YANG MULIA!!! KEINGINAN ANDA ADALAH PERINTAH BAGI KAMI!!!"


__ADS_2