Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 21 [ Pembalasan Kerajaan Amamiya ]


__ADS_3

Tak perlu waktu yang terlalu lama sampai mereka tiba di Ibukota Kerajaan Amamiya. Yang tersisa di kerajaan kecil itu hanyalah puing-puing bangunan rusak, darah dan mayat yang tersebar dimana-mana. Benar-benar pemandangan yang mengerikan.


Mio melempar sang Kardinal tepat di depan istana kerajaan.


"Apa yang ingin kau lakukan!? Ingat ini, apapun yang kau lakukan padaku! Itu tidak akan merubah apapun!!" ejeknya.


Sepertinya sang Kardinal sadar kalau dirinya tak akan hidup bagaimanapun juga. Dan karena Mio sudah menanamkan kutukan padanya, dia tidak bisa bunuh diri untuk mati cepat.


Mio terlihat sama sekali tidak mempedulikan pria itu. Gadis Kitsune itu hanya termenung sedih menatap kumpulan mayat-mayat di sekitarnya. Mio menangkupkan kedua tangannya layaknya sedang berdoa. Dengan suara lembut dan payu, gadis itu mulai mengeluarkan sihirnya.


[ Fukkatsu ]


SRRRRKKKKKKK


Ratusan, bahkan ribuan mayat yang terbaring tanpa nyawa mulai berdiri satu demi satu. Sang Kardinal ketakutan, tak dia sangka sihir semacam Nekromancer akan terlihat di Kerajaan kecil semacam ini. Namun seluruh sihir para Youkai dari awal memiliki dasar yang berbeda dari sihir dunia ini. Sihir Mio tak bisa dibandingkan dengan nekromancy itu. Karena dasarnya sudah berbeda, tentu saja hasilnya juga berbeda.


Meski mirip dengan Nekromancy dimana mayat akan berubah menjadi Ghoul atau skeleton, mayat yang bangkit karena sihir Mio juga tidak berpikiran kosong seperti yang biasa. Mayat yang bangkit karena sihir Mio, tak akan bertahan lama layaknya Ghoul dan skeleton. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan kembali kesadaran mereka dan luka-luka di tubuh mereka pulih seketika layaknya disembuhkan dengan sihir cahaya tingkat Legend ke atas.


Para mayat itu linglung sesaat karena baru saja dibangkitkan. Ketika menggunakan sihir ini, Mio tak akan bisa bergerak dan mana-nya akan terus terkuras dengan jumlah yang luar biasa banyak. Gadis itu duduk dengan tenang di tempat biasanya dia bermain Lyra bersama anak-anak.


Mayat memang tidak mengetahui apapun. Namun mayat yang dibangkitkan dengan sihir ini, akan dapat melihat ingatan dari tubuh mereka bahkan ketika mereka sudah lama mati. Berkat ingatan itu semua, mayat para rakyat menyadari apa yang terjadi selama ini. Tentang bagaimana dan kenapa kerajaan mereka hancur, tentang bagaimana para Youkai mati satu demi satu di tangan Mio dan tentang betapa hancurnya sang Kitsune sekarang.


Mereka tentu juga menyadari alasan mereka dibangkitkan. Semua itu agar mereka dapat membalaskan dendam mereka sendiri. Baik pada sang Kardinal, maupun pada Mio itu sendiri.


Sebagai mayat hidup, mereka tidak dapat berbicara dengan jelas dan kondisi tubuh mereka tak sebaik saat masih hidup. Namun mata mereka tidak tertutup. Mereka melihatnya sendiri. Mio duduk tanpa pertahanan apapun dengan mata orang mati penuh penyesalan.


Untuk saat ini, mereka semua mengabaikan Mio yang duduk diam menjalankan sihirnya dan berjalan ke arah sang Kardinal satu demi satu. Sang Kardinal tidak diam saja, karena tangan kegelapan yang mengikatnya sudah tidak ada, dia segera melarikan diri sekuat tenaga. Namun jumlah rakyat Amamiya terlalu banyak. Di tambah tak peduli sebanyak apapun dia menebas mereka dengan pedang, mayat-mayat itu akan selalu pulih seakan tak pernah tertebas.


Pria itu juga tidak bisa menggunakan sihir lagi karena semua mana dan artefaknya sudah habis terpakai saat melawan Mio.

__ADS_1


"Sialan!! Apa-apaan mereka ini!!?" batin sang Kardinal penuh amarah.


Sang Kardinal kesulitan melarikan diri dari mayat-mayat yang tak ada habisnya itu. Di kala ia melarikan diri, pandangannya mengarah pada Mio sesaat.


"Benar juga! Kalau aku membunuh pengguna sihirnya, semua mayat itu akan kembali jadi mayat!!!"


Mengabaikan semua mayat hidup, dia hanya fokus pada Mio yang tanpa pertahanan. Pria itu dengan cepat menebas siapapun yang menghalanginya. Dan tau-tau, dia sudah ada didepan Mio begitu saja. Pria itu mengangkat pedangnya, dia tak membuang waktu sama sekali. Namun...


PLAAAANNGGGGG


Pedangnya patah seperti sedang menebas plakat besi.


"!?!?!?!?"


Mio melirik sang Kardinal tajam. Dia memang tidak memasang penghalang apapun, namun bukan berarti sang Kardinal bisa menyerangnya begitu saja. Karena dari awal kemampuan fisik para Youkai sudah jauh di atas manusia, apalagi kini Mio sudah ada di luar batasan. Kecuali dia mengizinkannya, tak ada makhluk didalam batasan yang bisa melukainya.


Tanpa bergerak seinci pun, Mio bisa mengendalikan Sang Kardinal seakan gravitasi berpihak padanya. Sejauh ini, orang yang bisa menggunakan sihir tanpa rapalan, baik didalam maupun di luar batasan sangatlah sedikit, Mio juga termasuk ke dalam salah satu diantaranya.


Gadis itu membanting sang Kardinal tepat ke depan kumpulan mayat hidup yang dipenuhi dendam dan kebencian. Mereka yang sekarang ini, tak bisa dibilang berbeda dari roh jahat pembalas dendam juga. Namun itu hal yang wajar, mengingat semua hal kejam ini terjadi karena pria itu.


"AAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRHRHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"


Tanpa ampun barang sedikitpun, semua mayat itu melampiaskan amarah dan dendam mereka akan semua yang terjadi pada Kerajaan Amamiya. Baik pria maupun wanita, tua ataupun muda, semuanya tak luput dari amarah mereka. Di tusuk, di tebas, di gigit, di pukul, di sayat, dibakar, di palu, dan berbagai aksi lainnya dilakukan para rakyat. Normalnya sang Kardinal pasti sudah ratusan kali mati karena itu, tapi Mio terus menyembuhkan pria itu setiap dia terluka untuk memastikan dia tetap hidup.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


Entah sudah berapa jam penyiksaan itu berlangsung, namun amarah, dendam dan kebencian para rakyat padanya tak kunjung hilang. Yang memilukan, tak sedikit anak-anak terlibat didalamnya karena sesuatu yang tak seharusnya dialami anak usia itu. Mio melihat semuanya dari awal sampai akhir tanpa memalingkan wajahnya. Dia juga mendengar semua jeritan jiwa-jiwa yang marah itu pada sang Kardinal dan para Youkai yang kalah dari kutukan itu.


Gadis itu sudah menyiapkan dirinya akan hal-hal semacam ini yang menanti dirinya. Namun dia tidak bisa menahan rasa sakit mendengar jeritan mereka semua.


"To-tolong bunuh saja aku...."


Sang Kardinal gemetaran kesakitan. Meski tubuhnya tetap sehat dan segar, namun rasa sakit dari semua tadi tetap dia rasakan tanpa pengurangan.


Baik Mio maupun para rakyat, masih belum bisa memaafkan pria itu. Meski mana-nya akan habis karena penggunaan sihir tingkat Legend yang sangat menguras mana, Mio tidak akan berhenti sampai para rakyat menginginkannya. Dia sudah berniat menggunakan sisa hidupnya sebagai ganti mana saat mana-nya habis nanti.


Tapi sepertinya, niat Mio tak akan terlaksana.


"Baiklah, cukup sampai disitu semuanya. Kalau kalian melakukannya lebih jauh lagi, kita sama saja dengan dirinya bukan? Jangan buat posisi kita berubah dari korban menjadi pelaku!"


"!?!?!?!?!?!?"

__ADS_1


__ADS_2