Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 19 [ Kemarahan Sang Kitsune ]


__ADS_3


Sang Kitsune merasakan perubahan dalam dirinya. Kekuatannya meningkat drastis karena dirinya telah menembus batasan level. Berkat hal itu, seluruh luka sang Kitsune langsung pulih seperti sedia kala. Energi dan tenaga yang hilang juga terisi kembali. Lalu ekor sembilan yang tadinya menghilang, kini muncul lagi.


Hanya dalam satu gerakan tangannya, pakaiannya yang compang camping mulai rapi kembali dan menjadi lebih cantik dari sebelumnya. Sang Kitsune mengambil kuncir milik sang Nekomata yang selalu menguncir rambut panjangnya. Dikuncirlah rambut emas Sang Kitsune dengan gaya ekor kuda seperti kakaknya itu.


Sang Kitsune juga mengambil pedang milik Sang Tengu yang menancap di tubuh kakaknya dengan hati-hati. Di pedang itu, ada sebuah pita ungu yang terikat. Pita itu diambilnya dari hiasan pakaian Sang Jorogumo. Dengan memiliki ketiga bends milik kakaknya, dia akan lebih merasakan dorongan dalam berbagai hal.


"Lilia onee-chan... Aku pergi dulu. Setelah semua ini berakhir, aku janji akan mengistirahatkan tubuh kalian dengan tenang," pamit Sang Kitsune penuh nada kelembutan.


Sang Kitsune meninggalkan tubuh dingin kakak perempuannya dalam posisi tidur lurus. Dia pergi tanpa menengok ke belakang. Matanya menatap lurus ke depan.


Pedang katana milik Sang Tengu di angkat tinggi-tinggi.


PRAAAAAAAAAAANNNNNGGGGGG


Hanya dalam satu ayunan, barrier yang menjadi masalah besar Kerajaan Amamiya ini pecah seketika layaknya kaca yang terjatuh dari tempat tinggi. Barrier itu memang bisa menahan semua serangan makhluk didalam batasan, namun Mio kini telah menembus batasan levelnya sehingga menghancurkan barrier itu tak menjadi masalah baginya.


"Kalau saja aku memiliki kekuatan ini dari awal," batin Sang Kitsune sedikit menyesal.


"Tidak, apa yang kupikirkan. Kalau aku memang sudah menembus, musuh yang serius ingin menghancurkan kami pasti akan mengirim makhluk di luar batasan juga."


Sang Kitsune berhenti berpikir terlalu banyak. Saat ini tujuannya hanya satu. Membunuh semua orang yang terlibat dengan semua ini.


Sang Kitsune, Kitsuna Mio mendapatkan kembali kendali sihirnya. Dia sudah bisa menggunakan sihir kembali. Gadis itu melayang tinggi di atas awan dan melihat sekelilingnya.


"Disitu ya..."

__ADS_1


Begitu melihat kumpulan orang mencurigakan di sekitar Kerajaan Amamiya, Kitsuna Mio langsung meluncur ke arah mereka. Tentu saja musuh menyadari keberadaannya sejak barrier hancur begitu saja. Jumlah mereka lebih banyak dari yang Mio kira. Karena mereka tidak terlibat langsung, Mio pikir jumlahnya akan sekitar 500-1000 orang. Tak dia sangka kalau jumlahnya mencapai 5000 orang.


"Sialan, rubah jala*g itu!!! Semuanya!! Formasi B!!!!!" jerit seorang pria tua yang memimpin pasukan kecil itu.


Para ksatria yang mengikuti pria tua itu langsung bergerak mengikuti perintah. Mereka membuat formasi panah dimana bagian terdepan adalah tanker yang siap menggunakan sihir pertahanan dari mana cahaya. Di bagian samping ada para swordman dan dibelakang ada healer, support dan archer.


Mio memandang rendah mereka dari langit.


"Armor dan sihir itu... Ksatria Suci? Kenapa Ksatria Suci mencoba memusnahkan Kerajaan Amamiya!?"


Di tengah kemarahan Mio, gadis itu tetawa terbahak-bahak.


"Hahahahaha, jadi begitu. Kalian mencoba membuat kami menjadi penjahatnya?! Dasar kumpulan bajingan bermuka dua!"


"Padahal pihak Kuil dan Gereja itu sendiri yang memanggil pahlawan dari dunia lain, kurang ajar!"


"Baiklah, kalau itu mau kalian. Aku akan menjadi penjahatnya sekarang."


Dan benar saja, Mio tidak peduli hukuman apa yang akan menantinya jika dia membunuh 5000 makhluk di dalam batasan. Dia juga tidak peduli jika yang dia bunuh adalah orang tidak bersalah yang hanya mengikuti perintah. Satu-satunya yang gadis itu pikirkan hanya, semua orang harus mati.


Mio mengacungkan tangannya, dari sana muncul cahaya hitam yang bersinar terang.


"SEMUANYA BERSIAP!!! JAL*NG ITU AKAN MELAKUKAN SESUATU!!!!!!" jerit sang Kardinal pada pasukannya.


[ Mayonaka no Kokuyōsekinoken ]


Cahaya hitam di tangan Mio semakin dan semakin membesar sehingga membentuk sebuah pedang hitam raksasa yang memancarkan hawa membunuh yang begitu kuat. Dengan tatapan dingin di wajahnya, Mio melempar pedang itu ke arah 5000 pasukan Ksatria Suci yang telah membentuk barrier pelindung cahaya.

__ADS_1


Barrier yang mereka ciptakan bertubrukan dengan pedang kegelapan Mio. Para tanker berusaha sekuat tenaga menahan pedang Mio, namun semakin lama barrier dan tameng mereka semakin melemah.


"Ck, untung saja aku membawa artefak ini," kesal sang Kardinal.


Kardinal itu melemparkan sebuah pedang yang tadinya tersimpan tapi didalam peti mahal. Begitu menancap di tanah, pedang itu membesar seukuran pedang sihir Mio dan menggantikan barrier para tanker untuk melindungi pasukan.


"Ahh... Tuan Kardinal!!"


"Tuan Kardinal menyelamatkan kita!!"


Sang Kardinal terlihat tidak senang, "Apa kalian tau berapa banyak koin emas yang harus dikeluarkan untuk meminjam ini dari Yang Mulia Paus!?"


Berkat pedang itu yang mampu menahan pedang Mio hingga menghilang, tak ada seorangpun di pasukan yang terluka. Mereka dipenuhi kepercayaan diri akan jumlah dan equipment mereka. Tanpa menunggu lagi, Sang Kardinal segera memerintah Pasukan Ksatria Suci itu untuk menyerang Mio dengan seluruh kekuatan mereka.


Berbagai sihir telah di tembakkan mulai kelas tinggi hingga kelas epic, namun hanya dengan barrier kegelapan yang Mio keluarkan, satu serangan pun tak ada yang mengenainya.


"Dasar monster ini!!!!"


"Gunakan formasi C!!!!! Cepat!!!" bentak sang Kardinal.


"Baik!!!!"


Mio hanya diam melihatnya, dia membiarkan pasukan-pasukan itu mengeluarkan semua kartu mereka dulu. Formasi C telah selesai, pada formasi ini, bagian depan diisi swordman terkuat mereka yang sudah siap melakukan skill. Skill mereka di perkuat dengan sihir support dan healer, sedangkan tanker mengisi kekurangan mana karena penggunaan skill ini membutuhkan mana yang sangat besar.


5 Swordman terkuat mereka membentuk sebuah lingkaran dimana sang Kardinal berada di tengah. Kelimanya mengacungkan pedang mereka ke atas kepala Kardinal dan sang Kardinal sibuk mengucapkan mantra.


"Kenapa ****** itu hanya diam saja? Padahal ini saat yang sempurna untuk menyerang. Meski kami tidak akan membiarkannya semudah itu," batin Kardinal was-was.

__ADS_1


Alasan Mio hanya diam melihat sebenarnya sederhana. Mio ingin 5000 orang itu mengeluarkan semua yang mereka bisa untuk membunuhnya. Lalu ketika mereka menyadari bahwa serangan apapun yang mereka gunakan tidak berguna, mereka akan jatuh dalam keputusasaan di hadapan kematian layaknya yang Rakyat Amamiya hadapi dulu.


"Serang aku dengan semua yang kalian bisa. Setelah itu, jangan mengeluh dengan apa yang kulakukan pada kalian. Jika kalian merasakan penyesalan kelak, minta maaflah pada kakak, guru dan rakyatku bersamaku di neraka."


__ADS_2