Kitsune In Another World

Kitsune In Another World
Chapter 17 [ Tanggung Jawab Sang Kitsune ]


__ADS_3

Ibukota Kerajaan Amamiya


Derasnya hujan yang turun, menutupi isak tangis gadis itu dengan sempurna. Darah merah kental yang tersebar dimana-mana, surut bersama aliran air. Tak peduli meski tubuhnya basah oleh air hujan, gadis itu tetap diam memeluk mayat dingin ditangannya.


"......."


Butuh beberapa menit sebelum sang gadis melepas pelukannya. Dia bangkit dengan mayat itu di gendongan lengannya. Diletakkan mayat itu didalam salah satu rumah agar dia tak terlalu basah.


Setelah mayat gadis muda itu dibaringkan di meja panjang, gadis tadi menutup mata sang mayat perlahan. Dia meninggalkan mayat itu dengan kondisi bersih.


Gadis kitsune, Kitsuna Mio kembali berdiri dalam diam di tempat kematian mayat itu. Mio menundukkan kepalanya, dilihatnya sebuah pedang yang sudah bersih dari darah oleh air hujan. Katana yang cukup ringan dibanding katana lain, ditambah lambang Keluarga Kerajaan Amamiya itu diambilnya dari tanah.


"...... Aku... harus bertanggung jawab."


Mio pergi meninggalkan tempat ini dengan katana Hotaru di tangannya. Matanya saat meninggalkan tempat itu terlihat sangat sendu dan penuh rasa bersalah.


Tak ada seorangpun yang mengantar kepergiannya. Tujuan sang Kitsune hanya satu.


"Maaf... semuanya... aku pasti akan menyelesaikan semua ini dengan tanganku sendiri."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TAP TAP TAP


KRAUUKKK KRAUUKKK KRAUUKKK


Mio berdiri dengan katana di tangannya. Tak jauh darinya, terlihat seorang monster laba-laba raksasa dengan tubuh manusia bagian atas menempel di kepalanya. Disekitar monster itu, banyak mayat rusak yang bagian tubuhnya sudah dimakan.


Mata Mio memancarkan perasaan miris yang menyayat hati.


"Kazu-nii..."


CLIIIINGGGGGG


Katana Mio bersinar bersamaan dengan tatapan tajam darinya. Mio tidak memberi waktu Kazuha untuk menyadari keberadaannya. Dengan cepat Mio berlari dan mengayunkan pedangnya ke arah leher Kazuha.


SLAAAASSSHHHHHHH


Hanya dalam waktu sepersekian detik, Kazuha yang tidak menyadari keberadaan Mio dan sibuk menyantap mayat, terbelah kepala dari tubuhnya. Mio sengaja melakukannya dengan cepat agar Kazuha tidak merasakan sakit


TES TES TES


"Maaf... Kazu-nii... kamu tidak perlu memaafkan aku. Aku hanya ingin mengatakannya."

__ADS_1


Mio menebaskan pedangnya agar darah yang menempel berjatuhan. Kepala Kazuha tergeletak didekatnya. Sungguh situasi yang aneh karena kepala Kazuha tersenyum seakan terlepas dari penderitaannya.


Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa Mio tidak menyembuhkan mereka saja daripada membunuhnya. Jawabannya sederhana. Karena itu mustahil. Banyak alasan yang membuat itu mustahil. Salah satunya, tetap hiduppun tidak akan memperbaiki apapun dan hanya akan menyiksa mereka. Lalu menyadarkan mereka dengan kekuatan Mio juga adalah hal yang mustahil. Dirinya yang paling tau itu, kalau untuk menyadarkan mereka, dibutuhkan kekuatan makhluk di luar batasan.


Mio melirik tangan dan pedangnya yang kotor dengan darah.


"......."


"Aku cuma beruntung karena kondisi Kazu-nii yang paling tidak stabil. Untuk Kota-nii dan Lilia-nee... pasti tidak akan semudah ini."


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Mio segera pergi ke tempat kakaknya yang lain. Dia sendiri yang paling tau kalau waktunya tidak banyak. Sebelum dia bisa sadar, kesadarannya sudah hampir dikonsumsi habis oleh mana kegelapannya. Jika waktu berjalan lebih lama lagi, kegelapan akan menelan mereka sepenuhnya.


Dan saat itu terjadi, kekuatan makhluk di luar batasan juga tidak ada gunanya. Mereka akan sepenuhnya menjadi monster haus darah yang mungkin akan dimanfaatkan musuh untuk pembunuhan lainnya. Daripada membiarkan itu terjadi, Mio sudah bertekad untuk mengistirahatkan kakak-kakaknya dengan tangannya sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


Saat ini, Kota sudah dalam jangkauan matanya. Pria tengu itu sedang duduk di puncak piramid mayat sambil mengelap katana nya. Bulan bersinar terang tepat didepannya tanpa ada penutup apapun seperti bangunan ataupun pepohonan.


Mio menghembuskan nafasnya sejenak dan langsung berada di kuda-kuda serangan cepat. Gadis itu bermaksud mengakhiri Kota seperti saat dia mengakhiri Kazuha. Namun...


CLAAAAANGGGGGG


"Apa yang sedang kau lakukan, saudariku?" tanya Kota dengan nada penuh penekanan.


Hati Mio bergetar, namun tatapannya tak berubah.


"......"


Melihat Mio tidak menjawabnya, Kota menjadi kesal. Pria muda itu menebaskan pedangnya hingga Mio terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang. Sayap hitam yang besar dan lebat Kota mengangkatnya tinggi.


"Jawab aku! Apa yang sedang kau lakukan?"


"......"


Lagi-lagi Mio hanya diam tak menjawab. Mio memanfaatkan lokasi yang dipenuhi mayat bertumpuk dan bebatuan yang cukup tinggi agar dalam beberapa lompatan, dia bisa menjangkau Kota dan menyerangnya sekuat tenaga.


Tapi hal itu tak semudah yang Mio perkirakan. Karena kekuatan fisik Kota dan Mio tak berbeda jauh, jelas Kota akan unggul karena dirinya bisa memanfaatkan sayapnya untuk menyerang dari tempat yang tak terjangkau Mio.


"Apa kau bosan karena semua manusia disini sudah mati?" tanya Kota lagi.


Mio tetap menutup mulutnya. Gadis itu terus menyerang Kota meski tau tindakannya sia-sia karena Kota bisa dengan mudah menghindar dan sebaliknya serangan Kota sulit dihindari Mio.


"Ck, sekarang kau mengabaikanku!? Baiklah, kuikuti kemauanmu!" marah Kota.


CLAAAAANGGGGGG


TASSSSSSKKKK


CTAAAAAAAANNGGGGG


SLAAAAAAAASHHHHHH

__ADS_1


Pertempuran malam itu tak berakhir dengan cepat. Memang benar Kota sangat diuntungkan disini. Tapi bukan berarti Mio bisa dikalahkan dengan mudah. Alasannya sulit dimengerti Kota. Karena tak peduli luka apapun yang diberikan Kota pada Mio, anehnya Mio tak mempedulikan semua itu.


"Jelas Mio merasakan sakitnya. Buktinya matanya berkedut beberapa kali saat lukanya cukup dalam. Tapi kenapa gerakannya tetap halus!!? Apa dia tidak peduli jika dia mati!!?" kesal Kota.


Tepat seperti yang Kota katakan, Mio memang merasakan sakit untuk setiap luka yang di dapatkannya. Gadis itu hanya menahan dan mengabaikan rasa sakit itu. Dia tidak peduli dengan yang lainnya. Hanya ada tujuannya saja di pikirannya. Meski begitu bukan berarti Mio tak peduli jika dirinya mati.


"Aku belum boleh mati! Setidaknya sampai tujuanku selesai!!" batin Mio penuh tekad.


"Cih..."


Dentingan katana melawan katana sesekali terdengar indah dan sesekali terdengar memekikkan. Dibawah bulan yang bersinar bulat sempurna, keduanya sama sekali tak mengalah barang sedikitpun. Beruntung didalam barrier, sihir para Youkai tidak bisa digunakan. Kalau tidak, pasti Kerajaan Amamiya sudah menjadi puing-puing sekarang.


"Hahh... haah... haaa... hah..."


Mio kehabisan napas. Staminanya terkuras habis hanya demi menjangkau Kota. Jika ditambah luka-luka di tubuhnya, kondisinya jelas tidak baik-baik saja.


Pakaian Miko yang cantik, anggun dan rapi miliknya sudah sobek dimana-mana dan kotor oleh darah. Rambut pirang keemasannya berantakan dan tangannya menjadi kasar karena terlalu lama memegang pedang.


Sejak pertarungannya dengan Kota, sudah berlalu hampir satu hari dan sekarang hari sudah mulai petang. Mereka terus beradu pedang tanpa istirahat, makan ataupun minum. Mio sendiri menyadari dirinya sudah mencapai batas. Tapi dia sama sekali tidak menyerah. Disisi lain Kota terus mencoba membunuh Mio dengan cepat agar pertarungan ini segera berakhir. Tapi Mio berhasil menghindari kebanyakan serangan fatal yang diluncurkan Kota.


Menyadari satu sama lain sudah ada dibatasnya. Kota dan Mio sama-sama berniat mengakhiri semuanya dalam sekali serang. Keduanya mundur beberapa langkah dan memasang kuda-kuda terbaik mereka. Kota dengan dua pedangnya sudah berniat menyabit Mio dari udara. Sedangkan Mio hanya menggunakan kuda-kuda dasar Kendo yang diajarkan Sang Master padanya dulu. Tapi jangan berpikir kalau serangan Mio akan lebih lemah. Gadis itu memberikan semuanya di serangan terakhir ini.


Tanpa aba-aba, tanpa ada wasit pemberi tanda, keduanya melaju ke arah satu sama lain di saat yang sama.


.


.


.


.


SLAAAASSSHHHHHHH


.


.


.


.


Tak ada yang bicara, hanya ada keheningan di bawah matahari terbenam. Baik Mio maupun Kota telah melancarkan serangan mereka. Kini keduanya saling memunggungi satu sama lain.


"Huugh..."


Meski muntah darah, ekspresi Mio tetap tenang. Kaki yang lemas seketika tak mampu menopang tubuhnya.


Tubuhnya ambruk, menghantam tanah dengan keras. Darah juga mengalir keluar dari lengan kirinya yang terpotong rapi oleh pedang Kota. Melihat saudari seperguruannya ambruk karena serangannya, Kota tak merespon apapun dan hanya diam memandang dari jauh.


Tengu itu tersenyum hangat, "Ini kemenanganmu... adik perempuanku."


Sedikit ralatan, bukan tak mau merespon, Kota tak bisa merespon. Meski dirinya menjadi satu-satunya yang bisa berdiri, jelas ini adalah kekalahan Kota. Bisa dilihat katana Mio tak berada ditangannya. Karena katana itu sudah menembus tepat di jantung Kota.


Diambang kematiannya, Kota menyempatkan diri melihat langit senja yang disukainya sejak kecil dulu.


"Terimakasih... dan maaf..."


"Karena sudah membiarkanmu menanggung semuanya sendirian."


Mio gemetaran di atas tanah. Bukan karena luka akibat lengannya yang terpotong terasa sangat sakit, tapi karena hatinya tidak mampu menahan ini lebih banyak lagi. Air mata Mio mengalir deras tanpa bisa dikendalikan. Dia kehilangan junior kesayangannya dalam permainan musik dan kehilangan kedua kakak laki-lakinya dalam waktu kurang dari 2 hari, bagaimana bisa dia yang secara mental hanya anak berusia 15 tahun menanggung semua itu sekaligus?


"Ughhh... hiks... hiks... Kazu-nii... Kota-nii..."

__ADS_1


__ADS_2