LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
PROLOG


__ADS_3

Jika semua orang akan berubah seiring dengan waktu yang terus berputar, maka bisa dipastikan hanya akulah yang masih tetap di sini tanpa mampu beranjak


Seakan terjebak pada lingkaran yang tak memiliki ujung..


Aku hanya berputar dan kembali pada titik semula di mana aku memulainya


Kebahagiaan nyata pun seolah tak nampak karena terkalahkan oleh sesuatu yang nyatanya hampa


Bagiku dirimulah kebahagiaanku walau nyatanya itu membuat kehampaan dalam hidup semakin terasa menyakitkan


Ribuan kata rindu justru menusuk hati


kala bibir tak mampu berucap


kala tangan tak mampu mendekap


dan kala sakit tak mampu terobati


Bait demi bait, do'a terlantun merdu untuk melepas hasrat yang membuncah di hati


Angan serta harapan akan tersampaikannya sebuah rasa yang mengoyak batin


menghadirkan seonggok luka yang tak mampu mengering


Masihkah aku mampu mencecap kebahagiakan di saat hati enggan beranjak?


Allah..


Jika rasa ini harus terukir tetap, maka ku mohon jagalah ia tetap pada tempatnya.


Jangan biarkan hati ini berpaling hanya karena rasa yang tak mampu tersalur


Biarkan rasa ini bermekaran di taman surga-Mu walau kehampaan kini ku rasa


Pada-Mu semua harap aku tumpukan


Pada-Mu semua angan aku sandarkan


Jika hanya melalui lantunan dzikir ini, cinta dan kerinduanku tersampaikan padanya


Maka izinkan aku melangitkannya setiap saat


Biarkan semua rasa ini tumbuh dan tertanam bersamanya di singgasana keabadian..


~Lantunan Dzikir Cinta, Azzahra


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Derap langkah seorang wanita tampak mengalun cepat menyusuri bangunan yang seluruhnya bernuansa putih. Binar cahaya yang terpancar melalui wajah ayunya nyatanya hanya sebuah topeng untuk menyamarkan luka serta kepedihan yang tertanam kuat di hatinya.


Sesekali ia tersenyum kecil dan menjawab sapaan yang terlontar untuknya dari orang-orang sekitar. Langkahnya kini terhenti di depan sebuah pintu yang cukup lebar. Gerakan tangan hendak memutar knop pintu itupun terhenti sesaat setelah suara seseorang menginterupsinya.


"Dokter Zahra?" panggil seseorang berseragam putih yang berdiri tepat di belakangnya. Wanita itu pun memutar kepalanya.


"Ya?"


"Dokter Kepala memanggil anda untuk segera ke ruangannya," terang seorang perawat yang ber-name tag "Kumala Sari".


"Ya, makasih Suster Mala."


Zahra meneruskan langkahnya memasuki ruangan di depannya. Dua dokter tampak tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing, di dalam ruangan tersebut. Satu orang tengah duduk sembari memoles bibirnya dengan tangan kanan sedang tangan kirinya memegang cermin kecil. Seorang lagi tengah duduk bersandar dengan mata fokus pada lembaran di tangannya.


"Assalamu'alaikum," ucap Zahra memberi salam saat kakinya melangkah masuk. Kedua dokter itu pun mendongak sejenak, membalas salam dokter yang baru masuk.


Zahra meletakkan tasnya di atas kursi dengan meja yang berpapan nama, "dr. Azqiya Hayfa Azzahra". Setelahnya meraih sneli yang tersampir di sandaran kursi seraya memakainya.


"Ra, laporan data pasien beserta diagnosis awal, yang masuk semalam sudah aku taruh di mejamu," ucap seorang dokter wanita yang tengah memoles bibirnya.


"Terima kasih, dr. Reina," ucap Zahra sembari tersenyum ke arahnya. Dokter yang bernama Reina itu pun mengerucutkan bibirnya.


"Mau bertemu sang pujaan hati ya?" imbuh Zahra yang masih membenahi penampilannya.


"He.. he.. he.. tahu saja kamu."


"Mau kemana, Ra?" tanya dokter laki-laki yang tadi sibuk membaca lembaran kertas di tangannya.


"Dipanggil dr. Azhari ke ruangannya," terang Zahra sembari memutar knop pintu.


"Ciieee.. yang anak kesayangan," cibir Reina, Zahra hanya mengedikan bahunya acuh dan melangkah keluar.


* * *


"Saya sebenarnya berat melepas seorang dokter yang mempunyai potensi besar untuk menjadi dokter hebat sepertimu, dr. Zahra. Hanya saja saya tidak memiliki kuasa untuk menolak keputusan dari direktur pusat apalagi ini demi masa depan kamu," tutur seorang dokter laki-laki paruh baya yang duduk di kursi kebesarannya. Terlihat beberapa kali ia menghela napas berat.


"Bukankah masih ada dokter yang lebih baik dari saya, prof. Bahkan di rumah sakit ini ada tiga dokter spesialis ahli Bedah. Jadi bagaimana bisa direktur rumah sakit pusat memilih dokter residen tahun kedua seperti saya dalam penugasan ini?"


Zahra masih mencoba berkelit akan keputusan mendadak dari direktur rumah sakit tempatnya bekerja.


"Dari semua data dokter yang saya kirim ke pusat, nyatanya kamulah yang dipilih. Bahkan direktur pusat langsung yang memilihmu," ucap dr. Azhari, sang kepala rumah sakit.


"Tapi bagaimana bisa nama saya ikut tercantum, dok?"


dr. Azhari tampak terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Zahra.


"Saya yang merekomendasikan kamu. Saya pikir kamu berhak mendapatkan kesempatan bagus ini. Kemampuan yang kamu miliki tidak bisa di pandang sebelah mata atau dibiarkan begitu saja. Perlu diasah agar semakin tajam dan hebat. Saya yakin kamu bisa," terang dr. Azhari.

__ADS_1


Zahra terdiam dan berpikir, keputusan apa yang harus diambilnya.


"Sebagai makhluk yang memiliki hak untuk berpendapat dan memutuskan, saya juga tidak bisa memaksamu. Kalau memang kamu memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan ini, tidak ada yang bisa saya lakukan selain berbicara langsung dengan direktur pusat mengenai keputusanmu," ucap dr. Azhari seakan memahami posisi dan kondisi Zahra.


"Saya akan mengambilnya," jawab Zahra mantap.


Mungkin waktu satu tahun ini bisa sekalian ia gunakan untuk menata hati sekaligus memantapkan hatinya akan keputusan apa yang harus dia ambil untuk masa depannya bersama si dia. Keputusan yang murni dari Allah dan lubuk hatinya tanpa campur tangan atau pendapat orang lain.


"Kamu yakin?" Zahra mengangguk.


"Bagaimana dengan keluargamu dan... laki-laki itu?"


Lagi-lagi dr. Azhari seakan tahu dan faham betul akan kehidupan Zahra.


"Saya akan mengurusnya. Insyaallah, mereka bisa memahami."


dr. Azhari tampak mengangguk.


"Kamu punya waktu kurang dari satu minggu untuk memberi tahu mereka," ucap dr. Azhari yang segera diangguki Zahra.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamu'alaikum."


Zahra pun berbalik dan berjalan menuju pintu.


"Zahra. Jangan terlalu hanyut dalam kubangan yang bernama masa lalu. Sebaik dan seindah apapun itu tapi ada kalanya kamu juga mesti beranjak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik tanpa membuang sesuatu yang pernah kamu dapatkan sebelumnya. Terkadang sesuatu yang tak terlihat oleh pandanganmu selama ini bisa jadi itulah yang terbaik untukmu," tutur dr. Azhari menghentikan langkah Zahra.


"Terima kasih, Pak,'" ucap Zahra tanpa membalikkan badannya.


Sudah biasa baginya mendapatkan kalimat pencerah serta penguat dari dokter yang menjabat sebagai kepala rumah sakit sekaligus dosennya dulu kala ia menempuh pendidikan strata.


Dr. dr. Azhari Hussein, Sp. OT (K). Dokter ahli bedah Orthopaedi dan Traumatologi yang merangkap sebagai dosen di kampus tempat Zahra menimba ilmu di bidang kesehatan. Prestasi yang ditorehkan Zahra saat kuliah dulu membuatnya dekat dengan dosen paruh baya tersebut. Bagi Zahra dr. Azhari sudah seperti ayah baginya. Beliau yang menuntun dan membimbing Zahra hingga ke titik ini. Tidak hanya tentang ilmu kesehatan yang diberikan dr. Azhari namun juga nasehat-nasehat kehidupan yang berlandaskan ilmu agama. Dan Zahra begitu menyegani dr. Azhari hingga terkadang ia merasa nyaman untuk menceritakan pahit manis kehidupan yang selama ini ia jalani. Baginya kalimat bijak yang terlontar dari bibir dr. Azhari selalu mampu menguatkannya.


* * * * *


Gerakan tangan terulur menyentuh benda yang senantiasa bertengger manis di meja kerjanya. Usapan lembut dari jari telunjuk itu, menuntunnya mengingat sosok yang membuat hatinya bergemuruh hebat. Ia sedikit mendongakkan kepalanya untuk menghalau butiran bening yang kini sudah menggenang di pelupuk matanya.


Sudah sangat lama sekali ia menahan semua rasa yang bergejolak di hatinya. Menahan rasa yang senantiasa menohok batinnya kala ingatannya kembali ke masa itu. Embusan napas terasa berat kala ada bongkahan beton memenuhi rongga-rongga pernapasannya. Dan semua terasa berat saat ujian demi ujian, Sang Pemilik Kehidupan limpahkan padanya.


Hatinya tidak sekuat itu untuk menerima segala cobaan yang terus menguji kesabaran serta imannya. Namun ia bukanlah sosok yang lemah hingga harus meraung-raung meratapi nasib serta takdir yang sering kali menyentak batinnya. Sejatinya ia hanya mampu menahan dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Bahkan senyum yang terpatri di bibirnya pun hanya topeng belaka yang menutupi segala pedih yang menyayat hati.


"Ridho'ilah setiap langkah yang Zahra ambil, Habibi," lirih Zahra dengan bibir bergetar dan air mata yang mengaliri wajah cantiknya.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


ALHAMDULILLAH, PART PERTAMA AKHIRNYA BISA SHOW UP JUGA..😊😊


HAPPY READING YA SAHABAT PEMBACA, JANGAN LUPA UNTUK TINGGALKAN JEJAK DENGAN 👍 LIKE, KOMEN, ❤ FAVORITE, DAN YANG PASTI WAJIB ⭐ VOTE.. 😁😁 BIAR SEMANGAT AUTHORNYA..✌✌

__ADS_1


__ADS_2