LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
KEMBALI TERSAKITI


__ADS_3

Hari mulai gelap saat Zahra dan Kayla keluar dari salah satu Masjid yang mereka singgahi untuk melaksanakan shalat isya' setelah mengantar Farid hingga Bandara. Kini keduanya berada dalam mobil milik Zahra yang membelah jalanan kota Jakarta untuk kembali ke rumah sakit.


Panggilan di telpon beberapa saat lalu membuat Kayla mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah, begitupun dengan Zahra yang tiba-tiba diminta untuk menggantikan operasi yang harusnya ditangani oleh dokter Anindya. Keduanya pun kini kembali menuju ke rumah sakit.


* * * * *


Alarm tanda darurat terdengar nyaring di sebuah ruangan yang penghuninya hampir semua mengenakan seragam biru. Mereka terkesiap mendengar alarm darurat tersebut berbunyi. Alarm yang dibunyikan sebagai tanda adanya situasi mendesak yang mengharuskan adanya tindakan medis dengan segera pada salah satu pasien dalam pemantauan tanpa adanya jadwal sebelumnya. Belum usai situasi yang sedikit mencekam itu, dering telpon di pojok ruangan mengalihkan atensi semua penghuni pada benda itu.


Raut kecemasan tampak di wajah semua dokter yang kini fokus menatap seorang laki-laki setengah baya yang tengah fokus dengan panggilan yang beberapa detik lalu terdengar. Wajah itu tampak serius dan hanya kata "Siap", "Ya", dan "Baik" yang keluar dari bibirnya.


Semua mata masih menyorot pada satu orang yang baru saja meletakkan gagang telpon pada tempatnya itu. Terdengar helaan napas dalam sebelum akhirnya satu kata lolos dari bibirnya.


"VVIP," ucapnya dengan pandangan menyapu seluruh penghuni yang kini menatap penuh padanya.


"Dokter Liam?" suara itu kembali terdengar dari laki-laki itu. Laki-laki yang memiliki tanggung jawab penuh pada departemennya. Laki-Laki yang menjabat sebagai Kepala Bagian Departemen Bedah. Kini tatapannya fokus pada dokter tampan dengan umur berkisar pada angka 35 tahun.


"Anda siap?" tanyanya lagi.


Dokter Liam Kim terdiam sesaat lalu mengangguk sebagai jawabannya. Helaan napas lega terdengar bersamaan dari hidung para dokter di ruangan itu.


"Baik kalau begitu. Dokter Liam, dokter Zahra ikut saya ke ruangan pasien sekarang juga," titahnya sembari berbalik untuk melangkah keluar ruangan.


Zahra terperanjat saat namanya ikut disebut. Bagaimana bisa, dokter yang belum menyandang gelar Sp. B seperti dirinya ikut andil dalam tindakan penyelamatan pada pasien VVIP? Zahra masih bergeming, sibuk dengan pemikirannya sendiri.


"Dokter Zahra, apa yang anda tunggu?" Hardik dokter Kepala Bagian saat mendapati wanita cantik itu masih terdiam di posisinya.


"Sa-saya?"


Dengan wajah bingung Zahra sedikit tergagap. Dilihatnya sepasang mata yang kini menatap tajam ke arahnya.


"Dokter Liam ditunjuk sebagai dokter yang menangani operasi pasien VVIP. Dan anda akan mendampinginya sebagai asisten dokter bedah pada operasi tersebut," terang dokter Kepala Bagian.


Zahra mengalihkan pandangannya pada dokter yang terkenal dengan sebutan "Si Tangan Dewa" yang kini juga tengah membalas tatapannya dengan senyum tipis sembari mengangguk kecil.


"Dokter Zahra. Kita tidak memiliki banyak waktu saat ini, jadi simpan dulu seluruh pertanyaanmu dan ikut kami sekarang. Dokter Liam akan menjelaskannya padamu nanti," dokter Kepala Bagian kembali bersuara memecah keheningan.


Tanpa menunggu jawaban Zahra, dokter Kepala Bagian kembali berbalik dan melangkah keluar, diikuti dokter Liam. Zahra melangkah cepat untuk menyamakan langkahnya dengan dokter Liam lalu berjalan bersisian dengannya.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya dokter Liam pelan, saat netranya melihat kegugupan menyelimuti diri Zahra.


Zahra menggeleng pelan. Banyak hal yang kini ada dalam pikirannya, yang membuatnya gugup karenanya.


"Rileks. Ini tindakan medis seperti biasanya, tidak ada yang perlu di takutkan," tenang dokter Liam sembari tersenyum.


"Tapi dok, ini pasien V.."


"VVIP?" potong dokter Liam dan Zahra pun mengangguk.


"Hanya statusnya saja. Sakit yang diderita dan tindakan medisnya tergolong biasa, tidak sulit."


Mendengar itu Zahra membuang napas gusar yang sedari tadi sempat ia tahan. Seperti ada sesuatu yang sempat membuatnya tertekan karena pemikirannya yang entah apa itu.


"Tapi.." imbuh dokter Liam menggantung.


"Apa?" Zahra kembali memasang wajah was-wasnya membuat laki-laki disampingnya terkekeh pelan.


"Dok?"

__ADS_1


"Lucu juga kamu ya," kekeh dokter Liam.


"Tapi apa dok?" Zahra kembali bertanya, mengabaikan candaan dokter Liam.


"Hidup mati itu tuhan yang mengatur. Walau sakitnya tergolong biasa, ada kemungkinan sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi di meja operasi," terangnya dan Zahra mengangguk membenarkan.


"Apalagi ada riwayat penyakit lain yang membuat pasien kemungkinan tidak selamat. Dan kemungkinan untuk selamat hanya beberapa persen saja, tak lebih dari 25%," tambah dokter Liam sukses membuat Zahra membelalakkan matanya tidak percaya.


Akankah ia mengalami akhir seperti yang ada dalam drama korea yang sering ditonton Lintang dan Prisil dulu? bahwa dokter yang berada dalam posisi itu menjadi tersangka karena gagalnya operasi yang menyebabkan kematian si pasien VVIP. Zahra menggeleng pelan, entah apa lagi yang kini ada dalam pikirannya.


"Tidak perlu berpikir jauh apalagi sampai berpikir sesuatu yang sering terjadi di drama besutan negara saya. Itu takkan terjadi," ucap dokter Liam seakan bisa membaca isi pikiran Zahra.


Zahra pun menengok ke arah samping, menatap laki-laki yang tampak sekali santai.


"Dokter cenayang?"


Kata-kata yang Zahra lontarkan sukses membuat dokter Liam semakin terkekeh sembari menutup mulutnya.


"Pekerjaan kita ini tidak main-main karena nyawa taruhannya. Jadi mana ada tindakan tanpa prosedur yang jelas. Semua harus ada penjelasan rinci dari dokter yang akan menangani, termasuk resiko kematian yang mungkin terjadi. Operasi ini bisa terlaksana atas izin dan kesediaan dari wali pasien maupun pasien itu sendiri, jadi kalau terjadi apa-apa yang murni bukan kelalaian dokter, ya mereka harus menerima karena sejak awal sudah kita jelaskan. Itu sudah resikonya," jelas dokter Liam.


Zahra memutar mata jengah dengan wajah sedikit memberengut.


"Kenapa?" tanya dokter Liam.


"Anda berbicara seperti itu seolah-olah saya baru masuk kuliah kedokteran hari pertama," jawab Zahra datar.


"Nah itu sadar. Kuliah spesialismu sebentar lagi selesai bahkan jam terbangmu di ruang operasi sudah tinggi tapi kenapa masih memiliki pemikiran sedangkal itu. Jangan samakan apa yang terjadi di drama dengan kenyataan. Mereka membumbui cerita itu agar menarik," tukas dokter Liam.


Zahra menatap dokter Liam dengan tatapan tak percaya. Jadi intinya dokter yang berparas tampan dan keren sekeren penampilan Gong Yo saat memerankan dokter pada drama "Big" itu ternyata hanya ingin membuka pikiran dangkal yang sempat singgah di otak dokter yang menjadi partnernya di ruang operasi.


Zahra mengangguk pelan sembari mengucap terima kasih pada dokter yang masih setia memasang senyumannya.


Langkah mereka kini terhenti tepat di sebuah ruangan dengan papan nama di atasnya "VVIP 1". Sebelum masuk dokter Liam kembali menatap Zahra.


"Siap?" tanyanya. Dengan mantap Zahra mengangguk.


"Siap," jawab Zahra seraya melangkah masuk mengikuti dokter Liam dan dokter Kepala Bagian yang lebih dulu masuk ke ruangan tersebut.


* * * * *


Hatinya tiba-tiba mencelos saat mendapati beberapa orang sudah ada di ruangan tempat pasien VVIP terbaring lemah. Mereka adalah Habibi, dokter Amilia Dewi yang menjabat sebagai Kepala Pelayanan Medik, seorang dokter laki-laki yang seumuran dengan dokter Liam, Kayla dan satu lagi perempuan yang kini wajahnya sudah basah dengan air mata, Meysha.


Zahra yang kini berdiri disamping dokter Liam hanya bisa menunduk saat orang-orang itu tengah berbicara serius dengan si pasien.


"Kailash, apa kamu sudah memutuskannya?" tanya di pasien dengan suara lemah.


Semua orang terdiam dengan mata menatap wajah laki-laki yang kini diam sembari menunduk. Zahra menatap laki-laki itu sekilas. Seperti ada beban berat yang dipikul Habibi saat ini. Zahra merasa iba menatapnya.


"Anggap ini permohonan terakhirku padamu. Jagalah Meysha untukku," Pasien itu kembali berucap lemah.


Zahra tersentak saat kalimat terakhir keluar dari bibir laki-laki setengah baya itu. Ia menatap Habibi dan Meysha bergantian. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?


"Pah.. " Meysha memanggil sembari menggeleng pelan.


Pasien itu tersenyum ke arah Meysha.


"Kenapa? bukankah dia Kailash-mu? Kailash yang sangat kau cintai selama ini, Kailash yang kau inginkan. Hem," ujar laki-laki paruh baya itu dengan suara sedikit terputus-putus.

__ADS_1


Hati Zahra kembali mencelos. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sesuatu seperti merambat dan meninggalkan jejak perih di dalam sana. Netranya kini masih menatap penuh wajah Habibi yang masih terdiam.


"Waktuku tidak banyak, Kailash. Tidakkah kau melihat, para dokter yang siap membedahku sudah menungguku di sini," ucap laki-laki yang di panggil "Pah" oleh Meysha.


"Apa kau bersedia menjaga Meysha untukku?" imbuhnya dengan suara parau.


Habibi mengangkat wajahnya lalu memutar kepalanya ke arah tiga dokter yang berdiri tak jauh dari ranjang pasien. Ia menatap ketiganya sebentar lalu tatapannya kini terjatuh pada salah satu si antaranya, sosok wanita yang sudah menyita perhatiannya.


Kedua mata itu bertubrukan. Ada rasa yang tidak bisa dijabarkan dari sorot keduanya. Namun raut sendu tampak dari wajah mereka.


"Kailash?"


Panggilan itu memutus kontak mata antara Habibi dan Zahra. Habibi mengalihkan tatapannya pada sosok yang terbaring lemah, sembari sesekali menatap wajah Meysha yang sudah terisak kecil.


"Pam.."


"Saya akan menjaga Meysha seperti yang paman minta," ucap Habibi akhirnya, memotong kalimat yang hendak keluar dari bibir Kayla.


Laki-laki itu menggenggam erat lengan Kayla yang sudah siap melontarkan kalimat yang mungkin menyakitkan sekaligus membahayakan kondisi Ayah Meysha.


Dengan kepala terangkat, mata Zahra membulat sempurna menatap Habibi usai laki-laki itu mengucapkan sebuah kalimat yang seketika kembali membuka sayatan yang hampir mengering. Zahra sadar jika laki-laki itu bukan Hafiz, Habibinya. Tapi tetap saja rasanya seperti ada sesuatu yang mengalir perih di hatinya. Paras serta sikap Habibi yang tak ada bedanya dengan Hafiz membuat Zahra seolah menatap Hafiz saat ini. Hatinya teremas kuat saat laki-laki yang ia cintai juga mencintainya, mengatakan akan menjaga wanita lain di depannya. Zahra menunduk dalam menyembunyikan air mata yang mulai menetes.


"Kak Il," geram Kayla sembari menatap kecewa ke wajah Habibi.


Gadis itu menggeleng tak percaya dengan apa yang dilontarkan oleh Habibi. Air matanya mulai menetes dari sudut matanya yang kini menatap tajam ke arah Meysha. Wajahnya sudah memerah menyaratkan jika emosinya tengah memuncak.


"Puas kamu. Dasar munafik," maki Kayla pada Meysha yang kini tubuhnya di dekap erat oleh dokter Amilia.


"Stop, Kay," bentak dokter Amilia, dengan air mata yang turut mengalir.


Kayla tersentak kaget. Ia memandang tajam dokter Amilia dengan tatapan sarat akan kekecewaan.


"Tante jahat. Tante tega membentak keponakan tante sendiri hanya karena dia. Anak tiri tante yang munafik," ucap Kayla menekankan kalimat terakhirnya.


Dia sudah tidak peduli dengan orang-orang yang kini menatapnya tak percaya. Tidak peduli dengan pasien yang kini menatap sedih ke arahnya. Saat ini hatinya benar-benar terluka.


"Kayla.. " panggil Habibi seraya menarik pelan lengan gadis itu.


"Kak Il jahat. Kak Il tega menyakiti hati Kayla. Kak Il tega menyakiti hati seseorang. Kak Il jahat.. Kayla benci."


Dengan setengah berteriak Kayla berlari keluar sembari terisak. Habibi tampak frustasi. Ia mengusap kasar wajahnya. Tidak tahukah Kayla, dari semua hati yang tersakiti, hatinya lah yang paling sakit saat ini. Bertahun-tahun ia mencintai seorang wanita dalam diamnya, berharap ia bisa berakhir dengan wanita itu namun sekarang semuanya seakan sia-sia hanya karena sebuah janji yang terpaksa ia ucapkan.


Habibi menghela napas berat lalu membuangnya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Posisinya serba salah saat ini. Habibi bahkan tidak tahu masalah apa yang membuat Kayla begitu membenci Meysha. Menurutnya, Meysha adalah perempuan baik dan shalehah yang tidak sepantasnya dibenci sebegitunya. Namun, walaupun begitu sebaik atau sesempurna apapun Meysha, perempuan itu tetap saja tak pernah bisa lebih dari sekedar seorang adik baginya. Karena hati Habibi sudah terisi lebih dulu oleh seorang wanita, bertahun-tahun lamanya.


Ruangan VVIP ini kini menjadi hening seketika setelah kepergian Kayla. Hanya isakkan kecil yang terdengar dari bibir Meysha memenuhi ruangan. Habibi sudah duduk di sofa dengan tangan menutup wajahnya. Sedang para dokter yang menyaksikan kejadian tadi hanya bisa diam tanpa mampu bersuara sedikit pun. Mereka tidak memiliki nyali untuk ikut campur urusan keluarga pemilik Rumah Sakit tempat mereka bekerja.


"Pah.. papah.. " pekik Meysha saat laki-laki paruh baya itu tiba-tiba kejang.


Semua orang terkesiap dari tempatnya. Seorang dokter segera mengambil alih dan mengecek tanda vitalnya. Cukup lama ketegangan itu terjadi hingga dokter itu mengangkat kepalanya menatap dokter Amilia dan dokter Kepala Bagian yang kini berdiri di hadapannya secara bergantian, lalu menggeleng pelan pada mereka.


Seketika tubuh Meysha luruh di lantai saat tahu jika ayahnya telah pergi. Tangisnya pecah seketika hingga tubuh itu bergetar hebat. Habibi yang merasa iba melangkah mendekati Meysha. Belum sempat tangan laki-laki itu menyentuh bahu Meysha, Zahra sudah lebih dulu memeluk wanita itu. Zahra membawa tubuh Meysha ke dalam dekapannya sembari mengusap lembut punggungnya. Ia sendiri sudah banjir air mata sedari tadi. Tangis kepedihan yang disebabkan oleh ucapan Habibi beberapa saat lalu kini tertutupi oleh rasa ibanya pada temannya, Meysha.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Gimana, gimana.. tambah penasaran gak dengan apa yang sebenarnya terjadi????😎😎


Hmmm.. kalau ya jangan lupa tetap sabar menanti dan setia selalu pada karya Author ini. Jangan lupa juga untuk nge-Like, Komen dan VOOOOOTTTTTTEEEEEEE yang banyak ya.. Author tunggu..😁😁😁😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2