
Terlambat sudah aku menyadari
Setelah hatiku ini terluka
Hatiku yang tulus slalu mencintai
Dan menyanyangimu segenap jiwa
Kini kucoba untuk merenungi
Dalam hati ini kucoba bertanya
Apakah salahku hingga dirimu pergi
Cintaku menjadi harapku sia sia
Dalam diam ku terpaku mengingat kisah kita
Sedih hatiku tiada berbicara
Lemah diriku sungguh tidak berdaya
Kepergianmu membuat ku tersiksa
Andaikan waktu bisa kuputar kembali
Ku ingin dirimu tetap ada di sini
Melewati kisah cinta yang kita jalani
Ku tak mampu bila dirimu pergi
Terdiam ku tenggelam menitis sepi malam
Ku sendiri menanggung semua beban kau berikan
Mengalir air mata membasahi pipi
Kutepiskan semua dengan ikhlas hati
Ku iklaskan engkau pergi dalam hatiku pun sudah rela
*(Andaikan waktu bisa kuputar kembali by Nazila Marwiana)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
*1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?,
dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu,
__ADS_1
yang memberatkan punggungmu,
dan Kami tinggikan sebutan nama(mu) bagimu.
Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),
dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. (Qs. Al Insyirah 1-8*)
Langit malam mulai menuju ke titik pusatnya. Lantunan kalam Allah yang tidak pernah absen menghuni keheningan malam pun masih saja terdengar mengalun begitu merdu dan indah. Setiap makna dari baris demi baris ayat begitu menusuk hingga ke relung jiwa, seakan menampar keras dirinya yang masih saja terpekur dalam larutnya kepahitan.
Waktu telah kokoh berdiri di tempatnya namun sedikitpun ia tak beranjak dari posisinya. Ia terlalu hanyut dalam ingatan yang terus berputar tanpa henti hingga mengusik jiwanya. Embusan napas terdengar berat seakan ada timbunan beton tengah menimpanya. Tahukah engkau jika Allah tak pernah meninggalkanmu? lalu apa yang membuatmu merasa seakan tak mampu melihat dunia lagi.
Zahra terdiam mengartikan kalimat dari seruan Allah yang kini terlantun merdu. Darinya, jiwanya mulai menyejuk. Bebannya seakan terangkat perlahan, meringankan dirinya. Ia pun mengusap wajahnya seraya beristighfar.
"Allah, kenapa lagi-lagi aku lupa jika Engkau bersamaku? Ampuni aku jika berkali-kali lisan dan hati ini menyerukan keluhan atas takdir-Mu. Ambilah apapun dariku, aku ikhlas. Tapi satu hal yang aku minta. Lindungilah keimananku. Jangan Kau ambil imanku karena tanpanya hidup ini serasa mati. "
"Jika dengan cara ini, Kau tinggikan aku Ya Rabb. Aku senantiasa ikhlas karenanya. Karena tujuan akhir hidupku tak lain adalah bersama-Mu, kekasih-Mu dan bersamanya di surga-Mu."
Zahra tersenyum getir menatap sosok yang kini terbingkai rapi di depannya.
"Maafkan Zahra, jika hingga detik ini Zahra masih menangis mengingatmu. Berat sejatinya mengarungi hidup penuh ujian ini tanpa dirimu, Bi. Tapi Zahra bisa apa selain ikhlas menerimanya. Zahra juga minta maaf jika keputusan Zahra untuk menerima Farid harus berakhir membagi hati ini. Sungguh, Zahra sangat mencintaimu karena Allah dan akan selalu mencintaimu hingga akhir."
Zahra mengusap air matanya yang jatuh menetes.
"Tidak bisakah kamu tidak pergi, Nduk?" Wajah Ummi Maryam tampak sendu.
"Zahra harus pergi Ummi. Ini sudah keputusan dari pimpinan, Zahra tidak memiliki kuasa untuk menolaknya."
"Tapi, Nduk.. "
"Raffa akan tetap di sini, Ummi. Zahra tidak bisa membawanya. Waktu Zahra di sana akan habis dengan bekerja dan menyelesaikan pendidikan spesialis Zahra. Zahra takut Raffa tidak terurus jika Zahra membawanya ke sana. Lagipula hanya satu tahun, Ummi, insyaallah jika ada kesempatan Zahra pulang."
"Lalu bagaimana dengan Farid? bukankah kamu sudah menerima pinangannya? masa iya kamu tinggal pergi, Nduk."
Suara Abi kini mengalihkan perhatian Zahra yang sedari tadi menenangkan sang Ummi.
"Zahra meminta untuk ta'aruf dulu sebelum benar-benar menerima pinangannya, Abi. Sekarang Zahra tidak memaksa, keputusan ada di tangannya. Dia mau mundur atau menunggu. Kalaupun menunggu, Zahra pun tidak bisa menjanjikan apa-apa ke depannya. Takut kalau ternyata Allah punya rencana lain."
"Abi tahu semua ini terlalu berat untuk kamu. Tapi, Nduk, tidak baik mengabaikan apalagi menolak niat baik yang datang dari laki-laki baik dan sholeh. Abi takut Allah murka. Mungkin saja kehadiran Farid adalah jawaban atas do'a-do'a kita selama ini."
"Zahra butuh waktu untuk memantapkan hati ini. Zahra tidak mau keputusan yang Zahra ambil sekarang justru kelak Zahra sesali. Abi dan Ummi tahu betul alasan Zahra menerima Farid. Seperti yang waktu itu Abi katakan, hanya dengan menikah dengan laki-laki lain mungkin Mbak Kayyisa akan berhenti memohon pada Zahra untuk menikah dengan Mas Hakam."
"Maafkan Mbakmu, Nduk. Saat ini jiwanya tengah tertekan karena sakit yang dideritanya. Dia pikir jika Hakam menikah denganmu, kelak jika ia pergi, Hakam tidak terlalu terpuruk seperti kamu yang terlarut dalam kesedihan karena kepergian Hafiz. Kalian sama-sama akan saling mengobati dan mengisi kekosongan masing-masing ke depannya. Mbakmu hanya ingin kalian bahagia setelahnya. Itu bukti bahwa dia sangat menyayangi kamu dan Hakam," tutur Ummi lembut namun menyayat.
Bagaimana bisa Zahra menerima permohonan konyol seperti ini. Menikah dengan kakak dari almarhum suaminya. Berapa orang yang harus terluka jika ia menyetujuinya. Hatinya, hati Mas Hakam, dan tentu hati Mbak Kayyisa sendiri. Lalu bagaimana dengan Qais dan Raffa? bukankah itu juga akan menyakiti hati kedua bocah itu. Zahra tahu persis seperti apa cinta keduanya, sama seperti cinta yang ia dan Hafiz miliki. Terlalu besar dan dalam.
Dan Farid? Ya, Muhammad Farid Ihsanuddin. Mantan ketua Rohis saat SMA dulu. Sahabat dekat sekaligus teman seperjuangan Hafiz dalam menimba ilmu agama. Laki-laki pendiam dengan sorot mata tajam dan memiliki kharisma sendiri di mata kaum hawa itu, tiba-tiba saja datang kepada Abi dengan niat ingin meminang Zahra. Zahra sempat terkejut saat sang Abi memberitahunya. Namun berikutnya ia tercengang akan ucapan sang Abi mertua. Tidak ada yang bisa ia katakan karena lidahnya kelu, hatinya teriris mendengar suara hati laki-laki paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayah kandungnya itu. Air matanya luruh membanjiri seluruh wajah cantiknya
"Sejak awal, Abi sudah menganggapmu sebagai putri Abi bukan menantu. Abi sayang sama kamu, Zahra layaknya seorang ayah yang menyayangi putrinya. Selama ini Abi hanya diam saja tapi sekarang, Abi ingin kamu tahu. Selama ini hati Abi sakit melihatmu yang terus tenggelam dalam kenangan bersama Hafiz. Tenggelam dalam cinta yang membuatmu enggan merasakan kebahagiaan lain.
__ADS_1
Zahra, Abi ucapkan terima kasih sekali padamu karena telah mencintai putra Abi dengan segenap jiwa. Tapi jujur Abi tidak suka bahkan tersakiti melihatmu tetap diam dalam rasa itu, dalam waktu yang sangat lama. Abi ingin melihatmu bahagia seperti dulu. Abi ingin melihat kamu menjalani kehidupan ini tanpa bayang-bayang Hafiz. Abi yakin Hafiz juga menginginkannya. Dia bukanlah anak yang egois, kamu juga pasti tahu betul seperti apa dia. Baginya kebahagianmu adalah segala-galanya. Dan dia pasti ikhlas jika kamu meniti masa depan dengan laki-laki lain.
Zahra, Abi dan Ummi sudah semakin tua. Suatu saat nanti akan ada waktunya di mana kami kembali kepada-Nya. Dan sebelum waktu itu tiba, Abi ingin memastikan kamu telah menemukan kebahagianmu. Bersanding dengan laki-laki baik yang bisa menjagamu dan Raffa ke depannya.
Hakam, putra sulung Abi adalah laki-laki yang baik. Tapi bukan dia yang Abi harapkan untuk mendampingimu. Abi tidak ridho' jika kalian menikah. Abi tidak ingin kamu tersakiti lagi, Abi tidak ingin kamu menjadi penyebab atas luka yang menggores hati putri Abi yang lain meskipun itu kehendaknya. Abi faham apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh Kayyisa saat ini. Ia hanya terlalu terbawa perasaan akan rasa takutnya meninggalkan Hakam yang kelak mungkin terpuruk seperti dirimu. Tapi Abi juga tahu, di sudut hatinya yang terdalam, ada perasaan di mana ia tidak ingin cinta suaminya terbagi dengan perempuan manapun termasuk kamu di saat ia masih melihat dunia ini.
Perempuan itu amat pandai menyimpan luka hatinya. Sama seperti kamu, kamu tersenyum dan tertawa seolah kamu bahagia namun Abi tahu sebesar apa luka yang menganga di hatimu, sesering apa kamu menangis dalam kesendirianmu. Kamu hanya mencoba menutupi luka hatimu dari orang lain terkhusus Abi dan Ummimu. Kamu berpura-pura bahagia hanya agar kami tidak mengkhawatirkanmu.
Zahra, hati Abi akan sangat sedih dan menyesal jika Abi meninggal nanti kamu masih sendiri seperti ini. Meratapi takdir pahit karena kepergiaan Hafiz. Terlarut dalam cinta yang membuatmu harus meneguk kepedihan terus menerus. Sekuat dan sehebat apapun perempuan, ia tetaplah membutuhkan pendamping. Seseorang yang kamu jadikan sandaran saat lelahmu datang. Seseorang yang menuntunmu saat kamu berjalan tak tahu arah. Dan seseorang yang menghapus air matamu saat kamu menangis.
Dan Abi akan sangat bahagia jika laki-laki yang berdampingan denganmu itu adalah Farid. Abi percaya padanya. Ia mampu menjagamu, menuntunmu dan membahagiakanmu. Farid adalah laki-laki yang tepat untuk menjadi ayah pengganti bagi Raffa. Ketulusannya menerima dirimu apa adanya, membuat Abi yakin padanya. Cintanya padamu begitu tulus.
Jika kamu mencintai Hafiz karena akhlaknya, karenanya kamu merasa dekat dengan Allah. Maka Abi rasa tidak sulit melabuhkan rasa cinta padanya. Akhlaknya tak beda jauh dengan Hafiz, bahkan mungkin ia lebih baik. Ia juga seorang Hafidz Qur'an. Jadi seharusnya kamu tidak berfikir panjang akan pinangannya. Insyaallah, Ia adalah laki-laki yang bisa menuntunmu ke surga-Nya.
Zahra, menikahlah dengan Farid. Agar Abi, Ummi dan.. Hafiz tenang. Mungkin dengan menikah dengan Farid. Kayyisa berhenti memohon padamu dan Hakam untuk menikah. Hakam juga lebih mudah membujuknya untuk berobat ke Singapore karena hati Mbakmu lebih tenang melihatmu menemukan kebahagiaanmu. Dia sangat menyayangimu itu sebabnya dia berbuat seperti itu."
Air mata Zahra mengucur deras mendengar semua penuturan Abinya. Begitu besar rasa sayang mereka berdua padanya hingga hati mereka tersakiti karena dirinya. Sungguh ia merasa berdosa. Hafiz mungkin akan marah melihatnya telah menyakiti hati kedua orang yang begitu dicintai dan disayanginya itu.
Berkali-kali Zahra beristighfar.. memohon ampun atas segala salah dan khilaf yang telah ia lakukan. Ia juga mengangguk dengan yakin untuk memenuhi keinginan mertuanya meski hatinya lagi-lagi terkoyak. Berat baginya menerima laki-laki manapun karena keseluruhan hati serta hidupnya telah Hafiz bawa pergi. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang. Tidak ada jalan lain yang bisa ia pilih. Menikah dengan Hakam maupun Farid sama-sama tak ia inginkan, tapi ia harus memilih salah satunya.
* * * * *
Zahra menatap kedua mertuanya yang kini duduk di sofa yang berhadapan dengannya.
"Izinkan Zahra pergi Abi, Ummi. Hanya satu tahun saja. Setelah pulang dari sana Zahra janji, Zahra siap menikah dengan lelaki manapun termasuk Farid. Zahra mohon. Biarkan Zahra menata sekaligus memantapkan hati ini lebih dulu," ucap Zahra memohon.
Embusan napas berat keluar dari hidung kedua paruh baya itu. Ummi menatap sang suami lalu mengangguk pelan padanya.
"Tidak ada pilihan. Abi dan Ummi tidak bisa melarangmu. Pergilah jika menurutmu itu baik, kami mengizinkan. Hanya saja pilihan Abi dan Ummimu masih tetap sama. Farid lah laki-laki yang kami pilih untuk mendampingimu," ucap Abi agak tegas.
Zahra menunduk setelahnya. Ia hanya bisa diam tak mampu menjawab.
"Jika bisa memaksa, Abi ingin kalian menikah sebelum kamu pergi. Setidaknya kalian terikat lebih dulu sebelum berpisah satu tahun, agar tidak ada fitnah apapun ke depannya," lanjut Abi membuat Zahra mendongak seketika. Wajahnya memanas, arti matanya pun perlahan menetes.
"Kami ingin kalian saling menjaga hati dan pelan-pelan membangun rasa meskipun berjauhan sementara waktu. Selain itu tentu agar keputusan Mbakmu tidak goyah lagi untuk berobat ke Singapore," sambung Ummi.
Zahra tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan ia katakan selain menangis sesenggukkan. Cukup lama akhirnya Ummi kembali bersuara.
"Tapi kami tidak bisa memaksamu, Nduk. Kamu berhak menolak. Beban yang kamu tanggung saat ini sudah begitu berat. Jika ketidaksiapanmu menikah dalam waktu dekat ini justru semakin menambah bebanmu maka jangan lakukan. Abi dan Ummi insyaallah menerima keputusanmu."
Suara lembut Ummi bagai menyiramkan air sejuk ke hati Zahra. Tanpa menjawab apapun, Zahra langsung bersimpuh di depan Ummi dan Abinya. Ia peluk erat kaki sang Ummi seraya menenggelamkan wajahnya di paha Ummi Maryam. Air matanya kembali luruh membasahi gamis yang Umminya pakai.
Ummi membelai lembut kepala Zahra, sedang Abi mengusap bahunya. Cinta dan rasa sayang yang begitu besar dari keduanya begitu tampak jelas terlihat, untuk menantu tersayangnya.
"Sudah, berhenti menangis, Nduk. Kebanyakan nangis nanti kamu sakit," titah Ummi.
"Ummi dan Abi tidak marah kan pada Zahra, jika Zahra menolak menikah saat ini?" tanya Zahra dengan kepala mendongak menatap keduanya. Abi dan Ummi tersenyum lembut lalu mengangguk.
"Untuk apa kami marah jika itu bisa membuatmu sedikit bahagia. Tapi ingat, pulanglah setelah satu tahun dan menikahlah dengan Farid setelahnya," ucap Ummi lagi. Zahra mengangguk meyakinkan keduanya.
"Bicaralah baik-baik dengan Farid. Insyaallah ia mau menerima keputusanmu dan mau menunggumu ," tambah Abi. Zahra kembali mengangguk menyakinkan. Dengan penuh sayang Ummi menarik tubuh Zahra dan mendekapnya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
**Jangan lupa..
__ADS_1
👍 LIKE, KOMEN, ❤ FAVORITE DAN YANG TERAKHIR VOTTTEEEEEE YANG BANYAK YA. AUTHOR TUNGGU...🙏🙏😉😉**