
Perang batin yang masih bergelut dalam hati Zahra seakan tak ingin berhenti. Kehadiran sosok yang entah siapa itu beberapa saat lalu, benar-benar mampu memporakporandakan bangunan hatinya. Secuil asa pun mulai kembali hadir, menyelami setiap rongga-rongga hatinya.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil ponsel beserta earphone yang ada di dalam tasnya. Segera ia memasang benda mungil itu pada telinganya. Ia membutuhkan asupan energi berupa ketenangan dalam jiwanya melalui hal yang biasa ia lakukan. Setelah semua terpasang, ia menyetel murottal yang dulu sempat Hafiz rekam melalui ponsel. Seperti biasa saat jiwanya terguncang, surah Yusuf selalu menjadi andalannya dan setelahnya akan ditutup dengan surah Al Insyirah.
Zahra memejamkan matanya serta bibirnya ikut bergerak melafalkan tanpa suara, membiarkan jiwanya larut dalam bacaan syahdu yang dilafalkan oleh orang terkasih. Begitu larut sampai ia mengabaikan keberadaan Kayla yang sedari tadi menatap heran. Ya, Kayla menatap Zahra dengan dahi berkerut. Ucapannya tentang perintah untuk menemui sang pimpinan diabaikan Zahra begitu saja. Semakin heran saat Kayla menepuk lengan Zahra, wanita itu justru mengangkat tangannya seolah memberi kode untuk memberinya waktu sebentar.
"Kak," Kayla kembali memperingati.
Zahra menengok ke arah Kayla dengan tatapan sulit diartikan.
"Lima menit, Kay. Beri aku waktu lima menit lagi untuk menetralkan segalanya," ucap Zahra tanpa melepas earphone di telinganya. Kayla yang mendengar itu, hanya bisa mengangguk.
Tepat setelah lima menit berlalu, sesuai waktu yang ia minta. Zahra melepas earphone dari telingannya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Sudah Kak?" tanya Kayla yang masih setia disamping Zahra.
Hari ini keadaan di UGD cukup lengang. Hanya ada tiga pasien yang masuk pagi ini dan itu pun sudah tertangani, tinggal menunggu berkas pemindahan ke ruang rawat inap.
"Sudah, Kay."
"Kak Zahra ini sebenarnya kenapa? perasaan dari tadi Kayla perhatikan agak aneh."
"Tidak apa-apa, Kay. Hanya sedang mencari ketenangan saja sebentar."
"Kak Zahra gugup karena akan bertemu Direktur?" tanya Kayla dengan alis bertaut.
Zahra menatap Kayla sesaat lalu mengangguk.
"Lumayan," jawab Zahra singkat diiringi senyuman tipis.
Jawaban yang mungkin bisa menutupi perasaan yang kini ia rasakan sesungguhnya. Sejenak tawa renyah keluar dari bibir Kayla membuat Zahra sedikit malu karenanya. Mungkin Kayla berpikir bahwa dirinya memiliki fobia sosial sehingga butuh waktu baginya menenangkan diri sebelum bertemu orang lain, tapi tak apa itu lebih baik daripada harus menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi pada dirinya.
"Ya sudah ayok, aku temani ke ruangannya," tutur Kayla disela tawanya.
"Tidak perlu gugup, Kak. Pak Direktur tidak garang kok, jinak malah ha.. ha.. ha.. "
Kayla masih saja tertawa geli, apalagi saat menggenggam telapak tangan Zahra yang terasa dingin.
"Memang tidak apa-apa, kamu menemaniku masuk?"
"Tidak apa-apa. Santai saja, Kak."
Kayla mengetuk pintu sekali lalu membuka pintu tanpa rasa canggung, seraya mengucap salam. Di belakangnya, Zahra mengambil napas dalam. Membayangkan seperti apa Direktur yang dikatakan "Jinak" oleh Kayla."
"Ada apa, Kay?"
Deg..
Langkah Zahra terhenti di ambang pintu saat suara itu kembali menyapa indera pendengarannya. Mungkinkah dia.. ? Zahra menggeleng pelan seraya memejamkan matanya, takut akan prasangkanya.
"Cuma mengantar dokter transfer yang harus bertemu dengan PAK DIREKTUR," ucap Kayla dengan penuh penekanan pada dua kata terakhir lalu diakhiri kekehan setelahnya.
Ia pun segera mengambil duduk di sofa sembari mengeluarkan ponselnya bahkan sebelum laki-laki pemilik ruangan itu mempersilahkannya, sedang Zahra masih terpaku di tempatnya tanpa mampu melangkah.
"Sampai kapan kamu mau berdiri di situ?" ucap laki-laki itu dengan pandangan tak lepas dari wanita yang kini masih setia berdiri di ambang pintu.
Zahra sedikit tersentak lalu membuka matanya dan menatap laki-laki yang bersuara tegas namun terdengar lembut di telinganya. Tubuhnya menegang saat netra mereka saling bersirobok, terkunci untuk beberapa saat. Ada kerinduan yang amat mendalam yang tampak dari pancaran mata Zahra, sedang laki-laki itu menatap dalam penuh arti.
Zahra kembali mengambil napas sebelum melangkahkan kakinya. Butuh kekuatan yang luar biasa untuk Zahra menekan semua rasa yang ada di hatinya agar ia tampak biasa saja ketika berhadapan dengan sosok yang mampu membuat rasa rindunya semakin menjadi.
Zahra melangkah menghampiri laki-laki yang saat ini duduk di kursi kebesarannya dengan sedikit menunduk. Ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk menatap wajah laki-laki yang membuat asanya semakin melambung tinggi.
"Ya Allah, andai saja tidak ada luka setelah aku berharap lebih pada selain-Mu. Ingin sekali aku menjatuhkan semua asaku padanya. Berharap bahwa laki-laki yang saat ini ada di depanku adalah sosok yang kurindukan selama ini. Sosok yang menjadi sumber kehidupan dan kebahagiaanku.
__ADS_1
Namun sepertinya aku harus bangun dari mimpi indahku, karena kali ini Engkau seakan ingin menguji seberapa ikhlas aku kehilangannya, seberapa ikhlas aku menerima takdir yang telah Kau tetapkan."
Zahra duduk dengan kepala masih menunduk, netranya yang sudah berkaca-kaca kini ia pusatkan pada benda persegi panjang yang terpampang di atas meja.
Kailash Habibi Arrasyid, S.E., M.M.R.
Keheningan sesaat menyelimuti ruangan yang kini berisikan tiga orang di dalamnya. Zahra menundukkan kepalanya dengan kedua tangan meremat erat roknya. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak meleleh keluar, sekuat tenaga ia meredam rasa yang bergejolak hebat di hatinya.
"Kuatkan hati hamba, Ya Rabb. Jangan biarkan air mata ini mengalir dan menunjukkan betapa lemahnya aku."
Kayla tengah sibuk dengan dunia ponselnya, sedang laki-laki yang bernama Kailash, bergelut dengan berkas yang ada dalam genggaman tangannya sembari sesekali menatap Zahra dengan kening berkerut.
"Dokter Azqiya?"
"Zahra," Zahra membenarkan dengan suara pelan namun masih bisa terdengar.
"Oh.. maaf. Baiklah dokter Zahra, saya Direktur Rumah Sakit ini. Kamu bisa memanggil saya dengan Habibi," tutur laki-laki itu.
"Ehemm.. Kak Il."
Kayla melirik sembari menaikkan satu sudut bibirnya. Sedang Laki-laki yang dipanggil "Kak Il" hanya menatapnya dengan tatapan malas.
"Jangan mengganggu, Kay," tegur Habibi yang justru disambut cengiran oleh Kayla.
Dan saat itulah Zahra memanfaatkan kesempatan untuk menatap wajah tampan itu seperkian detik sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya sembari mengusap air mata yang menetes.
Habibi kembali fokus pada seseorang di hadapannya, mengabaikan Kayla yang sekarang terkikik.
"Saya minta maaf sebelumnya karena telah membuat kamu terabaikan satu minggu ini. Bukan maksud saya seperti itu, hanya saja ada hal yang perlu saya urus di Jerman selama satu minggu lamanya," terang Habibi.
"Tidak apa-apa, Pak."
Habibi menarik kedua ujung bibirnya mendengar jawaban dari wanita yang duduk di depannya. Wanita yang selalu setia menundukkan kepalanya.
"Tapi saya belum ahli, Pak. Saya masih dokter residen tahun kedua," ucap Zahra menyela saat Habibi menjeda kalimatnya.
"Tapi saya percaya padamu," singkat Habibi dengan tatapan mata mengarah pada Zahra sesaat.
"Bukankah dokter hebat sekelas dokter Azhari juga percaya padamu, jadi apa salahnya jika saya memilihmu," Imbuh Habibi.
Zahra tidak menanggapi pernyataan yang dilontarkan pimpinannya, ia hanya diam dengan tangan saling meremat kuat seakan mencari kekuatan. Suara favoritenya itu begitu terdengar membelai setiap sudut indera pendengarannya. Rasa dalam hatinya pun kian bergemuruh hebat. Sekali saja ia berkedip, air mata itu dipastikan lolos begitu saja.
Tujuh tahun ia merindukan kekasihnya. Tujuh tahun ia memendam perasaan yang teramat dalam itu, dan sekarang tiba-tiba saja Allah menyuguhkan seseorang yang tidak hanya mirip wajahnya saja namun juga suaranya. Jika saja Zahra tidak faham akan syari'at islam yang melarangnya bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Zahra mungkin sudah memeluknya, mendekapnya erat, menyalurkan rasa yang selama ini membelenggu hati dan jiwanya. Tak peduli dia Hafiz atau bukan, yang jelas ia membutuhkan seseorang itu untuk meredam seluruh rasa yang terasa menyesakkan dadanya.
"Saya sudah berbicara dengan Kepala Bagian Departemen Bedah, mulai besok kamu bisa bergabung dengan mereka. Dan mengenai pendidikan spesialis yang kamu ambil, saya juga sudah mengurus transfer kamu ke kampus milik rumah sakit jadi besok kamu bisa mengecek sendiri jadwalnya."
"Terima kasih," Jawab Zahra sembari menggigit bibirnya agar suaranya tidak terlalu terdengar bergetar.
Habibi mengambil sesuatu dalam laci mejanya dan mengulurkannya ke arah Zahra atau lebih tepatnya meletakkannya di depan Zahra.
"Itu kunci apartemen yang nanti kamu tinggali, lantai 8 dengan no unit 286. Tempatnya tidak jauh dari Rumah Sakit, hanya membutuhkan waktu sepuluh menit."
"Ter.."
"Dokter Zahra?" potong Habibi sebelum Zahra menyelesaikan kalimatnya.
Belum sempat Habibi kembali mengeluarkan suaranya, Kayla sudah berdiri.
"Mau kemana, Kay?" tanya Habibi.
"Aku mau ke kamar mandi, tidak apa-apa kan aku tinggal? sudah tidak tahan ni," ucap Kayla sembari melesat menuju kamar mandi yang berada di pojok ruangan.
"Jangan lama-lama, Kay," peringat Habibi.
__ADS_1
"Ya, Kak Il juga jangan macam-macam sama Kak Zahra," teriak Kayla dari dalam kamar mandi.
Mendengar percakapan antara Habibi dan Kayla yang tampak akrab, memunculkan satu pertanyaan di benak Zahra, sebenarnya apa hubungan mereka berdua? apakah mereka pasangan? Zahra kembali menekan hatinya, berpikir bahwa itu bukan urusannya dan tidak ada hak baginya merasa cemburu karena kedekatan mereka.
"Dokter Zahra?" Habibi kembali memanggil Zahra.
"Ya?"
Habibi menghela napasnya lalu membuangnya kasar. Kenapa sulit sekali membuat wanita di depannya ini mengangkat kepalanya. Bukan Habibi ingin diperhatikan atau ditatap olehnya karena ia juga tahu hukum dalam islam, hanya saja cara wanita ini menunduk tidak biasa, seperti ada sesuatu yang ia tahan.
Sedari awal ia berbicara, Zahra hanya menunduk. Jangankan menatap bahkan mengangkat kepalanya saja tidak. Rasa penasaran pun kini Habibi rasakan pada wanita yang pertama kalinya ia temui tengah menangis tersedu. Tidak, bukan pertama tapi kedua kalinya. Wanita yang tak sengaja menabraknya di Bandara saat ia akan berangkat ke Jerman. Wanita pemilik tasbih yang membuat hatinya ngilu saat mendengar isak tangisnya yang menyakitkan.
"Saya minta maaf," ucap Habibi sukses membuat Zahra mendongak seketika.
"Untuk?" tanya Zahra dengan raut wajah tak mengerti.
"Sepertinya ada yang salah dengan saya sehingga kamu lebih memilih terus menundukan kepalamu."
"Kita bukan ma.."
"Mahram?" Habibi memotong kata-kata Zahra.
"Saya tahu hukumnya, tapi tidak dibenarkan juga kamu bersikap seperti itu pada atasanmu. Setidaknya angkat kepalamu sedikit saja. Kita tidak harus saling menatap tapi kita harus saling menghormati. Lagipula kita sedang berbicara tentang pekerjaan tidak yang lainnya."
Zahra tersentak dengan penuturan Habibi. Ya, laki-laki itu benar hanya saja hatinya seakan tak mampu menahannya. Terlalu lemah ia dihadapkan pada sosok yang begitu menguras emosinya.
"Maaf," lirih Zahra.
Air matanya yang sedari tadi ia tahan pun airnya lolos begitu saja.
Habibi terhenyak, matanya membulat saat melihat air mata itu meleleh dengan derasnya. Tanpa sadar ia mengulurkan sapu tangan miliknya ke arah Zahra. Zahra membeku seketika dengan air mata yang semakin deras mengalir.
"Berhenti menangis, saya tidak suka melihatnya. Bukankah sebelumnya saya sudah mengatakannya untuk tidak menangis lagi di depan orang lain. Air matamu sungguh membuat saya menderita," ucap Habibi sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ambil dan hapus air matamu. Jangan sampai Kayla melihatnya, bisa marah besar dia sama saya, dikira saya melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu," ucap Habibi lagi dengan suara lebih lembut dari sebelumnya.
Zahra mengangguk pelan seraya mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar untuk meraih sapu tangan yang terulur ke arahnya.
"Menangislah karena kita mengingat dosa bukan karena hal lain. Perbanyak berdzikir, dengan mengingat-Nya hati akan merasa lebih tenang."
Habibi menutup kalimat terakhirnya karena bertepatan dengan Kayla yang keluar dari kamar mandi.
"Belum selesai juga?" tanya Kayla tanpa merasa curiga.
"Sudah," jawab Zahra dan Habibi bersamaan.
Keduanya saling menatap sesaat lalu memutusnya.
"Ya sudah, ayok kembali ke bawah Kak," ajak Kayla pada Zahra seraya melangkah menuju pintu.
"Kak Il, aku balik ke UGD ya. Assalamu'alaikum," pamit Kayla pada Habibi.
Zahra berdiri dan sedikit membungkuk pada Habibi.
"Terima kasih, Pak. Saya pamit dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus salam."
Habibi tersenyum setelah Zahra melangkah keluar menyusul Kayla yang sudah lebih dulu.
"Mengapa harus selalu menangis saat kamu berada di hadapanku? tidak tahukah kamu bahwa senyummu mengalahkan cantiknya bidadari," gumam Habibi.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa setelah membaca harap TEKAN BINTANG ya sahabat, beri dukungan Author sekecil apapun itu. Terima kasih dan selamat menunaikan ibadah puasa. 🙏🙏 Semoga semua jadi berkah untuk kita semua, amiinn.