LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
KEMELUT HATI


__ADS_3

"Saya akan menjaga Meysha seperti yang paman minta."


Tiga hari telah berlalu namun kata-kata itu terus terngiang di telinga Zahra. Hatinya seakan remuk redam saat ingatannya kembali pada hari itu. Hari di mana Habibi mengucapkan kata-kata yang menghancurkan hatinya. Tidak bukan Habibi melainkan Hafiz. Di matanya laki-laki itu adalah Hafiz, Habibinya.


"Sepertinya Zahra sudah tidak waras, Bi, karena mencintaimu. Bahkan laki-laki itu bukan kamu tapi kenapa hati Zahra bisa sesakit ini."


Zahra mencoba mengeyahkan pikiran itu, menghilangkan bayangan Hafiz pada diri Habibi. Ia ingat kata-kata yang Habibi lontarkan saat itu.


"Berhenti menatapku seperti itu. Sebanyak apapun kamu mencari, sosoknya takkan pernah kamu temukan dalam diriku."


Habibi benar, Zahra takkan pernah menemukan sosok Hafiz dalam diri laki-laki itu karena dia bukanlah orang yang ia rindukan selama ini. Sekuat apapun cintanya saat ini tapi Zahra harus membuka mata dan hatinya. Cinta itu untuk Hafiz bukan Habibi. Jadi kenapa ia harus tersakiti saat Habibi mengucap janji akan menjaga Meysha. Hatinya yang salah, yang kembali memilih untuk terluka.


Ting..


Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Zahra meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja.


"Assalamu'alaikum, calon makmum. Sudah tidur kah?"


Zahra menghela napas sesaat setelah membaca pesan dari Farid. Apa yang sebenarnya telah ia lakukan. Memikirkan laki-laki lain sebegitu kuatnya hingga ia lupa ada laki-laki yang berstatus tunangannya, yang tengah berjuang keras untuk membuatnya jatuh cinta padanya.


Astaghfirullah.. Zahra menyentuh dadanya sembari mengusap pelan. Zahra segera mengetik pesan balasan untuk Farid.


Tak lama, terdengar dering telpon dari ponsel Zahra menandakan sebuah panggilan masuk. Tanpa melihat nama si penelepon yang tertera di layar ponsel, Zahra langsung mengangkatnya. Ia tahu itu Farid karena setelah membalas pesannya, laki-laki itu meminta izin meneleponnya.


"Assalamu'alaikum," salam Zahra.


"Wa'alaikumus salam, Ra."


"Kok belum tidur? bukankah saat ini di Indonesia pukul sembilan malam."


"Masih di rumah sakit, Rid. Ada operasi mendadak nanti jam setengah sebelas."


"Semalam itu? kenapa tidak terjadwal pagi atau siang? terus nanti pulangnya bagaimana?" terdengar nada suara Farid mengkhawatirkannya.


"Namanya juga mendadak jadi tidak terjadwal sebelumnya. Nanti aku pulang pagi setelah shalat subuh, malam ini tidur di rumah sakit," terang Zahra.


"Apa selalu seperti ini?"


"Sesekali saja, tidak selalu."


"Zahra."


"Hmmm..."


"Aku mengkhawatirkanmu."


"Pekerjaan ini sudah ku geluti sejak bertahun-tahun yang lalu bahkah saat masih kuliah. Jadi kamu tidak perlu khawatir seperti itu. Do'akan saja, semoga aku selalu diberi kesehatan dan bisa selalu bermanfa'at untuk orang banyak."


"Tanpa kamu minta, aku selalu mendo'akanmu bahkan sudah sejak bertahun-tahun yang lalu. Do'aku tetap sama. Semoga kamu selalu dalam lindungan serta rahmat-Nya."


"Terima kasih, Rid."


"Tapi sejak satu bulan lalu, do'aku bertambah."


"Apa?"


"Semoga Allah tetapkan cinta di hatimu untukku kelak saat kita telah halal."


Degg..


Tidak ada yang salah dengan do'a Farid tapi ucapan itu seolah menampar hati Zahra. Di saat Farid senantiasa istiqomah melangitkan bait do'a untuknya, ia bahkan tidak sekalipun berpikir untuk meminta kepada Allah agar hatinya jatuh pada laki-laki itu. Ia terlalu sibuk memperhatikan seorang Habibi yang tampak seperti Hafiz. Ia terlalu sibuk berharap agar Habibi adalah Hafiz. Ia terlalu sibuk menangisi fakta yang tak sesuai dengan harapnya.


Astaghfirullah.. Allahu akbar.. Dzat yang Maha Pengampun, ampuni segala dosa dan khilafku.


"Zahra?" panggil Farid di seberang sana.


"Eh? Ya.. Astaghfirullah, maaf Rid."


"Jangan banyak melamun, bukankah itu berbahaya bagi seorang dokter bedah sepertimu?"


"Bukan melamun, hanya sedang berpikir sesuatu saja," elak Zahra.


"Oh ya?"


"Farid."


"Ya."


"Terima kasih sudah mencintaiku, dan.. maaf jika sampai saat ini kamu harus berjuang sendiri."


"Sebenarnya bukan keinginanku mencintaimu, Ra, terlebih saat aku tahu, kamu dan Hafiz bersama. Aku juga tidak tahu kenapa Allah menetapkan cinta ini di hati aku untukmu bahkan setelah banyak hal terjadi. Aku hanya mengikuti arus, mengikuti ke mana arah cerita ini akan berakhir. Jika kamu adalah akhir dari perjalananku maka aku akan sangat bersyukur. Namun, jika ternyata akhir perjalananku ini tidak menuju padamu, aku hanya berharap Allah cabut rasa ini dan menggantinya dengan yang seharusnya," tutur Farid terdengar tulus, walau sejatinya ia berharap Zahra lah akhir dari perjalanannya.


"Aku tidak ingin kamu terluka jika pada akhirnya kita tidak berjodoh."


"Terlalu rumit untuk kita pikirkan saat ini Zahra karena perihal jodoh Dialah yang lebih tahu. Walau saat ini kamu adalah tunanganku namun tidak menutup kemungkinan kelak hubungan ini harus berakhir sebelum kita membawanya ke pelaminan, karena Allah yang memiliki kuasa penuh dalam mengatur jodoh hambanya. Saat ini yang aku tahu dan mampu ku lakukan adalah terus berdo'a, memohon dan merayu-Nya agar berkenan menjadikanmu sebagai pelengkap iman sekaligus penyempurna agamaku."


"Akan sangat beruntung kelak wanita yang bersanding denganmu, Farid."


"Aku berharap kamulah wanita itu."


"Amiinn, Insyaallah semoga Allah berkenan menjodohkan kita."


"Zahra."


"Ya?"

__ADS_1


"Tiga hari lagi insyaallah aku pulang."


"Hmmm.. hati-hati di perjalanan."


"Mau aku bawakan apa dari Mesir?"


"Memang khasnya Mesir apa?"


"Banyak."


"Apa saja deh boleh, yang penting bisa bermanfa'at."


"Zahra."


"Iya."


"Ada titipan salam untukmu."


"Salam? Dari siapa?" Zahra mengerutkan keningnya, ia tidak merasa memiliki teman orang Mesir.


"Salam rindu dari calon imam."


"Allahu akbar.." lirih Zahra terperanjat kecil sembari memalingkan wajahnya ke samping seolah Farid ada di depannya. Wajahnya sudah bersemu merah apalagi saat mendengar kekehan Farid dari seberang sana.


"Tidak ada balasan kah?"


"Ih, kam.. "


"Dokter Zahra," suara seseorang menghentikan kalimat Zahra.


Zahra menengok ke arah sumber suara, tampak dokter Liam berdiri di ambang pintu dengan gerakan tangan seakan memberi tahu Zahra bahwa sudah saatnya mereka persiapan sebelum operasi dilaksanakan. Spontak Zahra menengok ke arah jam dinding, pukul 21.50. Zahra pun mengangguk pada dokter Liam yang masih berdiri di tempatnya.


"Farid, maaf. Sudah waktunya aku persiapan masuk ruang operasi."


"Ya, semoga operasinya berjalan lancar. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan dan istirahat."


"Amiinn.. Ya sudah aku pamit ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumus salam."


Setelah menutup telponnya, Zahra memasukkan ponselnya ke dalam saku snelinya lalu beranjak menuju ruangan operasi.


* * * * *


Usai melaksanakan shalat subuh di masjid rumah sakit, Zahra bersiap untuk pulang ke apartemennya. Ia akan kembali lagi ke rumah sakit saat siang nanti. Suasana gedung apartement tak jauh beda dengan rumah sakit, sepi dan senyap hanya ada dua penjaga keamanan yang bertugas di pos depan.


Langkah Zahra terhenti saat melihat seseorang tengah duduk di lantai sembari memeluk lututnya tepat di depan pintu kamar miliknya. Dengan langkah perlahan dan mata menyelidik memastikan siapa perempuan itu, Zahra mendekat ke arahnya.


"Kayla?" panggil Zahra sedikit ragu.


Perempuan itu mendongak menatap Zahra dengan wajah pucat dan pandangan sayu. Tubuhnya terlihat sedikit bergetar namun ia masih bisa menarik ujung bibirnya ke atas.


"Subhanallah, Kayla."


Dengan segera Zahra meraih tubuh Kayla.


"Sejak kapan kamu ada di sini? kamu demam, Kay," ucap Zahra sedikit panik, raut wajahnya tampak cemas.


"Ayo bangun, Kay. Kita masuk, kamu perlu istirahat."


Sekuat tenaga Zahra membantu Kayla berdiri dan memapah tubuh gadis yang sudah lemah tak berdaya itu masuk ke dalam apartemennya. Setelah membaringkan Kayla di kamar, Zahra bergegas ke dapur. Ia membuat bubur dan menyiapkan beberapa obat yang memang sengaja ia simpan untuk berjaga-jaga jika ia membutuhkannya.


Sudah dua jam berlalu, Zahra mencoba membangunkan Kayla agar gadis itu segera memakan bubur dan meminum obatnya.


"Kenapa semalam tidak meneleponku? aku kan bisa pulang setelah operasi semalam," ucap Zahra sembari menyuapkan bubur ke mulut Kayla.


"Kayla tidak berpikir sampai ke sana," jawab Kayla seraya tersenyum menampilkan deretan giginya.


"Kak Zahra mau ke rumah sakit sekarang?" tanya Kayla saat melihat Zahra sudah mandi dan rapi.


"Nanti siang, Kay. Tapi kalau kamu butuh ditemani, aku bisa izin ambil cuti."


Kayla menggeleng.


"Aku juga mau ke rumah sakit kok, Kak."


"Kamu masih demam, Kay. Istirahat saja dulu."


"Habis minum obat dan istirahat sebentar lagi juga nanti sembuh kok, Kak."


Zahra mengembuskan napasnya, Kayla memang keras kepala jadi tidak ada gunanya terus memintanya tetap tinggal dan istirahat di apartemennya.


"Kayla boleh tinggal di sini sementara kan, Kak?"


Zahra tersenyum sembari mengusap kepala Kayla.


"Tinggalah seingin dan sesukamu."


"Terima kasih, Kak."


Zahra tahu masalah yang Kayla hadapi meskipun gadis itu tidak bercerita padanya. Dan saat ini mungkin ia tengah menghindar dari sosok Habibi atau orang-orang yang ada kaitannya dengan peristiwa tiga hari lalu.


"Ya sudah istirahatlah, kalau butuh sesuatu panggil saja tidak usah sungkan," ucap Zahra setelah membantu Kayla meminum obatnya.


Gerakkan Zahra terhenti oleh pertanyaan Kayla, saat hendak beranjak untuk mengembalikan mangkuk dan gelas kotor ke dapur.

__ADS_1


"Ini siapa Kak? berapa tahun usianya?" tanya Kayla sembari menunjuk foto di atas nakas.


Zahra menaruh nampannya yang berisi mangkuk dan gelas, di samping foto yang kini menjadi pusat perhatian Kayla.


"Raffa namanya, tiga bulan lalu usianya genap enam tahun," terang Zahra sembari mengukir senyum saat menatap foto dirinya yang tengah dipeluk dan dicium oleh Raffa.


"Keponakan Kak Zahra tampan."


"Anak aku, Kay bukan keponakan," ucap Zahra tanpa sadar, tatapannya masih fokus ke arah foto itu.


"A-anak?" Kayla terperangah dengan mata membulat sempurna.


"Heh? apa Kay?"


Dalam sekejap Zahra memutar kepalanya, menatap Kayla yang masih menatapnya tak percaya.


"Kayla?"


Zahra melambaikan tangannya tepat di depan wajah Kayla.


"Raffa anaknya Kak Zahra? bukankah Kak Zahra dan Kak Farid.. " Kayla menggantungkan kalimatnya.


Zahra terdiam sesaat sembari menatap wajah penuh tanya milik Kayla. Ia pun mengambil napas dalam dan membuangnya perlahan.


"Kak?"


"Raffa anakku. Aku sudah pernah menikah sebelum ini, Kay," aku Zahra dengan senyum getir.


"Ayah Raffa?"


Kayla masih menatap tanpa berkedip sekalipun, ada sesuatu yang ingin ia ketahui dari seorang Zahra.


Zahra terdiam sejenak seraya meneguk ludahnya. Masih dengan senyum getir, ia tatap mata gadis itu.


"Ayah Raffa meninggal tujuh tahun lalu karena kecelakaan di Surabaya."


"Subhanallah.. "


Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Kayla. Gadis itu menutup mulutnya agar suara isakkannya tak terdengar.


"Maaf, Kayla tidak bermaksud.. "


Zahra menggeleng sembari menangkup pipi Kayla.


"Tidak apa-apa, Kay. Semuanya sudah berlalu cukup lama, sekarang semuanya baik-baik saja."


"Apa itu artinya Raffa lahir tanpa pernah melihat ayahnya?"


Air mata Kayla terus berjatuhan tanpa henti.


"Bahkan sebelum ayahnya tahu ada benih hadir diperut ibunya, Allah lebih dulu mengambil dia."


Suara Zahra mulai bergetar. Sedari tadi ia menahan kuat agar tidak menangis namun melihat Kayla tersedu, pertahanannya akhirnya runtuh. Air matanya kini ikut mengalir di pipinya.


"Hari di mana aku tahu ada benih hadir di perutku. Hari itu bertepatan dengan hari di mana aku mendapat kabar tentang kecelakaan yang merenggut nyawa suamiku."


Zahra mulai terisak kecil. Ia kembali teringat saat di mana dia mendapatkan dua kejutan dalam satu hari.


"Maafkan Kayla, Kak, Kayla.. "


"Tidak apa-apa, Kay."


Zahra merengkuh tubuh Kayla, mengusap punggungnya lembut. Gadis itu tidak bersalah karena telah bertanya hal yang sangat pribadi padanya. Semua memang sudah menjadi takdirnya, memiliki cerita hidup yang menyakitkan bahkan membuat orang lain yang mendengar ikut bersedih dan menangis karenanya.


"Sudah berhenti menangis," ucap Zahra setelah menghapus air matanya.


"Kayla tidak menyangka jika hidup Kak Zahra harus sepahit ini bahkan Kayla tidak berpikir sampai ke sana. Kak Zahra harus berjuang saat masa kehamilan seorang diri, Kak Zahra juga berjuang sendiri saat melahirkan, merawat dan membesarkan Raffa. Kayla tidak tahu apa Kayla bisa sekuat Kak Zahra jika ada di posisi itu. Apa yang Kayla alami bahkan tidak sebanding dengan apa yang Kak Zahra alami. Tapi Kayla justru tak bisa sekuat Kak Zahra."


"Kamu tidak akan pernah tahu rasanya sesakit apa hati aku, Kay, saat orang-orang tersayangku ikut pergi meninggalkanku. Kamu juga tidak akan pernah tahu rasanya sesakit apa saat lukaku kembali menganga karena aku harus bertemu dengan seseorang yang mengingatkanku pada orang yang aku cintai. Terlebih saat aku mendengar orang itu mengatakan akan menjaga wanita lain di depanku. Hatiku seakan remuk redam karenanya," ucap Zahra dalam hatinya.


"Semua orang memiliki porsinya sendiri, Kay."


Zahra menggenggam erat tangan Kayla seolah tengah memberinya kekuatan.


"Apa saat ini Kak Zahra mencintai Kak Farid?"


"Sedang berusaha belajar untuk menerimanya, Kay."


"Kak Zahra, masih mencintai suami Kak Zahra?"


"Tidak mudah melupakan seseorang yang dulu selalu ada di samping kita. Dan tidak akan mudah melupakan semua kenangan yang sudah terukir indah bersamanya. Itulah sebabnya kenapa aku harus berusaha keras untuk belajar menerima Farid. Terlebih lagi Farid adalah sahabat dari almarhum suamiku."


Mata bulat Kayla kembali terbelalak. Air matanya sudah berhenti mengalir namun masih meninggalkan jejak di sana.


"Kenapa Kak Zahra harus menerima Kak Farid jika hati Kak Zahra belum siap?"


"Ada satu alasan yang tidak bisa ku jelaskan kenapa aku harus menerimanya. Selain itu aku juga memiliki alasan lain yaitu Raffa. Raffa membutuhkan sosok ayah yang bisa membimbingnya, menjadikannya laki-laki hebat suatu hari nanti. Raffa membutuhkan dekapan hangat seorang ayah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya agar kelak dia tumbuh menjadi laki-laki yang kuat dan melindungi. Dan Farid, insyaallah adalah laki-laki yang tepat untuk menjadi ayah bagi Raffa," tutur Zahra seraya mengusap lembut punggung tangan Kayla.


"Kak Zahra, sean.. "


"Kamu harus istirahat sekarang, Kay. Sudah mau siang, bukankah nanti kamu mau ke rumah sakit," potong Zahra seraya mendorong pelan tubuh Kayla agar berbaring.


"Aku keluar dulu ya, Kay. Kamu tidur saja nanti aku bangunkan kalau sudah waktunya," ucap Zahra sembari mengangkat nampan berisi mangkuk dan gelas kotor.


Zahra melangkah keluar kamar meninggalkan Kayla yang masih menatap sendu ke arahnya. Waktu sudah hampir siang, jika ia meneruskan obrolannya dengan Kayla, gadis itu akan kehilangan waktu istirahatnya. Selain itu, Zahra juga tidak ingin lebih dalam lagi membongkar kehidupannya pada gadis itu. Ia khawatir Kayla bertanya-tanya tentang Hafiz atau bahkan memintanya menunjukkan foto Hafiz. Akan semakin rumit jika Kayla tahu wajah Hafiz mirip dengan Habibi, kakaknya. Terlebih lagi saat ini hubungan mereka semua tengah membingungkan bagi Zahra. Hubungan antara Habibi, Kayla dan Meysha.

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Okey.. Jangan lupa LIKEEE, KOMEEENNN dan VOOOTTTTTEEEEE nya ya, Author tunggu..😊😊😉😉


__ADS_2