
FLASH BACK ON
Langkah Kayla terayun cepat menapaki setiap anak tangga yang menjulang tinggi. Peluh berjatuhan dipelipisnya serta helaan napas terdengar keras keluar dari mulutnya, tak lagi ia pedulikan. Bayangan Zahra yang kini dalam bahaya terus berputar di otaknya. Suara di balik ponsel memompa kuat tekadnya untuk segera sampai di tempat tujuan.
Kayla berhenti sejenak di ujung tangga seraya mengambil napas dalam lalu kembali berlari menuju ruangan Habibi.
Brakk..
Habibi terperanjat saat Kayla dengan keras mendorong pintu ruangannya, dengan napas yang juga sudah tersengal.
"Apa-apaan kamu, Kay," tegur Habibi dengan nada tegas..
"Kak Zahra.. tolong Kak Zahra, Kak. Kak Zahra.. " suara Kayla terputus-putus dengan air mata mulai mengalir.
"Zahra kenapa?" Habibi mulai panik apalagi melihat Kayla berderai air mata.
Suara Kayla seakan tercekat hingga ia kesulitan mengatakan keadaan Zahra saat ini. Ia hanya mengulurkan ponselnya pada Habibi agar laki-laki itu bisa mendengarnya sendiri.
"Haruskah aku menyebut nama Hafiz terlebih dahulu, agar kamu mengingatku? Ha.. ha.. ha.. seandainya kamu tidak memilihnya, mungkin sekarang kamu tidak akan menjanda."
"Lepaskan! Jangan pernah menyentuhku."
Tubuh Habibi mematung seketika mendengar teriakkan Zahra di seberang telepon.
"Di mana Zahra sekarang?" tanya Habibi pada Kayla dengan rahang mengeras, wajahnya mulai memerah menahan amarah.
"Ap-partemen, Kak," jawab Kayla dengan susah payah.
"Berhenti menangis, telepon polisi sekarang," titah Habibi dengan suara tinggi. Ia tak kalah panik dan khawatir dari Kayla.
Tanpa membuang waktu Habibi berlari secepat mungkin menuju apartemen Zahra. Ia tidak peduli dengan tatapan keheranan orang-orang saat dirinya berlari seperti orang kesetanan, menyusuri lorong rumah sakit hingga ke parkiran mobil. Bahkan sepanjang perjalanan pun ia tidak peduli dengan bunyi klakson yang saling bersahutan karena dirinya yang menyetir mobil bak orang gila.
Sesampainya ia di depan gedung berlantai 30 itu, Habibi turun dari mobil tanpa memarkirkannya di tempat yang seharusnya. Ia bergegas masuk ke dalam gedung tersebut .
"Pak," sapa salah satu seorang petugas keamanan saat melihat Habibi masuk.
Bukannya menjawab ramah seperti biasa, Habibi justru menumpahkan amarahnya pada pekerja apartemennya itu.
"Apa yang kalian lakukan seharian ini, hah? sampai tidak tahu ada penjahat masuk ke gedung ini," teriak Habibi.
Bayangan Zahra yang tengah dalam bahaya membuatnya lepas kontrol. Dua keamanan dan dua petugas resepsionis pun saling melempar pandang melihat bos pemilik apartemen tempat mereka bekerja, berteriak marah tanpa mereka tahu penyebabnya.
Habibi mengusap kasar wajahnya. Teringat saat ini wanita tercintanya tengah dalam bahaya, ia pun meninggalkan keempat orang itu tanpa penjelasan.
Jantungnya memompa dengan cepat, rahangnya sudah mengeras, dan kepalan di tangannya semakin mengerat menandakan amarahnya kian memuncak. Dengan sekali dobrakan, pintu apartemen Zahra pun lolos begitu saja. Habibi bisa melihat isi ruangan yang sudah kacau berantakan, barang-barang berserakan di mana-mana. Dan yang membuatnya lebih tercengang adalah saat netranya menangkap benda berwarna biru laut yang di jadikan Zahra sebagai penutup kepalanya, tergeletak di lantai. Habibi mengambilnya lalu menggenggamnya erat seraya menggertakan giginya hingga terdengar bersuara.
Suara isakkan wanita disertai tawa mengejek seorang laki-laki, menuntun langkah Habibi hingga ke kamar. Matanya membulat melihat apa yang terjadi di sana. Dengan langkah seribu, ia mendekat dan menendang kuat lelaki brengsek yang hendak mencumbui bidadari hatinya. Tanpa ampun ia menghajar laki-laki itu hingga tersungkur tak berdaya. Panggilan lirih dari Zahra menghentikan aksi murkanya pada Arga, jika tidak mungkin dia akan menghabisi nyawa laki-laki itu.
Sorot tajam penuh amarah itu sirna berganti sendu, saat melihat kondisi menyedihkan sang kekasih hati. Hati Habibi ikut terkoyak melihat tangis dan isakkan hebat dari bibir Zahra. Dengan hati yang teriris, Habibi pun mendekati Zahra dan menurunkan tubuhnya tepat di depan wanita tercintanya itu.
"Jangan mendekat!" lirih Zahra dengan nada bergetar.
Terdengar jelas jika wanita itu ketakutan yang amat luar biasa.
"Ini aku, Zah," ucap Habibi dengan lembut.
Perlahan Zahra mengangkat kepalanya. Wajahnya sudah banjir dengan air mata. Melihat Habibi, isakkannya semakin mengeras membuat hati Habibi ngilu. Habibi mengangkat kedua tangannya, ia tutup kepala Zahra yang menampilkan rambut panjangnya yang sedikit berantakan itu dengan jilbab yang tadi ia pungut dari lantai.
"Jangan takut, ada aku di sini," ucap Habibi terdengar menenangkan.
Mata Habibi beralih menatap baju Zahra yang sudah robek pada bagian lengannya serta kancing baju bagian atas yang sudah lepas, yang kini di genggam erat ujungnya oleh Zahra. Setelah memasang jilbab di kepala Zahra, Habibi melepas jasnya lalu memakaikannya di tubuh wanita itu.
__ADS_1
"Awaaasss.. " teriak seseorang, sontak membuat perhatian Habibi terarah kepada laki-laki yang tadi ia buat tak berdaya.
Arga mengacungkan pistol ke arah Habibi dan Zahra dengan jari telunjuk sudah siap menarik pelatuknya. Laki-laki itu tersenyum miring ke arah keduanya.
"Jika aku tak bisa memiliki Zahra, itu artinya tak seorang pun bisa memilikinya," ucapnya dengan seringai menakutkan.
Door..
Door..
Door..
Tepat ketika suara tembakkan itu terdengar mengudara, dengan sigap Habibi menarik tubuh Zahra dalam dekapannya, menyembunyikan tubuh itu di balik tubuh kekarnya.
Darah berwarna hitam pekat memuncrat ke segala arah, saat peluru menembus kulit tubuh seseorang. Arga. Laki-laki itu dalam sekejap tersungkur ke lantai setelah melayangkan satu tembakkan ke arah Habibi.
Habibi menundukkan kepalanya bertepatan dengan Zahra yang tengah menatapnya dengan sorot mata sayu.
"Kamu tidak apa-apa kan, Zah?" tanya Habibi pelan dengan alis mengernyit.
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Zahra. Wanita itu menatap lekat wajah Habibi lalu detik kemudian matanya terpejam dengan tubuh merosot tak berdaya ke pelukan Habibi.
FLASH BACK OFF
Dalam kepanikannya, Kayla berlari ke arah Habibi yang tengah mendekap erat tubuh Zahra. Di belakangnya dua orang berseragam polisi, baru saja menurunkan kedua tangannya usai melepaskan dua tembakkan ke tubuh Arga.
"Kak Zahra?" panggil Kayla yang kini sudah terduduk di depan Habibi dengan air mata mengalir di pipinya.
"Tidak apa-apa, Kay. Dia hanya syok," tutur Habibi.
"Lengan Kak Ilash.."
Kayla menutup mulutnya hendak terisak kala melihat darah segar mengucur dan menodai lengan kemeja putih yang Habibi kenakan.
"Hanya luka kecil, tidak apa-apa."
Kayla terisak dan sesenggukkan saat Habibi masih bisa menenangkan dirinya.
"Anda bisa segera ke rumah sakit sekarang Pak, untuk mengobati luka anda. Dan untuk jenazah saudara Arga beserta kasus kejahatannya, biar kami dari pihak kepolisian yang mengurusnya," tutur seorang laki-laki berseragam polisi.
Habibi mengangguk mengerti. Dengan sisa tenaganya, ia mengangkat dan membopong tubuh Zahra diikuti Kayla.
* * * * *
Sudah lebih dari tiga jam berlalu, namun Zahra masih bergeming dalam ketidaksadarannya. Wanita itu masih menutup rapat matanya tanpa ada tanda-tanda akan bangun. Kayla membantu Habibi membalut lengannya yang terluka karena tembakkan Arga, sedari tadi Habibi terus menolak diobati karena ia ingin memastikan keadaan Zahra terlebih dahulu, namun rasa sakit membuatnya mengalah dan berakhir ditangani Kayla. Beruntung tembakan itu hanya menyerempet kulitnya bukan menembus sehingga lukanya pun tidak terlalu dalam dan berisiko.
"Terima kasih, Kay," ucap Habibi setelah Kayla selesai membalut lengannya.
Kayla hanya mengangguk. Sejujurnya ia masih syok, melihat langsung kejadian yang membuat tubuhnya gemetar ketakutan.
"Sudah. Sekarang semuanya sudah aman dan baik-baik saja, jangan takut lagi,"
Habibi mengangkat tangan kirinya, mengusap puncak kepala Kayla untuk memberikan ketenangan.
"Kak Zahra?" ucap Kayla pelan.
Habibi mengalihkan pandangannya, menatap sendu ke arah Zahra. Ia juga tidak tahu kapan Zahra akan sadar.
"Beri dia waktu untuk mengendalikan dan menenangkan dirinya. Emosinya sedang tidak stabil. Banyak beban yang tersimpan dalam hati dan pikirannya yang tidak bisa ia keluarkan selama ini. Ia memendam kesulitan dan kesedihannya seorang diri. Dan menurut aku, saat ini Zahra tengah dalam titik terendahnya," terang seorang dokter yang berdiri disamping brankar Zahra.
"Terus sekarang kita harus bagaimana, Fris? sampai kapan dia akan seperti ini?" tanya Habibi tak sabar..
__ADS_1
"Iya, Fris. Kapan Kak Zahra sadar?" Kayla ikut bertanya.
"Aku tidak bisa memastikannya, kapan Zahra akan sadar. Semua itu tergantung dari keinginannya sendiri. Apalagi.. sebelumnya Zahra memiliki riwayat gejala yang sama di masa lalu," jawab Friska, dokter yang berprofesi sebagai psikiater.
Habibi mengembuskan napas beratnya. Banyak hal yang tidak ia ketahui dari sosok Zahra. Ia juga tidak tahu, sedalam dan sebesar apa beban yang di pikul wanita itu. Beban yang menjadikannya seakan tak ingin lagi meneruskan hidupnya.
"Saya lelah menjalani hidup ini. Takdir seakan tak mau bersahabat dengan saya."
"Bukan bermaksud ingin mengeluhkan takdir. Saya hanya merasa takdir sedang mempermainkan saya saja, menguji saya tanpa henti dengan berbagai macam cara hingga saya seolah tak memiliki daya lagi untuk bangkit."
Kalimat yang diucapkan Zahra tempo hari terus berputar di otaknya. Habibi memijat pelan pelipisnya.
"Do'akan saja, dan beri Zahra semangat. Walau dalam keadaan tak sadarkan diri, Zahra masih bisa mendengar suara-suara di sekitarnya. Aku harap itu bisa memotivasi Zahra agar mau bangun," ucap Friska seraya menepuk pundak Habibi.
Habibi sedikit memicingkan matanya ke arah Friska. Ia menjauhkan pundaknya dari wanita yang berstatus sepupunya itu. Siapa pun dia, apapun statusnya, Habibi paling tidak suka orang lain menyentuhnya bagian tubuhnya.
Friska menghela napasnya seraya mengerucutkan bibir. Dia tahu betul sikap Habibi, tapi wanita itu tetap saja kesal jika Habibi terlalu berlebihan dalam bersikap.
"Ya sudah kalau gitu aku balik ke ruanganku dulu. Kalau ada apa-apa, kasih tahu saja, nanti aku ke sini lagi," putus Friska dengan wajah setengah kesal.
Tak lama setelah Friska pergi, Habibi bangkit dari duduknya.
"Kay, kamu jaga Zahra dulu. Kakak harus kembali ke apartemen untuk mengurus sisanya. Kalau urusannya sudah selesai, nanti Kakak ke sini lagi," ucap Habibi.
"Hmmm.. jangan lama-lama, Kak,"
"Iya," sahut Habibi seraya melangkah keluar.
* * * * *
Gemericik air terdengar seirama, menciptakan alunan merdu yang menenangkan hatinya. Pandangannya menyapu ke seluruh sudut yang menampakkan keindahan alam tiada tara. Senyumnya terukir begitu manis hingga siapapun yang melihatnya, terpana akan kecantikan parasnya.
Wanita itu berjalan dengan bertelanjang kaki di atas rerumputan hijau yang halus dan lembut. Langkah kaki itu menuntunnya pada tepian sungai yang tampak begitu jernih airnya. Embusan angin terasa menyejukkan kulit wajahnya hingga khimar panjang yang ia digunakan ikut menari indah karenanya. Lagi dan lagi, senyum tersungging di bibir manisnya. Dia merentangkan kedua tangannya dengan kepala mendongak dan mata terpejam, menikmati keindahan dan ketenangan yang diciptakan alam.
"Aiya,"
Suara seseorang menarik perhatiannya. Ia pun membuka matanya lalu memutar badannya. Seketika sorot matanya memancarkan binar kebahagiaan bercampur haru. Matanya mulai berkaca-kaca. Dengan langkah cepat, ia berlari ke arah si pemilik suara.
"Ayah.. Bunda.. " lirihnya dengan kaki yang semakin cepat terayun.
Tubuh itu menghambur, memeluk dua orang terkasihnya yang begitu ia rindukan.
Di dimensi lain, seseorang terperanjat kala mendengar suara lirih dari seseorang yang sudah seharian ini tertidur tenang.
"Ayah.. Bunda.. " lirih Zahra dengan mata masih terpejam. Dari sudut matanya mulai mengalir cairan bening.
Habibi terkesiap melihat itu.
"Jangan pergi.. jangan tinggalin Zahra.. " racau Zahra dengan suara lirih.
Hati Habibi mencelos menyaksikan betapa rapuhnya wanita yang begitu dicintainya itu. Perlahan jari tangannya terangkat untuk mengusap lembut air mata yang mengalir deras di pelupuk mata Zahra yang tertutup. Sedang tangan kirinya, ia gunakan untuk mengusap lembut kepala Zahra sembari mengucap do'a dalam hatinya.
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan bertemu dengan-Mu, yang ridho dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu.”
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
UP setiap hari???
Hmmm.. bismillah ya, semoga bisa istiqomah 😊😊
__ADS_1
Author sudah penuhi keinginan Sahabat Pembaca semua nih buat UP lagi. Jadi jangan lupa ya Like, Komen dan VOTE nya yang banyak...😁😁😉😉