
Adzan subuh terdengar berkumandang, memecah kesunyian langit fajar yang terasa dingin. Zahra mengerjapkan matanya lalu memandang seisi ruangan yang tampak sunyi. Ia memutar otaknya untuk mengingat apa terjadi hingga ia berakhir di ranjang pesakitan, namun baru saja hendak merangkai potongan ingatannya, suara seseorang membuka pintu mengalihkan perhatiannya.
Habibi keluar dari kamar mandi yang ada di kamar rawat Zahra dengan keadaan rambut dan wajah basah. Laki-laki itu baru saja mengambil wudhu untuk menunaikan shalat subuhnya dan tepat setelah ia membuka pintu kamar mandi, ia sudah disuguhkan dengan menampakkan sang kekasih hati yang sudah terbangun.
Zahra menatap lekat sosok Habibi yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan rambut dan wajah basah sehabis wudhu, Habibi tampak begitu tampan dan memesona, Zahra bahkan sampai lupa jika laki-laki itu bukan mahramnya hingga tatapan itu begitu lekat.
"Habibi," lirih Zahra dengan suara sangat pelan, hampir tak terdengar.
Sorot matanya berubah sendu. Ia pun memalingkan wajahnya, merasa tidak sanggup melihat laki-laki itu lebih lama lagi. Bayangan Hafiz sekelebat mampir di benaknya dengan penampilan yang sama setiap waktunya, membuat hatinya kembali tersentak.
Zahra mencoba menetralkan degup jantungnya seraya menahan kuat agar tidak ada cairan bening yang keluar dari matanya. Bukan apa-apa ia menjadi seperti itu, pasalnya baru saja Zahra memimpikan sosok Hafiz. Sosok yang selalu ia rindukan setiap waktunya.
"Sudah bangun, Zah?" tanya Habibi seraya melangkah mendekati brankar.
"Hmmm.. Sejak kapan anda di sini? Bukankah ini terlalu pagi untuk mengunjungi pasien?" ucap Zahra tanpa menatap Habibi.
Habibi tercenung mendengar ucapan Zahra. Ia berhenti melangkah, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Apa wanita ini lupa siapa yang menolongnya? apa dia tidak tahu selama ia tak sadarkan diri, Habibi lah yang menjaganya? Laki-laki itupun mengambil napasnya agak dalam untuk menetralisir rasa sesak di hatinya.
"Terima kasih.. sudah menyelamatkan saya," ucap Zahra pelan, reflek membuat Habibi kembali mengalihkan pandangannya pada wanita itu.
Habibi melangkahkan kakinya mendekat ke arah Zahra lalu duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan wanita itu.
"Berhenti bersikap seperti itu," ucap Habibi dengan netra menatap dalam manik hitam milik Zahra.
Zahra mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud ucapan laki-laki yang kini duduk berjarak dekat dengannya.
"Pak.. "
"Habibi," sela Habibi memotong ucapan Zahra.
Zahra menelan ludahnya seraya menunduk.
"Zahra.. " panggil Habibi lembut.
Zahra bergeming, ia masih menundukkan kepalanya di hadapan Habibi.
"Jangan lakukan lagi! Kamu hampir saja membunuhku karena terlalu mengkhawatirkanmu," tutur Habibi, sukses membuat Zahra mengangkat kepalanya.
"Anda?"
"Kamu tahu, tak ada yang membuatku takut selain Allah.. dan kehilanganmu," jujur Habibi.
Mata Zahra mulai berkaca-kaca. Ia bisa melihat kejujuran itu dari mata Habibi.
"Mulai sekarang, aku tak akan melarangmu menangis lagi. Menangislah sesukamu, tapi berjanjilah.. bahwa kamu hanya akan menangis di depanku. Cukup aku yang melihat dan merasakannya. Cukup aku yang menanggung semua beban yang kamu rasakan, jangan lagi menahannya, jangan sembunyikan semua itu dariku. Melihatmu terbaring tanpa ada hasrat untuk meneruskan hidupmu, lebih menyakitkan daripada melihatmu menikah dengan laki-laki lain."
Air mata Zahra mulai menetes, ada kerinduan yang ingin tersalur setelah sekian lama memendam.
"Kenapa kamu selalu tampak seperti dirinya? Kenapa kamu melakukan apa yang selalu dia lakukan? Tidakkah kamu tahu, rindu ini selalu menyesakkan dadaku." Zahra memukul pelan dadanya.
"Sungguh, Zahra sangat merindukanmu Habibi." Zahra menutup wajahnya sembari terisak.
Hati Habibi mencelos. Ada sakit yang sama yang ia rasakan di hatinya. Ada kerinduan yang juga sama ia rasakan pula di hatinya. Tapi, bisakah apa yang mereka rasakan itu melebur menjadi satu, dalam ikatan yang seharusnya? Habibi menghela napas panjang lalu tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala Zahra.
"Aku tahu, karena aku juga merasakan hal yang sama, Zahra. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu," ungkap Habibi.
Ada hasrat ingin menyentuh dan mendekap tubuh Zahra, namun semua terurung saat ia menyadari bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa bagi wanita itu. Ia tidak memiliki hak untuk menenangkannya lebih dari sekadar kata-kata penenang.
Habibi mengalihkan perhatiannya ke arah lain hingga netranya untuk beberapa saat fokus pada benda bulat yang menempel di dinding.
"Astaghfirullah.. " gumam Habibi pelan.
__ADS_1
"Zah, waktu subuh sudah hampir berakhir. Ayo shalat dulu," ucap Habibi memberitahu.
Zahra menurun tangan yang menutup wajah sembapnya usai menangis hebat. Netranya ikut menatap benda bulat yang sebelumnya dilihat Habibi.
"Astaghfirullah.. " lirihnya.
"Bisa panggilkan perawat ke sini? kaki Zahra agak kaku untuk digerakkan," pinta Zahra pada Habibi.
Habibi terdiam sesaat dengan mata menatap kedua kaki Zahra yang masih terbalut selimut.
"Tunggu sebentar, aku panggilkan dulu," ucap Habibi yang diangguki Zahra.
"Habibi.. " panggil Zahra saat Habibi sudah di ambang pintu. Laki-laki itu memutar tubuhnya ke arah Zahra.
"Ya?"
"Kamu shalat di sini kan?" tanya Zahra pelan seperti tertahan.
Habibi tersenyum tipis.
"Kalau kamu tidak suka, aku bisa shalat di mushala,"
Zahra menggeleng pelan.
"Lalu?"
"Zahra ingin mendengar bacaan Qur'an-mu," tutur Zahra sembari menunduk malu.
Habibi tersenyum melihatnya.
"Katakan saja surah apa yang ingin kamu dengar, nanti usai shalat aku bacakan. Ya sudah, aku panggilkan perawat dulu sebentar."
* * * *
"Sudah memutuskan, surah apa yang ingin kamu dengar untuk aku bacakan?" tanya Habibi.
"Apa kamu penghafal Qur'an?" Bukannya menjawab pertanyaan Habibi, Zahra justru balik bertanya.
Habibi menatap Zahra sesaat lalu kembali menundukkan kepalanya, menatap benda di tangannya.
"Apa kamu ingin mengetesku?"
Zahra menggeleng walau Habibi tak melihatnya.
"Bacakan surah An Naba' untukku," ucap Zahra.
Habibi mendongak menatap wanita tercintanya.
"Apa ada alasan khusus, kenapa kamu memintaku membacakan surah itu'?"
Zahra menatap manik hitam milik Habibi.
"Surah pertama yang aku dengar dari bibir Hafiz, 12 tahun silam. Surah pertama yang berhasil menggetarkan hatiku, yang membuatku kagum sekaligus jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang laki-laki," terang Zahra dengan tatapan menerawang kembali pada kejadian 12 tahun lalu.
Habibi tertegun mendengarnya. Genggaman pada benda suci di tangannya semakin menguat. Ia menatap lekat wajah Zahra yang menatapnya kosong.
"Apa kamu bisa membacakannya untukku?" ucap Zahra dengan tatapan masih sama.
Habibi menghela napas sejenak lalu mengangguk. Tanpa membuka Al Qur'an di tangannya, laki-laki itu mulai melantunkan bacaannya dengan mata tertutup.
Zahra tersenyum getir mendengar alunan lembut dan merdu dari bibir Habibi. Ayat demi ayat yang terlantun begitu penuh perasaan, seakan laki-laki itu tengah menyalurkan rasa yang tertahan selama ini di hatinya.
__ADS_1
Zahra memejamkan matanya, ia memutar memori di otaknya untuk kembali ke masa itu. Merasai semua rasa yang membuncah setelah sekian lama. Suara itu begitu menggetarkan hatinya, sama persis seperti pertama kali ia mendengarnya. Cara Habibi melafalkannya, menjeda setiap ayatnya untuk mengambil napas, bahkan lagam yang digunakan laki-laki itu tak ada sedikit pun yang berbeda dari suaminya. Sosok Hafiz tampak nyata di mata Zahra saat ini. Perlahan wanita itu tersenyum dalam lelehan air mata yang menetes di pipinya.
* * * * *
Matahari mulai merambat naik, sinarnya mulai menyelusup masuk melalui jendela kaca yang ada di sisi ruangan, tempat Zahra dirawat. Bahkan kehangatan yang dipancarkannya tak mampu menyaingi hangatnya hati kedua insan yang tak henti melempar senyum sedari tadi. Habibi dan Zahra.
"Sampai kapan kamu di sini? bukankah kamu harus bekerja?" ucap Zahra pada Habibi.
"Kamu mengusirku?" Zahra menggeleng seraya tersenyum.
"Lalu?"
"Hanya bertanya," sahut Zahra.
"Aku akan pergi setelah dokter memeriksamu, sembari menunggu seseorang yang nanti akan menjagamu," terang Habibi yang kini fokus pada ponselnya setelah mendapat pesan masuk.
Zahra mengerucutkan bibirnya saat mendapati Habibi sibuk dengan ponselnya.
"Aku tidak sakit, tidak perlu diperiksa atau dijaga. Aku mau pulang lalu bekerja seperti biasanya," debat Zahra.
Habibi memutar bola matanya. Gemas melihat sikap Zahra yang kini mulai berbeda. Wanita itu terlihat lebih ceria dan cerewet, lain dari biasanya.
"Fisik kamu memang baik-baik saja, tapi tidak dengan psikis kamu, Zah. Kamu perlu pendampingan, perlu pengawasan dan penjagaan."
"Aku tidak gila,"
"Yang bilang kamu gila siapa? Kamu itu sekarang mengalami depresi berat, Zah. Perlu penanganan khusus, jadi berhenti bilang baik-baik saja."
"Habibi.. "
"Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi, Zah. Kamu sudah membuatku takut." Zahra terdiam seraya memalingkan wajahnya.
"Zahra?"
"Hmmm.. "
"Maaf."
Seketika Zahra memutar kepalanya, menatap Habibi.
"Untuk?"
"Membuatmu tidak nyaman," ucap Habibi dengan wajah tak enak.
"Terima kasih,"
"Untuk?" Giliran Habibi yang bertanya.
"Sudah peduli pada Zahra," ucap Zahra dengan kepala menunduk.
"Boleh aku mengatakan sesuatu?"
Zahra mengangkat kepalanya dengan kening mengerut, lalu mengangguk mengiyakan.
"Aku mencintaimu, Zahra," aku Habibi.
Zahra terkesiap mendengarnya. Darah di tubuhnya seakan berhenti mengalir, jantungnya memompa tak karuan, dan napasnya seakan tercekat di tenggorokan. Walau ia bisa melihat pancaran itu dari mata Habibi namun ia tidak menyangka jika laki-laki itu akan mengatakannya secara langsung.
Tak beda dengan Zahra, seseorang di balik pintu kamar rawat Zahra ikut terkesiap dengan tubuh yang kini mematung.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1
SEBAGAI INFO INI ADALAH PART AKHIR YANG AUTHOR UP DI SINI, SELEBIHNYA AKAN AUTHOR UP DI APLIKASI LAIN (WATTP4D) DENGAN JUDUL YANG SAMA SAMPAI NOVEL TAMAT. JADI MOHON MAAF JIKA NOVEL INI TIDAK BERLANJUT DI SINI.🙏🙏🙏