
Seusai itu
Senja jadi sendu
Awanpun mengabu
Kepergianmu menyisakan duka
Dalam hidupku
Ku memintal rindu
Menyesali waktu
Mengapa dahulu
Tak ku ucapkan aku mencintaimu
Sejuta kali dalam sehari
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian
Kamu dan segala kenangan
Menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian
Menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih pedih
Daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati hanya cinta padamu
Ku mencintaimu
Kamu dan kenangan
*Kamu dan kenangan (Ost. Habibi & Ainun 3)
🍁🍁🍁
Flash Back On..
Langit malam tampak indah dengan cahaya bulan dilengkapi taburan bintang yang seakan menampakkan kebahagiaannya melihat dua makhluk Allah yang tengah memadu kasih dalam naungan cinta-Nya.
Embusan angin malam yang terasa menusuk tulang tak membuat keduanya beranjak meninggalkan indahnya langit malam yang penuh keromantisan. Hati mereka justru seakan menari-nari mengikuti lekukan angin yang menyapu alam.
Dekapan hangat dari seseorang yang teramat ia cintai membuatnya ikut larut dalam indahnya malam, bahkan embusan angin yang sedari tadi menyapa pun seakan kalah dengan hangatnya pelukan sang kekasih hati.
Ia memejamkan matanya merasai semua rasa yang kini menjalar ke setiap sudut jiwanya. Ada ketenangan saat tangan itu mengusap lembut bagian tubuhnya yang kini berada dalam dekapan.
"Dingin?" tanya Hafiz sembari merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya dan tubuh Zahra yang berada dalam dekapannya.
Keduanya kini berada di balkon lantai dua rumah mereka. Langit benar-benar begitu indah malam ini sehingga mereka enggan melewatkan indahnya malam.
Zahra menggeleng sembari tersenyum manis.
"Hangat," katanya.
Hafiz ikut tersenyum mendengar suara Zahra yang terdengar terbawa angin hingga ke telinganya.
__ADS_1
"Andai waktu bisa berhenti tepat saat ini, mungkin selamanya akan terasa indah dan membahagiakan," ucap Zahra dengan pandangan jauh menerawang membelah langit malam.
Hafiz kembali tersenyum.
"Meskipun waktu terus berputar, selamanya akan terasa indah dan membahagiakan. Karena apa yang terjadi saat ini dan waktu-waktu yang telah kita lalui sebelumnya akan selalu tersimpan indah dalam memory yang ada dalam otak kita," ucapnya menanggapi ucapan sang istri.
Zahra mengembuskan napasnya yang terasa berat.
"Kenapa?" tanya Hafiz.
"Kalau kamu pergi, Zahra pasti rindu berat," nada suara Zahra terdengar sendu.
"Tidak lama sayangku, kan cuma dua minggu saja."
Hafiz tersenyum sembari menarik pelan hidung Zahra.
"Tidak bisakah kalau bukan kamu yang pergi? Zahra baru sembuh masa sudah kamu tinggal pergi," rengek Zahra.
"Tambah berat deh kalau sudah seperti ini. Sebenarnya Habib juga berat meninggalkan kamu, Zah tapi mau gimana lagi. Oom Hendra sedang ke Bandung, maka otomatis Habib yang harus ke Surabaya untuk menemui klien di sana. Untuk sementara nanti kamu tinggal di rumah Ummi dan Abi ya," tutur Hafiz lembut.
"Zahra ikut ya, Bi."
"Tidak, Sayangku. Kamu baru saja sembuh nanti kumat lagi sakitnya kalau ikut ke sana. Terus bagaimana dengan kuliahmu, hem? calon dokter loh, tidak boleh keseringan bolos nanti tambah lama lulusnya."
Zahra mengerucutkan bibirnya kala mendengar penolakan dari sang suami.
"Habib janji, tidak akan lupa vicall kamu setiap ada waktu senggang."
Hafiz mencoba menenangkan Zahra yang akhir-akhir ini moodnya sering berubah-ubah dan kelewat manja padanya.
"Kalau tidak ada waktu senggang gimana? kamunya sibuk terus."
"Akan selalu ada untuk kamu. Untuk bidadarinya Habib tercinta."
Zahra diam dengan wajah berpaling.
"Sayang?" Hafiz mengusap pipi Zahra saat wanita itu hanya diam.
"Janji," ucap Hafiz.
Zahra menatap mata Hafiz dengan wajah sendu.
Zahra pun mengangguk kala Hafiz memanggilnya untuk kedua kalinya. Hafiz tersenyum melihatnya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra. Keduanya saling menatap dalam menyelami seluruh rasa yang tersimpan di dalamnya. Perlahan Hafiz mengecup bibir Zahra dengan lembut.
"Uhibbuki fie kulli lahdzotin tamuuru fie hayati, Ya Zaujati Alhabiba."
"Aku mencintaimu sepanjang waktu dalam hidupku, Wahai Istriku tercinta."
Zahra tersenyum manis mendengar ungkapan cinta dari sang suami tercinta, seusai Hafiz menyatukan bibir mereka.
"Uhibbuka Fillah Hatta Fil Jannah, Ya Habibi Qolbi."
"Mencintaimu karena Allah hingga surga-Nya, Wahai Kekasih Hatiku."
Hafiz kembali mendekatkan wajahnya dengan pandangan yang tak pernah putus pada netra indah milik Zahra.
"Bisakah malam ini kita tutup dengan sunah-Nya?" ucap Hafiz menggetarkan hati Zahra.
Wajahnya kini merona, selalu seperti ini setiap kali laki-laki di depannya ini meminta haknya, dengan suara lembut usai moment yang begitu manis. Wanita mana yang tak menolak permintaannya. Dengan malu-malu Zahra pun mengangguk.
Hampir lima bulan usai resepsi pernikahan keduanya di gelar atau lebih tepatnya usai bulan madu mereka ke Istanbul, Turki, sunah termanis itu memang sudah menjadi kegiatan rutin mereka. Namun yang selalu membuat Zahra berdebar adalah ucapan serta perlakuan Hafiz saat memintanya. Laki-laki itu begitu pandai berucap manis, bukan sebuah perintah atau memaksa melainkan untaian kata yang menerbangkan Zahra. Begitu manis perlakuannya.
Hafiz melepas selimut yang membalut tubuh mereka hingga luruh ke bawah. Ditatapnya wajah sang bidadari hati penuh cinta hingga detik kemudian bibirnya kembali menyatu dengan bibir ranum milik Zahra. Ia panggut lembut bibir itu penuh hasrat. Tanpa melepasnya, ia angkat tubuh Zahra dan membawanya masuk hingga ke kamar mereka.
Malam itu kembali menjadi saksi penyatuan cinta mereka. Indahnya melodi yang mengalun, membius mereka yang kini tenggelam dalam lembah kenikmatan. Dinginnya malam pun seolah menjadi pemicu mereka untuk mendapatkan kehangatan tak terkira.
🌹🌹🌹🌹🌹
Waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi, baik Hafiz maupun Zahra masih belum beranjak dari peraduannya. Keduanya masih bergelung dalam selimut, saling mendekap erat. Hafiz yang lebih dulu membuka matanya tiga puluh menit lalu masih betah menatap wajah cantik sang istri. Senyum mengembang di sudut bibirnya seakan tak pernah luntur. Tangannya terangkat untuk menyentuh pahatan indah yang Allah ciptakan di wajah Zahra. Kulit putih mulus dengan mata bulat ditambah bulu mata yang lentik, hidung mancung dan pipi berlesung kesukaannya yang tampak lebih tembam dari biasanya entah sejak kapan Hafiz juga baru sadar. Netranya kembali menelusuri setiap inci wajah Zahra hingga terfokus pada bibir ranum dan merona yang selalu berhasil mematahkan pertahanannya, ia usap lembut bibir itu.
"Habibi.." suara serak itu keluar tepat saat Hafiz menyentuh bibir Zahra.
"Sudah bangun?" tanya Hafiz seraya tersenyum.
Ia masih menatap lekat wajah cantik Zahra yang alami tanpa polesan.
"Jam berapa?" Zahra mengerjapkan matanya.
__ADS_1
"Setengah empat."
"Astaghfirullah.. kesiangan, Bi," panik Zahra seraya mendudukan tubuhnya dengan tangan menggenggam erat selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Masih ada waktu untuk shalat tahajjud," tenang Hafiz.
"Tapi tilawahnya? nanti kamu sudah berangkat ke Surabaya loh," ucap Zahra sedikit sesal karena keterlambatannya.
"Untuk hari ini libur dulu ya."
"Tapi.. "
"Terima kasih untuk semalam istriku, yang sudah membuat suamimu senang. In Sya Allah pahala besar telah berhasil kamu raih karena menyenangkan Habib," ucap Hafiz mengalihkan pembahasan seraya mendudukan tubuhnya.
Ia tidak mau Zahra menyalahkan dirinya sendiri karena hal kecil yang bukan kesalahannya. Zahra terlalu lelah melayani keinginannya. Jadwal kuliah yang padat, pekerjaan rumah yang tak pernah ia abaikan dan baktinya sebagai seorang istri yang tak pernah ia lalaikan membuat Hafiz terkadang merasa kasihan dan harus mengerti kondisi Zahra yang sering kali merajuk manja untuk menutupi rasa lelahnya. Bahkan malam-malam panjang yang seharusnya wanita itu gunakan untuk istirahat selalu terganggu karena ulahnya. Ulahnya karena masih meminta untuk dilayani dan dipuaskan batinnya. Sungguh, Hafiz merasa beruntung mendapatkan Zahra. Wanita shalehah yang mampu menenangkan serta menguatkan jiwanya.
Cup..
Hafiz mengecup pelipis Zahra.
"Yuk, mandi," ucapnya seraya mengangkat tubuh Zahra yang masih terbungkus selimut sedang dirinya hanya memakai celana pendek tanpa memakai apapun lagi untuk menutupi tubuh atasnya.
"Eh.. Bi.. " kaget Zahra kala tubuhnya terangkat, meski ini bukan pertama kalinya bahkan setiap usai pergulatan panjang mereka, Hafiz selalu seperti itu membopong tubuhnya hingga ke kamar mandi dan melakukan ritual mandi bersama.
Teringat saat kali pertama melakukan malam panjang itu di Istanbul. Hafiz membopong tubuhnya yang memang sudah tak memiliki daya untuk bergerak, belum lagi rasa sakit yang teramat ia rasakan karena telah melepas harta berharganya untuk pertama kalinya. Dan sesampainya di kamar mandi, bukannya keluar Hafiz justru melanjutkan ritual mandi bersama.
"Kita sempurnakan sunah kita ya, seperti yang pernah rasulullah lakukan bersama istri tercintanya, Bunda Aisyah.. yaitu mandi bersama. Kamu tidak keberatan kan, Sayang?" tutur Hafiz kala itu. Zahra hanya tersenyum malu sembari meringis menahan sakit.
Dan sekarang ritual itu sudah seperti masuk dalam rentetan kegiatan malamnya usai berjima'.
Usai shalat subuh, Zahra bergegas menuju dapur untuk memasak sarapan pagi mereka sebelum nanti Hafiz berangkat ke Surabaya. Sedang Hafiz masih di masjid belum kembali dari jama'ahnya.
Waktu kini menunjukkan pukul 06.45, saat keduanya duduk dan memakan sarapannya.
"Selama Habib tidak di rumah, biar Mang Ujang yang antar jemput kamu ke kampus. Jangan naik kendaraan umum apalagi sendirian," ucap Hafiz.
"Iya," sahut Zahra singkat.
"Jaga diri baik-baik. Jangan sampai telat makan apalagi lupa, nanti asam lambung kamu naik. Kan lucu jadinya, seorang dokter yang harusnya merawat eh malah dirawat," ucap Hafiz lagi seraya terkekeh pelan membuat Zahra sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Bibirnya jangan gitu dong, Sayangku. Masih pagi, yang ada nanti Habib khilaf lagi," canda Hafiz.
"Ih, sudah mau berangkat juga masih saja sempat-sempatnya mikir begituan."
"He..he.. he habis pesonamu itu lo, Sayangku, bikin runtuh pertahanan Habib."
"Ck.. sebelumnya baik-baik saja, bahkan kuat nahan sampai 2,5 tahun kenapa sekarang jadi berubah mesum gini."
"Kamunya saja yang tidak tahu gimana sulitnya Habib menahan semuanya. Tapi ya sudahlah, toh sekarang semua perjuangan Habib sudah terbayarkan," ucap Hafiz seraya tersenyum lebar.
Tak lama terdengar deru mobil yang berhenti tepat di depan rumah, membuat Hafiz segera menyelesaikan sarapannya. Keduanya pun keluar sembari bergandengan.
"Baik-baik di rumah ya, Sayang. Nanti kalau Habib sudah sampai Surabaya Habib telpon."
Zahra mengangguk mengiyakan.
"Ke rumah Umminya jangan kemalaman. Terus jangan terlalu memaksakan diri melakukan semuanya sendiri, kamu perlu istirahat jangan terlalu capek. Habib tidak mau kamu sakit lagi," ucap Hafiz seraya mengusap kepala Zahra.
"Iya, Habibiku Sayang."
"Ingat jaga hati dan cinta kamu sampai Habib kembali."
"Iya, Bibibku. Kamu juga jaga mata dan hatinya untuk Zahra. Sekarang berangkat gih, tidak enak tu sama Noval, dari tadi sudah menunggu. Nanti kamu ketinggalan pesawat lagi."
"Oke, Habib berangkat ya. Kalau ada apa-apa segera telpon Habib," ucap Hafiz seraya mengecup Kening serta pipi Zahra dan terakhir ia mencium bibir Zahra sembari mengerlingkan sebelah matanya hingga Zahra tersipu.
"Hati-hati ya, Bi."
"Ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus salam"
Hafiz pun melangkah menuju mobil jemputannya meninggalkan Zahra yang masih setia berdiri di depan pintu menatap kepergiannya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Uh.. uh.. uh yang udah kangen sama moment manisnya HafZah. Gimana, terbayarkan rasa kangennya??🤭🤭
__ADS_1
JANGAN CUMA SENYUM-SENYUM SAJA, LIKENYA, KOMENNYA DAN VOTENYA MANA??? AUTHOR TUNGGU NI..