
Dengan gerakan perlahan Habibi mengambil ponsel yang berada dalam genggaman Zahra dengan tangan kanannya. Ada sesuatu yang mendorong untuk mengetahui apa isi dari rekaman itu. Sebelum mengetuk tanda putar pada layar, Habibi lebih dulu mengecilkan volumenya agar tidak terdengar oleh Zahra. Ia menempelkan ujung ponsel itu pada telinganya setelah mengetuk tanda putar.
Aliran darah di tubuh Habibi seakan berhenti tepat saat sebuah suara menyapa indera pendengarannya. Tubuhnya membatu seketika dan napasnya mulai tercekat di tenggorokkan. Siapa dia?
"Sayang, terima kasih sudah menjadi nikmat terbesar dalam hidup Habib. Mencintai dan mendampingi Habib tanpa lelah. Sungguh tanpamu hidup Habib tak ada artinya. Uhibbuki Fillah, Ya Zaujati Alhabiba."
Tanpa sadar air mata Habibi mengalir setelah mendengar kalimat pembuka sebelum surah Ar Rahman terlantun merdu. Ia sedikit menggerakkan kepalanya seraya menatap getir sosok yang kini masih terlelap disampingnya. Habibi menyadari bahwa suara itu tampak terdengar seperti miliknya bahkan cara laki-laki itu melafalkan ayat demi ayatnya sama persis dengan dirinya, tak ada sedikit pun yang berbeda.
Jiwa penasaran Habibi semakin menjadi karenanya. Ia pun keluar dari ikon perekam lalu beralih pada ikon yang mungkin bisa menjawab segala pertanyaannya selama ini. Album atau Galeri. Sebelum membukanya, Habibi menarik dalam napasnya. Hatinya sedikit berdebar, ada perasaan takut jika apa yang ia lihat nanti semakin meremukkan hatinya.
Ada beberapa Folder di dalamnya, namun satu folder dengan nama "With You" menarik perhatian Habibi. Tanpa mengulur waktu, ia pun membukanya. Deretan foto dengan jumlah tak terhitung itu terpampang jelas menghiasi seluruh layar ponsel. Dalam sekejap raut wajah Habibi berubah, tubuhnya kembali membatu dan bahkan kini sedikit bergetar. Mata itu kembali menyelisik satu persatu gambar yang ada di layar ponsel. Mulai dari penampakkan sepasang kekasih yang masih menggunakan seragam putih abu hingga foto pernikahan. Jari tangan Habibi terangkat untuk mengetuk salah satunya hingga terpampang jelas gambar kedua sejoli itu.
Foto yang sama, yang sebelumnya dilihat Zahra. Foto yang penampilkan sosok Hafiz yang tengah memeluk serta mencium pelipis Zahra dengan kedua tangan Zahra memegang dua buku yang tak lain adalah buku nikah. Habibi menelan ludahnya dengan susah payah. Jari tangannya tak sadar telah menggulir layar ponsel hingga gambar itu berganti.
Habibi memejamkan matanya sesaat sembari mengatur deru jantung yang sedari tadi melaju tak karuan. Seraya menenangkan pikirannya yang mulai kacau setelah melihat foto laki-laki yang ada di layar ponsel milik Zahra. Wajah itu benar-benar sangat mirip dengannya hanya saja wajah itu versi muda dirinya. Habibi sedikit menekan dadanya yang terasa begitu menyesakan dengan air matanya kembali menetes.
"Diakah yang membuatmu menangis saat aku berada di hadapanmu? Zahra, maafkan aku yang telah membuatmu meneteskan air mata. Maafkan aku, karena pertemuan kita justru melukaimu," gumam Habibi pelan sembari mengusap air matanya dengan cepat.
Habibi memutar kepalanya hingga bibirnya menempel tepat di puncak kepala Zahra yang tengah bersandar di pundaknya.
"Kalau dengan ketidakhadiranku di dekatmu bisa membuat hatimu tenang, maka akan kulakukan walau itu menyakitkan untukku. Aku tak akan pernah lagi menampakkan diriku di depanmu agar air mata itu tak kembali menetes," ucap Habibi menjeda kalimatnya sesaat, ia kecup kepala itu dengan rasa yang begitu menyayat hatinya.
Bagaimana bisa ia membiarkan wanita yang dicintainya menderita melihat kesamaan fisik dan suara miliknya dengan kekasih wanitanya. Laki-laki yang berlabel suami bagi wanita tercintanya.
Habibi menghela napas panjang. Banyak hal yang kini hinggap di kepalanya, termasuk pertanyaan-pertanyaan yang saat ini memenuhi otaknya. Seperti ada potongan puzzle yang tercecer yang perlu ia rangkai untuk mengetahui sesuatu yang mungkin bisa membantunya menemukan jawaban dari semuanya.
"Maafkan aku. Setelah ini, mungkin aku takkan menampakkan diriku lagi di depanmu sebelum semuanya jelas bagiku. Zahra.. aku mencintaimu."
Habibi menahan napasnya saat dengan perlahan ia membenarkan posisi Zahra seperti semula. Ia pandang wanita itu dengan senyum getir lalu mengangkat tangan untuk mengusap lembut kepalanya.
"Beri aku waktu untuk mencari tahu semuanya dan merangkai sendiri potongan puzzle itu. Ini mungkin membutuhkan waktu sedikit lama, tapi kumohon tetaplah dengan posisimu seperti sekarang ini. Jangan menerima cinta siapapun sebelum aku kembali membawa kejelasan untuk kita."
Habibi bangkit dari duduknya, Sebelum ia melangkah meninggalkan Zahra, ia melepas jas yang ia kenakan dan menyelimutkannya ke tubuh Zahra dengan posisi setengah berlutut di depan wanita itu.
"Aku benar-benar mencintaimu, Zahra. Aku pasti kembali, jadi tunggulah aku," ucap Habibi.
Setelah mengatakan itu, Habibi pun berbalik dan melangkah meninggalkan Zahra sendiri.
Tiga puluh menit berlalu setelah kepergian Habibi, Zahra pun membuka matanya. Ujung bibirnya tertarik ke atas setelah mimpi indah yang membuatnya tidur nyenyak bahkan dalam posisi yang sesungguhnya tidak nyaman bagi siapapun. Zahra kembali mengingat mimpinya.
__ADS_1
"Aku benar-benar mencintaimu, Zahra. Aku pasti kembali, jadi tunggulah aku."
Bayangan Hafiz yang tengah mengatakan itu kini berputar di kepalanya.
"Jika dengan menunggumu mampu membawamu kembali pada Zahra. Zahra akan melakukannya dengan senang hati."
Binar bahagia yang tadi tampak kini berubah sendu.
"Tapi apa kamu akan benar-benar kembali, Bi?, sudah tujuh tahun Zahra menunggumu. Sampai kapan Zahra harus menunggu lagi dan menaruh harapan pada sesuatu yang Zahra sendiri tidak bisa meyakininya,"
Tatapan sendu itu kini berkabut. Kedua tangannya saling meremat erat hingga ia menyadari sesuatu. Ia menundukkan kepalanya, menatap tubuh yang kini berselimutkan jas hitam milik seseorang. Ia pun mendekap erat jas itu sesaat lalu bangkit dan berlari tak tentu arah. Pikirannya tertuju pada sosok pemilik jas hitam yang beberapa saat lalu ada disampingnya.
"Zahra juga mencintaimu, Bi. Sangat.. sangat mencintaimu," lirih Zahra seraya mendekap erat jas milik Habibi, membaui aroma khas milik lelakinya dulu.
"Zahra sangat merindukanmu, Habibi." Zahra kembali bersuara dengan lirih, air matanya sudah membanjiri wajah cantiknya bahkan membasahi jas yang berkali-kali ia kecup untuk menyalurkan semua rasa yang kini membuncah di hatinya.
Di luar sana langit menurunkan airnya begitu deras seakan tengah ikut meratapi kesedihan seorang hamba-Nya.
* * * * *
Zahra menatap jauh ke depan. Wajahnya tampak sayu akhir-akhir ini tepatnya setelah malam itu. Malam di mana ia seakan bermimpi tentang Hafiz, namun pada kenyataannya Habibi lah yang datang malam itu. Zahra tidak tahu apa yang harus ia yakini saat ini. Tak ingin berharap lebih bahwa Habibi adalah Hafiz namun nyatanya semua hal yang ada pada diri Habibi benar-benar tampak seperti Habibinya. Dan jikalau ia meyakini bahwa Habibi adalah Hafiz, ia juga tidak tahu harus memulai dari mana mencari tahu tentang kebenaran dari laki-laki itu. Ingin sekali ia bertanya pada Kayla tentang hubungan yang sebenarnya dengan Habibi, tapi ia merasa kurang enak pada gadis itu terlebih saat ini emosi Kayla sedang tidak terkendali jika membahas sesuatu yang berhubungan dengan Habibi dan Meysha.
"Belum tidur, Ai?"
Zahra memutar kepalanya ke arah seseorang yang kini duduk disampingnya. Andrie. Tiga hari lalu, Lintang melahirkan anak pertamanya. Zahra dan para sahabatnya meluangkan waktu mereka untuk datang dan menginap tiga hari di Bandung, di rumah Andrie tepatnya.
Zahra menyunggingkan senyumnya pada Andrie sembari menggeleng pelan.
"Anak-anak sudah pada tidur A'?"
"Sudah. Raffa ikut tidur sama Farid, di kamar bareng Gilang dan Kemal juga.
"Ai,"
"Apa?"
"Pekerjaan kamu di Jakarta lebih berat ya, Ai? Aa' perhatikan kamu agak kurusan sekarang. Wajah kamu juga tampak kuyu. Ingat Ai, sesibuk apapun jangan pernah lupa untuk memperhatikan kesehatan kamu. Kamu kan seorang dokter pastinya lebih tahu cara menjaga kesehatan tubuh dan pikiran. Kan tidak lucu jadinya, kalau seorang dokter justru menjadi pasien," tutur Andrie disertai kekehan diakhir kalimatnya.
"Dokter juga manusia, A'," bela Zahra.
__ADS_1
"Iya, tapi kan sebagai dokter, kamu harusnya lebih dulu memperhatikan kesehatan kamu ketimbang orang lain. Kalau kamu sakit, siapa yang akan menjaga dan merawat? keluarga jauh di Semarang sana. Kamu juga tinggal sendiri di apartemen. Yang ada nanti semua orang pada mengkhawatirkan kamu," nasehat Andrie yang merasa prihatin melihat kondisi Zahra.
Zahra hanya melirik sebentar ke arah Andrie lalu kembali fokus ke depan dengan tatapan kosongnya.
"Ai,"
"Hmmm.. "
"Aiya,"
"Apa, A'?"
"Kenapa tidak menikah saja dengan Farid? kenapa harus menunggu satu tahun lagi?. Bukankah dengan adanya Farid, kamu jadi ada yang mengurus dan menjaga. Lagipula Farid dan keluarganya juga pasti tidak keberatan kalau dia harus bekerja di Jakarta untuk menemani kamu."
Zahra menoleh ke arah Andrie, menatapnya dengan sorot sendu.
"Zahra belum siap, A'."
"Kamu tidak akan pernah siap sampai kapanpun jika kamu sendiri tidak bertekad untuk melakukannya," Andrie menghirup udara sejenak seraya menjeda kalimatnya.
"Tidak mudah memang menerima orang baru di hati kita saat hati sudah memiliki seorang pemilik. Tapi, tidak mudah kan bukan berarti tidak bisa. Hanya waktu dan kebersamaan yang akan menjawabnya. Sama seperti yang pernah Aa' alami sebelumnya. Saat di mana Aa' mencintai kamu. Saat itu tidak ada yang Aa' yakini selain cinta Aa' ke kamu. Bahkan Aa' sempat berpikir untuk membawa cinta itu sampai mati jika seandainya Allah tidak memberi kesempatan pada Aa' untuk bersanding dengan kamu. Tapi kenyataannya sekarang, Aa' justru beruntung pernah patah hati. Karena dengan begitu Aa' akan lebih menghargai perjuangan seseorang untuk bersama dengan kita. Perjuangan yang dulu juga kita lakukan untuk orang yang kita cinta.
Aiya, Aa' akui jika kehadiran Hafiz memang tidak bisa kita lupakan begitu saja tapi bukan berarti kita menjadi buta hingga tidak melihat seseorang tengah berjuang untuk memberikan kebahagiaan kepada kita. Berjuang sendiri itu berat dan menyakitkan, Ai. Apalagi saat orang yang kita perjuangkan justru tidak memiliki keinginan untuk kita bahagiakan.
Aa' tidak ingin mata hatimu tertutup dan menjadi keras karena cintamu yang tak pernah goyah pada Hafiz. Aa' tidak ingin kamu semakin jauh dari kebahagiaan. Aa' sayang sama kamu, Ai. Dan Aa' yakin Hafiz pun tidak menginginkan ini semua.
Kamu tahu, Ai, Hafiz pernah mengatakan bahwa "Senyum dan tawamu adalah kebahagiaan baginya, yang selalu ia tunggu setiap waktunya. Kebahagiaanmu adalah tujuan dari hidupnya sedang tangismu adalah sesuatu yang paling menyakitkan dalam hidupnya". Sekarang Aa' tanya padamu, sejak kepergiaan Hafiz, sudah berapa kali kamu menangis? Pernahkah kamu sekali saja tersenyum dan tertawa bahagia sama seperti saat Hafiz masih ada dulu? Coba kamu pikirkan sekarang lebih banyak mana yang kamu lakukan selama tujuh tahun ini, karena dengan begitu kamu akan tahu bahwa sebanyak itu pula yang Hafiz rasakan di sana."
Jantung Zahra seakan tertohok, hatinya teremas kuat oleh benda tak kasat mata. Seperti ada darah yang mengalir dari sayatan pada lukanya. Ia pun terisak hebat merasakan perih yang begitu menghantam batinnya.
"Aiya.. "panggil Andrie.
Zahra bergeming, air matanya sudah tumpah ruah membasahi wajah cantiknya. Isakkan terus keluar dari bibirnya disertai lafaz istighfar yang tak henti-hentinya ia ucapkan.
Tak jauh dari sana, seseorang berdiri seraya menyaksikan kepedihan yang teramat dalam dari orang tercintanya. Untuk pertama kalinya ia melihat langsung betapa rapuhnya wanita itu. Farid. Laki-laki itu menatap sendu, hatinya seakan tergores mendengar setiap isakkan yang keluar dari bibir wanita tercintanya. Jika di izinkan ingin sekali ia menjadi penawar baginya, membasuh luka itu dengan ketulusan cintanya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
SILAHKAN BERNANGIS-NANGIS RIA UNTUK KESEKIAN KALINYA, TAPI JANGAN SAMPAI LUPA UNTUK NGE-LIKE, KOMEN DAN VOTE SEBANYAK MUNGKIN..🤗🤗
__ADS_1