
Zahra menatap langit malam yang terasa sunyi. Wajahnya tampak sendu. Ia baru sadar setelah sekian tahun lamanya bahwa kini ia telah sendiri. Tak ada lagi seseorang yang biasa menemaninya menatap indahnya langit malam. Dulu, Ia dan Hafiz hampir setiap malam menghabiskan malam untuk menikmati indahnya langit, sembari melangitkan do'a agar bisa melewati masa tua bersama. Namun sepertinya do'a itu tak pernah sampai menembus langit karena kenyataannya hanya dia seorang diri yang kini mulai melangkah menuju masa tua itu tanpa sosok yang dulu selalu disampingnya.
Zahra tersenyum sendu jika teringat kembali masa-masa indahnya dulu bersama sang suami. Tawa bahagia yang dulu selalu terukir kini berubah menjadi tangis kepedihan. Tak pernah sekalipun ia mencecap bahagia lagi setelah kepergian sosok itu, selain saat hadirnya Raffa. Hidupnya seakan hanyalah sebuah rutinitas semata yang tak membutuhkan kebahagiaan di dalamnya. Tidak ada warna lain selain warna yang diciptakan oleh Raffa di hidupnya.
Zahra masih tersenyum mengingat semuanya. Sesuatu dalam dirinya bergemuruh hebat hingga menghasilkan sesak di dalamnya. Namun tidak ada air mata lagi yang mengalir saat ini. Entah karena ia sudah bosan keluar atau karena peringatan seseorang yang membuatnya kini enggan menampakkan diri.
"Zahra baik-baik saja, Bi, Raffa juga. Zahra harap kamu tenang di sana. Tidak perlu khawatir lagi, Zahra janji Zahra akan bahagia. Dan maaf jika bahagianya Zahra mungkin harus melupakan janji kita untuk bersama di sana. Tapi percayalah, Zahra selalu mencintaimu," ucap Zahra.
Ada penyesalan dalam dirinya namun sebuah tekad serta keyakinan sudah bulat ia ambil. Ia akan menerima apapun dan siapapun yang memang menjadi takdirnya. Ummi benar, ketidak-ikhlasan hanya membawanya pada kesengsaraan. Hatinya terus menerus tersakiti kala ia tetap keukeuh memeluk kepedihan itu. Harusnya ia mengingat kenangan manisnya saja bukan kepedihan saat orang terkasih tiada dengan begitu sesedih apapun ia maka semuanya tak akan terasa menyakitkan seperti sekarang.
Bukan ia tidak ikhlas, hatinya hanya butuh waktu untuk mengerti dan menyesuaikan diri setelah kepergiaannya meskipun waktu yang ia butuhkan ternyata cukup panjang dan lama mengingat banyak hal yang menyakitkan telah ia lewati. Dulu tak ada waktu yang tidak terlewatkan bersamanya dan itu membuatnya seakan bergantung pada kehadirannya. Dan dulu hidupnya amatlah sempurna dengan berkah kebahagiaan yang melimpah ruah jadi tak heran jika saat satu persatu sumber kebahagiaannya terenggut, ia benar-benar terpuruk hingga tak mampu membuat hatinya kembali bangkit untuk melangkah.
Tidak ada makhluk yang sempurna di dunia ini termasuk Zahra. Mungkin orang lain akan memandang rendah mengingat seseorang yang memiliki pemahaman agama yang lebih seperti dirinya justru seakan tak mampu menerima takdir dengan hati lapang, karena sejatinya semua hal yang terjadi di dunia ini termasuk kematian tak lain karena kehendak dari-Nya sehingga sudah sepatutnya sebagai makhluk-Nya tahu akan hukum itu.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata "Jangan melibatkan hatimu dalam kesedihan atas masa lalu atau kamu tidak akan siap untuk apa yang akan datang".
Memang benar adanya, saat hati kita terus berkutat pada masa di mana semuanya telah berlalu justru membuat kita seakan tidak mampu menerima semua hal yang di berikan saat ini dan ke depannya karena ketidak-siapan kita menghadapinya. Dan itu yang mungkin terjadi pada sosok Zahra.
Ia terlalu fokus dan sibuk berkelana pada masa lalunya sehingga ia tidak siap menerima apa yang Allah berikan saat ini. Ia hanya memandang sesuatu yang diberikan saat ini tak sebaik dengan yang lalu, termasuk perihal jodoh. Jika dipikirkan kembali sudah berapa banyak kebaikan yang Allah suguhkan padanya. Pria-pria baik dan sholeh Allah coba hadirkan untuk bisa menjadi pelipur lara baginya namun nyatanya ia menolak mentah nikmat itu. Meskipun semua yang terjadi dalam hidup ini termasuk jodoh adalah kuasa-Nya. Namun sekali lagi, mengapa dulu ia tak mencoba melihat kebaikan-kebaikan itu sehingga ia tidak harus mencecap pedihnya lara yang semakin membuatnya tersakiti.
Sudah saatnya ia melepas kepedihan itu. Sudah saatnya luka itu mengering walau harus membekas. Sudah saatnya ia berhenti menabur dosa yang sama karena kufur akan nikmat-Nya. Setidaknya ingatlah satu hal, bahwa rahmat serta nikmat Allah senantiasa membersamai makhluk-Nya yang selalu bersyukur, bersyukur terhadap apapun termasuk takdir yang tak kita inginkan sekalipun.
"Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Az Zumar:53)
Zahra sadar selama ini sudah banyak dosa yang secara tidak sengaja maupun tidak ia sadari telah ia lakukan, salah satunya yaitu kufur nikmat. Ia lupa banyak nikmat lain yang senantiasa Allah berikan kepadanya, ia terlalu menutup mata dan hatinya selama ini sehingga hanya kesedihan semata yang ia rasakan.
Subhanallah.. sungguh merasa hina dirinya selama ini. Bagaimana bisa ia menganggap dirinya wanita shalihah bagi Alm. Ayah serta suaminya jika untuk bersyukur saja ia lupa. Astaghfirullahal'adzim.. Semoga Allah senantiasa memberikan pengampunan baginya serta dijauhkan dari murka-Nya, aamiin.
"Terima kasih, Ya Rabb.. Engkau telah mengingatkanku. Terima kasih karena Engkau telah menegurku. Karenanya aku tidak terlampau jauh dari-Mu serta rahmat-Mu."
Zahra mengingat kembali ucapan Habibi seusai shalat maghrib kemarin, saat dirinya kembali bertemu dengan laki-laki itu di teras Masjid.
"Dokter Zahra tahukah kamu bahwa Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan melainkan untuk menguji kekuatan akarnya? Sama halnya dengan, kenapa Allah menghadirkan ujian dalam hidup, alasannya tak lain adalah untuk menguji iman kita," tutur Habibi yang seketika membuat Zahra terdiam seraya mengartikan maksud dari ucapan laki-laki itu.
"Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 155: 'Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.'
Bahkan Ali bin Abi Thalib pun pernah berkata 'Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit'," lanjut Habibi tanpa menatap Zahra.
Degg..
Kalimat yang sama yang pernah Hafiz ucapkan kala menenangkan dirinya dulu. Zahra menatap lekat wajah Habibi dari samping. Dipandangnya lelaki itu dengan seksama, seakan mencari celah perbedaan dari sosok Habibi dengan Hafiz, Habibinya.
"Berhenti menatapku seperti itu. Sebanyak apapun kamu mencari, sosoknya takkan pernah kamu temukan dalam diriku," ucap Habibi telak mematahkan angan serta harapan Zahra.
Habibi seakan mengerti alasan kenapa wanita itu selalu bersikap berbeda di depannya. Ia berpikir mungkin dirinya tampak seperti seseorang yang dicintai oleh Zahra.
Zahra menunduk dalam menyembunyikan sakit di hatinya saat itu. Hanya dengan pergi dari hadapan Habibi mungkin rasa itu tidak semakin melebar.
🍁🍁🍁
Zahra menerima telpon saat dirinya tengah akan menikmati makan siangnya di kantin rumah sakit bersama beberapa dokter dari departemennya. Segera ia bangkit dan sedikit menjauh untuk menerima panggilan yang membuat jantungnya berdetak kencang. Bukan karena apa-apa melainkan ini adalah pertama kalinya sosok laki-laki yang berstatus tunangannya menelpon setelah hampir satu bulan tidak pernah saling berkabar entah karena apa alasannya.
Zahra menormalkan detak jantungnya sesaat sebelum menjawab telpon itu agar suaranya tidak terdengar bergetar karena gugup.
"Assalamu'alaikum," salam Zahra seraya menarik kedua ujung bibirnya ke atas agar suaranya terdengar seperti biasanya.
"Wa'alaikumus salam, Ra," terdengar jawaban dari seberang.
"Ada apa, Rid? Tumben menelepon."
"Salah ya kalau aku menelepon calon istri aku."
Degg..
Zahra meneguk ludahnya mendengar jawaban Farid yang terdengar seakan mengingatkan status mereka berdua.
"Bu-bukan begitu maksud aku.. ehm.. mak.. "
"Ya aku tahu maksudnya. Salah aku juga yang selama ini tidak pernah memberi kabar. Maaf ya, kamu jadi merasa kurang nyaman," potong Farid.
__ADS_1
"Hmmm.. tidak apa-apa."
"Oh ya. Ra. Apa sekarang kamu di rumah sakit?"
"Ya, aku di rumah sakit."
"Apa aku mengganggu waktumu?"
"Tidak juga."
"Bisa kamu ke lobi sekarang?" tanya Farid sukses membuat Zahra mengerutkan keningnya.
"Lobi? lobi mana?"
"Ya lobi rumah sakit tempat kamu bekerjalah, lobi mana lagi," sahut Farid terdengar kekehan pelan setelahnya.
"Kamu?"
"Hmmm.. aku tunggu ya," ucap Farid.
Zahra menggenggam ponselnya erat saat panggilan itu telah diakhiri oleh seseorang di seberang sana. Ia pun mengumpulkan kekuatan agar bisa menghadapi laki-laki itu.
"Maaf sebelumnya, saya tidak jadi ikut makan bersama. Ada urusan mendadak," ucap Zahra sopan pada rekan-rekan seprofesinya.
"Terus makanan kamu?" tanya dokter Liam sembari menatap semangkuk nasi soto milik Zahra yang sama sekali belum tersentuh.
"Ehhmm.."
"Bagaimana kalau untuk saya saja dokter Zahra?" potong seorang dokter yang baru saja tiba.
Zahra pun memutar wajahnya ke arah samping.
"Dokter Alfa?"
"Hmmm.. boleh? kebetulan saya belum memesan makanan," tutur dokter yang bername tag. dr. Alfaro Husein, Sp. B.
Zahra spontan mengangguk.
"Huh, niat banget cari gratisan," celetuk dokter Anindya yang kini berdiri disamping dokter Alfa.
"Ya daripada mubazir, Nin."
"Ya ta.. " ucapan dokter berambut pendek itu terhenti saat Zahra lebih dulu bersuara.
"Ya sudah tidak apa-apa dok. Maaf, saya buru-buru. Saya pamit dulu, assalamu'alaikum."
Zahra memotong lebih dulu perdebatan kecil antara dokter Alfa dan dokter Anindya yang memang sudah biasa seperti itu.
Zahra sedikit berlari menuju lobi rumah sakit dengan degup jantung yang semakin memburu di dadanya. Selain karena pertemuan pertamanya dengan sang tunangan tentu karena hal lain yang membuatnya lebih cemas dari itu yaitu Habibi. Zahra takut jika Farid dan Habibi secara tidak sengaja bertemu di rumah sakit ini. Zahra tidak ingin siapa pun tahu akan Habibi, akan terlalu rumit jadinya terlebih jika keluarganya yang nanti mengetahui atau melihat Habibi secara langsung. Cukup Rania seorang yang mengetahuinya, itupun hanya melalui pembicaraan bukan secara langsung melihat fisik Habibi.
Untuk kedua kalinya, ia hampir menabrak orang yang sama. Bedanya saat ini ia mampu menahan tubuhnya sendiri tanpa harus orang yang ia tabrak menahannya.
"Tidak bisakah jika tidak berlari? hem.. kamu bisa jatuh dokter Zahra," ucap Habibi.
"Maaf, Pak," lirih Zahra sembari menunduk hormat.
Bagaimanapun Habibi adalah Direktur Rumah Sakit tempatnya bekerja, atasan yang sudah seharusnya ia hormati.
Habibi tampak menghela napasnya.
"Saya hanya tidak ingin kamu terluka, itu saja."
Zahra mengangkat kepalanya, menatap seseorang yang kini tampak mengkhawatirkannya.
Disamping Habibi, gadis cantik yang biasanya cerewet kini hanya diam sembari tersenyum sangat manis. Dari tatapan matanya terlihat dua bola mata bulatnya memancarkan binar kebahagiaan yang hanya dirinya seorang yang tahu maknanya.
"Kak Zahra mau ke mana? kenapa terburu-buru?" tanya Kayla dengan mimik wajah yang dibuat begitu manis.
Mendengar itu Zahra terperanjat kaget, ia baru ingat tujuannya hendak ke mana.
"Astaghfirullah.. maaf saya ada urusan. Assalamu'alaikum," ucap Zahra seraya melangkah pergi meninggalkan Habibi dan Kayla yang kini menatapnya bingung.
__ADS_1
"Wa'alaikumus salam," jawab Habibi pelan dengan mata yang terus menatap punggung Zahra yang kian menjauh.
"Kak Zahra kenapa sih? kok aneh," gumam Kayla.
Habibi hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah jangan kepo sama urusan orang, ayuk makan katanya lapar," ucap Habibi seraya melenggang hendak pergi ke arah kantin.
"Makan di resto depan saja ya, Kak," rengek Kayla saat Habibi sudah mulai melangkahkan kakinya.
"Kantin sama saja, Kay. Makanannya tetap sama enaknya."
"Cari suasana yang beda, Kak," Kayla masih merengek manja.
Habibi mengembuskan napas pasrahnya.
"Huh, ya sudah ayuk."
Habibi melangkah berbalik arah diikuti Kayla yang kini sudah berseri-seri wajahnya.
* * * * *
Langkah Zahra melambat bahkan terhenti saat melihat sosok tinggi dan gagah yang menatapnya dengan sorot mata teduh. Tampak dari sorot itu tersimpan kerinduan yang selama ini ada di dalamnya. Zahra pun menunduk saat melihat kedua ujung bibir Farid terangkat untuk menyambutnya.
"Assalamu'alaikum," salam Farid tanpa melunturkan senyuman di bibirnya.
"Wa'alaikumus salam," jawab Zahra lembut seraya memasang senyumannya.
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabar kamu?" tanya Farid.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," jawab Zahra.
"Sudah makan?" tanya Farid.
"Belum jadi," sahut Zahra singkat.
Alis Farid terangkat sebelah dengan dahi berkerut.
"Belum sempat aku memakan makananku, kamu keburu telpon jadi ku tinggalkan saja," terang Zahra saat melihat raut bingung di wajah Farid.
"Maafkan aku. Oh ya, masih ada waktu tiga jam dari sekarang sampai waktu penerbanganku nanti, jadi aku bisa menemanimu makan jika kamu tidak keberatan."
"Penerbangan?"
"Hem.. Aku harus ke Kairo sore ini. Mengurus berkas-berkas S2 ku yang sempat tertunda sebelumnya," terang Farid.
Zahra terdiam sesaat. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Tidak lebih dari satu minggu, aku janji akan kembali," tutur Farid seakan tahu isi pemikiran Zahra.
Mendengar itu sontak Zahra menggeleng dengan cepat. Cukup satu kali ia termakan janji yang nyatanya hanya harapan semu. Janji yang pada akhirnya berujung luka.
"Jangan berjanji apapun," ucap Zahra.
Farid sempat terdiam namun detik berikutnya ia pun mengangguk mengerti.
"Terus sekarang jadinya kita makan di mana?" tanya Farid selanjutnya.
"Akan memakan waktu lama untuk kamu ke Bandara nantinya karena macet. Lebih baik kita mencari makan di dekat Bandara saja sekalian supaya nanti kamu tidak ketinggalan pesawat."
"Bagaimana denganmu? apa ini tidak akan menggangu pekerjaanmu?"
"Sore ini free, tidak ada jadwal operasi ataupun konsultasi pasien, jadi tidak apa-apa," terang Zahra yang akhirnya disetujui Farid dengan anggukan.
"Tunggu di sini sebentar, aku ambil tas dulu di ruangan sekalian mengajak teman agar kita tidak hanya berdua," putus Zahra yang kembali diangguki Farid.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, dua orang tengah diam menatap mereka penuh arti.
"Kak Il?"
"Kita makan di kantin saja," putus Habibi.
__ADS_1
Setelah mengucap kalimat itu ia pun berbalik sebelum Zahra mengetahui keberadaannya, meninggalkan Kayla yang masih diam memandang ke arah Farid dengan wajah sulit diartikan sembari tangan mengangkat telpon yang baru saja berdering.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤