LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
BIMBANG


__ADS_3

Senja mulai menguasai langit sore ini, meskipun kehadirannya hanya sekejap namun pesonanya selalu berhasil menarik perhatian banyak penduduk bumi, termasuk Zahra. Tiga hari sudah berlalu sejak pembicaraan panjangnya dengan Ummi Maryam, Zahra semakin menutup dirinya. Selain ruang operasi, hanya masjid yang menjadi tempat singgahnya dirumah sakit. Tiga hari penuh Zahra memikirkan ucapan Ummi yang terus terngiang di telinganya.


"Ikhlaskan Hafiz, Nduk. Ummi mohon ikhlaskan dia. Jangan bebankan dia atas keraguan yang ada di hatimu selama ini. Ummi mohon, lepaskan dia di hatimu. Cintai dia sewajarnya saja, jangan menyiksa dirimu sendiri."


Kata "Ikhlas" dan "Lepaskan" yang keluar dari bibir Ummi Maryam seakan menghunus jantungnya. Memang semudah itu untuk diucapkan tapi entah kenapa justru terasa berat untuk Zahra. Ia akui, hati Ummi Maryam lebih kokoh dan kuat daripada dirinya. Ummi begitu terlihat lapang bahkan setelah mengetahui ada janin hidup dirahim Zahra saat itu, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Beliau begitu bahagia menantikan cucunya hadir ke dunia ini. Perhatiannya ia fokuskan pada Zahra dan calon cucunya. Setiap hari memasang wajah penuh kebahagiaan dan seakan lupa telah kehilangan seseorang yang begitu berarti selama ini.


Ya, ketegaran Ummi sempat membuat Zahra kagum. Tidak ada satupun seorang ibu di dunia ini yang merasa baik-baik saja saat putra tersayangnya tiada. Dan itu membuat Zahra bangkit dan mencoba untuk mengalihkan perhatiannya selama ini pada sosok yang kini sudah hadir di dunia ini sebagai penerang jiwanya. Zahra sempat melupakan kepedihan di hatinya seiring dengan kesibukannya mengurus buah cintanya dengan Hafiz, belum lagi jadwal kuliah dan praktikumnya yang super padat.


Namun lagi-lagi ia harus kembali mengingat sosok Hafiz yang begitu ia cintai saat beberapa laki-laki mencoba untuk dekat dengannya. Bukannya tidak ingin membuka hati, hanya saja sosok Hafiz selalu menjadi pembanding kala ia mencoba melangkah lebih jauh. Menurutnya, selama ini tidak ada laki-laki yang sesempurna Hafiz di matanya, laki-laki yang memiliki akhlak baik dengan sikap lembutnya.


Entah karena memang begitu kenyataannya atau memang hanya Hafiz yang terlihat oleh mata dan hatinya sehingga laki-laki lain seakan tak terlihat olehnya. Belum lagi perihal mimpi yang selalu datang menghiasi tidurnya. Sosok Hafiz yang tak pernah absen hadir dalam mimpinya dengan senyuman khas miliknya, bahkan pernah sekali setelah ia melakukan shalat Istikharah untuk meminta petunjuk-Nya saat Gus Ahyar datang untuk mengkhitbahnya. Zahra justru bermimpi tentang pertemuan pertamanya dengan Hafiz beberapa tahun silam. Hanya potongan kecil namun Zahra masih bisa melihat dengan jelas siapa laki-laki itu dan apa yang ia katakan.


"Untukmu. Semoga kelak ada waktu di mana Allah mempertemukan kita kembali di bawah naungan cintaNya," ucap remaja laki-laki sembari memberikan mushafnya.


Dengan jelas ia tahu siapa lelaki itu. Kata-kata yang terlontar pun sama persis seperti saat itu, saat ia dengan sadar juga mengamininya. Laki-laki yang telah mencuri hati dan hidupnya. Dan karena mimpi itulah Zahra mantap menolak khitbah yang datang untuknya dari cucu pemilik pesantren tempat Ummi Maryam menghabiskan masa remajanya dulu.


"Bagaimana bisa Zahra melepasmu dengan mudah di saat ingatan tentangmu semakin lekat. Bahkan di saat hadirmu semakin jelas terlihat di mata Zahra," gumam Zahra lirih.


"Bagaimana bisa cinta yang begitu besar dan dalam untukmu harus tergantikan seketika dengan cinta untuk laki-laki lain. Jangankan untuk menerima kehadiran Farid di hati Zahra bahkan untuk mencobanya saja terasa berat saat ini. Kehadirannya membuat Zahra semakin mengharapkan dirimu, Bi. Kehadirannya semakin membuat Zahra enggan untuk berpaling darimu. Zahra berharap dia adalah kamu. Tapi fakta bahwa sikapnya yang berbeda pada Zahra seakan mematahkan harapan Zahra.


Haruskah Zahra melepasmu seperti yang Ummi katakan? Habibi.. Zahra mencintaimu. Zahra merindukanmu, Zahra membutuhkan dirimu.."


Zahra mendongakkan kepalanya seraya mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya.


Lembayung senja kali ini seakan terasa ikut menusuk batinnya. Ingatan tentang Hafiz dan Habibi berputar di kepalanya. Tidak ada perbedaan dari keduanya. Wajahnya, suaranya, sikapnya yang santun bahkan perhatian kecilnya seakan mereka adalah satu orang yang sama. Tapi bagaimana bisa jika mereka adalah orang yang sama, kenapa Habibi tidak mengingatnya, mengingat kenangan mereka berdua. Lalu bagaimana bisa dia menjadi kakak dari Kayla, bukankah itu tidak masuk akal jika Habibi adalah Habibinya.


Zahra mengembuskan napasnya, seraya merogoh ponsel dari dalam tas. Ia membutuhkan seseorang, seseorang yang mampu membuat hatinya tenang hanya dengan mendengar kata-kata bijak yang keluar dari bibirnya.


"Assalamu'alaikum," salam Zahra dengan suara parau saat seseorang sudah mengangkat telpon darinya.


"Wa'alaikumus salam," jawab seseorang dari seberang sana dengan suara lembut.


Zahra tersenyum getir, bingung harus memulai dari mana ia mencurahkan isi hatinya.


"Zahra?" panggil seseorang itu saat tak mendengar suara dari wanita yang meneleponnya untuk beberapa menit lamanya.


"Apa kamu juga berpikir bahwa yang aku lakukan selama ini salah, Ran?"


Zahra bertanya pada seseorang yang dipanggilnya Ran. Iya, seseorang itu adalah Rania. Wanita yang memiliki sifat hampir sama seperti Zahra, kalem, anggun dan dewasa.


"Maksud kamu apa, Ra?" tanya Rania yang belum faham maksud dari kalimat yang Zahra lontarkan.


"Apa aku salah jika selama ini aku selalu mencintai Hafiz? Apa karena sikapku ini, kamu juga berpikir bahwa aku belum mengikhlaskan kepergiaan Hafiz?"


"Zahra.."


"Jujur, Ran."


"Tidak ada yang salah dengan kamu mencintai Hafiz."


"Lalu?"


"Aku tidak tahu, Ra, karena aku tidak ada di posisi kamu. Hanya dirimu dan Allah yang tahu, seberapa ikhlas kamu melepas kepergiaan Hafiz."


"Rania.. " Zahra memanggil dengan suara bergetar.


"Ada apa denganmu, Ra? kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu padaku?" Rania semakin bingung.


"Aku tidak sanggup, Ran. Rasanya semakin sulit untuk aku melangkah."


"Zahra, katakan dengan jelas agar aku faham kenapa kamu seperti ini. Kamu seperti bukan Zahra yang kukenal. Dia tidak pernah menyerah seperti ini. Dia adalah wanita yang kuat."


"Kamu percaya jika aku katakan bahwa Hafiz masih hidup?" ucap Zahra seketika membuat Rania bungkam.


"Kamu tidak percaya kan, Ran."


"Bukan begitu, Ra. Hanya saja ini su.."


"Sudah tujuh tahun berlalu? Itu kalimat yang sama, yang Ummi katakan padaku. Ummi memintaku melepaskan Hafiz dan mulai mencoba untuk menerima Farid," ucap Zahra menjeda kalimatnya sejenak.


"Tahukah kamu, Ran. Itu sulit untukku. Aku berniat menerima Farid tanpa melepas Hafiz, aku berusaha mencobanya tapi sepertinya semua akan semakin sulit karena kehadirannya. Sosok yang selama ini aku coba ikhlaskan kepergiaanya justru kini semakin membuatku menggantungkan harapan bahwa ia masih hidup."


Rania masih diam mendengarkan curahan hati Zahra.


"Rania, aku bertemu dengannya. Dan aku dekat dengannya jadi bagaimana bisa aku ikhlas dan melepasnya, saat dia ada di depan mataku."


"Aku semakin tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, Zahra," ucap Rania akhirnya.


"Ran, aku tidak bisa menerima Farid. Aku.. "


"Apapun alasanmu, kamu yang berhak menentukan hidupmu sendiri," Rania memotong.


"Kamu berhak memutuskan apakah kamu akan tetap ada dalam kubangan masa lalu yang selalu membuat hatimu tersakiti karena menahan rindu padanya atau beranjak darinya dan mencari kebahagiaanmu dari arah lain?" lanjut Rania, suara lembutnya terdengar tegas.


"Zahra, hanya kamu yang tahu dan merasakan apakah kamu bahagia dengan hidupmu atau tidak tanpa harus membohongi hatimu dan berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja."


"Aku hanya berharap dia adalah Hafiz," sela Zahra sebelum Rania kembali berucap.


"Jangan gantungkan harapanmu padanya, Ingat Allah. Sebelum Allah menimpakan kesakitan lebih dalam atas pengharapanmu pada makhluk-Nya. Cobalah untuk menyerahkan semua pada-Nya. Dialah sebaik-baiknya tempat kamu menggantungkan harapan. Jika orang yang kamu maksud memang Hafiz, dan Allah masih berkenan menjodohkanmu dengannya, saat itu akan datang dengan sendirinya atas izin-Nya bahkan tanpa Dia meminta mendapatmu.


Zahra bukankah kamu tahu bahwa jodoh dan kematian adalah kuasa-Nya. Jadi kenapa kamu harus memusingkan itu semua. Jalani saja semuanya karena Allah, niatkan hati hanya karena Allah, insyaallah semuanya akan mudah karena Allah akan memudahkannya."


"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang, Ran?"


"Wanita cerdas seperti dirimu ternyata bisa bodoh juga ya hanya karena cinta."


"Ran.." rengek Zahra terdengar manja.


"Ya sudah jalani saja semuanya, Ra. Allah pasti menunjukkan jalan padamu."

__ADS_1


Terdengar kekehan kecil dari bibir Rania saat menghadapi sosok Zahra yang berbeda dari biasanya.


"Lalu Farid bagaimana? apa aku harus memutuskan pertunangan kami sebelum semuanya semakin sulit?"


Terdengar helaan napas dari seberang sana.


"Apa kamu yakin dia Hafiz? hem.. sampai kamu harus tergesa-gesa memutuskan hubunganmu dengan Farid," ucap Rania dengan nada menyelidik.


"Lalu?"


"Biarkan semuanya berjalan sesuai dengan ketetapan-Nya. Jangan terburu-buru mengambil keputusan apalagi di saat hati kamu sedang galau seperti ini. Bukankah niatmu ke sana juga sembari menata dan memantapkan hati apa yang akan kamu putuskan ke depannya? maka gunakan waktu satu tahun itu dengan baik. Jangan mencoba untuk mencari kebenaran siapakah dia, karena aku tidak ingin kamu semakin terperosok lebih dalam saat kebenaran itu tidak sesuai dengan angan dan harapanmu.


Sekali lagi, berdo'alah dan kuatkan hatimu. Ingat, seseorang yang memang di takdirkan untukmu sampai kapanpun ia akan menjadi milikmu dan Allah lebih tahu siapa yang terbaik untukmu, jadi khusnudzon, Sayangku," ucap Rania terdengar lembut dan bijak seolah tengah menasehati adik kecilnya.


"Terima kasih, Ran."


"Hmmm.. ingat lho jangan terburu-buru memutuskan hubungan dengan Farid. Mantapkan dulu hatimu selama satu tahun ini. Farid pasti akan mengerti jika semisal satu tahun yang akan datang ternyata jawaban atas do'a kalian berdua adalah putusnya hubungan kalian. Karena kita tidak pernah tahu rencana Allah itu seperti apa.


Kamu ingat kan, bagaimana kisahku dengan Mas Kemal dulu. Kita menikah tepat di mana aku hendak menikah dengan laki-laki lain. Tidak ada yang tahu jika Mas Kemal yang saat itu menjadi tamu undangan justru berganti menjadi mempelai pria di pernikahanku. Saat itu kami berdua sudah sama-sama ikhlas dan pasrah akan takdir yang Allah tulis untuk kami. Kami menyerahkan semuanya pada Allah walau kami saling mencintai, tapi kamu bisa melihat sendiri kan, Ra.


Allahu akbar.. Dialah Sang Pemilik cerita. Cerita yang kami kira sebelumnya tidak akan pernah saling bertautan ternyata justru Dia mengukir cerita tentang kami yang menyatu di detik-detik kami akan benar-benar terpisah."


"Rania, aku jadi merindukanmu," cicit Zahra manja.


Kekehan kembali terdengar dari seberang sana.


"Ra, Hafiz akan selalu percaya jika kamu mencintainya meski pada akhirnya takdir menyatukanmu dengan Farid," ucap Rania terdengar menenangkan.


"Ingatlah selalu ayat ini:


'...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.'


Qs. Al Baqarah:216.


Zahra, Hafiz adalah laki-laki yang baik, kamu tahu itu. Dan menurut aku, Farid pun tak kalah baik dari Hafiz. Aku mengenal mereka berdua bahkan jauh sebelum kalian saling mengenal. Sifat keduanya memang berbeda tapi percayalah, jika Farid memang jodohmu, aku yakin dia bisa menuntunmu hingga jannah-Nya sebagaimana Hafiz dulu menuntunmu," Rania kembali berucap.


"Iya, Ran. Aku minta do'anya saja."


"Pasti, tanpa kamu minta pun aku selalu mendo'akanmu, sahabat Jannahnya aku."


Senyum Zahra mengembang tatkala mendengar kalimat terakhir dari Rania.


"Kamu pasti berpikir bahwa sekarang aku cengeng, lemah dan kekanakkan ya."


"Wajar bagi seseorang yang berkali-kali Allah tempa dengan ujian yang begitu dahsyat. Kalau kamu tidak menangis dan merasa lemah saat Allah mengujimu itu namanya kamu sombong, dan Allah lebih marah pada hambanya yang merasa ujian-Nya tidak memberikan arti apa-apa bagi hambanya yang tengah diuji. Padahal ujian itu dimaksudkan agar seorang hamba mengingat tuhannya dengan hati yang lemah dan merasa kecil karena Allah lah yang Maha Besar dan Maha kuat. Aku justru salut padamu, meskipun hatimu berkali-kali hancur, kamu masih bisa berdiri kokoh menjalani hidup ini tanpa putus asa. Dan kamu juga tidak pernah melakukan sesuatu yang menyimpang hanya karena keputusasaanmu pada takdir yang berkali-kali mematahkan hatimu.


Kehilangan Hafiz, Kehilangan keluarga yang begitu amat kamu sayangi, berjuang sendiri saat mengandung dan membesarkan Raffa lalu di uji dengan masalah yang melibatkan Mas Hakam dan Mbak Kayyisa, belum lagi ujian-ujian lainnya. Aku mungkin tidak akan bisa setegar dan sekuat kamu jika aku ada di posisi kamu, Ra. Tapi kamu? sungguh beruntung seseorang yang memilikimu. Tidak semua wanita bisa seperti dirimu, bahkan bidadari surga pun akan cemburu jika di sandingkan denganmu. Wanita cantik, cerdas, shalihah, berhati malaikat, tulus, setia, pen.."


"Stop. Kamu bisa membuatku takabur, Ran. Aku tidak sebaik atau sesempurna yang kamu pikir. Berhenti menyanjungku dan melebih-lebihkannya. Kita sama, sama-sama tidak ada apa-apanya di mata Allah."


Zahra memotong penuturan Rania yang panjang lebar.


"Ya sudah, aku tutup ya. Sebentar lagi masuk waktu maghrib."


"Ya, cantikku. Semangat ya."


"Ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumus salam."


Zahra menurunkan ponselnya lalu menatap benda pipih itu sembari tersenyum manis. Embusan napas terdengar ringan keluar dari bibirnya. Beruntung memiliki teman-teman yang selalu men-support-nya. Memberinya masukan tanpa memojokkannya. Kata-kata bijak yang selalu menenangkan hatinya. Dan yang utama adalah mereka selalu mengingatkan saat Zahra di tempa ujian, bahwa Allah selalu bersamanya. Mereka semua berjuang bersama-sama agar kelak Allah menjadikan mereka sahabat hingga jannah-Nya.


"Menunggu berbuka?" tanya seseorang membuat Zahra terlonjak.


"Astaghfirullah," ucap Zahra pelan sembari mengusap dadanya.


"Maaf mengagetkan. Assalamu'alaikum," ucapnya sembari tersenyum manis.


"Wa'alaikumus salam," jawab Zahra sembari mengangguk pelan lalu diam menunduk.


Tidak hanya di rumah sakit bahkan di kampus pun kenapa ia harus bertemu dengan laki-laki tampan ini. Berjodohkah ia dengan Habibi? Zahra harap memang begitu, maksudnya.. ya sudahlah, tidak baik juga masih berharap. Rania benar, pasrah Pada-Nya. Dia lah Sang Penentu jodoh. Bila dipikirkan terus menerus, ia hanya akan bimbang antara memilih setia pada Hafiz atau mencoba menerima Farid. Lebih baik menjalaninya, mengikuti arus ke mana ia akan bermuara tanpa berpikir lebih karena cerita hidupnya sudah dituliskan oleh-Nya jauh sebelum ini.


"Ini,"


Habibi menyodorkan sekotak brownies pada Zahra tepatnya menaruh disamping wanita itu.


"Untuk?"


"Untuk kamu makan sebagai pembatal puasa," terang Habibi dengan pandangan lurus ke depan.


"Tidak usah, Pak," tolak Zahra halus seraya menggeser sedikit kotak brownies itu.


"Tidak baik menolak rezeki."


"Bukan begitu maksudnya. Maksud saya, anda memberikan pun saya juga tidak akan memakannya. Bukankah malah jadi mubazir? lebih baik anda makan sendiri atau memberikannya pada orang lain."


"Sebegitu tidak sukanya kamu sama saya sampai kamu menolak pemberian saya?"


"Bukan anda tapi apa yang anda berikan pada saya, saya tidak suka," ralat Zahra.


"Kamu tidak suka dengan brownies?" tanya Habibi seraya mengerutkan keningnya.


"Tidak suka manis," jelas Zahra meralat.


Habibi semakin dalam mengerutkan keningnya. Adakah perempuan di dunia ini yang tidak suka dengan makanan manis? sepertinya semuanya menyukainya tapi kenapa Zahra tidak suka. Habibi malah sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Lalu kamu berbuka dengan apa?" tanya Habibi setelah sekian menit mereka terdiam.


"Air mineral," jawab Zahra seraya menunjukkan botol minumnya.

__ADS_1


"Tidak makan?"


"Kelas saya pukul setengah tujuh. Tidak akan cukup waktu untuk berbuka dengan makanan berat."


"Lalu kapan kamu makan?"


"Mungkin nanti usai jam kuliah saya selesai."


"Jam berapa selesai?"


Zahra terdiam sesaat mendengar pertanyaan Habibi yang terdengar peduli padanya.


"Saya bisa menebak mungkin kamu tidak akan makan nanti. Bukankah jam kuliahmu berakhir jam sembilan malam? banyak perempuan yang lebih memilih tidak makan di waktu itu. Saya rasa kamu juga termasuk."


"Kalau anda tahu saya selesai kelas jam sembilan lalu kenapa masih bertanya?"


"Hanya ingin memastikan saja."


"Oh.. Oh ya, kenapa anda bisa ada di sini?"


"Di sini di mana? di area kampus atau di samping kamu?"


Mendengar itu sontak Zahra melirik Habibi yang tampak tengah menyunggingkan senyumnya dengan pandangan masih tetap ke depan.


"Saya habis mengajar, di kelas Manajemen Pelayanan Rumah Sakit," ucap Habibi tanpa menunggu Zahra bersuara.


"Oh ya, kamu benar tidak suka manis?" tanya Habibi lagi.


Zahra mengangguk dengan pandangan menerawang ke depan. Dalam hatinya, ada perasaan nyaman duduk dan mengobrol bersama Habibi. Meskipun ada jarak yang membentang di antara mereka. Tapi ini justru mengingatkannya pada momen saat dirinya dan Hafiz belum halal dulu, duduk bersama dan berjarak persis seperti sekarang ini.


"Baguslah," singkat Habibi membuat Zahra seketika memalingkan wajahnya pada laki-laki itu.


"Ba-bagus?"


"Hmmm.. bagus. Jadi saya punya cara agar kamu berpikir lebih jika ingin menangis lagi," ucap Habibi, masih tetap pada posisinya.


"Maksud anda?"


"Jika kamu masih saja membiarkan air mata kamu mengalir, itu artinya kamu siap memakan makanan manis ini."


"Heh?" Zahra menautkan alisnya tanda ia belum faham maksud Habibi.


"Saya pernah memperingatkanmu untuk tidak menangis lagi di depan orang lain, tapi ternyata peringatan saya kamu abaikan begitu saja. Terhitung sudah tiga kali kamu menangis di depan saya dan itu sangat menyiksa. Jadi.. dengan makanan manis ini saya akan menghukum kamu jika itu terjadi lagi."


Zahra membulatkan matanya mendengar penuturan Habibi.


"Kenapa anda harus menghukum saya? kalau anda tidak suka, anda bisa pergi."


"Wajahmu yang sedang menangis sudah tercetak jelas di otak saya. Walaupun saya mencoba mengalihkan pandangan saya, saya tetap bisa mengingatnya dan itu mengganggu saya."


"Mengganggu?"


Zahra tidak percaya Habibi bisa mengatakan itu, kata-kata yang membuatnya kini tidak nyaman.


"Saya tidak memiliki hak atau kuasa untuk menghapus air mata kamu dan itu sangat mengganggu saya, karena saya tidak bisa membuatmu berhenti menangis. Kamu mengerti kan maksud saya."


Habibi memperjelas kalimatnya.


Zahra tercenung seraya menatap Habibi. Ada sesuatu yang mendesak ingin keluar jika saja Habibi tidak kembali memperingatkannya.


"Browniesnya masih utuh. Kamu bisa menghabiskannya kalau kamu masih berniat untuk menangis terlebih di depan saya," peringat Habibi saat merasakan hawa aneh yang keluar dari Zahra.


"Kenapa anda harus tersiksa karena air mata saya?" tanya Zahra seakan ingin tahu alasan Habibi.


Jika yang di depannya adalah Hafiz mungkin ia bisa tahu alasannya. Dan sekarang ia hanya ingin melihat adakah sosok Hafiz dalam diri Habibi.


"Kata orang, air mata yang jatuh dari orang tercinta itu lebih menyakitkan dari segalanya. Dunia seakan runtuh, hati seakan hancur hanya karena melihat tangisnya dan itu semakin menyiksa kala tangan ini.. jari ini tidak memiliki kuasa untuk menghapus air matanya," ucap Habibi seakan tidak sadar dengan apa yang ia katakan.


"Habibi.. " panggil Zahra lirih.


Sontak membuat Habibi memalingkan wajahnya ke arah Zahra. Pandangan keduanya pun beradu. Kedua netra itu saling menyelami rasa yang ada di dalamnya.


Hati Zahra seakan kembali diremas oleh kalimat yang sama yang dulu Hafiz katakan padanya. Zahra tersenyum sendu melihatnya. Kini ia melihat sorot mata yang tak asing lagi baginya. Pancaran cinta yang selalu Hafiz tunjukkan padanya. Pancaran cinta yang belum lama ini ia lihat di mata Farid. Dan sekarang, pancaran itu seakan tampak dari sorot mata Habibi.


"Apa itu artinya anda mencintai saya?"


Zahra masih mencoba menggali.


"Bu-bukan begitu maksud saya."


Habibi sedikit tergagap. Entah sadar atau tidak, kata-kata yang ia lontarkan tadi seolah menjadi bom atom yang mengarah padanya.


Zahra tersenyum melihat sikap Habibi yang mulai terlihat kebingungan untuk menjelaskan maksudnya.


"Ada seseorang yang sangat saya cintai. Dan karenanya sangat sulit bagi saya untuk berpaling pada laki-laki lain," ucap Zahra seraya bangkit dari duduknya.


Habibi menelan ludahnya mendengar ucapan Zahra. Netra itu masih setia memandang wanita yang kini mulai berbalik meninggalkannya.


"Saya jadi penasaran. Seperti apa laki-laki yang beruntung mendapatkan cinta setulus dan sedalam itu darimu," ucap Habibi menghentikan langkah Zahra.


Zahra berbalik menghadap Habibi yang kini sudah berdiri. Ia menarik kedua ujung bibirnya hingga tercipta senyuman yang begitu manis, walau faktanya mata wanita cantik itu sudah digenangi oleh air mata yang siap meluncur sewaktu-waktu.


"Anda bisa bertanya sendiri pada diri anda, kenapa saya bisa sangat mencintainya," ucap Zahra terdengar ambigu.


Setelah mengatakan itu, Zahra kembali berbalik meninggalkan Habibi yang masih mematung dengan semburat tanya menghiasi pikirannya, terlihat dari dahi yang berkerut dalam. Zahra pun melangkah menuju tempat wudhu wanita karena lima menit lagi adzan maghrib berkumandang.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


KEMBALI AUTHOR INGATKAN UNTUK TIDAK MENJADI PEMBACA PASIF. TINGGALKAN JEJAK SAHABAT DI PART INI.

__ADS_1


LIKE, KOMEN DAN VOTE SELALU SETIA AUTHOR TUNGGU.🤗🤗


__ADS_2