
Jangan melibatkan hatimu dalam kesedihan atas masa lalu atau kamu tidak akan siap untuk apa yang akan datang.
Ali Bin Abi Thalib
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Usai menunaikan shalat dzuhur berjama'ah, Zahra dan Meysha berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit. Siang ini kebetulan baik Zahra maupun Meysha memiliki waktu luang bersamaan sehingga mereka memutuskan untuk makan siang bersama.
"Gimana Ra, betah di Departemen Bedah?" tanya Meysha saat keduanya berjalan menuju kantin.
Zahra tersenyum menanggapinya.
"Alhamdulillah, Mey. Kalau untuk lingkup pekerjaan sudah biasa dari dulu juga begitu, sekarang hanya perlu beradaptasi saja dengan para dokter di sana, khususnya yang menjadi partner di ruang operasi," terang Zahra.
"Dokter-dokter di Departemen Bedah kan terkenal ganteng, cool, terus ramah lagi, Ra. Pasti cepat terjalin chemistrinya," bisik Meysha.
Zahra kembali tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Jangan-jangan pria yang menarik perhatianmu saat ini, salah satu dari mereka ya?" tebak Zahra.
Bukannya menjawab, Meysha justru terkekeh.
"Tidak ada yang menarik perhatianmu, Ra?" Zahra hanya menggeleng tanpa menjawab.
Belum saatnya ia menceritakan kisah hidupnya yang penuh liku pada Meysha termasuk alasan atau tujuan dirinya bisa ada di sini selain karena penugasan.
"Sepertinya aku tidak pernah melihat kamu berhubungan dengan laki-laki, Ra bahkan sejak kuliah kecuali dengan si Jus Alpukat."
"Andrie namanya, Mey. Sepertinya bukan hanya aku, kamu juga Mey."
"Karena aku punya alasan, Ra."
"Karena kegagalan kamu dulu?"
"Hmmm..." sahut Meysha lirih sembari mengangguk.
Zahra pun menghela napasnya.
"Jika kalian tidak berjodoh, itu tandanya Allah telah menyiapkan seseorang yang lebih baik darinya untukmu, Mey."
"Tapi bagiku dia yang terbaik, Ra."
"Menurutmu tapi tidak menurut Allah. Seseorang yang kamu inginkan bukan berarti dia yang terbaik, Mey. Allah lebih tahu itu."
"Bagaimana denganmu? kurasa alasanmu masih menyendiri karena kamu juga menyimpan seseorang di hatimu, Ra. Seseorang yang tidak bisa kamu miliki. Dan hatimu belum bisa beranjak darinya, iya kan?.. sama seperti aku," ucap Meysha yang kini seakan memojokkan Zahra.
Zahra pun berhenti melangkah, menelaah maksud dari ucapan Meysha.
"Tidak sama, Mey. Karena aku pernah memilikinya. Kenangan yang kami bangun dan kami miliki seolah menjadi rantai pengikat yang mengikat hidupku dengannya hingga saat ini."
Langkah Meysha ikut terhenti, ditatapnya lamat-lamat wajah Zahra yang mulai sendu.
"Ra?"
"Kami pernah menikah, Mey," ucap Zahra terdengar lirih.
"Tapi Allah lebih mencintainya. Itu sebabnya Dia mengambilnya dariku sebelum kami mengukir kenangan lebih banyak lagi," imbuh Zahra.
"Maaf, aku ti.."
"Tidak ada apa-apa, Mey. Sudah menjadi takdir aku dan dia seperti ini," ucap Zahra sembari menampilkan senyumannya.
Meysha mendekatkan tubuhnya lalu merangkul Zahra sembari mengusap lembut lengannya.
"Aku kira hanya aku yang menderita karena kehilangannya, ternyata kamu bahkan lebih daripada aku, Ra. Maaf, jika saat ini aku tidak bisa bicara apa-apa karena apa yang kamu rasakan, aku pun merasakannya," ucap Meysha terdengar sendu.
Zahra memutar kepalanya ke arah Meysha. Menatap bola mata yang terdapat luka di dalamnya.
"Kita sama-sama berjuang ya, Mey."
Zahra tersenyum menyemangati. Meysha mengangguk sembari mengusap air mata yang sempat menetes.
Keduanya saling menggenggam seakan tengah menyemangati hati mereka yang sama-sama terluka.
* * * * *
Suasana kantin khusus pegawai Rumah Sakit tampak ramai karena bertepatan dengan jam makan siang. Beberapa meja pun telah terisi. Zahra dan Meysha berjalan menuju meja yang masih kosong, letaknya tepat dekat dengan jendela.
"Ra, kamu mau makan apa? biar aku yang pesan. Kamu tunggu di sini saja," ucap Meysha.
"Samakan seperti pilihanmu saja, Mey."
Meysha mengangguk lalu melangkah menuju tempat penjual makanan.
Sambil menunggu Meysha memesan makanan, Zahra menyalakan layar ponselnya yang sedari tadi ia matikan. Ada beberapa pesan yang masuk dari sahabat-sahabatnya. Satu persatu ia mulai membukanya.
Amih L**intang🌟🌟**
Ra, Aku dan A' Angga pulang ke Bandung. Insyaallah sekalian melahirkan di sini. Nanti kalau libur kerja ke sini ya, jengukkin aku. Bosen nih, ditinggal A' Angga kerja.😔😔
Zahra tersenyum membaca pesan dari sahabatnya yang tengah menanti kelahiran putra pertamanya itu. Selain ceria, dulu Lintang adalah gadis yang super cerewet bahkan setiap mereka semua berkumpul, hanya suara Lintang dan Kemal yang lebih sering mendominasi. Dan kini setelah menikah dan mengandung buah cintanya dengan Andrie, gadis itu berubah menjadi manja bahkan tingkat kemanjaannya di batas normal. Beruntung Andrie adalah sosok penyayang dan sabar sehingga ia tak pernah mengeluh akan sikap Lintang yang kelewat menyusahkannya.
Zahra membalas pesan Lintang singkat, seperti biasa "Insyaallah ya Bumil". Setelah membalas pesan Lintang, Zahra membuka pesan lainnya. Salah satunya pesan datang dari Rania.
Ummah Khalisa🌻🌻
Ra, kata Ummi, Raffa mau di sekolahkan di tempat aku ya? Kalau ya, nanti aku bantu mendaftar sekalian mengisi formulir ya, soalnya sudah mau penutupan gelombang 1.
Zahra segera mengetik balasan untuk Rania.
Z**ahra to Ummah Khalisa**🌻🌻
Iya, Ran. Raffa minta sekolah bareng Khalisa. Aku minta tolong ya, kamu urus semuanya. Kasihan Ummi dan Abi soalnya masih repot mengurus Qais.
Tak lama setelah Zahra mengirim pesan balasan pada Rania, pesan lain masuk.
Abah Khalisa
Wah.. kayaknya nanti kita besanan ni, Ra. Raffa sama Khalis tidak mau dipisah.
Kening Zahra berkerut.
__ADS_1
Z**ahra to Abah Khalisa**
Do'akan saja yang terbaik untuk mereka, Mal. Semoga berjodoh.
Raffa lagi sama kalian?
Abah Khalisa
Iya, kebetulan ketemu waktu Farid sama Raffa mampir ke Cafe, bersamaan dengan Khalisa dan Ummahnya datang ke sini.
Zahra terdiam usai membaca pesan dari Kemal. Farid dan Raffa ke cafe?. Belum sempat Zahra berpikir lebih jauh, seseorang menyapanya.
"Kak Zahra mau makan juga?"
Zahra mendongak mengalihkan perhatiannya ke arah sumber suara. Senyum yang tadinya sempat akan terbit kini tertahan. Kayla berdiri bersisian dengan Habibi yang berada tepat di depannya. Zahra menatap keduanya sesaat sebelum menjawab. Ia pun menarik sedikit ujung bibirnya ke arah Kayla mengabaikan sosok Habibi.
"Kamu mau makan juga, Kay?" tanya Zahra.
"Ya, kita mau makan, Kak. Ehmm, boleh kita gabung di sini soalnya meja lain sudah terisi semua."
Zahra mengangguk untuk merespon ucapan Kayla.
"Kak Zahra sama siapa?"
"Sama dok.. "
"Kak Ilash, Kayla?" ucap Meysha memotong sembari membawa nampan berisi makanan miliknya dan Zahra. Spontan Zahra langsung berdiri meraih nampan di tangan Meysha dan menaruhnya di atas meja.
"Kenapa kamu di sini?" ucap Kayla ketus.
Zahra yang baru saja meletakkan nampan sontak menatap Kayla yang kini tampak menatap sengit ke arah Meysha. Meysha bergeming, ia justru mengalihkan perhatiannya pada laki-laki disamping Kayla.
"Kak Ilash, mau makan? Mau Mey..."
"Tidak usah sok akrab," potong Kayla dengan tatapan tak bersahabat.
"Kayla, jaga sopan santun kamu," ucap Habibi terdengar tegas.
Kayla memutar bola matanya ke arah Habibi, menampakkan wajah kecewanya.
"Duduklah, kalian mau makan apa? biar aku yang pesankan," ucap Meysha masih terdengar ramah.
"Tidak usah sok baik. Kita tidak butuh perhatian darimu."
Lagi, Kayla berucap sengit pada Meysha.
"Kayla," tegur Habibi penuh penekanan membuat Kayla diam seketika.
Zahra masih terdiam di posisinya, menatap ketiganya dengan pandangan bingung. Tak lama terdengar helaan napas panjang dari Habibi.
"Kay, bisa pesan makanan sekarang. Kakak lapar," ucap Habibi dengan nada kembali melembut.
Kayla sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya melangkah menuju tempat penjual makanan.
"Kalian, makanlah," ucap Habibi seraya menarik kursi tepat di depan Zahra.
Mendengar ucapan Habibi, Zahra dan Meysha pun kembali duduk.
"Maafkan sikap Kayla ya, Mey," ucap Habibi memecah keheningan yang tercipta untuk beberapa menit lalu.
Meysha tampak mendongakkan kepalanya seraya menatap Habibi. Sebuah tarikan di bibirnya kembali ia paksakan, sekedar untuk mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, Kak. Kayla pantas marah sama Meysha. Kayla benar, aku ini mu.."
"Bukan salah kamu, Mey. Kayla hanya belum bisa menerima semua ini. Aku harap kamu bisa mengerti," ucap Habibi memotong kalimat Meysha.
"Lalu bagaimana dengan Kak Ilash? apa Kak Ilash bersedia menerima semua ini?"
Pertanyaan Meysha sukses membuat Habibi terdiam. Dalam diamnya, ia melirik ke arah Zahra yang masih setia menunduk sembari memakan makannya. Wanita itu tampak seolah tampak tak peduli dengan apa yang tengah dibicarakan dua orang di dekatnya.
"Kak Ilash belum bisa menerima Me.."
Drrrtttt... Drrrrtttt
Dering telpon milik Zahra menghentikan kalimat Meysha selanjutnya. Seketika Habibi dan Meysha menatap ke arah Zahra.
Zahra menatap layar ponsel yang menampilkan nama si pemanggil, "Ummi". Ia hendak bangkit dari duduknya untuk menerima panggilan dari Ummi Maryam, namun gerakannya terhenti saat suara seseorang menginterupsinya untuk tetap di tempatnya.
"Angkat di sini saja."
Suara Habibi terdengar memerintah. Sejenak Zahra menatap Habibi lalu Meysha, bergantian. Zahra menarik napasnya sebelum kembali duduk lalu mengangkat panggilan Ummi.
"Assalamu'alaikum, Ummi," ucap Zahra terdengar lembut.
"Wa'alaikumus salam, Nduk. Sedang apa sekarang? Ummi mengganggu tidak?"
"Tidak, Mi. Zahra sedang makan. Ummi kenapa?" tanya Zahra saat suara di seberang sana terdengar cemas.
"Kamu baik-baik saja kan, Nduk? perasaan Ummi dari kemarin tidak enak, setiap kali ingat kamu," jujur Ummi.
Zahra menelan ludahnya seraya menatap Habibi. Kekhawatiran Ummi terhadapnya seakan menunjukkan ikatan yang lebih dari sekedar mertua dan menantu. Ummi seakan merasakan apa yang tengah dirasakan Zahra saat ini.
"Nduk.. Zahra..?" panggil Ummi saat Zahra terdiam.
"Astaghfirullah, Iya Ummi."
"Kamu baik-baik saja kan, Nduk?"
Zahra menghela napas seraya memasang senyuman manisnya seolah Ummi Maryam ada di depannya.
"Zahra baik-baik saja, Ummi. Ummi tidak perlu cemas atau khawatir, insyaallah Zahra akan selalu baik-baik saja berkat do'a Ummi dan Abi tentunya."
"Alhamdulillah kalau kamu baik-baik saja, Nduk. Ingat kalau ada apa-apa segera hubungi Ummi atau Abi."
Zahra tersenyum mendengar perhatian dari Ummi mertuanya, wanita yang sudah seperti Bundanya sendiri.
"Pasti Ummi. Do'anya saja, Mi agar Zahra selalu diberikan kemudahan dan kesehatan."
"Tanpa kamu minta, Ummi dan Abi selalu mendo'akan yang terbaik untukmu."
"Terima kasih, Ummi."
__ADS_1
"Ya. Oh ya, Nduk, bagaimana hubungan kamu dan Farid? apa ada kemajuan?"
Zahra terhenyak mendengar pertanyaan Ummi Maryam. Hubungannya dengan Farid? Sudah hampir tiga minggu ia di sini, tapi baru dua kali ia dan Farid berkirim pesan. Jadi kemajuan seperti apa yang diharapkan sang Ummi? Zahra terlalu malu jika harus mengirim pesan lebih dulu pada lelaki itu. Sedang Farid, sepertinya ia bukan tipe laki-laki yang menunjukkan perhatiannnya secara intens. Farid seakan masih memegang teguh keyakinannya untuk menjaga batasannya sekalipun mereka berdua sudah bertunangan.
"Nduk?"
"Iya, Mi."
"Gunakan waktu satu tahun ini dengan baik. Kenalilah seluruhnya tentang Farid agar keraguanmu padanya menghilang. Yakinlah, dia laki-laki yang baik untukmu dan Raffa".
"Bukan Zahra meragukan Farid, Ummi. Akhlak serta latar belakang keluarganya tentu Zahra tahu betul. Hanya saja.. Ummi sudah tahukan maksud Zahra?" Zahra memelankan suaranya.
Sebenarnya ia risih jika ada orang lain mendengar atau mengetahui kehidupannya, persis seperti saat ini. Walau Habibi dan Meysha tampak tak mempedulikannya tetap saja, dua orang itu mendengar apa yang tengah dibicarakannya dengan Ummi Maryam.
Habibi tampak menyibukkan dirinya dengan mengutak atik ponselnya meskipun tidak ada hal penting apapun. Ia tidak ingin terlalu kentara menyimak pembicaraan wanita di depannya ini. Hanya sesekali ia mendongak dan menatap diam-diam wajah cantik Zahra. Lengkungan di bibirnya ikut mengembang kala senyuman itu terbit di bibir Zahra. Hatinya pun terasa berdesir kala mendengar suara lembut Zahra mengalun merdu. Selama ini hanya suara datar atau bergetar milik wanita itu yang selalu terdengar olehnya. Dan hari ini, Habibi terdiam merasai rasa itu di hatinya. Seperti tak ingin melewatkannya, Habibi bahkan mengabaikan Meysha yang sedari tadi menyuap makanan ke mulutnya sembari sesekali menatap wajah lelaki tampan itu bergantian dengan wajah Zahra dengan raut penuh arti. Kehadiran Meysha saat ini seolah tak tampak bagi Habibi.
"Nduk.."
"Zahra sedang mencobanya, Ummi. Mencoba menerima kehadiran Farid di hidup Zahra. Semua itu tidak bisa instan, Zahra butuh waktu untuk menata hati Zahra. Zahra butuh waktu melepas rasa yang selama ini membelenggu hati Zahra. Zahra yakin Farid bisa mengerti, Ummi."
"Ikhlaskan Hafiz, Nduk. Ummi mohon ikhlaskan dia. Jangan bebankan dia atas keraguan yang ada di hatimu selama ini. Ummi mohon, lepaskan dia di hatimu. Cintai dia sewajarnya saja, jangan menyiksa dirimu sendiri."
Tes..
Air mata Zahra mengalir mendengar suara bergetar milik Ummi Maryam.
"Zahra su.."
"Tidak, Nduk. Kamu tidak sepenuhnya mengikhlaskan kepergiannya. Hatimu masih menyimpan keraguan, hatimu masih menyangkal kebenaran bahwa Hafiz telah meninggal. Nduk.. "
"Bagaimana jika apa yang Zahra yakini selama ini adalah kebenarannya, Ummi? Bagaimana jika Hafiz masih hi.. "
Zahra menatap lekat wajah Habibi dengan berderai air mata.
"Astaghfirullahal 'adzim.. istighfar Nduk, istighfar. Darimana kamu mendapatkan pemikiran seperti itu? Ingat, ini sudah tujuh tahun sejak kepergiaannya. Kamu dengan jelas melihat jenazahnya saat itu. Apa yang membuatmu meragukan takdir-Nya?" Ummi mulai terisak.
Zahra mencengkram erat roknya, ada rasa bersalah dalam hatinya karena telah membuat malaikat tak bersayapnya menumpahkam air mata karena dirinya. Air matanya sudah menganak sungai, ia sudah tak peduli lagi dengan dua orang yang kini menatapnya lekat.
"Maafkan Zahra, Ummi."
"Ini yang Ummi khawatirkan selama ini, Nduk. Cintamu pada Hafiz terlalu besar daripada cintamu pada Penciptanya. Ingat, Allah akan sangat murka padamu. Tidakkah kamu tahu Nduk, ketidak-ikhlasanmu pada takdir-Nya membawamu pada kesengsaraan?
Zahra, hampir seluruh waktu yang Hafiz miliki dalam hidupnya telah ia habiskan bersama Ummi dan kamu hanya merasakan itu tidak lebih dari tiga tahun. Coba kamu bayangkan bagaimana hancurnya Ummi saat Ummi melihat putra tersayang Ummi terbujur kaku. Bagaimana hancurnya hati Ummi saat Hafiz lebih dulu menghadap-Nya sebelum Ummi.
Zahra putri Ummi. Ummi merasakan apa yang kamu rasakan selama ini. Ummi merasakan semua kepedihan yang kamu rasakan. Tapi, tidakkah kamu ingat apa yang selalu Hafiz inginkan darimu? Hafiz menginginkanmu menjadi wanita shalihahnya. Lalu apa yang telah kamu lakukan selama tujuh tahun ini? tidakkah apa yang kamu lakukan selama ini membuatmu jauh dari kata itu.
Ikhlas adalah buah dan intisari dari keimanan. Bagaimana bisa kamu menyebut dirimu beriman jika kamu tidak memiliki keikhlasan akan takdir yang diberikan padamu.
Allah SWT berfirman (yang artinya): Katakanlah (Muhammad): “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. al-An’aam [6]: 162)
selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam ayat lain (yang artinya), “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menjalankan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. al-Bayyinah [98]: 5)
Jadilah Zahra yang Hafiz kenal dulu. Wanita shalihah yang selalu ia banggakan, Bidadari yang selalu ia syukuri kehadirannya.
Nduk.. mengikhlasnya adalah cara terbaik bagimu dalam mencintainya saat ini. Mengikhlaskannya adalah penghormatan tertinggi yang bisa kamu berikan pada Hafiz untuk terakhir kalinya. Ummi bukan ingin mematahkan pemikiranmu, bukan juga ingin menghancurkan rasa yang selama ini kamu jaga. Ummi hanya ingin kamu bahagia. Ummi tidak ingin cinta yang ada di antara kalian justru menghalangi kebahagiaanmu. Simpan cinta kalian berdua di hatimu yang terdalam. Lepaskan semua yang membebanimu hingga saat ini, karena janji yang terucap dari dua orang manusia akan terputus setelah salah satu di antaranya meninggal.
Abud Darda radhiallahu ‘anhu memang pernah berkata,
"Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا, فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ فَهِيَ لآخِرِأَزْوَاجِهَا.
‘Istri mana saja yang wafat suaminya, lalu menikah lagi sepeninggal suaminya, dia bersama suaminya yang terakhir.’
Ummi tahu, keinginanmu menjadi istri Hafiz diakhirat kelak sangatlah kuat sehingga membuatmu menolak banyak laki-laki yang datang untuk meminang. Tapi Nduk, lihatlah dirimu. Tujuh tahun kamu habiskan dengan bersedih hati. Kamu lupa caranya tersenyum dengan tulus, kamu lupa caranya bahagia. Hidupmu selama ini penuh keterpaksaan dan penuh kepura-puraan. Kamu memaksa dirimu untuk baik-baik saja tapi tidak dengan hatimu, kamu pura-pura tersenyum bahagia tapi sesungguhnya kamu tengah menahan sakit dan perihmu hingga kamu lupa makna dan tujuan dari hidup ini.
Kamu wanita yang cerdas. Ummi yakin kamu pasti faham apa yang Ummi maksud. Ikhlas adalah langkah awalmu saat ini untuk meraih ridho'-Nya. Tidak ada amalan yang diterima jika masih ada keraguan dalam hatimu dalam menjalani hidup ini. Niatkan semuanya karena Allah, yakin Allah pasti membukakan hatimu, mencairkan hati yang telah beku, dan melunakkan hati yang telah keras. Kamu cukup berpasrah diri. Khusnudzon atas takdir yang telah digariskan-Nya padamu, termasuk takdir yang kelak membuatmu harus menikah dengan Farid.
Do'akan Hafiz di setiap shalatmu. Dan mulailah meyakinkan hatimu untuk belajar menerima Farid agar kelak setelah kamu dan Farid menikah, jalanmu meraih Ridho'-Nya lebih mudah."
Ummi pun mengakhiri kalimat panjangnya dengan sisa-sisa tangis yang masih terdengar.
Zahra mendongak ke arah Habibi. Laki-laki itu tampak tersenyum ke arah Zahra dengan tangan terulur memberikan sapu tangan. Zahra terdiam sesaat lalu meraih sapu tangan itu sembari menyunggingkan senyum manisnya.
"Terima kasih," ucapnya lirih.
Habibi mengangguk dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya.
"Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan.
Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia," ucap Habibi seraya menjeda kalimatnya sejenak.
"Imam Syafi'i juga pernah meriwayatkan sebuah hadits.
'Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya pengharapan supaya mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui orang yang berharap pada selain-Nya, Allah menghalangi dari perkara tersebut semata agar ia kembali berharap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.'
Dokter Zahra, saya berharap kamu tidak termasuk ke dalam salah satu di antara mereka," tambah Habibi seraya bangkit dari duduknya.
Ia melangkah meninggalkan dua wanita yang kini menatapnya penuh arti, menyusul Kayla yang masih mengantri di tempat pemesanan makanan.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Alhamdulillah satu part kembali tuntas setelah melalui waktu yang panjang.
Happy Reading ditengah sibuknya menyambut Hari Raya Idul Fitri.😊😊
"Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kulla ‘amin wa antum bikhoir."
Minal a'idin wal fa'idzin, mohon maaf lahir bathin. 🙏🙏
(Author sekeluarga)
🌹🌹🌹
JANGAN LUPA TEKAN "BINTANG", untuk mendukung Author sekecil apapun. Dan tinggalkan jejak anda dalam kolom komentar serta Like karya Author ini. Insyaallah semua jadi berkah.
Untuk Up selanjutnya Author tunggu votenya sampai menembus 5000 viewer ya. he..he..he biar pada semangat semua terkhusus Author.😁😁
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
__ADS_1