LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
HANCURNYA HATI


__ADS_3

Ada kalanya pohon yang berdiri kokoh dan kuat, tumbang karena embusan dan guncangan angin yang maha dahsyat. Pun demikian dengan seseorang yang berjiwa lapang dan kuat. Akan ada waktunya dia berada pada titik terendahnya, setelah berkali-kali cobaan dan ujian menghantam batinnya.


Sama halnya dengan Zahra. Sekuat apapun ia berusaha kuat dan tegar, akan ada waktu di mana ia menyerah akan keadaan dan takdir yang selalu berakhir menyesakkan. Dia hanyalah wanita yang selalu berusaha menjadi kuat dan tegar setelah dihujani berbagai cobaan dalam hidupnya. Wanita yang selalu mengambil seluruh kesakitan dan kepedihan menjadi miliknya sendiri demi kebahagiaan orang lain. Dan sekarang pertanyaannya adalah, kapan dirinya menyerah pada keadaan itu?


Banyaknya cobaan dan ujian hidup yang menyapa, belum lagi beratnya tanggung jawab serta pekerjaan yang seperti tak ada habisnya sebagai dokter resinden semakin membuat fisik dan batin Zahra benar-benar terkuras habis. Tiga hari sudah Zahra menghabiskan waktu di rumah sakit dengan banyaknya pekerjaan dan jadwal operasi yang padat, membuatnya tertahan di bangunan serba putih itu. Ia hanya pulang untuk mengganti pakaian lalu kembali lagi bertugas.


Bukan hanya perihal pasien dan jadwal operasi saja yang menjadi prioritas utama Zahra, kini ia juga harus ekstra belajar dengan keras di tengah kesibukannya untuk menghadapi ujian yang hanya tinggal satu minggu lagi. Lingkar matanya terlihat menghitam dengan wajah kuyu karena selalu melewatkan jam tidurnya. Tubuhnya pun semakin susut karena ia tak pernah menyempatkan untuk makan hingga Habibi atau Kayla sampai harus membawanya secara paksa hanya untuk membuat Zahra mau mengisi perutnya di tengah kesibukkan yang tak pernah ada habisnya.


Zahra menjatuhkan kepalanya di atas meja yang ada di ruang departemen bedah. Kepalanya berdeyut hebat dengan tubuh yang semakin lemas. Ia pun memejamkan matanya sejenak sebelum operasi berikutnya, satu jam lagi.


"Pulang sana," titah dokter Liam yang kini duduk di kursi sebelah Zahra.


Zahra membuka matanya saat dokter Liam menepuk pelan pundaknya.


"Pulang dan istirahatlah," ucap dokter Liam sekali lagi.


"Operasinya dok?"


"Aku tidak mau operasiku gagal hanya karena asistenku tidak fokus dan kelelahan."


"Tap.."


"Aku bilang pulang. Atau mau, aku gendong kamu sampai apartemen??"


Zahra terkesiap sampai terduduk tegak, mendengar kalimat dengan nada tak ada bantahan itu keluar dari bibir dokter Liam.


"Kamu beneran nunggu sampai aku gendong ya?" dokter Liam kembali bersuara saat Zahra masih bergeming.


"Dokter kepala??"


"Aku yang akan mengurus izinmu padanya. Pulanglah, aku tak sekejam itu membiarkan residen bimbinganku sampai harus mati karena kelelahan."


Zahra sedikit memicingkan matanya seraya mengerucutkan bibir mendengar kalimat bernada sarkas itu.


"Jangan mencoba menggodaku agar mengendongmu sampai apartemen,"


"Allahu akbar. Ih, nyebelin juga ya dokter Liam," ucap Zahra seraya bangkit dan menyambar tasnya.


Dokter yang terkenal killer dan beku di ruang operasi itu terkekeh karena respon Zahra.


"Saya pulang, terima kasih sebelumnya," pamit Zahra sembari melangkah.


"Yakin, tidak mau saya gendong?"


Zahra mendelik seketika ke arah dokter Liam, membuat dokter itu semakin tergelak.


* * *


Dengan kepala berdenyut dan berat, membuat langkah Zahra tampak gontai. Ia menyusuri lorong dengan pandangan sedikit buram. Dengan kondisi yang seperti ini, fokusnya tentu saja sedikit terganggu hingga di depan lobi seseorang menabrak tubuhnya dari belakang hingga tubuh Zahra terhunyung ke depan.


"Kamu tidak apa-apa, Ra?" tanya Meysha yang berhasil menahan tubuh Zahra yang hampir saja tersungkur.


"Kalau jalan lihat-lihat dong. Ini rumah sakit bukan lapangan, seenaknya saja lari-larian," sungut Meysha pada laki-laki yang menabrak Zahra.


"Sorry, sorry, aku lagi buru-buru," ucap laki-laki itu namun masih belum beranjak.


"Ya, ta.. "


"Sudah, Mey. Tidak apa-apa," potong Zahra.


"Tidak apa-apa gimana. Kamu hampir saja terjatuh Zahra," ucap Meysha masih geram.


"Zahra?" gumam laki-laki itu pelan dengan tatapan menyelidik ke arah Zahra.


Zahra sedikit risi melihat tatapan serta senyuman menyeringai dari laki-laki itu.


"Mey, aku duluan ya," pamit Zahra.

__ADS_1


"Kamu pulang? sendiri?"


"Hmmm.. sudah tiga hari aku tugas. Hari ini dokter Liam kasih aku izin untuk istirahat."


"Tidak ditemani Kayla?"


"IGD sedang ramai. Dia pasti lagi sibuk. Ya sudah aku pulang ya, Mey. Terima kasih sebelumnya," putus Zahra yang sudah tidak bisa menahan rasa lelahnya lagi.


Zahra meninggalkan mobilnya di rumah sakit dan memilih menaiki taksi untuk pulang ke apartemen. Hanya butuh waktu sepuluh menit, akhirnya ia sampai di bangunan tinggi berlantai 30 yang sudah dua bulan ini ia tinggali. Bibirnya sedikit tertarik ke atas menatap bangunan itu. Sudah terbayang bagaimana nyamannya berbaring di kasur empuknya setelah tiga hari absen karena tugas rumah sakit yang menumpuk.


Suasana dalam gedung seperti biasanya, agak lenggang. Hanya ada beberapa orang yang Zahra temui di lobi. Setelah menyapa dua orang petugas resepsionis, Zahra segera memasuki lift menuju lantai 8, tempat di mana kamarnya berada. Berbeda dengan lantai bawah yang masih menampakkan beberapa orang, lantai di mana tujuan Zahra tampak sepi. Zahra pun berjalan menyusuri lorong dengan perasaan sedikit tidak enak. Seakan ada seseorang yang tengah mengikutinya namun begitu ia berbalik, tak ada siapapun.


Dering telepon yang berasal dari ponselnya membuat Zahra terkesiap. Jantungnya ikut berderu kencang merespon sesuatu yang membuatnya terkejut. Astaghfirullah.. Zahra mengusap dadanya seraya mengambil ponsel di dalam tas lalu mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Kay," ucap Zahra sembari memutar kunci yang ia masukan pada lubang pintu kamarnya.


"Kak Zahra pulang ke apartemen?" tanya Kayla di seberang sana.


"Iya, capek Kay. Mau istirahat."


"Hmmm.. Kak Zahra sud.."


"Siapa kamu?" ucapan Kayla tiba-tiba terpotong oleh Zahra, saat seseorang dengan sengaja meletakkan kakinya untuk menahan pintu yang hendak Zahra tutup.


Orang itu tersenyum menyeringai persis seperti yang ia tampakkan saat di rumah sakit tadi. Zahra sedikit bergidik melihat wajah laki-laki itu, ia pun beringsut mundur karena laki-laki itu mendorong pintu sedikit keras agar terbuka. Zahra menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya berubah khawatir saat laki-laki itu melangkah masuk dan menutup pintu.


"Siapa kamu? Mau apa kamu ke sini?" teriak Zahra karena ketidaksopanan laki-laki itu.


Laki-laki itu mengangkat satu ujung bibirnya ke atas dengan tatapan seakan ingin menerkam tubuh Zahra. Langkah kakinya terus maju ke arah Zahra hingga wanita itu spontan melangkah mundur dengan wajah was-was. Rasa lelah yang tadi menumpuk kini seakan sirna.


Di seberang sana, Kayla terus memanggil nama Zahra setelah mendengar kepanikan wanita itu dari balik telepon. Dengan perasaan khawatir, Kayla berlari melewati tangga darurat menuju lantai 7. Ia tidak ingin panggilan teleponnya terputus dengan sendirinya karena ia menaiki lift. Ponsel terus menempel di telinganya, mendengarkan apa yang terjadi pada Zahra.


"Kamu lupa padaku, Sayang," ucap laki-laki itu dengan wajah menyeringai.


"Berhenti, jangan mendekat," teriak Zahra dengan tangan terulur ke depan.


"Apa kamu tidak merindukanku, Zahra?"


"Aku bilang berhenti. Jangan mendekat, kalau tidak aku teriak," gertak Zahra dengan kaki terus melangkah mundur.


"Ha.. ha.. ha.. kamu pikir dari tadi kamu tidak berteriak? teriak saja, tidak akan ada orang yang akan mendengarnya," ejek laki-laki itu.


Wajah Zahra sudah pucat pasi kala laki-laki itu semakin mendekat ke arahnya. Tanpa berpikir panjang, ia pun melemparkan apapun yang ada di sekitarnya pada laki-laki itu.


"Kamu lupa padaku, Zahra? padahal bertahun-tahun aku mengingatmu. Dan inilah saat yang paling aku tunggu-tunggu untuk bisa menjadikanmu milikku," ucapnya sembari menghindar dari benda-benda yang Zahra lempar padanya.


"Gila kamu. Aku bahkan tidak mengenalmu."


"Ya aku memang gila. Aku tergila-gila padamu. Dan salah jika kamu tidak mengenalku. Seandainya hari itu Hafiz tidak muncul, mungkin akulah yang akan memilikimu sampai sekarang."


Zahra mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat siapa yang pernah bermasalah dengannya dulu. Apalagi saat nama Hafiz terlontar dari bibir laki-laki itu.


"A-Arga?" tebak Zahra sedikit ragu, pasalnya setelah laki-laki itu mendekam di penjara bertahun-tahun silam, dia sudah tidak tahu menahu tentangnya lagi.


"Haruskah aku menyebut nama Hafiz terlebih dahulu, agar kamu mengingatku? Ha.. ha.. ha.. seandainya kamu tidak memilihnya, mungkin sekarang kamu tidak akan menjanda."


"Lepaskan! Jangan pernah menyentuhku."


Zahra menghempas kasar genggaman Arga pada tangannya. Ia berbalik hendak berlari menjauh, namun tangan Arga justru meraih ujung jilbab Zahra dan menariknya hingga terlepas. Langkah Zahra terhenti seketika saat kain penutup itu lolos dari kepalanya. Perlahan air matanya pun keluar, ia begitu terhina saat apa yang ia jaga selama ini, dengan mudahnya terenggut begitu saja.


"Jangan takut. Aku hanya ingin kamu menjadi milikku selamanya," ucap Arga kembali mencengkeram kuat tangan Zahra.


Sekuat tenaga Zahra berontak namun cengkeraman Arga jauh lebih kuat darinya, Zahra bahkan sampai terseret saat Arga menarik tangannya. Dengan kasar Arga menghempaskan tubuh Zahra ke atas ranjang. Terlihat dari sorot matanya, laki-laki itu sudah dikuasai oleh nafsunya.


Dengan susah payah Zahra bangkit, tubuhnya sudah remuk redam saat ini. Ia mencoba berlari namun lagi-lagi Arga berhasil meraih lengannya hingga lengan baju atasnya sobek. Zahra terisak, ia tidak tahu bagaimana nasibnya hari ini. Hanya do'a yang terus menerus Zahra lafalkan. Bibirnya pun tak henti-hentinya bergerak melafalkan asma' Allah.


Arga menyudutkan Zahra ke dinding. Tatapan matanya benar-benar beringas. Ia mencengkeram kuat kedua tangan Zahra hingga Zahra tak mampu bergerak lagi. Dengan lelehan air mata yang membanjiri pipinya, Zahra memalingkan wajahnya. Ia sudah pasrah jika hari ini harus berakhir di tangan Arga. Lelah yang menumpuk dan perlakuan kasar Arga padanya membuat tubuh Zahra benar-benar tak mampu digerakkan lagi.

__ADS_1


Allah, hanya padamu aku memohon. Lindungi aku dan kehormatanku dari laki-laki yang tak beradab ini. Turunkan pertolonganmu saat ini juga Ya Rabb. Ampuni aku, jika ini sebagian dari takdir yang Kau tulis maka aku memilih mati saat ini juga dari pada harus ternodai olehnya.


Zahra merapatkan matanya saat wajah Arga semakin mendekat.


"Kamu cantik, Sayang," bisik Arga dengan suara mendayu di telinga Zahra.


Zahra bergidik mendengarnya. Embusan napas Arga begitu terasa di leher Zahra. Wajah laki-laki itu hanya beberapa senti dari wajahnya dengan tubuh yang juga hampir menempel dengan tubuhnya.


"Kamu membuatku tak bisa menahannya, Zahra," ucap Arga seraya mendekatkan bibirnya di leher jenjang milik Zahra.


Zahra menahan napasnya saat bibir Arga sedikit lagi menyentuh lehernya.


"Tolong Zahra, Bi," jerit Zahra dalam batinnya.


Bugghhh...


Tubuh Zahra seketika luruh ke lantai saat cengkeraman Arga terlepas dari tangannya. Zahra membuka matanya perlahan. Dengan pandangan berkabut, ia melihat dua orang lelaki tengah bergulat hebat. Tangis Zahra semakin pecah, Ia pun memeluk erat lutut serta tubuhnya. Menyembunyikan rasa takut dan pedihnya atas apa yang terjadi padanya.


"Dasar laki-laki biadab. Beraninya kamu menyakiti dan menyentuhnya," maki Habibi seraya melayangkan tinju bertubi-tubi ke tubuh dan wajah Arga.


Arga terkesiap melihat laki-laki yang tanpa ampun memukul serta menendangnya hingga tersungkur.


"Hafiz?" gumamnya pelan sembari meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.


Arga mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya seraya bangkit dengan susah payah. Namun lagi-lagi Habibi menendangnya hingga kembali tersungkur. Amarah Habibi benar-benar memuncak sedari ia masuk dengan mendobrak pintu apartemen Zahra. Ia bisa melihat ruangan yang sudah hancur berantakan dengan barang sudah berserakan di mana-mana. Ia juga melihat jilbab Zahra teronggok di lantai. Dan puncaknya, apa yang ia lihat sebelumnya membuatnya naik pitam. Darah di tubuhnya semakin mendidih, amarahnya pada laki-laki itu tak terbendung lagi. Jika saja panggilan lirih Zahra tak terdengar mungkin saja hidup Arga sudah lenyap di tangan Habibi.


"Habibi," lirih Zahra dengan tubuh bergetar hebat.


Habibi yang mendengar itu seketika memutar kepalanya ke arah Zahra. Ia mengambil napas dalam lalu mengembuskannya kasar, sorot matanya berubah sendu saat melihat wanitanya begitu hancur. Habibi meraih jilbab yang tak sengaja terlepas dari tangannya saat memukul Arga, ia melangkah mendekati Zahra dan menurunkan tubuhnya tepat di depanya.


"Jangan mendekat," lirih Zahra pelan dengan kepala menunduk.


Tubuhnya bergetar hebat karena takut jika hal sebelumnya terjadi lagi.


"Ini aku, Zah," ucap Habibi lembut.


Perlahan Zahra mengangkat kepalanya. Dengan wajah yang sudah banjir air mata, ia kembali terisak. Habibi menahan kuat rasa perih sakaligus amarah kala melihat wanitanya tersakiti. Ia pun menutup kepala Zahra dengan jilbab di tangannya.


"Jangan takut, ada aku di sini," tutur Habibi seraya membenahi jilbab Zahra.


Zahra bergeming. Ia hanya menatap Habibi dengan air mata yang terus mengalir.


Setelah memakaikan jilbab pada Zahra, Habibi melepas jasnya lalu membalutkannya pada tubuh Zahra.


"Awas.. " pekikkan seseorang di ambang pintu membuat Habibi sontak menatap ke arah Arga yang kini tengah mengacungkan pistolnya ke arah mereka berdua.


"Jika aku tidak bisa memiliki Zahra, itu artinya tidak ada seorang pun yang bisa memilikinya juga," ujar Arga dengan jari siap menarik pelatuknya.


Dengan sigap Habibi menarik tubuh Zahra ke dalam dekapannya agar wanita itu terlindungi dengan tubuh kekarnya.


Door..


Door..


Door..


Bunyi tembakkan terdengar tiga kali, menembus kulit seseorang hingga memuncratkan darah ke mana-mana.


"Kamu tidak apa-apa kan, Zah?" tanya Habibi pelan seraya menundukkan kepalanya dan menatap manik hitam milik Zahra yang tampak sayu.


Zahra menatap lekat wajah Habibi, namun detik kemudian matanya terpejam bersamaan dengan tubuh yang sudah tak berdaya lagi.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Alhamdulillah masih bisa UP walaupun ngetiknya disambi ngurus bocil, salah satu dari si twin yang lagi sakit tapi akhirnya rampung juga😔😔


Ingat!! Jangan lupa buat LIKE, KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK YA, Author tunggu. Sampai bertemu lagi di Part selanjutnya.. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2