
Zahra menatap seluruh sudut kamarnya dengan mata sendu. Akan sangat rindu sekali dengan suasana kamar yang berisikan kenangannya bersama Hafiz. Kamar yang selalu membuatnya tenang dan merasakan hangatnya dekapan sang suami yang telah lama pergi. Mungkin nanti, ruangan inilah yang akan membuatnya ingin pulang. Ruangan yang selalu membuatnya merindukan sosoknya.
Embusan napas berat berkali-kali keluar mengiringi pergerakannya, sedari tadi. Ikhlas. Ya, Zahra harus ikhlas, ikhlas jika suatu hari nanti tak ia temukan lagi suasana kamar yang berisikan foto-foto dirinya dan Hafiz terpajang di setiap sudut dinding kamarnya. Ikhlas menerima takdir yang membuatnya harus menyisihkan sosok yang selama ini menjadi penguasa hati. Ia tidak boleh egois. Banyak orang menantikan perubahan dirinya meski dari mereka tidak ada yang tahu bagaimana sesungguhnya hati Zahra.
Bukan perkara tidak ikhlas akan kepergian Hafiz, jelas bukan itu masalahnya. Ia ikhlas lillahita'ala bahwa takdir Hafiz harus kembali lebih dulu. Ia hanya merasa tak sanggup jika harus mencintai lagi. Ada ketakutan dalam dirinya jika kelak harus kembali terluka. Bukan hal yang mudah baginya untuk mencintai seseorang, bahkan dulu sosok Hafiz pun tak serta merta langsung membuatnya jatuh cinta. Butuh waktu bagi Zahra merangkai setiap kepingan cinta hingga ia yakin bahwa sosok Hafiz lah yang menjadi pemilik suara yang selalu menggetarkan hatinya.
Dan di saat hatinya telah sepenuhnya ia labuhkan kepada sosok Hafiz, kini justru dipaksa untuk mencintai sosok lain. Bukankah itu terlalu egois baginya. Dia memang sangat merindukan Hafiz. Rindu pelukan hangatnya, rindu suara lembutnya, rindu tatapan teduh miliknya, rindu senyuman yang selalu membuatnya tenang, rindu akan suara indah yang selalu menggetarkan jiwanya. Ia rindu seluruhnya yang ada dalam diri Hafiz namun ia sadar bahwa cinta tak harus selalu memiliki, itulah kenapa ia setia pada rasanya hingga bertahun-tahun lamanya karena cintanya pada Hafiz suci dan tulus. Ia hanya berharap kelak cinta mereka akan kembali bersama di surga-Nya.
Namun jalan takdir tak ada yang tahu. Genggaman erat pada cintanya untuk Hafiz perlahan harus terurai. Tuhannya memiliki rencana lain untuk kehidupannya. Ada sosok lain yang telah direncanakan untuk dirinya. Sosok yang mungkin akan menemani masa tuanya. Sosok yang akan menggenggam tangannya, berjalan bersama melewati setiap halang rintang yang sesekali menyapanya. Sosok yang akan menuntunnya menuju tempat terindah, tempat yang menjadi tujuan akhir hidupnya.
Farid kah sosok itu? entahlah, hanya Allah yang tahu. Hanya saja sosok itulah yang saat ini palinh dekat dengannya. Ia akan mencoba berusaha untuk menerima kehadirannya, berusaha mencintainya ketika lafadz qobul telah diucapkan oleh Farid. Ya, Zahra akan belajar mencintainya jika telah sah menjadi istri Farid bukan saat ini. Ia tidak ingin mengambil resiko kembali terluka seandainya Allah kembali membuat laki-laki itu jauh darinya. Jodoh tak ada yang tahu sebab itulah ia memilih mencintai ketika kalimat sakral itu telah terucap.
Zahra mendudukan tubuhnya di tepi ranjang. Satu koper besar berisi pakaiannya sudah tertutup rapat, disampingnya. Sedang satu koper lainnya yang berukuran sedikit kecil berisi buku-buku dan keperluan lainnya berada di bawah tak jauh darinya. Sore ini selesai ia mengepak keperluannya, ia bermaksud ke rumah mertuanya menghabiskan malam terakhir di kota yang memiliki banyak kenangan indah karena besok sore selepas ashar adalah jadwal penerbangannya.
Tok..
Tok..
Tok..
"Ummi?"
Suara ketukan di pintu dilanjutkan panggilan dari Raffa, membuatnya kembali tersadar dari lamunan. Zahra bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah pintu diketuk.
"Assalamu'alaikum," ucap Zahra seakan mengingatkan.
"Wa'alaikumus salam," jawab Raffa sembari memamerkan deretan giginya.
Zahra menurunkan tubuhnya lalu memeluk Raffa, putra tersayangnya sembari sesekali mengecup puncak kepala bocah itu.
"Affa sama siapa pulangnya? Kakung atau sama ayah?" tanya Zahra namun Raffa menggeleng membuat kening Zahra berkerut. Belum sempat kembali bertanya, Raffa sudah lebih dulu berucap.
"Sama Oom Farid," ucap Raffa sembari tersenyum manis.
Tubuh Zahra mendadak kaku mendengar nama Farid, terlontar dari bibir Raffa. Bagaimana bisa Farid yang menjemput Raffa dari sekolah madrasahnya? apakah laki-laki itu memang sengaja datang menjemput dan mengantar Raffa pulang? entahlah, hanya Farid yang tahu jawabannya.
"Oom Farid nya sekarang nunggu di bawah, Ummi," ucap Raffa.
"Eh?" Zahra seakan bingung.
"Ummi," tegur Raffa.
"Ya, ya, Ummi turun."
Zahra mengusap wajahnya untuk menyadarkan diri.
Langkahnya sedikit berat, menuruni setiap anak tangga menuju lantai bawah. Sesampainya di bawah, Zahra bisa melihat sosok Farid tengah duduk di sofa dengan pandangan fokus menatap foto pernikahannya dengan Hafiz yang tergantung di dinding. Zahra melangkah perlahan menghampirinya.
"Ehm.." dehaman Zahra berhasil membuat fokus Farid teralih.
Ia menatap Zahra sembari tersenyum.
"Maaf menunggu lama," ucap Zahra.
"Tidak apa-apa."
"Emm.. tunggu sebentar, aku ambilkan minum."
Zahra sedikit kikuk karena ini pertama kalinya Farid bertamu ke rumahnya.
"Tidak usah, Ra," tolak Farid.
"Kamu sudah selesai packing nya?" lanjut Farid.
Zahra terdiam sesaat lalu menggangguk.
"Aku antar kamu dan Raffa ke rumah Abi sekarang, bisa?"
Zahra sedikit tersentak mendengar ucapan Farid.
"Sudah mau maghrib, tidak baik juga dilihat orang menerima tamu yang bukan mahramnya terlalu lama."
Zahra yang memahami maksud Farid pun kembali mengangguk.
"Tunggu sebentar, aku ke atas dulu ambil kopernya," ucap Zahra seraya berbalik meninggalkan Farid.
Zahra kembali masuk ke kamarnya. Mengangkat koper yang berada di atas ranjang dan menurunkannya. Ia menyeret kedua koper itu keluar dari kamarnya.
"Affa?" panggil Zahra setelah menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju kamar Raffa yang berada tepat di depan kamar miliknya.
"Ya, Ummi."
Raffa keluar dari kamarnya dengan tas tersampir di punggungnya.
"Sini tasnya Ummi bawakan."
Zahra mengulurkan tangannya. Tak tega melihat bocah kecil itu membawa beban berat di punggungnya.
"Memang Ummi bisa bawa semuanya?" tanya Raffa.
Zahra hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah mendekap tas berisi keperluan Raffa dengan tangan kirinya, Zahra sedikit menurunkan tubuhnya untuk meraih pegangan koper dengan tangan kanannya. Namun belum sempat meraih benda itu, suara seseorang menghentikan pergerakkannya.
"Biar aku yang bawa," ucap Farid seraya meraih dua koper miliknya.
Zahra hanya bisa terdiam di tempatnya sembari menatap punggung Farid, yang kini menuruni tangga. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat karena kemunculan Farid yang tiba-tiba. Zahra pun mengambil napas dalam untuk menormalkan detak jantungnya. Berkali-kali ia menekankan pada dirinya bahwa sikap Farid adalah hal yang wajar karena ia tunangannya.
"Zahra?" panggil Farid dengan kepala mengarah sedikit ke belakang.
"Ya?" Kaget Zahra.
"Astaghfirullahal'adzim," lirihnya kemudian ikut melangkah menuruni tangga.
Raffa sudah duduk anteng di kursi depan, samping kursi pengemudi saat Zahra dan Farid keluar.
"Kamu masuk duluan saja, Ra," ucap Farid saat mendapati Zahra masih berdiri sembari mengamati Farid yang sedang memasukan koper Zahra ke bagasi mobil.
Tanpa menjawab, Zahra membuka pintu belakang mobil dan duduk di dalamnya, tak lama Farid pun masuk dan duduk di balik kemudi. Perlahan mobil keluar setelah Pak Sapto, membuka gerbang rumah.
"Saya titip rumah ya, Pak, jaga baik-baik insyaallah nanti satu minggu dua kali Ummi dan Abi nengok ke sini," tutur Zahra saat mobil berada tepat di depan pos milik pak Sapto, sang penjaga keamanan rumah.
__ADS_1
"Injeh, Mbak Zahra. Atos-atos."
* * * * *
Butuh kurang lebih tiga puluh menit waktu yang ditempuh untuk sampai ke rumah Abi dan Ummi. Selama perjalanan suara Raffa dan Farid lah yang mendominasi di dalam mobil, sedang Zahra tampak fokus pada ponselnya walau sesekali wanita itu mendongak melihat pemandangan di depannya. Zahra tidak pernah tahu sejak kapan Raffa dekat dengan Farid, yang jelas mereka berdua tampak akrab. Dan tak jarang keduanya pun tertawa bersama.
Kali ini Zahra benar-benar dibuat heran oleh Farid. Laki-laki yang dulu terkenal pendiam, tegas dengan sosok mata tajam kini berbanding terbalik. Sikapnya menjadi hangat, sering tersenyum bahkan sorot tajam itu berubah lembut. Cintakah yang membuatnya seperti itu? Atau mungkin sikap Farid yang dulu adalah cara dirinya menjaga marwahnya. Setidaknya dengan dia bersikap dingin dan menjaga batasannya, ia ingin menjaga hatinya agar tidak tenggelam dalam rasa yang mungkin bisa membuatnya jauh dari-Nya.
Zahra jadi teringat akan pernyataan Farid tempo hari.
"Apa sekarang kamu sudah melihatnya."
Dari kalimat yang laki-laki itu lontarkan seakan memberi tahu Zahra bahwa Farid telah lama menaruh hati padanya, mungkin sebelum ia menikah dengan Hafiz. Allahu akbar.. kalau benar seperti itu, apakah mungkin dulu sikap yang Farid tunjukkan hanya semata-mata untuk menjaga cinta sucinya? Karena setahu Zahra tak jarang laki-laki yang faham agama, ketika mereka mulai menaruh rasa pada seorang gadis maka sikap yang mereka tunjukkan adalah dengan bersikap dingin, bahkan tak segan menghindar atau menjauh dari gadis yang mereka suka dan alasannya tak lain untuk menjaga hati mereka dan gadis yang mereka sukai, menjaga diri mereka agar tidak terjatuh pada lembah zina yang bernama pacaran. Mereka lebih mengandalkan kekuatan do'a. Dan mungkin itu juga yang Farid lakukan.
Jika memang seperti itu, sungguh Zahra beruntung pernah dicintai seperti itu. Ia merasa menjadi perempuan terhormat karenanya. Zahra bersyukur dari sekian banyak laki-laki yang menyukainya, di antaranya ada tiga laki-laki yang memang tulus padanya bukan hanya karena kecantikan fisiknya atau apapun yang bersifat duniawi.
Teringat kembali pada sosok Andrie, laki-laki yang rela berkorban apapun untuknya. Laki-laki yang lebih rela dibenci daripada harus melihat Zahra bersedih karena kondisi dirinya yang berada di ambang kematian meskipun pada akhirnya ia harus menoreh luka di hati Zahra. Tapi perjuangan Andrie dalam mempertahankan cinta sucinya pada Zahra tentu tak bisa dianggap sepele.
Lain halnya dengan Andrie, ada sosok Hafiz yang memiliki cara sendiri dalam mencintai Zahra. Sosok yang mampu memberi ketenangan walau bukan dengan cara memeluk atau mengobral kata-kata cinta. Dia sosok yang melindungi dan menjaga dengan cara yang berbeda dari laki-laki pada umumnya. Sosok Hafiz yang membuat Zahra merasa aman dan dimuliakan bak seorang putri raja. Tentu saja cara Hafiz mencintai Zahra tak lepas dari cintanya pada Sang Pemilik Cinta dan lantunan kalamullah menjadi bukti surat cintanya untuk Zahra.
Berbeda dari Andrie dan Hafiz, Farid justru memiliki cara yang unik dalam mencintai Zahra. Bila lazimnya laki-laki akan mendekati gadis yang mereka suka dengan mengobral kata cinta melalui puisi atau untaian lagu. Namun tidak dengan Farid. Ia lebih memilih menghindar dan menjauh dari Zahra. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian Zahra. Ia bahkan menjadi sosok yang seakan tak terlihat dan tak bersahabat. Hanya do'a yang menjadi pengharapannya, hanya melalui do'a ia menjaga dan mencintai Zahra.
Tiga laki-laki yang membuat Zahra bersyukur pernah dicintai sedemikian terhormatnya. Hanya do'a yang bisa ia lakukan untuk membalas cinta suci mereka, berharap ketiganya mendapat kebahagiaan yang setimpal dengan semua kebaikan yang pernah mereka lakukan.
* * * * *
"Ummi, besok jadi kan ketemu dede Khalisa dan dede Gibran?" tanya Raffa menghentikan aktivitas Zahra dengan ponselnya.
Zahra mendongak menatap Raffa yang sedari tadi tidak berhenti bicara dan bercanda dengan Farid.
"Hmmm, jadi," jawab Zahra singkat namun netranya menatap bocah tampan itu.
"Yeay, akhirnya Affa bisa main sama dedek emes," ucap Raffa dengan riang.
Zahra menggelengkan kepalanya melihat tingkah Raffa.
"Ehmm.. Oom Farid ikut ya, Ummi."
Zahra terdiam sesaat mendengar ucapan Raffa. Besok ia dan sahabat-sahabatnya berencana untuk berkumpul sebelum ia berangkat ke Jakarta. Tidak terpikirkan sama sekali olehnya untuk mengajak Farid atau memberitahukan status keduanya pada para sahabatnya. Entahlah, Zahra merasa belum siap namun jika dipikirkan lagi, apa salahnya ia mengajak Farid. Sahabat-sahabatnya pasti senang mendengar keputusannya mau membuka hati lagi karena selama ini tak jarang mereka menasehati perihal satu itu.
"Ummi, boleh kan?" tanya Raffa sekali lagi dengan wajah imutnya.
Zahra pun akhirnya mengangguk.
"Boleh, kalau Oom Farid ada waktu," ucap Zahra seraya menatap Farid yang tengah fokus mengemudi.
"Oom Farid ada waktu kan? Mau ya ikut Affa dan Ummi?"
"Memang acara apa, Ra?" tanya Farid sembari menengok sebentar ke belakang lalu tersenyum pada Raffa.
"Cuma acara perpisahan saja sama teman-teman."
"teman-teman?"
"Hmmm.. Rania dan yang lainnya."
"Itu artinya aku laki-laki sendiri?"
"Suami dan anak-anak mereka juga ikut." Terang Zahra, namun Farid masih terdiam dan fokus pada kemudinya.
"Kamu kenal kok sama mereka semua, jadi jangan merasa canggung," lanjut Zahra seakan tahu jika Farid merasa tidak nyaman.
"Serius?" Farid mulai merespon.
Tujuh tahun tinggal di Mesir tanpa sekalipun pulang, membuatnya tidak tahu kabar teman-teman semasa SMA nya, bahkan Rania teman mengaji semasa kecil pun ia tak tahu menikah dengan siapa.
"Hmmm.. jadi gimana besok bisa ikut?"
"Bisa, jam berapa?"
"Jam sebelas, di Transmart."
"Oke, besok aku jemput kamu dan Raffa."
"Terima kasih."
Sebagai jawaban atas ucapan Zahra, Farid tersenyum hangat ke arah wanita itu dan berakhir mengusap lembut kepala Raffa.
☘️☘️☘️
Suasana mall tempat Zahra dan yang lainnya berkumpul belum terlalu ramai mengingat mall baru saja buka satu jam lalu. Zahra berjalan beriringan dengan Farid yang mengandeng tangan Raffa. Bila dilihat ketiganya tampak seperti keluarga bahagia. Raffa yang sedari tadi berceloteh riang ditanggapi kekehan oleh Farid sedang Zahra tersenyum sesekali menggeleng karena tingkah menggemaskan Raffa.
Zahra membawa Farid dan Raffa ke lantai empat, tempat yang sudah disepakati untuk berkumpul. Tempat yang pas bagi semua kalangan. Para orang tua akan mengobrol di area food court sedang anak-anak bermain di wahana bermain anak.
Di salah satu gerai food court, tampak sahabat-sahabat Zahra sudah berkumpul menanti kedatangannya. Dengan riangnya, Raffa melepas genggaman Farid dan berlari ke arah mereka semua meninggalkan keduanya.
"Umma, Bunda, Amih," seru Raffa menghampiri mereka.
Rania, Prisil dan Lintang sontak tersenyum lebar menyambut putra pertama kesayangan mereka. Anak pertama yang hadir di antara persahabatan mereka, anak yang sangat mereka sayangi terlebih Raffa lahir dalam kondisi yang berbeda dari yang lainnya. Kondisi yang menyakitkan yang dialami Zahra, membuat mereka turut menyumbang kasih sayang yang besar pada Raffa.
Tanpa rasa canggung setelah menyalimi semua sahabat orang tuanya, Raffa langsung mendudukkan tubuhnya di pangkuan Andrie yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Kemal yang memangku putri cantiknya.
"Affa, Ummi mana?" tanya Andrie selepas mengecup pelipis Raffa.
Yang lain juga tampak menunggu jawaban Raffa.
"Itu Ummi.. sama Oom Farid," tunjuk Raffa ke arah Zahra.
Semuanya langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Raffa. Ada kerutan di dahi semua sahabat Zahra saat menyaksikan Zahra berjalan bersama Farid.
"Assalamu'alaikum," ucap Zahra dan Farid bersamaan.
Mereka sempat melongo sesaat sebelum menjawab salam keduanya.
"Wa'alaikumus salam," jawab mereka serempak dengan wajah heran.
"Maaf sedikit terlambat," ucap Zahra seraya menyalami sahabatnya satu persatu.
Farid pun melakukan hal yang sama, ia menjabat tangan Andrie, Kemal dan Gilang.
"Ehmm.. sepertinya ada yang sudah kita lewatkan nih," ucap Lintang sembari melirik Farid yang kini sudah duduk disamping Zahra.
__ADS_1
Zahra yang faham maksud Lintang hanya tersenyum sembari menunduk.
"Tidak ada niat nih untuk berbagi cerita?" sambung Prisil dengan senyum menggoda.
Farid ikut tersenyum lalu menengok ke arah Zahra sebentar.
"Do'akan saja semoga diberikan yang terbaik," tutur Farid setelah mendapat anggukan dari Zahra.
"Benarkah? alhamdulillah Ya Allah," sahut Rania.
"Aamiin," sahut yang lain.
"Rencana kapan, Ai?" tanya Andrie dengan binar kebahagiaan.
"Insyaallah, kalau Allah berkenan setelah Zahra pulang dari penugasan, A'."
Semua tersenyum bahagia mendengar kabar yang membahagiakan tersebut. Bukan karena mereka sudah lupa dengan sosok Hafiz, hanya saja sudah saatnya Zahra dan Raffa merasakan kebahagiaan. Dengan tenggelam dalam masa lalu membuat Zahra lupa bagaimana rasanya bahagia terlebih lagi setelah banyak ujian yang menghantamnya, seolah ia tak tahu bagaimana tersenyum dengan tulus.
"Aa' tunggu kabar bahagia itu, Ai."
"Do'anya saja, A'."
"Pasti, Ai. Kita selalu berdo'a untuk kebaikan kamu."
Obrolan pun berlanjut seputar penugasan Zahra dan kepulangan Farid dari Mesir. Dimana Zahra akan tinggal, bagaimana sekolah profesinya dan lain sebagainya. Tak jarang terdengar canda tawa dari mereka saat pembahasan mereka beralih pada hal-hal yang lucu.
"Apih, Affa mau main di sana sama dedek Khalisa," rengek Raffa pada Andrie, di tengah para orang tua yang sedang sibuk berbincang ria.
"Affa sama Khalis mau main di sana? Ya sudah ayuk, Apih belikan tiketnya," ajak Andrie seraya bangkit dari duduknya.
"Gibran tidak mau ikut main sama kakak-kakak?" tanya Andrie pada bocah mungil yang berada di pangkuan Gilang. Sedang dua makhluk kecil lainnya sudah berlari lebih dulu sembari bergandengan tangan menuju area bermain anak dengan riangnya.
"Gibran suka rewel, Ndrie kalau tidak di tungguin sama ayah nya," sahut Prisil.
"Ya sudah, Lang. Ayo ikut nunggu anak-anak, kasihan Gibran kalau di sini, bisa bosen dia," ajak Andrie.
"Iya, Yang. Ikut sana," perintah Prisil.
"Ya sudah, yuk."
Gilang ikut bangkit sembari menggendong Gibran.
"Aku sama Farid ikut, masa iya di sini ngobrol sama ibu-ibu," sahut Kemal.
"Ayo, Rid," ajak Kemal yang segera dijawab oleh Farid dengan anggukan.
Para lelaki pun meninggalkan area food court menuju area bermain anak, sedang para wanita kembali meneruskan perbincangan mereka.
* * * * *
Shalat ashar berjama'ah telah terlaksana di Masjid Bandara beberapa menit yang lalu. Kini Zahra dan beberapa orang yang mengantarnya tengah menunggu di bangku tunggu Bandara. Masih ada waktu lima belas menit sebelum Zahra masuk pesawat. Ia pun memanfa'atkan waktu yang masih tersisa dengan berpamitan.
"Abi, Ummi, sebelumnya Zahra minta maaf karena selama ini Zahra selalu merepotkan Abi dan Ummi. Maafkan Zahra yang hingga saat ini belum bisa memberikan kebahagiaan pada kalian. Zahra juga mohon do'a nya untuk kelancaran Zahra di sana," tutur Zahra dengan menggenggam tangan Ummi Maryam.
Ummi menggeleng seraya menangkup pipi Zahra.
"Kamu tjdak punya salah pada kami, Nduk. Kamu putri kebanggaan kami. Ummi dan Abi beruntung memilikimu," ucap Ummi dengan air mata mulai menetes.
"Do'a kami selalu menyertai langkahmu. Jagalah diri kamu baik-baik, jangan terlalu memaksakan diri. Ingat, jika ada apa-apa segera hubungi Abi dan Ummi-mu, jangan dipikul sendiri," tambah Abi. Zahra mengangguk dalam tangisnya.
"Terima kasih Abi, Ummi untuk semuanya. Zahra juga titip Raffa."
"Ummi dan Abi sayang padamu, Nduk. Jangan khawatirkan Raffa, dia akan baik-baik saja bersama kami."
Abi mengiyakan ucapan Ummi. Dengan hormat Zahra mencium punggung tangan Abi dan Ummi setelahnya ia pun memeluk tubuh Ummi Maryam.
Setelah berpamitan pada kedua mertuanya. Zahra mengalihkan pandangannya pada seseorang yang kini duduk di kursi roda. Ia menurunkan tubuhnya seraya menggenggam tangannya.
"Mbak, Mbak harus janji sama Zahra untuk selalu semangat menjalani semua proses pengobatan ini. Yakin pada kuasa Allah dan percayalah sama Zahra. Mbak pasti sembuh asal mbak sabar dan ikhlas menjalani semuanya. Jangan putus asa atau berpikir yang tidak-tidak, Allah pasti memberi jalan dan memberikan kemudahan selama kita tidak berhenti untuk berikhtiar dan tawakal. Jika mbak memang mencintai dan menyayangi mas Hakam juga Qais maka berjuanglah demi mereka. Turuti semua apa yang dikatakan Mas Hakam dan tim dokter selama pengobatan di Singapore. Jangan membuat perjuangan serta pengorbanan Zahra untuk Mbak sia-sia. Zahra akan selalu memantau perkembangan mbak selama di Singapore. Jadi Zahra mohon, jangan kecewakan Zahra. Zahra sayang sama Mbak," tutur Zahra pada Kayyisa, istri dari kakak iparnya yang mengidap penyakit Multiple Sclerosis, salah satu penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf sehingga menyebabkan gangguan pada pergerakan dan sebagainya.
Kayyisa tersenyum dengan air mata mengalir.
"Mbak janji sama kamu untuk berjuang. Maafkan kesalahan Mbak selama ini. Mbak benar-benar minta maaf, tidak seharusnya kamu mene.."
"Shhttt.. tidak ada yang salah, Zahra mengerti apa yang Mbak rasakan. Lagipula semua sudah menjadi takdir Allah, tidak perlu ada yang disesalkan," potong Zahra sembari meletakkan telunjuknya di bibir Kayyisa. Ia tahu ke mana arah pembicaraan wanita itu.
"Cukup Mbak lakukan apa yang Zahra minta, yang lain tidak perlu dipikirkan lagi. Zahra baik-baik saja dan Zahra akan sangat bahagia jika Mbak sembuh nanti," lanjut Zahra seraya menghapus air mata Kayyisa lalu mengecup keningnya sebagai tanda sayang.
"Mas, Zahra sudah menghubungi salah satu dokter kenalan Zahra di sana berkat bantuan dokter Azhari. Zahra harap, Mas segera menjadwalkan penerbangan, lebih cepat lebih baik. Nanti Zahra kirim kontaknya, beliau bersedia membantu semaksimal mungkin. Insyaallah semua akan baik-baik saja," tutur Zahra pada Hakam yang berdiri disamping Kayyisa.
"Terima kasih, Dek, kamu banyak sekali membantu Mas. Insyaallah, Mas segera atur jadwalnya secepatnya mungkin. Kamu juga baik-baik di Jakarta. Do'a Mas selalu menyertaimu."
Zahra mengangguk sembari tersenyum.
Setelah berbicara panjang lebar pada kedua kakak iparnya, kini Zahra dihadapkan pada sosok laki-laki yang dua hari ini hadir dihidupnya. Farid. Laki-laki itu berdiri sembari menggendong Raffa.
"Affa tidak boleh bandel ya. Jangan bikin Kakung dan Uti kerepotan. Affa juga mesti rajin belajar, jaga shalat dan hafalannya. Ummi sayang sama Affa," ucap Zahra seraya mengecup kening Raffa. Raffa tersenyum sembari mengangguk.
"Affa juga sayang sama Ummi. Ummi hati-hati dan sering telpon Affa ya."
"Pasti. Ummi pasti telpon Affa setiap hari."
Zahra mengusap lembut pipi Raffa.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan membantu Abi dan Ummi menjaga Raffa," ucap Farid membuat netra Zahra kini beralih padanya.
"Terima kasih. Dan sampaikan salam serta permintaan maafku pada Abah dan Ummah karena tidak sempat berpamitan secara langsung pada mereka."
"Hmmm, nanti aku sampaikan saat Abah dan Ummah sudah kembali dari Magelang."
"Zahra, jangan membuatku terlalu mengkhawatirkanmu. Ingat, jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan, jangan sampai kesibukan membuatmu lupa makan dan istirahat."
Zahra mengangguk mendengar nasehat Farid.
"Dan hubungi aku jika ada apa-apa," pesan Farid lagi, bertepatan dengan pengumuman keberangkatan yang menggema ke seluruh sudut bandara. Sudah saatnya Zahra naik pesawat. Ia pun menatap satu persatu orang-orang yang mengantarnya lalu mengucap salam sebagai ucapan perpisahannya.
Good by Semarang n' welcome to Jakarta..
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
VOTE MANA VOTE ??😁😁😁
__ADS_1
JANGAN LUPA LHO BUAT LIKE, KOMEN DAN PASTINYA VOTE YANG BANYAK..🤭🤭🤭