LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
RAHASIA HATI


__ADS_3

Zahra berjalan menuju ruang rawat Farid setelah hatinya bergemuruh hebat. Ia benar-benar tidak mengerti, kenapa ia begitu lemah jika bertemu atau berhadapan dengan Habibi. Sampai kapan ia bisa meyakinkan hatinya bahwa Habibi bukanlah Hafiz. Sampai kapan ia bisa menerima kenyataan kalau kedua orang itu berbeda. Dan sampai kapan hatinya bisa selaras dengan logikanya.


Zahra selalu menekankan pada hatinya bahwa Habibinya tak mungkin mengabaikannya. Laki-laki itu begitu mencintainya sehingga tidak mungkin dia melukai dan menyakitinya. Karena bagi Hafiz, kesedihan dan kesakitan Zahra adalah luka baginya. Dia akan tersakiti melihat wanita tercintanya bersedih apa lagi sampai menangis. Lalu bagaimana dengan Habibi? walau secara keseluruhan sosok Hafiz seperti ada dalam diri Habibi baik paras, suara bahkan sikapnya, namun satu hal yang berbeda darinya yaitu berkali-kali laki-laki itu seolah tak sadar telah menoreh luka di hati Zahra karena kedekatannya dengan Meysha. Jelas dia bukan Habibinya. Habibinya tak pernah sedekat itu dengan perempuan manapun. Hati, jiwa serta raganya begitu terjaga untuk Zahra.


Zahra mengembuskan napas untuk kesekian kalinya, berharap rasa sesak di dadanya segera memudar. Ia merasa bingung sendiri dengan hatinya. Ia seperti ini karena Habibi begitu mirip dengan Hafiz, laki-laki yang begitu ia cintai atau karena ia mulai ada rasa dengan laki-laki itu tanpa ada bayangan Hafiz di dalamnya. Entahlah, ia sendiri tak mampu meraba isi hatinya. Selalu Hafiz, Hafiz dan Hafiz yang menjadi alasan baginya, yang tak mampu mengenyahkan Habibi dari pikiran serta hatinya.


Langkah Zahra terhenti tepat di depan pintu kamar rawat Farid. Ia mengatur napasnya agar kembali normal seperti sedia kala sebelum ia bertemu Habibi. Ia merasa bersalah jika sampai mengabaikan sosok Farid hanya karena laki-laki itu. Farid terlalu baik untuk ia sakiti hatinya. Laki-laki itu sudah terlalu lama menahan sakit yang tidak ia ketahui sebelumnya. Dan sudah saatnya dia meneguk manis sebagai buah dari kesabaran dan kesetiaannya selama ini.


Zahra membuka pintu kamar rawat Farid seraya mengucap salam. Dilihatnya Farid tengah dibantu memakai arm sling oleh salah satu perawat yang datang bersama seorang dokter. Zahra tersenyum ke arah mereka.


"Sore dokter Zahra," sapa dokter laki-laki yang kini tengah menangani Farid.


"Sore juga dokter,"


"Anda berkunjung juga?" tanya dokter itu, heran karena Zahra ada di kamar rawat pasien.


"Saya wali dari pasien yang anda tangani," terang Zahra membuat dua orang yang tengah menangani Farid tampak kaget.


"Anda keluarga pasien?" tanya dokter itu, yang hanya dijawab senyuman serta anggukan oleh Zahra.


Zahra melangkah mendekat dan berdiri di samping brankar Farid. Zahra menatap sekilas wajah Farid yang juga tengah tersenyum padanya sebelum fokusnya kembali pada sang dokter.


"Bagaimana kondisinya, dok?" tanya Zahra.


"Seperti yang sudah anda ketahui, tulang selangka pada bahu kanan pasien patah. Tapi beruntungnya, patahan itu tidak sampai menebus kulitnya sehingga pasien tidak perlu melakukan operasi. Cukup menggunakan arm sling ini beberapa minggu ke depan, tulang akan kembali pada posisi semula."


Zahra mengangguk menanggapi penjelasan dokter Candra, dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi yang sekaligus adalah seniornya.


"Saya harap, untuk sementara waktu pasien tidak terlalu banyak bergerak terutama di area tulang yang patah agar posisi tulang tidak bergeser dari posisinya," tutur dokter Candra mengingatkan.


Zahra kembali mengangguk mendengar penjelasan dokter Candra.


"Oke, karena semua sudah saya cek dan arm sling juga sudah terpasang. Kalau begitu saya izin pamit. Semoga cepat pulih kembali," ucap dokter Candra pada Farid lalu beralih tersenyum pada Zahra.


"Terima kasih, dok," ucap Zahra sembari tersenyum.


"Ya, hubungi saya kalau ada apa-apa," sahut dokter Candra pada Zahra lalu melangkah keluar diikuti perawat pendampingnya.


Pandangan Zahra tertuju pada nakas di samping brankar Farid. Keningnya sedikit berkerut lalu beralih menatap laki-laki yang masih setia memasang senyumnya sedari tadi.


"Kamu belum makan?" tanya Zahra yang sebelumnya melihat kotak makan dari rumah sakit, belum tersentuh sama sekali.


"Katamu aku harus tetap diam dan tak boleh bergerak," sahut Farid.


Mendengar itu spontan Zahra menepuk keningnya. Farid pun mengulum senyum melihat tingkah lucu dan menggemaskan dari tunangannya.


"Ya sudah, aku suapin ya," tawar Zahra yang sadar bahwa Farid tak mungkin bisa makan sendiri dengan kondisi bahu kanan yang cedera.


"Nanti saja kalau sudah waktunya," tolak Farid.


"Kamu puasa?" tanya Zahra, membuka lebar matanya.


Lagi-lagi Farid tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari wanita tercintanya.


"Tapi kan tadi siang saat kamu sadar, kamu minta minum?" ucap Zahra kembali mengingat.


"Puasa aku batal, karena setelah sadar rasanya tenggorokan aku kering dan begitulah,"


"Lalu kenapa menolak makan?"


"Kamu puasa kan? aku makan nanti saja setelah calon makmum aku buka puasa. Kasihan kalau dia suapin aku sekarang, yang ada cacing di perutnya ikut protes," tutur Farid sukses membuat semburat merah di pipi Zahra.


Farid tersenyum lebar melihat wajah Zahra, semakin membuat wanita itu salah tingkah.


"Kenapa tersenyum terus?" tanya Zahra seraya memalingkan wajahnya yang mulai merona menahan malu.

__ADS_1


Ia baru sadar jika sedari ia masuk ke kamar rawat Farid, laki-laki itu tidak berhenti tersenyum ke arahnya.


"Tidak apa-apa," jawab Farid dengan ekspresi masih sama.


"Ingat pesan Abah Hasyim, GADHDHUL BASHAR," Zahra mengingatkan dengan penuh penekanan pada dua kata terakhir.


"Ha.. ha.. ha.. memang saya menatap kamu?" kelakar Farid sembari terkekeh geli.


"Tetap sajakan yang membuat kamu tidak berhenti tersenyum itu aku."


"Tingkat percaya diri kamu terlalu tinggi,"


Mendengar itu wajah Zahra langsung memberengut.


"Jadi senyumnya untuk perawat tadi ya?"


Farid semakin tergelak mendengarnya.


"Cemburu ya?" seloroh Farid.


"Idih, kenapa juga harus cemburu. Yang ada nanti aku bilang sama perawat tadi kalau kamu suka," tutur Zahra dengan nada kesal.


"Kamu lucu, Ra. Gemas saya jadinya,"


Zahra sedikit memicingkan matanya ke arah Farid.


"Kenapa?" tanya Farid melihat tatapan Zahra padanya yang seakan menyelidik.


"Ini beneran kamu? atau ada yang salah sama otak kamu setelah benturan tadi pagi?" ucap Zahra tampak meragukan Farid.


"Maksud kamu?" Farid tidak mengerti.


"Setahu aku, Farid si mantan Ketua Rohis itu orangnya flat, dingin, galak, serem, tidak seperti ini yang keseringan senyum," terang Zahra membuat Farid melongo.


"Seburuk itukah aku di mata kamu?" tanya Farid seraya mengangkat satu alisnya.


"Aku tanya menurut kamu bukan anak-anak?"


"Ehm.. " Zahra tampak kebingungan menjawab.


"Apa yang kulakukan hanya untuk menjaga diri saja," ucap Farid saat Zahra tak kunjung bersuara.


"Eh?"


"Aku yang flat, dingin, galak, serem saja masih banyak yang suka. Gimana kalau aku ramah, baik dan perhatian, yang ada semua cewek ngejar-ngejar aku," tutur Farid seraya membusungkan dadanya.


"Ih, kepedean," cicit Zahra seraya menahan tawa.


"Kenyataan, Ra. Aku sama Hafiz itu 11:12," ucap Farid membuat Zahra langsung terdiam saat nama Hafiz keluar dari bibir Farid.


Farid yang menyadari perubahan ekspresi Zahra lantas menatapnya lekat.


"Maaf, mengingatkanmu padanya,"


Zahra menatap Farid seraya menggeleng. Kedua ujung bibirnya terangkat untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.


Keheningan pun tercipta sesaat setelah satu nama tak sengaja keluar dari bibir Farid. Laki-laki itu juga tampak bingung, apa yang harus ia bahas untuk mengalihkan perhatian Zahra yang kini mulai buruk suasana hatinya.


Tak lama Zahra membuka suaranya, memecah keheningan yang beberapa saat menyelimuti mereka.


"Sudah waktunya buka puasa," ucap Zahra lalu mengambil gelas berisi air mineral di atas nakas dan menyodorkan sedotan ke mulut Farid.


"Kok aku, kamu yang buka puasa kenapa jadi aku yang minum duluan?" tanya Farid.


"Ya tidak apa-apa, kan seharian kamu juga hanya minum sedikit," jawab Zahra seraya menempelkan ujung sedotan ke bibir Farid. Farid pun menyedot minumannya.

__ADS_1


Setelah membantu Farid minum, Zahra pun mengambil botol minumnya di dalam paper bag ukuran sedang yang ia bawa.


"Kamu bawa bekal?"


"Hmmm.. lebih enak makan masakan sendiri," jawab Zahra usai meneguk minuman dari botol yang ia bawa, sebagai pembatal puasanya.


"Farid, tidak apa-apa kan kalau aku tinggal shalat maghrib sebentar di mushala?"


"Aku juga mau shalat. Boleh minta tolong, panggilkan perawat laki-laki ke sini untuk membantuku ke kamar mandi?" ucap Farid yang dijawab anggukkan oleh Zahra.


Zahra melangkah keluar menuju mushala kecil yang ada di lantai tiga karena terlalu jauh jika harus ke masjid yang berada di lantai satu dekat taman. Dan untuk Farid, ia sudah memanggil seorang perawat laki-laki untuk membantunya.


* * * * *


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, saat Zahra keluar dari kamar rawat Farid. Laki-laki itu sudah terlelap setelah meminum obatnya satu jam lalu. Walau niat hati Zahra adalah menemani Farid namun tentu untuk urusan tidur, ia lebih memilih ruangan dokter sebagai tempatnya beristirahat. Ruangan yang memang di peruntukkan untuk istirahat bagi para dokter yang telah seharian bekerja tanpa kenal waktu. Terlebih mereka yang menjadi dokter koas, dokter intership dan dokter residen seperi dirinya yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ruangan pun terbagi dua antara laki-laki dan perempuan sehingga Zahra tidak perlu khawatir jika harus tidur di sana.


Hati, pikiran serta tubuh Zahra hari ini benar-benar lelah. Sebelum ia turun ke ruangan khusus istirahat para dokter, ia menghempaskan tubuhnya di bangku tunggu di depan kamar rawat Farid. Pikirannya terbang jauh, tatapannya pun tampak kosong. Sampai kapan hatinya tergerak untuk melihat Farid? Sampai kapan ia bersandiwara dalam drama yang membuatnya lelah? Terkadang sikap Farid memang membuatnya gugup atau salah tingkah tapi respon ini menurutnya wajar bagi dirinya yang tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun terlebih Farid, laki-laki yang memang sedari dulu selalu membentang jarak dengannya dan sekarang tiba-tiba mereka seakan mengikis jarak itu hanya karena sebuah status.


Zahra menghela napas lalu mengembuskannya perlahan. Tangannya kini bergerak mencari benda pipih yang tadi siang sempat menghilang dan ditemukan oleh salah satu perawat IGD. Jika benda ini benar-benar hilang mungkin ia akan kembali meratapi nasib karena telah kehilangan bukti-bukti kenangan yang dulu terukir bersama Habibinya. Di dalam benda tersebut tersimpan ratusan foto serta video dirinya bersama sang suami yang hingga kini belum ia pindah ke dalam laptop, bahkan secara khusus Hafiz membuat rekaman tilawahnya full 30 Juz karena tak ingin membuat istrinya mengambek hanya karena tertinggal menyimak dirinya muroja'ah terlebih lagi jika ia harus meninggalkan sang bidadari karena perjalanan bisnis.


Zahra membuka album foto yang menampakkan dirinya bersama sang suami tanpa ada jarak sedikit pun. Lengkungan di bibirnya mulai nampak seiring ingatannya pada moment itu. Ia teringat foto itu diambil saat Hafiz melamarnya secara langsung di ruang kesenian, saat keduanya masih SMA dulu. Entah siapa dari tiga sahabat suaminya yang diam-diam mengambil foto itu yang jelas dalam foto itu, tampak Hafiz tengah memeluk Zahra sembari mengecup pelipisnya, rona bahagia terlihat jelas dari wajah keduanya yang sama-sama menyunggingkan senyum lebar mereka. Di foto itu pun terlihat tangan Zahra menggenggam dua buku berwarna merah dan hijau yang kala itu baru saja Hafiz ambil dari KUA untuk ditandatangani.


Jari tangan Zahra menggulir layar ponsel dan menemukan rekaman favorite-nya dengan judul rekaman "Surat Cinta Habibi untuk Bidadariku", Zahra menekan tombol putar pada layar dengan volume kecil namun masih dapat didengarnya. Alunan suara merdu nan indah mulai terdengar menyapa indera pendengaranya.


Perlahan Zahra memejamkan matanya meresapi setiap buaian lembut yang dilafalkan oleh sang kekasih hati. Ar Rahman. Surah yang menjadi bukti bahwa Allah begitu menyayangi para hambanya. Surah yang menjelaskan keagungan sang Pencipta Kehidupan dengan segala penciptaannya yang Maha Luar Biasa. Surah yang juga khusus Hafiz jadikan sebagai surat cintanya untuk sang istri.


Sudah hampir satu jam ia berdiri sembari menatap objek, yang sudah membuat hatinya bercucuran air mata seharian ini. Ada keinginan untuk memastikan keadaannya setelah peristiwa besar menghantam jiwa wanita itu walau kini waktu kian merambat naik pada posisi tertingginya namun ia tak sedikit pun peduli. Habibi. Laki-laki itu masih setia di posisinya menatap teduh wanita yang kini sudah menyandarkan kepalanya di dinding belakangnya sembari terpejam.


Perlahan namun pasti langkah Habibi mengarah pada wanita itu. Ia bisa melihat wajah damai dari wanita yang kini terpejam dengan dengkuran halus. Habibi menarik kedua ujung bibirnya lalu mendaratkan bokongnya di bangku yang sama, yang diduduki oleh Zahra namun sedikit berjarak. Ia melirik sekejap wajah cantik itu sebelum ia menyandarkan kepalanya ke dinding dengan posisi yang sama seperti Zahra. Habibi kembali tersenyum sembari perlahan memejamkan matanya.


Beberapa saat posisi itu masih sama hingga Habibi membuka matanya saat merasakan pergerakan dari wanita disampingnya. Spontan Habibi menggeser duduknya ke arah Zahra dengan kilat. Tubuh Zahra merosot ke samping namun tak sampai mendarat di bangku karena Habibi lebih dulu menahan dengan tubuhnya. Kini tubuh mereka hampir seluruhnya menempel dengan kepala Zahra menyandar di pundak Habibi.


Habibi menahan napasnya sejenak, menetralkan degup jantung yang melaju berpuluh-puluh kali lipat dari sebelumnya. Hal yang pertama kali ia rasakan, berdekatan dengan wanita dengan jarak setipis ini bahkan dengan adiknya sekalipun ia tidak pernah sedekat ini.


Mata teduh Habibi kini teralih pada tangannya yang berada tepat di bawah punggung tangan Zahra. Ia tidak sadar saat bergeser tadi, tangannya spontan menahan tangan Zahra yang hampir terkulai dengan ponsel yang hampir terlepas dari genggamannya namun beruntung ia masih bisa menahannya. Habibi sedikit menggenggam tangan Zahra yang ada di atas telapak tangannya.


"Kenapa harus wanita ini, Ya Allah? kenapa harus kepada wanita ini Engkau jatuhkan hatiku? tidak cukupkah aku mencintainya selama ini dalam mimpiku, kenapa Kau harus hadirkan dia dalam situasi yang rumit ini dan kembali membuat hatiku terjatuh padanya." monolog Habibi dalam hatinya.


Habibi mendongak menatap atas, tatapannya beralih sayu. Ia teringat pertama kali ia memimpikan wanita ini sekitar enam tahun atau tujuh tahun lalu bahkan mungkin lebih dari itu, ia tidak ingat persisnya. Yang ia ingat, wanita ini masih terlihat seperti gadis polos dengan berseragam putih abu dan kerudung putih menutup kepalanya. Gadis itu terlihat sangat cantik di mata Habibi walau wajahnya polos tanpa riasan bahkan tanpa ekspresi, hanya kegugupan yang terpancar dari wajah cantiknya saat ia mengulurkan tangannya di depan gadis itu.


"Zahra," ucapnya kala itu dengan menunduk.


Habibi tersenyum tipis saat mengingatnya, itulah pertama kali ia jatuh cinta pada seorang wanita. Anehnya ia mencintai wanita itu dalam mimpinya. Dan lebih aneh lagi karena wanita itu selalu hadir di setiap malamnya saat ia tertidur membuatnya kadang enggan untuk bangun lagi.


Dalam mimpi itu seakan semuanya nyata, hubungan yang berawal dari perkenalan hingga berlanjut pada kedekatan keduanya. Habibi sangat bahagia saat melihat wajah cantik itu tersenyum dan tertawa bahagia hingga tercipta lekukkan di kedua pipinya. Ia juga bahagia bisa mencintai dan memiliki wanita itu walau hanya dalam mimpinya. Ia seakan tersedot ke dalam kehidupan semu itu, ia bisa merasakan dengan nyata saat hatinya bahagia bahkan sedih saat melihat wanitanya tersakiti.


Lima tahun lalu tepatnya, untuk pertama kalinya hatinya seakan tersayat kala melihat wajah yang biasanya tersenyum bahagia tiba-tiba menampakkan wajah sedih penuh air mata. Persis seperti yang ia lihat dan ia rasakan kala melihat Zahra di ruangan Kayla, pagi tadi.


"Zahra sangat merindukanmu, Habibi."


Kalimat yang sama, keluar dari wanita yang sama namun dengan dimensi dan arti yang berbeda. Namun ada hal yang membedakan keduanya, jika di dalam mimpi ia bisa langsung mendekap wanita itu karena kalimat yang dilontarkannya memang untuknya lain halnya dengan yang ia alami di kehidupan nyata. Kalimat itu bukan ditujukan untuknya melainkan untuk laki-laki yang ada di hati Zahra, wanita tercintanya. Sesuatu itulah yang memberatkan langkahnya untuk mendekati Zahra. Sesuatu yang rumit yang hadir dalam hubungan keduanya saat ini.


Ia mengembuskan napas beratnya. Terasa berat apa yang ia jalani dalam hidupnya kali ini, kehidupan setelah ia dipertemukan dengan wanita tercintanya. Cinta yang awalnya ingin ia ungkapan kini tertahan saat tahu ada laki-laki lain yang teramat Zahra cintai di hatinya. Dan semakin rumit saat tahu wanita itu juga memiliki laki-laki lain sebagai calon pendamping hidupnya. Sekarang Habibi menyesali keputusannya. Keputusan yang sengaja ia ambil untuk membawa Zahra berada di sini, di dekatnya. Ya, Habibilah yang dengan sengaja memilih Zahra agar wanita itu dipindahtugaskan ke Jakarta setelah ia melihat foto Zahra terlampir pada file data calon dokter transfer.


Sesulit inikah ia mencintai Zahra? jika saja Zahra bahagia dengan hidupnya mungkin semua ini takkan membuatnya sulit apalagi sampai membuatnya menahan sesak di dadanya. Habibi tahu betul saat ini Zahra tidak bahagia dengan hidupnya, ia bisa merasakannya sendiri terlebih lagi setelah berkali-kali melihat wanita itu menangis.


Ke mana laki-laki yang dicintai oleh Zahra? Ke mana laki-laki itu pergi hingga Zahra harus rela menerima pinangan laki-laki lain. Pikiran Habibi terus berkecamuk hingga satu hal membuatnya ingat.


"Maaf.. tapi bisakah anda tidak terlihat seperti dirinya? sungguh ini sangat menyakitkan untuk saya melihat dirinya hidup dalam diri anda. Saya tidak cukup kuat menahan semua rasa yang selama ini saya simpan,"


"Semirip apa laki-laki itu denganku? hingga kamu melihatnya hidup dalam diriku," gumam Habibi setengah berbisik.


Netranya tiba-tiba menangkap sebuah cahaya yang keluar dari ponsel yang berada di tangan Zahra. Ponsel itu menyala dengan sendirinya, entah karena sentuhan tidak sengaja darinya yang tengah menggenggam tangan Zahra atau apa, ia juga tidak sadar. Tapi satu hal yang membuatnya terpaku saat layar ponsel menampakkan sebuah tampilan berupa rekaman yang sebelumnya diputar Zahra. Mata Habibi membulat saat sebuah tulisan tertangkap oleh netranya, "Surat Cinta Habibi untuk Bidadariku".


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


OKEY SAHABAT PEMBACA, JANGAN LUPA SETELAH MEMBACA TEKAN 👍(LIKE), KOMEN, ❤ (FAVORITE) DAN ⭐ (VOTE) YANG BANYAK YA.. 😉😉


LOVE YOU ALL.. FULL.. 😘😘


__ADS_2