LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
KEPUTUSAN 2


__ADS_3

Aku tak memintamu melupakannya


Tidak pula memintamu untuk berhenti mencintainya


Kenanglah dia sesukamu


Cintai dia selama yang kamu ingin


Tapi satu hal yang ingin kupinta darimu


Sedikit saja. Sedikit saja beri aku ruang di hatimu untuk kutinggali


Salahkah aku memintanya?


Bukan keinginan hatiku menjatuhkan cinta ini padamu


Bukan pula kesalahanku karena mencintai milik orang lain


Tapi hati ini bergerak sendiri memilih mencintaimu


Dan akupun tak mampu mengendalikannya


Aku memilih diam kala rasa ini menyapa


Dan aku memilih pergi ketika kurasa tak ada kesempatan lagi untuk mendamba


Aku pikir itu jalan terbaik untuk kita


Aku, Kamu dan Dia


Karena kutahu, bahagiamu ada bersamanya


Aku memang tidak sebaik dia


Apalagi sesempurna dia


Aku hanya seseorang yang mampu mencintaimu dalam asa


Aku hanya seseorang yang bisa merinduimu dalam do'a


Kuharap cinta ini tak membuatku jauh dari surga-Nya


Sekian tahun aku menyingkir


Sekian tahun aku menepi


Tapi rasaku padamu tetaplah terukir


Begitu dalam dan suci


Jika dulu, aku hanya bisa mengalah


Tapi untuk saat ini, bisakah kamu izinkan aku untuk memperjuangkanmu?


Memperjuangkan cinta yang sempat kuabaikan kehadirannya


Hanya senyummu yang ingin kulihat


Hanya bahagiamu yang kuharap


Tak mengapa jika Cintaku tak berbalas


Asal kamu izinkan tangan ini menghapus air matamu


Asal kamu izinkan tangan ini mendekapmu menyalurkan kekuatan untukmu


Aku mencintaimu dulu.. dan sekarang


Izinkan aku membasuh luka dan perihmu


Izinkan aku memperjuangkan cintaku padamu


Dan izinkan aku mengukir bahagia dalam hidupmu


*Muhammad Farid Ihsanuddin


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


FARID PoV


Tujuh tahun sudah aku meninggalkan tanah ini. Tanah yang mengukir sejarah kehidupanku selama delapan belas tahun hidup di bumi ini. Tak ada yang tahu alasanku memilih pergi dari sini selain diri ini dan juga Allah tentunya. Alasan lain dari hanya sekadar menimba ilmu untuk bekal dunia dan akhirat. Dan siapa sangka jika alasan itu berhubungan dengan hati. Ya, alasan utamaku pergi ke tanah para nabi adalah karena dia dan cinta ini. Terlalu bodoh atau bagaimana, aku pun tak tahu hingga hatiku memilih mencintaimu bukan yang lain.


Aku bukan laki-laki yang dengan mudah menyatakan cintanya pada seorang gadis. Bukan pula laki-laki yang pandai merangkai kata indah nan romantis menjadi puisi atau sebuah alunan lagu untuk menarik hatimu. Aku hanya seorang laki-laki yang hanya bisa diam memendam cintanya. Menyampaikan rasa cinta dan rinduku hanya pada Sang Pemilik, berharap Dia menyampaikannya padamu.. gadis yang namanya telah terpahat indah di hatiku.


Aku tahu jika rasaku ini telah salah memilih. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika hati ini begitu kuat menggenggam namamu bahkan bertahun-tahun lamanya.


Aku tidak tahu jika cinta yang kusembunyikan dalam diamku ini justru menorehkan luka sayatan. Lebih dari dua tahun aku setia pada rasa ini. Lebih dari dua tahun pula aku ukir namamu dalam untaian do'aku di setiap sujud maupun malamku saat aku bercengkrama bersama Sang Pecipta.


Sore itu, di hari itu, cinta ini untuk pertama kalinya terasa begitu menyedihkan. Bidadari yang senantiasa aku langitkan namanya seusai shalatku nyatanya bukanlah seseorang yang Allah siapkan untukku. Untuk pertama kalinya aku sadar jika rasaku ini salah. Salah karena telah menetapkan sesuatu di tempat dan waktu yang tak seharusnya..

__ADS_1


Tepat hari itu, hatiku menangis. Menangis kala cinta yang kusimpan erat ternyata milik orang lain. Kamu.. bidadari yang selama ini kucintai ternyata tulang rusuk dari orang terdekatku. Sungguh begitu menyedihkan. Bagaimana bisa aku mencintai istri dari sahabatku sendiri. Mungkin karena rasa ini membuatku lupa pada Sang Pemilik Cinta hingga akhirnya hatiku harus patah.


Waktu terus berlalu dengan cepat tapi tidak dengan hatiku. Lagi-lagi aku merutuki hatiku yang bodoh. Rasa ini masih tetap tinggal. Cinta ini masih tetap terukir. Di saat kamu bahagia bersamanya. Di sini aku justru matian-matian menahan rasa yang tak ingin pergi. Bodoh kan aku?


Tak terasa, lima tahun sudah cinta ini tinggal di hatiku. Sebelum semuanya semakin sulit, kuputuskan untuk pergi. Pergi membawa rasa ini ke tempat yang jauh. Harapanku hanya satu, rasaku padamu segera hilang. Aku berharap hatiku menyerah untuk mempertahankan sosokmu yang tak pernah goyah.


Namun apa yang terjadi. Keyakinan yang sengaja kubangun ternyata tak pernah sesuai dengan angan dan harapanku. Beberapa bulan aku menjejakan kaki di bumi para nabi. Ummahku memberi kabar tak terduga. Sahabatku, teman seperjuanganku dalam menuntut ilmu agama, kembali ke rahmatullah.


Innalillahi Wainnailaihi Raji'un..


Bagai tersambar petir di siang bolong, kabar itu mengguncang batin serta jiwaku. Bagaimana bisa dia berpulang begitu cepat?Sahabatku, yang menjadi inspirator bagiku menghafal kalam Allah. Tak kuasa air mata ini serta do'a terbaik mengalir deras mengiringi kepergiaannya. Allahu akbar.. lailahailallah.. tempatkan ia di tempat terbaik di sisimu. Tak ada tempat terbaik selain surga baginya, sang pencinta dan penghafal Qur'an.


Belum lama jiwa ini terguncang, lagi-lagi batinku harus terkoyak karena sayatan yang tak nampak. Bagaimana dengannya? Bagaimana kabar bidadariku saat ini? bukankah dia orang yang pertama, yang akan terguncang jiwanya karena kepergian orang tercinta? Subhanallah.. Allahu akbar.. Ingin rasanya aku berlari ke arahnya saat ini, mendekap tubuhnya yang tengah hancur hatinya, menghapus air mata yang kurasa tak akan pernah berhenti mengalir. Namun semua hanya angan dan harap, nyatanya tubuh ini tak bisa kubawa kembali padanya.


Harapan serta do'a yang Abah dan Ummah sandarkan padaku menjadi tanggung jawab besar untuk kujaga amanahnya. Aku menyerah pada anganku. Aku menyerah pada rasaku. Mungkin ini jalanku, takdir yang harus kulalui. Hanya untaian do'a yang tulus kupanjatkan setiap waktunya untuk mereka, terlebih untuk bidadariku. Semoga Allah memberinya kekuatan serta keikhlasan menerima segala ujian yang menimpanya. Aku percaya jika memang kami berjodoh. Sejauh dan selama apapun kami terpisah, Allah senantiasa menyatukan kami suatu saat nanti. Begitupun jika kami tak berjodoh, Allah telah menyiapkan sesuatu yang terbaik untuk kami berdua.


Tujuh tahun sudah aku menimba ilmu di Al Azhar, Kairo, Mesir. Gelar S2 telah ku raih, saatnya aku pulang membawa kebahagiaan dan kebanggaan bagi dua orang tercintaku, Abah dan Ummah serta keluargaku. Sudah tak sabar rasanya menghirup udara rumah yang selama ini kurindukan.


Tiga minggu setelah kembalinya aku dari perantauan panjangku. Hariku kini akan kuhabiskan di tanah kelahiranku bersama orang-orang terkasihku, sekaligus mengamalkan apa yang kudapat di tanah Mesir. Tempat yang dulu menjadi tujuanku untuk melupakan dia dan melebur cinta serta anganku. Kini tempat itu menjadi tempat di mana aku bermetamorfosis menjadi sosok Farid yang berbeda. Sosok Farid yang matang pemikirannya, sikapnya, dan tentu ilmu agamanya.


Aku tak pernah berharap lagi jika cinta ini jatuh kembali pada sosok di masa laluku meskipun rasa itu masih tertanam di sudut hati terdalamku. Aku hanya meminta, Allah menjatuhkan cintaku pada sosok yang Dia dan orang tuaku ridho'i, sosok yang memang dihadirkan untukku, menemaniku hingga Jannah-Nya.


Namun siapa yang tahu skenario Sang Sutradara Kehidupan. Di minggu ketigaku di sini, jalanku kembali mengarah pada sosoknya. Ummah yang begitu kucintai dan kuhormati memintaku untuk segera menikah. Aku yang memang tidak memiliki calon pendamping pun harus rela menerima pilihan yang kedua orang tuaku pilihkan. Hingga akhirnya aku hanya bisa tersentak tak percaya bahwa dia lah yang Ummah dan Abah inginkan menjadi pendamping hidupku.


Belum ada pembicaraan antara kedua keluarga, yang memang dekat hubungannya. Ummah dan Abah hanya memilihnya, selanjutnya mereka memintaku untuk berjuang sendiri meraih wanita itu. Begitu istimewanya dia hingga Abah dan Ummah tidak mempermasalahkan statusnya. Justru aku yang kini di buat gamang. Tujuh tahun berlalu, tapi dia masih tetap setia pada kesendiriannya. Begitu kuat cintanya sehingga ia rela menghabiskan waktunya untuk tetap setia pada kekasihnya yang telah tiada, mengabaikan puluhan laki-laki yang datang mengemis cintanya. Lalu bagaimana denganku? Bisakah aku memperjuangkan cintaku ini atau justru berakhir seperti mereka yang tertolak kehadirannya.


Allahu Rabbi.. padamu kupasrahkan segala urusan, mudahkan jalanku jika ia memang jodohku dan beri aku kekuatan serta keikhlasan hati jika aku bukanlah pilihan hidupnya. Hanya padamu kugantungkan segala harapku. Hanya padamu aku memohon kebahagiaannya...


🍁🍁🍁


AUTHOR PoV


Langkah Zahra terayun memasuki sebuah cafe, tempat di mana ia membuat janji bertemu dengan Farid. Berkali-kali ini mengambil napas untuk menetralkan degup jantungnya. Ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan Farid, tapi inilah pertemuan pertamanya yang hanya ada mereka berdua tanpa pendamping.


Langkahnya kini mulai melambat seiring dengan netranya yang menangkap sosok Farid yang sudah duduk di salah satu kursi di dalam cafe. Zahra kembali mengontrol detak jantungnya, entah kenapa sedari ia turun dari mobil, ia begitu gugup. Padahal sebelum ini ia baik-baik saja bahkan sebelum berangkat ke cafe, ia menjadi asisten dokter utama yang melakukan operasi bedah.


"Assalamu'alaikum," ucap Zahra setelah berada di dekat Farid. Farid mendongak menatap Zahra sejenak seraya menjawab salam.


"Wa'alaikumus salam."


"Maaf jika menunggu lama."


Zahra sedikit tidak enak karena telah datang melebihi waktu janjian mereka.


"Tidak masalah. Kebetulan jadwalku masih free."


"Kamu mau pesan apa?" tanya Farid dengan nada yang sama namun tidak menghilangkan kesan ramahnya.


"Jus alpukat saja," jawab Zahra tanpa memandang Farid.


"Makan?"


"Tidak."


"Oke."


Farid tersenyum tipis melihat sikap Zahra kemudian ia memanggil pelayan.


Cukup lama, keheningan serta kecanggungan menyelimuti mereka berdua. Hingga akhirnya Farid membuka suara.


"Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Farid saat Zahra masih diam membisu.


Zahra menghela nafas lalu membuangnya perlahan sebelum ia menjawab.


"Empat hari lagi aku harus berangkat ke Jakarta," ucap Zahra langsung tanpa basa-basi.


Kening Farid pun mengerut belum faham maksudnya.


"Aku dipindahtugaskan ke sana selama satu tahun lamanya," jelas Zahra seakan tahu maksud dari kerutan di dahi Farid.


Farid masih bergeming menatap wanita di depannya.


"Mengenai ta'aruf kita. Aku menyerahkan keputusan sepenuhnya padamu. Kamu mau mundur atau melanjutkannya. Aku memberikan hak itu padamu. Aku siap menerima apapun keputusan kamu," tutur Zahra tanpa menatap mata Farid.


Ada ketakutan tersendiri menatap manik hitam milik laki-laki di depannya. Ia belum siap melihat kejujuran yang tersimpan dalam di mata itu.


"Jika aku menunggumu, apa ada jaminan kamu menerima lamaranku?"


"Iya?" Zahra tersentak mendengar kata "lamaran" langsung dari bibir Farid.


"Aku tidak ingin penantianku sia-sia. Begitupun dengan kamu, aku tidak ingin kamu terbebani sekaligus dihantui rasa bersalah jika pada akhirnya kamu menolakku."


Zahra menelan salivanya. Jika ia tak mengingat permohonan tak masuk akal dari kakak iparnya atau lupa akan janjinya pada Ummi dan Abi, mungkin ia akan meminta Farid mundur karena ia tak bisa menjanjikan apa-apa apalagi di saat hatinya menolak siapa pun itu.


"Aku akan menerimanya. Aku akan menerima lamaran kamu jika kamu bersedia menunggu," jawab Zahra.


Farid terdiam namun raut wajahnya terlihat berubah dari sebelumnya.


"Kalau begitu siapkan diri kamu. Besok malam aku beserta Abah dan Ummah akan datang ke rumah Abi untuk melamarmu."

__ADS_1


Degg..


Zahra menatap wajah Farid. Ia tidak berpikir jika Farid akan melakukan lamaran sebelum ia berangkat ke Jakarta. Ia belum siap jika harus menikah secepat ini.


"Aku ingin mengikat kamu dengan mengkhitbah kamu lebih dulu. Setidaknya dengan kita bertunangan, aku punya hak untuk berkomunikasi denganmu, aku punya hak untuk mengunjungimu sewaktu-waktu walaupun tidak sendiri. Dan aku juga punya hak untuk.. mengkhawatirkan kamu," tutur Farid seakan membaca isi pikiran Zahra.


Walau nada bicara Farid tidak selembut Hafiz, namun tak bisa dipungkiri hati Zahra sedikit menghangat akan pengertian Farid.


"Sebenarnya ada yang belum aku mengerti hingga detik ini."


Zahra mengambil napas, menjeda kalimatnya.


"Apa yang membuatmu yakin dengan keputusanmu? Apa yang membuatmu tetap memilih menunggu? Sebenarnya jika pun kamu mundur, tidak sulit bagimu memilih perempuan manapun yang kamu mau, bahkan perempuan yang tidak berlabel janda sepertiku."


"Aku hanya memilih wanita yang di ridho'i oleh orang tuaku. Dan jika ridho' mereka jatuh padamu, kenapa aku harus memilih yang lain?" tukas Farid.


"Lalu bagaimana denganmu? tidakkah hatimu memiliki pilihan? Karena barang tentu ridho' orang tua tidak selalu sejalan dengan hatimu."


Farid tersenyum miring mendengarnya.


"Kamu berkata seperti itu seolah kamu menunjukkan sendiri bahwa hatimu tidak sejalan dengan ucapanmu," ucap Farid membuat Zahra terbelalak.


"Aku tahu hatimu belum mau menerima siapapun. Dan aku tahu betul jika sosok Hafiz masih melekat di hati kamu. Tapi setelah kamu memutuskan untuk menerima lamaranku, kuharap kamu mau berusaha menerimaku di hatimu."


Mata Zahra kini mulai berkaca-kaca. Farid benar, sudah seharusnya ia menerima kehadiran laki-laki itu meski hatinya selalu berontak.


"Aku tidak memintamu untuk melupakannya, juga tidak memintamu untuk berhenti mencintainya. Kenang dia sesukamu, cintai dia selama yang kamu ingin. Hanya saja, beri aku sedikit ruang di hatimu untuk kutinggali. Hanya sedikit, kurasa tidak sulit."


Zahra mengalihkan pandangannya, mencoba menghalau air mata yang hendak jatuh.


"Apa kamu.. mencintaiku?" lirih Zahra.


Tidak mungkin Farid dengan penuh keyakinan menjadikan dirinya sebagai istrinya, wanita yang mencintai laki-laki lain. Tidak mungkin juga Farid setegas itu berbicara jika tidak ada cinta di hatinya. Dan akan sulit diterima jika hati kita tidak memiliki rasa itu. Karena terkadang cinta membuat kita rela melakukan apapun demi kebahagiaan orang terkasihnya, termasuk harus terluka sekalipun. Dan itu yang ia tangkap dari sosok di depannya.


"Apa sekarang kamu sudah melihatnya?"


Dengan mata berair, Zahra menatap mata Farid. Rasa itu tampak begitu jelas tersimpan di dalamnya. Pancaran yang sama persis, yang selalu Hafiz tunjukkan padanya.


"Sejak kapan?"


Pandangan Zahra kini sudah berkabut akibat air mata yang menggenang.


"Kamu tidak perlu tahu."


"Katakan," tegas Zahra


"Untuk apa? kita juga tidak bisa mengulangnya ke waktu itu. Biarlah kusimpan rasa ini. Cukup aku dan Allah yang tahu."


"Allahu akbar.. bagaimana bisa..."


Tetesan air mata mulai berjatuhan tanpa henti di wajah Zahra. Farid hanya mampu memalingkan wajahnya. Terlalu sakit melihat bidadarinya menangis.


"Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku. Dengan menerima kehadiranku di hatimu saja sudah cukup bagiku. Kalaupun kelak rasa itu muncul di hatimu, akupun tidak berharap lebih. Karena aku tahu, rasa cintamu padaku takkan melebihi rasa cintamu pada Hafiz."


"Kamu membuatku menjadi sosok yang egois. Kamu membuatku menjadi wanita yang kejam. Bagaimana bisa, aku hidup dengan suamiku tanpa memberinya cinta bahkan di saat cintanya begitu penuh untukku. Lalu dari sisi mana aku bisa meraih surga-Nya, jika kamu saja tak mengharapkan lebih agar aku mencintaimu."


Zahra mulai terisak, beruntung Farid memilih tempat yang sedikit berjarak dengan meja lain ditambah lagi keadaan cafe yang cukup lenggang karena jam makan siang telah lewat satu setengah jam yang lalu, sehingga tak ada yang memperhatikan mereka.


"Bukannya aku tak mengharapkan, aku sungguh mengharapkannya hanya saja aku tak ingin membuatmu semakin terluka dan tersiksa karena aku memaksamu. Biarkan semuanya mengalir apa adanya. Biarkan semuanya menjadi urusan Allah, karena Dia lah Sang Pemilik Cinta. Aku hanya bisa berdo'a agak kelak rasa itu Allah labuhkan di hatimu untukku," tutur Farid.


"Apa kamu mengizinkan hatimu untuk mencintaiku?" tanya Farid saat Zahra masih setia pada tangisnya.


Zahra pun mendongak menatap Farid.


"Jika itu caraku untuk meraih surga-Nya. Kumohon, ajari aku untuk mencintaimu tanpa harus menghapusnya dari hatiku."


Farid tersenyum mendengarnya. Ia pun mengangkat tangannya lalu mengusap puncak kepala Zahra.


"Aku akan membuatmu mencintaiku, jadi persiapkan hatimu untukku," ucap Farid terdengar lembut, bahkan sorot tajam yang biasanya terpancar kini berubah teduh.


"Sudah berhenti menangis. Kamu melukai hatiku," lirih Farid.


Zahra kembali menghapus air matanya, mencoba untuk berhenti meneteskan butiran bening dari matanya.


"Pasienmu akan takut melihat wajahmu sekarang. Sembab, memerah dan bengkak," ucap Farid mencoba mencairkan suasana dengan candaan dan sedikit godaan.


"Sejelek itukah wajahku," sahut Zahra sembari membersihkan sisa-sisa air matanya.


Farid pun terkekeh pelan melihatnya.


"Kamu cantik, tapi tidak secantik biasanya," ucap Farid membuat Zahra memberengut sebal.


Melihatnya, Farid justru semakin terkekeh geli.


Semoga, penggalan cerita ini menjadi awal bermulanya kisah di antara kita. Antara aku, kamu dan cinta kita..


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


OKE, JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK YA😊😊😉😉

__ADS_1


__ADS_2