
Rinduku Di ujung Sepi
Tetesan gerimis yang merinai,
di kelamnya langit senja.
Kulinangkan rindu di ujung mata,
menari indahnya di pelupuk angan.
Raut bayanganmu nan manja,
menerpa di tiap sudut yang sepi.
Kulirihkan namamu di dalam
kenang suaraku yang berharap.
Kasih lihatlah…
Lengkungan tujuh warna warni,
menghiasi langit usai hujan.
bagai bentang selendang mayang,
bertuliskan makna aksara rinduku.
Dan sudah kucoba kirimkan pula,
bersama hembus bayu nan laju.
Berharap ia bakal menepikan,
tentang rinduku yang terbata.
*(sumber by google, https://www.romadecade.org/puisi\-rindu/)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Mobil yang dikendarai Zahra pun berhenti tepat di pekarangan rumah dengan nuansa hijau. Setelah melepas seat belt, Zahra membuka pintu mobil dan keluar. Seperti biasa jika ia singgah di rumah ini, ia akan mengambil napas dalam sembari menutup mata sejenak untuk merasai segala rasa yang pernah singgah di hatinya lalu melepaskannya perlahan bersamaan dengan embusan napasnya. Matanya kini menatap senja yang mulai merambah naik menghiasi langit sore.
"Senja itu indah, tapi hanya sesaat. Sedang hadirmu, walau kelak sudah tak memiliki raga, akan selalu hidup di sini.. di hati Zahra hingga sampai waktunya napas ini Allah minta kembali."
Lagi, sepotong ingatan masa lalu hinggap untuk kembali menggores luka. Selalu seperti ini. Hal apapun yang tampak di ujung matanya, menuntunnya kembali pada bayangan akan sosoknya. Bedanya, seiring berjalannya waktu luka itu tak membuat dirinya tenggelam dalam genangan air mata yang seenaknya membanjiri pipi mulusnya.
Kini ia lebih kuat karena benteng yang ia bangun lebih kokoh dari sebelumnya. Desakan hebat apapun kini mampu ia halau karena bukan sekali dua kali ia diuji. Ribuan liter air mata sudah pernah ia jatuhkan untuk mengiringi setiap ujian hidup yang rasanya tak pernah surut. Silih berganti untuk menguji kesabaran serta imannya.
Jika ingin mengadu, mungkin satu kalimat yang ingin ia lontarkan pada tuhannya, "Allah sudahi segala perih dalam hati ini". Namun apa yang akan ia dapat dari keluhan yang ia panjatkan? Sungguh wanita ini sangat tahu, betapa Allah menyayangi dirinya, betapa Allah peduli padanya hingga berkali-kali ia dihujam oleh ujian hidup yang seakan tak pernah berhenti.
Ia tahu Allah tengah menguatkannya melalui luka ini. Ia tahu Allah mencoba menaikkan kedudukannya melalui perih yang tak berujung. Ia percaya Allah telah menyiapkan tempat yang teramat baik sebagai hadiah dari kesabaran serta keikhlasannya. Dan satu hal yang ia sadari hingga detik ini. Allah selalu bersamanya dalam mengarungi lautan kesedihan yang ia jalani selama ini.
* * * * *
"Ummiiii," pekik seorang anak laki-laki yang sebentar lagi menginjak usia enam tahun. Malaikat kecil yang selalu menjadi penguat jiwanya. Sosok putih yang menjadi lentera setelah matahari redup di peraduan. Sosok yang menjadi alasan ia tetap kokoh bertahan dari segala badai kehidupan yang menerpa.
__ADS_1
ATHALLAH RAFFASYA SHAFWAN. Malaikat kecil yang hadir dari buah cintanya bersama sang suami tercinta. Bukti nyata yang mengikat dirinya dan Hafiz dalam ikatan cinta yang suci. Cinta yang selalu terjaga hingga detik ini. Cinta yang Allah naungi hingga kelak bermuara di singgasana keabadian, yang tak lain bernama, SURGA.
Zahra menyunggingkan senyumnya menyambut kehadiran sang buah hati. Ia turunkan tubuhnya mensejajarkan tubuh mungil itu dan merentangkan kedua tangannya. Raffa berlari dan berhambur ke dalam pelukan Zahra. Tak jauh di belakang bocah kecil itu, sosok malaikat lain tampak tersenyum ke arahnya.
"Affa kok keluar?" tanya Zahra pada bocah tampan dan menggemaskan itu.
Sebuah cengiran terbit di wajah Raffa.
"Affa kangen sama Ummi," jawabnya polos.
Zahra tersenyum lalu menangkup pipi Raffa dan mengecup kening serta hidung bocah itu dengan lembut.
"Ummi juga kangeeen sama Affa."
"Dengar suara mobil kamu, dia langsung lari keluar, Nduk," tutur Ummi Maryam yang berjalan mendekati keduanya.
Zahra bangkit seraya mengambil tangan Ummi mertuanya untuk ia kecup punggung tangannya.
"Assalamu'alaikum, Ummi," salam Zahra.
"Wa'alaikumus salam. Ya sudah, Nduk, masuk dulu. Kamu makan terus istirahat dulu di sini, pulangnya nanti saja habis isya'," ucap Ummi.
Zahra hanya mengangguk mengiyakan sembari menuntun putra semata wayangnya, masuk ke dalam rumah.
Setelah membersihkan badannya di kamar milik sang suami, Zahra keluar bergabung bersama mertua serta putranya di ruang keluarga.
"Kajian di Masjid sekolah, Nduk. Pulangnya sehabis maghrib katanya," terang Ummi.
"Kamu tidak makan dulu to, Nduk," ucap Ummi saat Zahra mendudukan dirinya di samping Raffa yang tengah asik bermain lego.
"Nanti saja, Mi belum lapar," sahut Zahra yang kini mulai ikut bermain bersama Raffa.
Tawa renyah kini terdengar dari mulut Zahra tatkala bangunan yang mereka bangun roboh dan menampilkan wajah cemberut sang putra tersayang.
"Yah, gara-gara Ummi. Gedung Affa jadi roboh," sungut bocah itu.
Zahra gemas melihat tingkah Raffa. Bibirnya mengerucut lucu. Ia pun dengan gemas mengacak rambut Raffa.
"Ummi. Ih, Affa jadi ndak ganteng lagi kan kayak Abi kalau rambutnya diacak-acak gini."
Lagi, Raffa menggerutu karena ulah sang Ummi. Zahra hanya terkekeh melihatnya sedang Ummi Maryam tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya.
"Sudah, sudah. Mainannya diberesin gih, sudah mau maghrib," Ummi Maryam menengahi.
Adzan maghrib terdengar berkumandang di segala penjuru. Zahra keluar dari kamar mandi usai mengambil wudhu. Ia tersenyum melihat Raffa yang sudah duduk anteng di atas sajadahnya. Zahra menghampirinya, membenarkan peci yang dipakai Raffa sebelum ia memakai mukenanya.
"Uti tidak sholat ya, Ummi?" tanya Raffa heran karena tidak mendapati sang nenek. Zahra menggeleng.
"Uti lagi tidak sholat."
"Kenapa? Kan wajib, Ummi, nanti Uti berdosa loh," ucap Raffa polos.
__ADS_1
"Utinya sedang halangan, jadi dosa kalau Uti sholat."
"Memang halangan itu apa, Ummi? kenapa tidak boleh sholat?"
"Nanti kalau Affa sudah besar, Ummi kasih tahu. Kalau sekarang Ummi jelaskan, Affa juga tidak akan mengerti. Intinya perempuan itu istimewa karena ada waktu di mana Allah kasih mereka istirahat untuk tidak shalat atau mengaji," jelas Zahra yang membuat kening Raffa mengerut dalam.
Bocah tampan itu sudah membuka mulutnya hendak berucap namun Zahra lebih dulu menyela.
"Pokoknya perempuan yang sedang halangan itu tidak boleh sholat, dosa."
Raffa yang mendengarkan penjelasan final dari sang Ummi pun akhirnya manggut-manggut walau sejatinya masih ada yang hendak ia tanyakan atau katakan.
Zahra mengusap lembut puncak kepala Raffa. Ada keharuan dan kebanggaan melihat putranya tumbuh menjadi bocah yang dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata. Ia tak pernah berhenti bertanya apapun yang membuatnya penasaran. Tingkahnya yang aktif seperti anak kecil pada umumnya tak membuat bocah itu bandel. Raffa justru terkesan penurut dan mudah diarahkan. Bahkan di usianya yang terbilang sangat kecil, bocah itu sudah menabung tujuh juz hafalan Qur'an. Abi Ridwan serta Mas Hakam lah yang senantiasa mengawal hafalan bocah itu.
Kecintaan Raffa pada kalam Allah menurun dari sang Abi. Bahkan secara terang-terangan bocah itu menjadikan Hafiz sebagai kiblatnya setelah Rasulullah. Setiap detail yang ada pada diri Abinya, selalu ia tiru. Raffa memang tampak dominan menurun dari sang Abi. Tak ayal Ummi Maryam dan Abi Ridwan mengatakan bahwa Raffa adalah duplikatnya Hafiz. Sosok Hafiz kecil ada dan melekat pada diri Raffa. Dari fisiknya, sikapnya, tutur katanya sama persis seperti Abinya. Wajah tampan yang mirif sang Abi tertempel paten di wajah bocah itu. Kecerdasan yang dimilikinya adalah gabungan dari kedua orang tuanya.
Allah Maha Segala-galanya yang telah menciptakan makhluknya dengan sempurna bahkan dalam urusan cinta sekalipun. Raffa kecil yang tak pernah sekalipun merasakan dekapan hangat seorang Abi tak membuatnya asing pada sosok Hafiz. Rasa cintanya utuh pada sosok itu. Hanya dengan mendengarkan suara tilawah Hafiz yang selalu Zahra putar rekamannya setiap akan tidur dan bangun. Juga cerita-cerita tentang Hafiz yang sering kali keluar dari bibir Zahra ataupun keluarganya yang lain, membuat rasa cinta Raffa pada Hafiz begitu kuat. Raffa begitu menyayangi dan mencintai sosok Hafiz walau kehadirannya tak pernah ia rasakan sekalipun.
Zahra mengusap air mata yang jatuh menetes, mengingat kembali sosok yang begitu ia cintai. Sosok yang hingga detik ini masih bertahta di hatinya. Sosok yang menjadi penguasa seluruh hati dan cintanya.
Takdir begitu kejam memutus ikatannya dengan sang suami melalui kematian. Dunianya hancur seketika, langit seakan runtuh karenanya. Hidupnya seakan tak memiliki arti kala sang Pemilik mengambil kembali miliknya. Cahaya terang dalam hatinya redup begitu saja berganti kegelapan.
Butuh waktu lama Zahra bangkit dari keterpurukkan karena di tinggalkan separuh jiwanya. Dari merangkak hingga tertatih ia menjalani kehidupannya tanpa sosok sang kekasih hati. Beruntung kehadiran keluarga serta sahabatnya yang setia merengkuh kuat hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.
Dan tak lupa kehadiran Raffa yang lahir tepat delapan bulan setelah kepergian Hafiz perlahan mampu mengobati luka hati Zahra walau tak sepenuhnya. Walau sosok dirinya tak sama lagi seperti dulu, namun Zahra telah berusaha menutup luka sayatan di hatinya yang dirasa tak kunjung kering.
Tidak berhenti sampai di situ, lagi-lagi Allah menguji hatinya. Sayatan di hatinya kembali menganga, semakin dalam dan lebar. Satu setengah tahun sepeninggal Hafiz, Bi Inah wanita yang begitu dekat dengannya kembali Allah ambil. Dan yang paling membuatnya seakan tak mampu berdiri lagi adalah kematian kedua orang terkasihnya tiga tahun lalu, Ayah dan Bundanya. Pesawat yang membawa kedua orang tuanya dari Jepang, jatuh ke dasar laut tanpa mampu mengembalikan jasad keduanya. Lagi-lagi Zahra harus tenggelam dalam lautan kepedihan yang menyakitkan. Dalam waktu tujuh tahun ia diuji begitu hebat oleh sang Pencipta. Kehilangan empat orang yang begitu berarti dalam hidupnya.
Sudah ribuan liter air mata jatuh mengiringi kepergian mereka. Namun tak cukup juga Allah memberinya ujian hidup lain. Ujian yang Allah beri kali ini membuat dirinya benar-benar pasrah dan menyerah akan takdir yang Allah tulis untuknya. Ujian yang menyeretnya dalam hubungan yang rumit.
Namun lagi-lagi Zahra harus kembali bersyukur. Penugasannya ke rumah sakit pusat di Jakarta seolah menjadi jawaban atas do'anya. Allah seakan memberinya penyelesaian atas ujiannya yang rumit ini. Satu tahun di sana mungkin bisa membuat Zahra keluar dari lingkaran rumit yang membelenggunya. Dan saat ini yang ia pikirkan adalah Raffa. Zahra harus menyiapkan batinnya karena harus berpisah sementara dengan putra tersayangnya juga kedua mertuanya yang sudah seperti orang tuanya sendiri.
Sebuah tangan mungil mengguncang tubuhnya. Lamunannya buyar seketika kala suara melengking milik Raffa terdengar memecah gendang telinganya. Zahra pun menatap Raffa dengan tatapan bingung.
"Ummi kaget dengar suara teriakannya Affa tapi Ummi diam saja saat mendengar suara kerasnya Mbah Kholil yang sedang qomat," tegur Raffa dengan wajah memberengut.
"Astaghfirullahal'adzim.."
Zahra beristighfar, ia terlalu larut dalam lamunannya hingga tak mendengar qomat yang sudah dikumandangkan.
"Ummi ambil wudhu dulu ya, Sayang. Tunggu sebentar."
Zahra beranjak melepas mukena dan berlari ke kamar mandi untuk kembali mengambil wudhu agar fokusnya tidak terganggu.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Saya yakin 100%, bagi sahabat yang membaca part ini akan menaruh kecewa yang teramat dalam karena sosok Hafiz author hilangkan.😭😭🙏🙏
(Hafiznya author kurung di rumah ya).
Tapi tak mengapa dengan menangis dan kecewa artinya sahabat terbawa dan terhanyut dalam kisah ini. Bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Zahra. Ya, itu berarti author berhasil, sukses menjadikan sahabat, menjadi sosok Zahra itu sendiri.
Silahkan bernangis-nangis ria. Author sudah duluan tadi nangisnya, ngetik sambil sesenggukkan. Air mata berderai hebat sampai mata jadi sembab gini, besok pagi pasti sudah diledekin sama suami tercinta karena baperan he.. he.. he.. 🤭🤭
*Ya sudah gitu saja. Pokoknya tetap setia sampai akhir karena Author akan menyuguhkan sesuatu yang beda. Tangis, Bahagia, Sweet bikin Baper pokoknya paket komplit deh. Nyesel pake banget kalau sampak berhenti baca hanya karena Aa' Hafiz nya gak ada. (Aa'nya author keukeupin dulu di rumah🤭*🤭)
__ADS_1
Bismillahirrahmanirrahim.. Happy Reading!!