
"Dan kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?"
(Q.S al-Furqan : 20)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Tepat setelah Alarm Darurat berbunyi kemudian di susul panggilan telpon dari dokter Anandya, Zahra bergegas menuju IGD meninggalkan Kayla yang masih belum sadarkan diri. Dengan langkah cepat sama seperti dokter lain saat menerima panggilan darurat, Zahra berlari sekencang mungkin menuju lift. Berkali-kali ia memencet tombol pada sisi pintu lift agar pintu itu segera terbuka, hingga tak berselang lama salah satu pintu dari tiga pintu lift yang ia tekan tombolnya, terbuka. Zahra pun bergegas menuju pintu lift tersebut.
Langkah Zahra sempat terhenti sesaat saat melihat Habibi dan Meysha berada dalam satu lift dengan jarak yang lumayan dekat. Dengan tangan mengepal seolah tengah menyalurkan kekuatan pada seluruh tubuhnya, Zahra masuk ke dalam lift dengan menyunggingkan senyuman tipisnya pada keduanya. Berkali-kali ia beristighfar dalam hatinya, meminta kekuatan agar hatinya tak kembali terpancing emosi yang menguras batinnya.
Keheningan menyelimuti ketiganya, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga pintu lift terbuka di lantai satu di mana IGD terletak. Tanpa berkata apapun, Zahra lebih dulu berlari meninggalkan dua orang di belakangnya yang juga ikut melangkah cepat.
Suasana riuh tampak seketika saat kaki itu melangkah masuk ke ruangan yang kini di penuhi para tenaga medis yang tengah bersiap menunggu para korban kecelakaan yang saat ini masih dalam perjalanan. Zahra ikut bergabung bersama tim dokter yang tengah berkumpul untuk melakukan breafing singkat mengenai penanganan terhadap pasien korban kecelakaan. Dari dua belas dokter bedah tersisa empat dokter bedah umum termasuk Zahra yang di tugaskan di IGD untuk membantu menangani korban kecelakaan dan lainnya bersiap di ruang operasi karena kemungkinan besar akan ada korban yang harus menjalani pembedahan darurat.
"Korban terlaporkan berjumlah 14 orang dengan luka yang tentunya berbeda, jadi jangan lupa untuk melakukan intervensi penyebab lain dari dampak kecelakaan dengan cepat agar tidak berdampak trauma yang lebih parah dan berkepanjangan. Dan jika korban sudah pasti mengalami cedera trauma parah yang memerlukan tindakan operasi, maka segera koordinasi dengan penanggung jawab kamar operasi agar segera dilakukan tindakan tanpa harus melakukan CT Scan terlebih dahulu," terang seorang dokter kepala yang segera di respon oleh semua dokter termasuk Zahra dan Meysha.
Tak lama bunyi sirine ambulan terdengar saling bersahutan dan berhenti tepat di depan gedung IGD. Petugas IGD dan para perawat pun dengan sigap berlari keluar, mengambil alih para korban yang dikeluarkan dari mobil ambulan.
Bunyi derit terdengar menguasai seluruh ruang IGD dari brankar-brankar yang berisi para korban, didorong oleh para petugas medis. Dengan segera Zahra dan para dokter lainnya menghampiri korban-korban tersebut. Zahra menangani seorang perempuan muda yang tampak setengah sadar. Ia mengecek tanda-tanda vital pada korban tersebut dan memastikan tidak ada trauma lain yang dialaminya.
Tepat ketika Zahra berbalik hendak memberi perintah pada salah satu perawat, sebuah brankar berisi korban lain didorong melewatinya. Dalam sekejap tubuh Zahra membatu dengan mata terbelalak. Kini ia tampak limbung dengan tubuh sedikit bergetar. Jika saja perawat yang ia panggilnya tidak menyangga tubuhnya mungkin ia sudah merosot ke lantai.
"Dokter Zahra baik-baik saja?" tanya perawat itu terdengar sedikit cemas sembari membantu menegakkan tubuh Zahra.
Zahra menatap kosong perawat itu lalu beralih menatap brankar yang baru saja melewatinya. Pikirannya masih belum sadar betul dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Farid," gumamnya pelan.
"Dokter Zahra," panggil perawat itu sedikit keras sembari mengguncang tubuh Zahra.
Seketika Zahra tersadar dari kelimbungannya dan segera beristighfar.
"Dokter?"
"Segera bersihkan dan balut lukanya pasien itu. Nanti saya kembali lagi," titah Zahra pada perawat itu seraya melangkah menghampiri brankar di mana Farid terbaring.
Dengan langkah gontai dan tubuh sedikit bergetar, Zahra mendekati tubuh Farid yang terbaring tak sadarkan diri. Perlahan air matanya menetes menyaksikan darah keluar dari pelipis laki-laki itu.
"Dokter Zahra?" panggil dokter Anindya yang tengah memeriksa kondisi Farid.
Wanita itu heran menatap wajah rekan kerjanya yang sudah basah dengan air mata. Seperti faham, dokter Anindya menatap bergantian wajah Zahra dan pasiennya.
Zahra mengabaikan panggilan dokter Anindya juga tatapan heran dari perawat yang mendampingi, ia semakin mendekat ke arah Farid dan berdiri tepat di samping brankarnya.
"Kenapa kamu ada di sini? Bangun, Farid," ucap Zahra di sela tangisnya, ia menguncang pelan lengan Farid berharap laki-laki itu sadar.
"Dokter Zahra," peringat dokter Anindya.
"Apa ada luka serius?" tanya Zahra dengan isakkan tertahan.
"Tidak ada luka serius di tubuhnya, kecuali tulang selangkanya yang patah. Ketidaksadarannya pun kemungkinan besar disebabkan karena syok. Namun kita tetap harus memastikan pasien dengan melakukan CT Scan terutama bagian tulang yang patah dan kepalanya. Aku khawatir ada pendarahan di dalam sana," jelas dokter Anindya.
Zahra mengembuskan napasnya dengan berat sembari mengusap wajahnya. Ada sedikit kelegaan mendengar penjelasan dari dokter anindya. Ia pun beralih menatap bahu Farid dan mengecek separah apa patah tulang yang dialami tunangannya itu.
"Tunggu apa lagi segera lakukan CT Scan," titah Zahra tegas pada perawat yang mendampingi dokter Anindya.
"Ba-baik dokter," perawat itu tampak tergagap namun segera berlari keluar ruang IGD untuk memastikan ruang CT Scan.
"Berdo'a saja semoga tidak ada hal buruk lainnya terjadi," tenang dokter Anindya menepuk pundak Zahra sebelum ia beranjak meninggalkan Zahra.
Zahra menatap lekat wajah Farid. Ada sesak di dalam dadanya saat melihatnya terbaring dan tak sadarkan diri. Bayangannya kembali mengarah pada tujuh tahun lalu, di mana posisi Hafiz saat itu terluka parah. Ia membayangkan bagaimana Hafiz meregang nyawa tanpa ada dirinya di samping laki-laki itu. Setetes air mata kembali keluar dari pelupuk matanya yang sudah sembab.
"Jangan membuatku mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya. Cukup Hafiz seorang yang pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini, tidak denganmu. Aku mohon Farid, apapun akhir dari kisah kita nanti.. bertahanlah untuk saat ini. Aku mohon.. ," lirih Zahra sembari meraih tangan Farid dan menggenggamnya erat.
Zahra menurunkan tubuhnya di sisi brankar dan menelungkupkan wajahnya di atas tangan yang digenggamnya.
"Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku dengan cara seperti ini," lirihnya dengan suara tertahan.
__ADS_1
Dua hal yang tidak di sadari oleh Zahra saat ini yaitu air mata yang keluar dari sudut mata Farid dan air mata yang mengaliri sayatan di hati seseorang yang sedari tadi memandangnya dengan hati terluka.
Zahra masih setia menunggu Farid yang hingga kini belum sadarkan diri. Sudah satu jam lebih sejak para korban kecelakaan selesai ditangani semua oleh para tenaga medis kini IGD tampak lenggang karena beberapa pasien dengan luka tak terlalu parah sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Sedang tiga korban dengan trauma parah tengah dalam penanganan operasi, sisanya masih terbaring di IGD menunggu hasil CT Scan dan proses pendataan sebelum pemindahan ke ruang rawat inap.
"Ini hasil CT Scan nya, kamu bisa melihat hasilnya dan memutuskan sendiri tindakan apa selanjutnya," dokter Anindya menyerahkan hasil CT Scan milik Farid.
Zahra mengamati dengan detail hasil CT Scan milik Farid. Helaan napas terdengar seiring perasaan lega yang kini menyelimutinya. Lafal tahmid pun tak henti-hentinya keluar dari bibirnya.
"Terima kasih, dok," ucap Zahra seraya menyunggingkan senyuman kecilnya.
Dokter Anindya terkekeh pelan melihat sikap Zahra yang baru kali ini ia lihat. Sosok cantik, cerdas, anggun dan tenang ini tiba-tiba tampak kacau hanya karena melihat kondisi seorang laki-laki yang dokter Anindya sendiri tidak tahu apa hubungan keduanya.
"Alhamdulillah, Allah masih sayang padanya sehingga tidak ada luka serius yang dialaminya," ucap dokter Anindya. Zahra mengangguk mengiyakan.
"Ehm.. tapi ngomong-ngomong, siapa laki-laki tampan ini sampai membuat SEORANG DOKTER ZAHRA menjadi kacau?" lanjutnya seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Zahra terbelalak mendengar ucapan penuh tekanan dan godaan dari teman seprofesinya.
"Dia.. ehm.. sudahlah saya mau mengurus pemindahannya ke rawat inap dulu," putus Zahra dengan pipi bersemu merah.
"Cie.. ada yang sedang malu. Lihat tu pipinya sampai merah gitu," goda dokter Anindya.
"Apaan sih, dok. Ih, biasa saja kali," sangkal Zahra menyembunyikan wajahnya sembari melangkah meninggalkan dokter Anindya.
"Ha.. ha.. ha.. bakal pada patah hati massal tu para dokter jomblo," ucap dokter Anindya setengah berteriak ke arah Zahra yang semakin menjauh.
* * * * *
"Eugh.. eugh.. "
Terdengar suara lenguhan pelan dari bibir Farid tepat saat Zahra tengah membaca Al Qur'an usai shalat dhuhurnya. Dengan segera Zahra menutup Al Qur'annya dan bangkit menghampiri Farid.
"Farid," panggil Zahra seraya menepuk lengannya.
Perlahan Farid membuka matanya lalu tersenyum menatap wanita tercintanya.
"Alhamdulillah," ucap Zahra tampak lega.
"Haus, Ra," ucap Farid pelan.
"Jangan bangun, tetap seperti itu. Tulang selangkamu patah dan tidak baik jika kamu gerakkan sekarang," tutur Zahra mencegah Farid yang hendak bangun.
Zahra mendekatkan gelas berisi air dan mengarahkan sedotan ke mulut Farid.
"Terima kasih, Ra,"
"Hmmm.. tunggu sebentar, akan aku panggilkan dokter dulu," ucap Zahra yang langsung disambut kekehan oleh Farid.
Zahra menatap Farid heran karena laki-laki itu tertawa.
"Bukankah kamu sendiri seorang dokter jadi kenapa memanggil dokter lain,"
"Saat ini aku walimu lagipula bukan tugas dan wewenangku memeriksa pasien patah tulang," terang Zahra.
"Tetap diam dan jangan bergerak, aku panggil dokter dulu," ucap Zahra sekali lagi seraya melangkah.
"Ra," panggil Farid membuat langkah Zahra terhenti. Zahra membalik badannya, menatap Farid tanpa berucap.
"Jangan lama-lama, segeralah kembali," tutur Farid yang dibalas senyuman dan anggukan oleh Zahra.
Zahra keluar dari ruang rawat Farid dan berjalan menuju ruang jaga perawat.
"Dokter Zahra?" panggil seseorang membuat langkahnya terhenti. Seorang perawat dengan seragam khusus perawat bedah berlari kecil ke arahnya.
"Dokter Liam mencari anda," ucapnya setelah berdiri di depan Zahra dengan napas terengah.
"Kenapa tidak telpon?"
"Katanya anda tidak menjawab panggilannya,"
__ADS_1
Zahra mengerutkan keningnya seraya merogoh saku sneli-nya. Kini ia tampak bingung karena tidak menemukan ponsel di sakunya.
"Kenapa, dok?" tanya perawat itu.
"Ponsel saya tidak ada," ucap Zahra seraya mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menggunakan ponselnya.
"Dok, dokter Liam memanggil," perawat itu memberitahu seraya mengangkat ponselnya.
"Katakan saya segera ke sana," tutur Zahra yang segera di angguki oleh perawat itu.
Sebelum Zahra menemui dokter Liam, ia terlebih dahulu ke ruang jaga perawat untuk memberi tahu bahwa Farid sudah sadar dan meminta salah satu dari perawat untuk memanggil dokter jaga agar mengecek kondisi Farid. Setelahnya, ia kembali ke ruang rawat Farid untuk berpamitan pada laki-laki itu karena harus melakukan operasi.
* * * * *
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB saat Zahra keluar dari ruang kerjanya. Ia berjalan menuju lift hendak ke ruang rawat Farid yang berada di lantai tiga. Pintu lift terbuka, beberapa orang keluar dari dalam lift salah duanya adalah Habibi dan Meysha. Zahra menghela napasnya, sudah kesekian kalinya ia mendapati mereka berdua bersama.
Sebagai Direktur Rumah Sakit, Habibi memang jarang menggunakan lift khusus petinggi rumah sakit. Ia lebih sering menggunakan lift umum dan berbaur bersama para karyawan atau pengunjung rumah sakit. Namun satu hal yang menjadi pertanyaan Zahra, kenapa dia harus selalu bersama Meysha dengan jarak yang dekat?
Zahra mulai berpikir bahwa Habibi mungkin sudah memutuskan untuk memilih Meysha. Lagipula apa yang salah dari keputusan atau pilihannya. Meysha adalah wanita cantik, baik, shalihah, dan keluarganya pun sederajat dengan Habibi. Jadi kenapa tidak, Habibi memilihnya.
"Ra, mau ke lantai berapa?" sapa Meysha terdengar ramah dan Habibi masih setia di samping wanita itu.
Zahra menarik kedua ujung bibirnya ke arah mereka.
"Ke lantai tiga, Mey, bangsal boegenvil,"
"Hmmm, kunjungan pasien?"
Belum sempat Zahra menjawab, Kayla sudah berteriak memanggilnya.
"Lho Kay, kenapa di sini? bukannya istirahat di ruang rawat," ucap Zahra heran karena gadis itu sudah berdiri dengan sneli membalut hem berwarna cream yang melekat di tubuhnya dan di bahu kanannya tersampir sebuah tas selempang hitam miliknya.
Kayla melirik tajam ke arah Meysha dan Habibi sejenak sebelum akhirnya kembali fokus pada Zahra.
"Aku baik-baik saja, Kak. Oh ya , Kak Zahra pulang sekarang kan?"
"Hmmm, Kay.. kamu tidak apa-apa kan di apartement sendiri?"
"Kak Zahra ada jadwal operasi lagi ya malam ini?" Tanya Kayla yang segera di jawab gelengan oleh Zahra.
"Farid termasuk dalam salah satu korban kecelakaan beruntun, tadi pagi. Sekarang dia dirawat di atas. Jadi sebelum keluarganya dari Semarang datang, aku berencana menemani dia," terang Zahra yang kini tak lagi mempedulikan Habibi maupun Meysha.
"Kak Farid? bukannya dia di Kairo?" ucap Kayla setengah berteriak, matanya membulat sempurna karena terkejut.
"Pagi tadi dia tiba di Indonesia dan.. " Zahra terdiam tidak meneruskan kalimatnya.
"Kayla temenin Kak Zahra ya, agar Kak Zahra tidak sendirian," Kayla menawarkan diri.
Zahra tersenyum sembari menggeleng.
"Tidak untuk malam ini, istirahatlah dulu. Kamu belum sembuh benar, Kay," tolak Zahra halus.
Terlihat bibir Kayla yang mulai mengerucut lucu membuat Zahra melebarkan senyumnya dan menampilkan lekukkan dalam di pipinya.
"Ya sudahlah. Oh ya besok perlu Kayla bawakan baju ganti tidak, Kak?" Zahra mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah aku naik dulu ya, Kay. Kasihan dari tadi Farid sudah menunggu," putus Zahra saat melihat pintu lift kembali terbuka.
"Farid siapa, Ra?" tanya Meysha tiba-tiba.
Zahra yang baru melangkah kembali berhenti dan berbalik.
"CALON SUAMINYA Kak Zahra," timpal Kayla dengan penuh penekanan dan sorot tajam ke wajah Habibi.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
LIKE.. LIKE.. LIKE..👍👍
__ADS_1
KOMEN... KOMEN.. KOMEN...😀😀
VOTE.. VOTE.. VOTE... JANGAN SAMPAI LUPA 😁😁😁✌✌✌