
Zahra menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Semua yang terjadi dalam hidup memang terkadang tidak sejalan dengan angan. Begitupun dengan hidupnya kini. Keraguan serta kebimbangannya tak mampu membuatnya memilih sesuai dengan keinginannya. Ia seakan tertarik paksa oleh takdir yang tak tahu akan membawanya ke mana. Berusaha ikhlas menerima pun nyatanya semakin berat kala wajah orang tercinta semakin lekat memenuhi otaknya.
Sudah tidak ada air mata yang mampu keluar karena mungkin dirinya sudah lelah atau bahkan cairan bening itu mungkin sudah habis tak bersisa karena seringnya ia meluruhkannya. Napas berat pun berkali-kali ia hela dan ia embuskan untuk sekedar mengeluarkan bongkahan yang selama ini menekan jiwanya hingga membuatnya sesak.
Bayangan dua orang laki-laki memenuhi otaknya saat ini. Satu lelaki yang entah mengapa membuat cintanya seakan kembali hidup dan satu lagi lelaki yang mencoba mengetuk keras hatinya dengan kesabaran, perjuangan dan kesetiaan yang baru saja ia sadari setelah sekian lama. Habibi dan Farid.
Zahra menengadah menatap langit malam yang tampak hitam tanpa cahaya. Ada harap serta angan yang ingin ia langitkan pada Sang Pemilik Kehidupan agar jalan hidupnya sedikit dipermudah. Ia merasa beban di pikirannya semakin menumpuk saja setelah keputusan besar terpaksa ia ambil.
FLASH BACK ON
Beberapa jam lalu...
"Apa tidak sebaiknya dipertimbangkan lagi, Nduk? haruskah menunggu berbulan-bulan lagi agar kamu dan Farid bisa menikah?" ucap Ummah saat mereka semua tengah berkumpul di ruang tamu apartemen Zahra.
Zahra sedikit terkesiap mendengar ucapan calon mertuanya.
"Bisa jadi Fitnah, Nduk. Lihat, satu bulan kalian menghabiskan waktu dengan jarak dekat tanpa ikatan suci." Ummi ikut menambahi.
Zahra pun terdiam setengah menunduk mendengarkan para orang tua berbicara padanya.
"Ummah," panggil Abah seakan menegur secara halus karena kalimat yang dilontarkan sang istri seakan menekan sang calon menantu.
"Maaf, Farid yang salah di sini. Seandainya Farid mengizinkan Zahra mengabari kalian semua perihal kecelakaan itu mungkin Farid tidak banyak merepotkan Zahra," tutur Farid yang sudah tidak nyaman melihat raut sendu sang kekasih hati.
Dari empat orang tua di depan Zahra hanya Abi Ridwan yang sedari tadi diam tidak ikut menanggapi. Mata teduhnya menatap iba sang putri menantu. Beliau tahu betul posisi sekaligus gejolak hati Zahra saat ini.
"Ya bukan begitu juga maksud Ummah, Rid. Ummah ha.. "
"Ummah, jangan membuat Zahra mengambil keputusan karena terpaksa. Hargai keputusannya jangan menekannya."
Abah kembali bersuara menghentikan kalimat yang keluar dari bibir Ummah.
"Bah.. Ummah hanya ingin melihat putra kita menikah sebelum kesempatan itu tidak ada lagi untuk Ummah," ucap Ummah dengan wajah sendu.
"Istighfar, Ummah. Kematian hanya Allah yang tahu jangan memprediksi sendiri, itu tidak baik Ummah," ucap Abah.
"Ya, Mbak. Istighfar.. tidak baik berbicara seperti itu. In Sya Allah, sampeyan masih diparingi sehat dan masih bisa menyaksikan mereka menikah nanti," timpal Ummi sembari mengusap punggung tangan Ummah Halimah.
Terlihat Farid mengusap pelan wajahnya usai melihat kesenduan di wajah sang malaikat tak bersayapnya, sedang Zahra semakin dalam menundukkan kepalanya serta kedua tangan saling meremat kuat. Ia mencoba menguasai hatinya agar tak semakin jatuh dalam ketidakberdayaannya.
"Ummah mencoba berpikir positif, tapi kalian semua kan tahu sakitnya Ummah ini tidak ada yang tahu kapan akan menghantarkan Ummah pada kematian. Operasi yang nanti Ummah jalani pun tidak ada yang bisa menjamin keberhasilannya. Jadi, salahkah Ummah jika Ummah ingin melihat putra Ummah menikah dulu sebelum ajal menjemput Ummah?"
Air mata Ummah mulai meluncur perlahan disertai suara dan tubuh sedikit bergetar. Dengan lembut Ummi pun mendekap tubuh Ummah mencoba menenangkan.
Semua orang tahu jika kondisi Ummah Halimah memang sedang dalam keadaan tidak baik terlebih karena Jantung Koroner yang dideritanya yang terkadang sewaktu-waktu membuatnya terkena serangan jantung. Dan sesuai rujukan dokter bahwa Ummah harus segera menjalani operasi pemasangan ring jantung.
"Ummah jangan berkata seperti itu, Farid mohon. Farid masih membutuhkan Ummah di sisi Farid, Ummah pasti sehat sampai nanti Farid menikah."
Farid mulai menurunkan tubuhnya di depan Ummah seraya memeluk lutut wanita pertama yang ia cintai dengan air mata mengalir.
Hati Zahra tertohok melihat semuanya. Langkahnya kini benar-benar tertahan dan semakin berat setelah secercah harapan sempat singgah beberapa jam lalu namun kini seakan rasa itu kembali terhempas.
"Nduk," panggil Abi setelah lama tak ikut menanggapi percakapan.
Zahra mengangkat kepala menatap sang Abi dengan wajah dan sorot mata yang tak bisa digambarkan lagi, betapa terlukanya hatinya saat ini dihadapkan pada pilihan yang teramat sangat berat untuknya.
Abi mengukir senyum di bibirnya seraya mengangguk pelan pada Zahra seakan memberinya kekuatan dan keyakinan bahwa keputusan untuk menikah dengan Farid adalah yang terbaik.
Zahra menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, sebelum ia berucap untuk memberi keputusan.
"Beri Zahra waktu satu bulan, Ummah. Dua minggu lagi, Zahra harus mengikuti Ujian selama satu minggu. Jika semuanya sudah sudah selesai, Zahra akan izin pulang dan.. menikah dengan Farid."
Mendengar ucapan Zahra kini semuanya beralih menatap Zahra dengan tatapan tak percaya.
"Ra, ja.. "
"Zahra mohon, Ummah menjaga kesehatan Ummah sampai hari itu tiba."
Zahra kembali berucap, mengabaikan Farid yang hendak melayangkan protes. Jangankan Farid bahkan luka di hatinya pun ia abaikan. Baginya setelah sepeninggal ayah dan bunda, menjaga hati para orang tua lain adalah yang utama terlebih hati Ummi dan Abinya. Zahra takkan sampai hati melukai hati mereka walau sejatinya hatinyalah yang lebih terluka.
"Tentu saja Ummah akan menjaga kesehatan Ummah, Nduk. Apalagi demi agar bisa menyaksikan kamu dan Farid menikah. Alhamdulillah terima kasih, Nduk," ucap Ummah dengan nada suara berubah bahagia.
Zahra mengukir senyum di bibirnya menyembunyikan luka hati karena keputusan yang terpaksa ia ambil demi kebahagian mereka semua.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
Allah, bantu aku melepas sesak ini. Ringankan beban yang memenuhi hati dan pikiranku. Bantu aku ikhlas menerima takdir-Mu. Jika Farid adalah jodohku, maka jadikanlah dia jodoh sebaik-baiknya jodoh untukku hingga akhir hayatku. Balikkan hati ini agar bisa mencintainya sebagaimana aku mencintai suamiku terdahulu. Dan bantu aku ikhlas melepasnya, melepas anganku pada laki-laki itu.
Zahra memejamkan matanya sejenak mencoba mengubur semua angan serta harapan yang selama ini masih menggelayut di hati dan pikirannya. Dan mencoba menerima takdirnya bersama Farid dengan hati lapang.
"Berhenti menyakiti diri sendiri, Ra," ucap Farid tiba-tiba.
Zahra membuka matanya lalu memutar kepalanya ke arah Farid. Walau sorot matanya tampak sendu namun ujung bibirnya membentuk lengkungan manis yang ia suguhkan untuk Farid.
"Aku tak ingin memaksamu untuk segera menikah denganku. Aku bisa sabar menunggumu hingga kamu siap, Ra."
"Bagaimana jika aku tidak pernah siap untuk menikah lagi? Farid, maaf.. bukan aku ingin menyakiti hatimu. Aku hanya ingin jujur padamu agar tidak ada lagi beban di hatiku yang membuat langkahku semakin berat menerima takdir ini, setidaknya dengan aku jujur tak ada lagi yang perlu aku tahan di depanmu. Tak ada lagi luka yang kusembunyikan darimu. Dengan begitu kamu tahu bagaimana cara memperlakukanku, berperan sebagai penawar bagi lukaku, menjadi pengobat kerinduanku pada Hafiz."
"Zahra,"
"Hingga detik ini, dia masih bertahta di sini. Dia.. " kalimat Zahra terjeda, air mata yang tadi dirasa sudah habis kini justru seakan muncul kembali dengan derasnya.
"Dia takkan pernah bisa pergi dari sini. Dia sudah merenggut seluruh cinta dan rinduku selama ini. Farid, jika aku tak memaksa diriku maka takkan pernah ada waktu di mana aku siap menerima takdir ini. Dengan memaksa diriku, kelak akan ada usaha keras untuk menerimamu dan menempatkanmu sejajar dengan Hafiz di hatiku. Aku tahu, ini mungkin egois dan berakhir menyakiti hatimu karena aku harus berbagi hati antara dirimu dan Hafiz, tapi inilah yang bisa kulakukan. Aku tak bisa melepas Hafiz dari hatiku maupun hidupku, dia ayah dari putraku."
Farid terpaku mendengar pengakuan Zahra. Sesulit itukah dirinya menggantikan kedudukan Hafiz di hati dan hidup Zahra. Sesulit itukah ia mengambil seluruh atensi dan kehidupan Zahra, dengan ketulusan cintanya. Sebegitu tak ada artinyakah perjuangan dan pengorbanannya selama ini untuk bisa meluluhkan hati wanita yang berstatus calon istrinya itu. Lalu sampai kapan ia akan tersakiti dan selalu tersisih. Haruskah ia ikhlas jika rumah tangga yang kelak dijalaninya bersama Zahra hanya akan menabur luka pada hati keduanya? Meskipun sejak awal Farid tidak terlalu berharap jika Zahra bisa mencintai dirinya seperti wanita itu memcintai Hafiz, tapi tetap saja rasanya sakit mendengar pengakuan itu dari bibir wanitanya langsung.
Allah, bantu aku membalikkan hati wanita ini. Bantu aku menumbuhkan cinta di hatinya untukku. Dan bantu aku menggantikan segala kepedihannya dengan kebahagiaan karena hidup bersamaku.
🍁🍁🍁🍁
Hari sudah sangat sore saat Zahra duduk di teras masjid rumah sakit yang sudah tampak sepi dan tak ada seorang pun di sana. Zahra menatap langit senja yang mulai menyapa dunianya dengan wajah sayu. Ia benar-benar lelah sebenarnya jika harus tetap tinggal di rumah sakit dengan pekerjaan yang masih menumpuk. Belum lagi, hati serta pikirannya yang saat ini dalam keadaan tidak sehat, tentu semakin membuatnya lelah berkali-kali lipat.
"Kamu sakit?" tanya Habibi saat melihat wajah sayu Zahra.
Ia pun mendudukkan dirinya di samping Zahra, menyisakan jarak satu meter di antara mereka..
Zahra menatap Habibi sekilas lalu menggeleng lemah.
"Apa ada sesuatu yang membebanimu, hem?"
Zahra menghela napas singkat lalu membuangnya.
"Saya lelah."
"Kalau begitu istirahatlah."
Ia menyandarkan tubuhnya pada tiang penyangga bangunan dengan mata terpejam.
"Kamu mengeluh karena takdir yang Allah tulis untukmu tak sesuai dengan keinginan kamu, hem? Istighfar, jangan menjadi orang yang kufur nikmat," nasehat Habibi dengan suara khasnya lembut namun terdengar tegas.
"Banyak nikmat Allah yang tidak kamu lihat. Kamu hanya fokus pada satu hal yang sangat kamu inginkan namun mengabaikan nikmat yang paling kamu butuhkan," tambah Habibi yang masih belum ditanggapi oleh Zahra.
"Zahra,"
"Bukan bermaksud ingin mengeluhkan takdir. Saya hanya merasa takdir sedang mempermainkan saya saja, menguji saya tanpa henti dengan berbagai macam cara hingga saya seolah tak memiliki daya lagi untuk bangkit," tutur Zahra dengan posisi masih sama.
Habibi menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Setidaknya, apa yang terjadi kemarin tak membuat hubungan mereka renggang dan canggung.
"Saya yakin kamu bisa melalui semua ujian-Nya dengan hati lapang. Saya percaya, kamu wanita yang kuat dan tangguh," ucap Habibi dengan tangan terangkat mengusap kepala Zahra.
Zahra membuka matanya seketika saat merasakan usapan lembut di kepalanya. Ia mengerjap sebentar lalu menatap Habibi. Habibi tersenyum melihat tingkah menggemaskan Zahra.
"Kalau kamu membutuhkan seseorang untuk kamu bagi segala keluh kesahmu. Membutuhkan seseorang untuk menjadi pendengar dari cerita-ceritamu. Ada saya di sini, yang siap menampung semua bebanmu," tutur Habibi dengan lembut dan tatapan hangat.
Zahra menatap Habibi lekat hingga laki-laki itu memalingkan wajah sembari mengulum senyum.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu, Zah. Aku juga bisa malu," gumam Habibi pelan namun masih bisa didengar oleh Zahra.
"Astaghfirullahal'adzim," lirih Zahra yang ikut memalingkan wajahnya.
"Zah," panggil Habibi
"Hmmm... "
"Zahra.. "
"Ya,"
"Dokter Azqiya Hayfa Azzahra,"
"Iya, Pak Habibi."
__ADS_1
Zahra sedikit menggeram karena laki-laki itu terus memanggilnya sedang Habibi justru terkekeh pelan melihat kekesalan di wajah Zahra. Zahra mendelik lalu sedikit memicingkan matanya ke arah Habibi.
"Begitukah caramu memanggil dan bersikap padaku dulu?" tanya Habibi yang langsung dijawab Zahra dengan mata terbelalak.
"Ma-maksud anda?"
"Apa kamu yakin bahwa aku bukan dia? laki-laki yang kamu cintai."
Zahra sedikit tersentak dengan perkataan Habibi. Ia pun mengambil napas dalam dengan mata terpejam.
"Zah?"
"Bagaimana aku tidak yakin jika kamu adalah dia. Bukan hanya wajah, fisik dan suara kamu yang sama, bahkan caramu memanggilku dan semua kalimat yang keluar dari bibirmu adalah miliknya," ucap Zahra pelan namun masih terdengar oleh Habibi.
Giliran Habibi yang terdiam menelaah kalimat yang keluar dari wanita disampingnya itu.
"Tapi aku tidak ingin takdir kembali mempermainkanku, yang membuatku semakin terluka jika pada kenyataannya takdir kita tidak bersama," lanjut Zahra seraya mengingat kembali keputusannya untuk menikah dengan Farid, satu bulan lagi.
"Aku akan menikah.. bulan depan," imbuhnya dengan kepala menunduk.
Habibi terperanjat dengan kalimat itu. Seketika ia memutar kepala lalu menatap lekat wanita tercintanya.
"Jika kamu tersakiti karena keputusan itu, kenapa kamu diam saja? tidak bisakah kamu menolak?"
Habibi tidak percaya dengan keputusan Zahra yang justru semakin menyakitinya.
"Aku tidak punya pilihan lain selain menerima."
"Kenapa?" tanya Habibi terdengar sedikit meninggi membuat Zahra menoleh ke arahnya.
"Kenapa kamu harus melakukan sesuatu yang justru menyakiti hatimu?"
Zahra bergeming.
"Beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku adalah suamimu yang pergi tujuh tahun lalu. Zahra.. "
"Bagaimana jika pada akhirnya kamu tetaplah kamu, Kailash Habibi bukan Hafiz, Habibiku?" potong Zahra dengan sedikit emosi.
"Haruskah harapanku kembali terhempas jika pada akhirnya kita tak bisa bersama. Cukup hatiku meyakini itu, tidak dengan berharap lagi," tambah Zahra.
"Siapa diriku sebenarnya, kurasa sudah tidak penting lagi sekarang ini. Yang jelas, akulah yang mampu mengukir kebahagiaan dalam hidupmu. Zahra, aku tahu haram hukumnya bagi seorang laki-laki melamar wanita di atas lamaran laki-laki lain. Tapi tidak bisakah kamu menikah denganku saja?" tukas Habibi dengan kedua tangan kini berada di bahu Zahra.
"Sudah kukatakan aku tak bisa menolak keputusan untuk menikah dengan Farid."
"Kenapa?"
"Tidakkah kamu tahu, banyak hati yang dipertaruhkan di sini. Hubungan kita hanya akan melukai mereka."
Zahra mengingat bagaimana raut penuh harap Ummah yang tampak memohon padanya untuk segera menikah dengan putranya.
"Zah,"
"Aku tidak sampai hati melukai mereka. Dan bukankah kamu juga sudah berjanji untuk menjaga Meysha. Hatinya akan ikut tersakiti jika kamu mengingkari janjimu pada ayahnya."
Napas Habibi seakan tercengat mendengar kata-kata Zahra yang menyinggung janjinya untuk menjaga Meysha. Wanita itu bahkan sudah memberitahukan isi hatinya pada Habibi, jika Meysha mencintainya. Habibi tampak frustasi, cengkeraman di bahu Zahra pun perlahan terlepas. Ia pun mengusap kasar wajahnya.
"Begitu sulitkah untuk bersamamu, Zah?" lirih Habibi terdengar putus asa.
"Tidak akan sulit jika Allah mengizinkannya. Tapi.. "
Habibi kembali menatap Zahra, ada segenggam harapan yang seakan ingin ia langitkan saat ini juga.
"Mari kita berjuang bersama meluluhkan Sang Penentu jodoh," putus Habibi terdengar memohon.
Zahra tersenyum getir ke arah Habibi.
"Semoga ada kesempatan di mana Allah menyatukan kita di bawah naungan cintaNya," tambah Habibi.
"Amiinn. Semoga malaikat menjadi saksi di hadapan Sang Penentu Jodoh bahwa engkau memintaku pada-Nya," lirih Zahra hampir tak terdengar dengan mata berkaca-kaca.
Kalimat yang sama, yang pernah Hafiz dan Zahra ungkapkan saat pertama kalinya mereka bertemu di pelataran MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah), tempat yang menjadi saksi bisu tumbuhnya cinta di antara mereka dengan Al Qur'an sebagai pengikatnya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Huff... Akhirnya selesai juga part ini. Alhamdulillah..
__ADS_1
OKE, SEPERTI BIASA TINGGALKAN JEJAK (LIKE, KOMEN DAN YANG PASTI VOTE) SETELAH SELESAI MEMBACA PART INI..🤗🤗