
Bandara Soekarno Hatta, 16.25 WIB..
Zahra melangkah sembari menyeret dua kopernya. Bola matanya bergerak menyapu seluruh sudut, mencari kehadiran seseorang yang berjanji akan menjemputnya namun sudah sepuluh menit berlalu sosoknya belum tampak juga. Karena tidak fokus pada jalanan di depannya, dengan tidak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang yang juga tengah menyeret koper.
"Maaf," ucap Zahra dengan posisi membungkuk, mengambil koper yang terhempas.
Belum sempat ia mendongak melihat sosok yang ia tabrak, panggilan seseorang mengalihkan perhatiannya.
"Fariz," gumam Zahra seraya berdiri dan menghampiri saudara sepupunya, mengabaikan sosok yang masih terdiam menatapnya tanpa suara.
"Masyaallah. Ini beneran kamu, Riz?" tanya Zahra dengan tatapan takjub.
"Iya lah, memang siapa lagi. Kenapa ganteng ya?" ujar Fariz disertai kekehan kecil.
"Ya, seragamnya," sahut Zahra ikut terkekeh.
"Subhanallah ni anak ya, memang paling bisa kalau ngomong. Tidak tahu apa ni Aa' Fariz, idola sekaligus rebutan para pramugari."
Sombong Fariz sembari menepuk dadanya.
"Oh, masa sih? jangan-jangan kamu genit ya selama kerja. Awas saja, nanti aku laporin ke A' Manan."
"Eits.. enak saja main lapor-laporan. Aku masih sayang nyawa kali."
Zahra tertawa melihat ekspresi ketakutan Fariz.
Sosok Mannan memang selalu menjadi momok menakutkan bagi Faris maupun Ardhan, sepupunya yang lain. Sosoknya yang agamis dan tegas sesuai dengan profesinya sebagai TNI, berbanding terbalik dengan saudara kembarnya Hannan yang berprofesi dokter dengan sifat yang lebih cenderung hangat dan slengek'an.
Fariz adalah anak bungsu dari Mamah Rina dan Papah Adit, kakak kedua Bunda Mia. Adik dari si kembar yang kini berprofesi sebagai co.pilot di salah satu perusahaan penerbangan. Sifatnya gabungan dari kedua kakaknya, hangat dan bersahabat namun berubah menjadi pendiam dan dingin jika berhubungan dengan orang lain terlebih yang baru saja dikenal.
"Kamu habis terbang dari mana?" tanya Zahra.
"Bangkok," jawab Fariz singkat yang ditanggapi anggukan oleh Zahra.
"Di sini kamu rencana tinggal di rumah Mami juga?"
"Belum tahu, kemarin sih dokter kepala bilang pihak rumah sakit sudah menyiapkan apartemen khusus pegawai untuk kutinggali tapi lihat nanti saja."
"Kamu sendiri, tinggal di rumah Mami atau sudah rumah sendiri?" imbuh Zahra.
"Rumah Mami, si Ardhan tidak mau aku tinggal. Tahu tuh anak, besar badannya doang tapi manjanya naudzubillah," ucap Fariz sembari menggelengkan kepalanya, Zahra hanya tertawa pelan mengingat dua sepupunya yang hanya beda satu tahun usianya dengan dirinya.
Dalam hati ia bersyukur karena semua saudaranya rukun dan saling menyayangi, para orang tua pun juga tak pernah membeda-bedakan mereka.
Keduanya pun melangkah keluar gedung bandara sembari berbicara banyak hal. Tak ada yang menyadari bila sepasang mata sedari tadi menatap keduanya dengan wajah yang sulit diartikan.
☘️☘️☘️
Zahra menatap gedung tinggi dan besar di depannya. Bangunan yang akan menjadi tempatnya bekerja selama satu tahun ke depan. Zahra pun melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut. Suasana di dalam gedung tampak masih lengang, hanya beberapa pengunjung dan pegawai rumah sakit yang berlalu lalang.
Ia menggerakkan kakinya menuju bagian informasi untuk menanyakan ruang direktur rumah sakit. Setelah mendapat jawaban dari petugas informasi, ia pun segera bergegas menuju lift yang berada tak jauh dari tempat ia bertanya. Lantai 7 adalah tujuannya. Saat pintu lift sudah terbuka, ia pun masuk bersama tiga orang lainnya.
"Zahra kan?" ucap seseorang sembari menepuk pelan pundak Zahra.
Zahra menengok ke arah sumber suara dengan mata sedikit menyipit.
"Meysha?"
Wanita itu mengangguk dengan senyum merekah lalu memeluk Zahra.
"Masyaallah, Mey. Apa kabar?" tanya Zahra usai pelukan mereka berakhir.
"Baik, Ra. Kamu sendiri bagaimana? kok bisa ada di sini?"
"Aku dokter transfer dari Rumah Sakit cabang Semarang," terang Zahra membuat Meysha terbelalak.
"Jadi kamu dokter transfer yang menggemparkan departemen bedah, pantas saja."
Zahra mengerutkan keningnya saat mendengar penuturan Meysha, teman semasa kuliahnya dulu.
"Maksudnya?"
"Ya, sejak Departemen Bedah mendapat kabar akan kedatangan dokter transfer. Semuanya jadi gempar."
"Memangnya kenapa?"
"Ya bagaimana tidak gempar, kalau departemen yang hampir seluruhnya dihuni para lelaki itu kedatangan bidadari seperti kamu," terang Meysha.
"Tapi, Ra, bukannya waktu itu kamu berencana ambil spesialis Anak? kenapa sekarang nyasar ke Bedah?" imbuh Meysha.
"Aku ambil spesialis anak kok, hanya saja kebetulan dapat beasiswa untuk spesialis bedah jadi aku ambil sekalian."
"Masyaallah hebat kamu, Ra."
"Alhamdulillah, Mey," ucap Zahra seraya tersenyum.
"Oh ya, kamu mau ke ruang Kepala Pelayanan Medis ya? bagaimana kalau aku antar?"
"Di surat dan berkas pengantar penugasan, langsung tertuju pada Direktur."
"Direktur hari tidak ada di tempat, aku antar kamu ke ruang Kepala Pelayanan Medis saja ya."
Tanpa berpikir panjang, Zahra pun mengangguk.
Tak lama pintu lift terbuka di lantai 7, Zahra dan Meysha bergegas keluar menuju ruangan Dokter Kepala Pelayanan Medis.
"Ra, maaf aku tidak bisa menemani kamu masuk. Sudah waktunya aku tugas," ucap Meysha.
"Tidak apa-apa, Mey. Terima kasih banyak ya sudah mengantar sampai sini."
"Sama-sama, Ra. Oh ya ini nomor aku, kamu save terus hubungi aku ya biar bisa aku simpan kontak kamu. Terus kalau ada apa-apa jangan sungkan, bilang saja padaku."
Zahra mengangguk sembari tersenyum manis.
__ADS_1
"Ya. Sekali lagi terima kasih ya, dr. Adeeva Meysha Almaira."
"Ha.. ha.. ha.. ya, ya.. dr. Azqiya Hayfa Azzahra. Kalau begitu aku pamit ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus salam."
Zahra menatap punggung Meysha yang sudah menjauh dan hilang di balik pintu lift. Sebelum mengetuk pintu, Zahra mengambil napas dalam untuk menetralisir rasa gugupnya. Bagaimanapun ini adalah hari pertamanya, jelas ada rasa gugup saat harus bertemu orang baru.
* * * * *
"Direktur berpesan untuk satu minggu ke depan, anda bisa bertugas di IGD untuk sementara waktu sambil menunggu beliau kembali dari Jerman. Beliau sendiri yang nantinya akan menjelaskan secara detail lingkup pekerjaan anda berikut hal lainnya selama anda berada di sini," tutur Wanita setengah baya yang masih terlihat masih sangat cantik.
Di meja kerjanya terpampang jelas namanya "dr. Amilia Dewi Arrasyid, Sp.PD-KKV, MKes. - Kepala Pelayanan Medik". Zahra hanya merespon perkataan dokter kepala dengan senyuman manisnya.
"Tunggu di sini sebentar, saya sudah memanggil seseorang untuk membantu anda selama satu minggu ke fepan," tutur dokter Amilia lagi.
Tak lama pintu terdengar dibuka dari luar menampakkan gadis yang tak kalah cantiknya dari dokter Amilia
"Ada apa sih, Tan. Kok panggil aku ke sini?" ucap gadis itu seakan tidak sadar akan kehadiran Zahra.
"Kebiasaan kamu, Kay. Salam dulu kenapa." tegur dokter Amilia.
"Maaf, Tan soalnya aku lagi sibuk nih."
"Ya sudah sekarang duduk, Tante mau bicara sama kamu."
Tanpa menjawab gadis itu pun duduk di sofa seberang Zahra.
"Dokter Zahra perkenalkan ini dokter Kayla yang nanti akan membantu anda selama satu minggu di IGD," terang dokter Amilia, Zahra tersenyum lalu mengarahkan pandangannya pada gadis yang bernama Kayla.
Gadis itu sempat terpaku menatap Zahra namun detik kemudian dia tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya.
"Kayla," ucapnya.
Gadis itu bername tag "dr. Kayla Salsabila Putri Arrasyid". Zahra tersenyum seraya menyebutkan namanya. Setelahnya, tanpa diduga Kayla menarik tangan Zahra.
"Ya sudah, Tan, aku bawa Kak Zahra ke IGD sekarang ya," pamitnya dengan antusias.
Zahra dan dokter Amilia hanya bisa mengerutkan keningnya, aneh dengan sikap Kayla, terlebih kata "Kak" yang ia sematkan sebelum nama Zahra.
Zahra sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah dokter Amilia seraya berpamitan walau tangannya sudah ditarik oleh Kayla keluar ruangan.
"Kak Zahra aslinya lebih cantik ya", ucapnya terdengar akrab.
Zahra kembali mengerutkan keningnya sembari tersenyum kikuk.
"Tidak usah gugup Kak. Pegawai IGD orangnya baik-baik kok tapi kalau ada yang berani macam-macam ke Kak Zahra, bilang saja ke Kayla biar Kayla yang urus," ucapnya sembari melangkah membawa Zahra ke lantai bawah tepatnya ke ruang IGD.
"Kak?"
Zahra mulai bersuara setelah terdiam lama. Kayla tersenyum manis bahkan sangat manis.
"Boleh ya kalau Kayla panggil dokter Zahra dengan panggilan Kakak? soalnya usia Kak Zahra di atas Kayla," tutur Kayla terdengar polos.
Lucu sebenarnya melihat wajah menggemaskan Kayla.
"No.. no.. bukan itu maksud Kayla, maksud Kay.."
"Ya, tidak apa-apa. Suka-suka kamu saja mau panggil saya apa," potong Zahra.
Mendengar ucapan Zahra bernada pasrah, Kayla ikut terkekeh.
"Biasa saja dong, Kak bahasanya. Tidak usah pakai "Saya" kesannya kita bos dan bawahan saja he.. he.. he,"
"Belum terbiasa, Kay."
"Okelah kalau begitu, senyamannya Kak Zahra. Kayla ikut saja."
Selama perjalanan keduanya tertawa hingga tak sadar sudah sampai di depan pintu ruang UGD.
☘️☘️☘️
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa satu minggu sudah Zahra bekerja di tempat barunya. Selama itu ia cukup terhibur dengan sikap Kayla yang hangat dan bersahabat. Gadis itu memang pandai dan mudah bergaul, bahkan karena sikapnya yang berbeda pada Zahra membuat mereka terlihat seperti kakak beradik.
Zahra turun dari mobilnya yang terparkir di tempat parkir khusus pegawai Rumah Sakit. Dua hari lalu Papah Adit datang membawa mobil keluarga untuk diberikan pada Zahra agar bisa digunakan selama tinggal di Jakarta. Zahra sempat menolak pada awalnya namun Papah Adit dan Papi Erlan menyakinkan bahwa mobil itu milik ayahnya yang memang sengaja ditinggalkan di Bandung.
Zahra melangkah meninggalkan tempat parkir dan berjalan menuju pintu masuk gedung Rumah Sakit. Pagi ini wajahnya tampak cerah, semangatnya pun terasa menggelora. Entahlah, sejak ia mendapat pesan dari Farid pagi ini, senyumnya seakan tak ingin luntur.
Pagi ini mantan Ketua Rohis itu tiba-tiba mengirim pesan padanya. Ini kedua kalinya laki-laki itu mengirim pesan setelah satu minggu lalu hanya menanyakan apakah ia sudah sampai Jakarta dengan selamat. Pesannya kali ini memang berbeda dan sedikit membuka sisi lain seorang Farid.
"Assalamu'alaikum Bu dokter. Bagaimana kabarnya hari ini? semoga selalu baik dan dalam lindungan-Nya, aamiin. Hanya ingin mengingatkan saja, jangan lupa untuk selalu menjaga diri, menjaga shalatnya dan menjaga kesehatannya. Dan semoga hari-hari ke depan terlalui dengan mudah dan bahagia. Keep Hamasah, calon Makmum 💪💪 Do'aku selalu menyertaimu."
Lagi dan lagi senyum Zahra mengembang mengingat pesan Farid. "Keep Hamasah, calon Makmum".. merasa baperkah dirinya dengan kata-kata dari Farid? entahlah Zahra pun tak tahu.
"Ehemm," deham seseorang mengembalikan fokus Zahra.
"Kenapa, Kay?"
"Kok malah tanya Kayla yang kenapa? Kak Zahra tu yang kenapa, dari tadi senyum-senyum sendiri, tidak jelas."
"Masa sih?"
"Hayo kenapa? habis di.."
"Aku shalat dhuha dulu ya, Kay, mumpung lagi agak senggang pasiennya," potong Zahra seraya bangkit meninggalkan Kayla.
Zahra bukanlah tipe perempuan yang terbuka, yang dengan mudahnya menceritakan apa yang terjadi atau yang ia rasakan, pada orang lain. Dia begitu erat menggenggam privasinya, rasanya tidak nyaman jika orang lain tahu kehidupannya terlebih yang berhubungan dengan masa lalunya.
Seperti biasa setelah menunaikan shalat sunah dhuha dan berdzikir sebentar, ia pun melipat mukenanya dan menaruhnya kembali di almari. Zahra pun beranjak meninggalkan Masjid. Namun tak berselang lama ia berlari kembali memasuki bangunan suci itu. Air mukanya sudah berubah dari sebelumnya. Ia terlihat panik, menyusuri setiap sudut area shalat khusus wanita dengan wajah yang menahan tangis.
"Allahu akbar, jatuh di mana sih? kok bisa tidak ada di mana-mana," gumamnya dengan suara sedikit bergetar.
Sudah lebih dari sepuluh menit ia mencari ke seluruh sudut Masjid, berharap benda yang teramat berharga baginya itu bisa segera ia temukan. Tak sadar air mata sudah lolos membasahi wajahnya sembari bibir terus mengangungkan asma' Allah.
__ADS_1
"Bantu hamba menemukannya Ya Allah," lirih Zahra.
Dari yang hanya lelehan air mata kini mulai terdengar isakan kecil dari bibirnya. Zahra terduduk pasrah merasa menyerah, karena sudah mencari ke mana-mana namun nihil. Benda kesayangannya, tasbih pemberian sang suami yang selalu ia bawa ke mana-mana kini entah di mana keberadaannya. Padahal seingatnya setelah berdzikir dan melipat mukena, ia memasukannya ke kantung sneli-nya.
Zahra menutup wajahnya yang sudah banjir air mata. Ada rasa kehilangan yang teramat saat benda itu tak lagi berada dalam genggamannya, hampir sama saat sang pemilik sebelumnya pergi meninggalkannya.
"Apa ini milikmu?"
Degg..
Suara seorang laki-laki membuat tubuh Zahra membatu seketika.
"Maaf, apa ini milikmu?"
Sekali lagi laki-laki itu bertanya.
Perlahan Zahra menurunkan kedua tangannya. Tatapannya kini menatap benda yang menjuntai tepat di depannya. Tanpa menatap orang yang berdiri di depannya, Zahra mengulurkan tangannya yang gemetar hebat tepat di bawah ujung tasbih. Setelah laki-laki itu melepas tasbih tersebut, tanpa berkata apapun Zahra mendekap erat benda itu dengan isak tangis yang terdengar seakan mengiris ulu hati. Laki-laki itu perlahan meninggalkan Zahra sendiri.
"Habibi," lirih Zahra dalam tangisnya, dekapannya semakin erat seolah ia takut kehilangan benda itu.
Laki-laki yang sudah berbalik meninggalkan Zahra itupun berhenti melangkah. Lalu perlahan memutar kepalanya ke arah samping.
"Saya harap kamu tidak menunjukkan tangismu ini lagi pada orang lain. Itu hanya akan membuat orang lain menderita karena mendengarnya," ucapnya lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Zahra.
Seketika tangis Zahra pecah. Semua rasa yang bergejolak dalam hatinya seakan tak mampu ia tampung lagi. Tubuhnya seakan tak memiliki penyangga lagi, ia luruh di lantai masjid yang beralaskan karpet. Dengan tubuh dan suara tangis yang bergetar, Zahra masih setia mendekap erat tasbih itu.
"Habibi," lirih Zahra berkali-kali seraya menatap punggung yang sudah semakin menjauh.
Kalimat yang berbeda namun dengan makna yang sama, keluar dari bibir seseorang yang berbeda namun terasa tak asing baginya.
* * * * *
Setelah hampir satu jam Zahra larut dalam genangan air mata, ia kembali ke ruang IGD dengan langkah gontai. Jiwanya seakan melayang meninggalkan raganya, pandangannya menatap kosong kedepan. Jika ini mimpi maka ia berharap bisa segera terbangun namun jika ini nyata maka ia berharap ia kembali pada kesadarannya.
Mungkin karena terlalu fokus pada rasa takut akan kehilangan tasbih pemberian sang suami, maka ia berhalusinasi bahwa laki-laki yang menemukan tasbih tersebut adalah sosok Hafiz. Namun satu hal yang ia sadari, ada getaran hebat yang ia rasakan kala dekat dengan laki-laki itu. Dan yang membuatnya seolah seperti orang gila adalah suara itu. Suara yang berkali-kali membuatnya jatuh pada pesona suaminya.
Selain Allah menciptakan tujuh orang dengan wajah yang sama di dunia ini, apakah itu juga berarti bahwa akan ada orang yang memiliki suara yang sama dengan orang lain? Sungguh, Zahra tidak sedang berhalusinasi. Ia juga tidak sedang bermimpi. Suara itu jelas miliknya. Walau tanpa melihat wajahnya, Zahra sangat hafal dengan suara itu. Suara yang selalu membuai indera pendengarannya. Suara yang begitu menggetarkan hatinya.
Dan bahkan hanya dengan melihat punggungnya saja, Zahra seakan tak tahu caranya membuka suara hanya untuk sekedar berterima kasih. Lidahnya seakan kelu, suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Ia sungguh sangat merindukan sosok itu. Ingin sekali ia berhambur memeluknya, menyalurkan rasa yang begitu menyesakkan dadanya. Namun sekali lagi Zahra harus sadar akan kenyataan bahwa suaminya telah lama meninggal. Ya, Hafiz telah lama pergi dan tidak mungkin laki-laki itu adalah suaminya.
Zahra mengusap dadanya, mencoba menenangkan gejolak jiwa yang sempat tak terkendali beberapa saat lalu. Berkali-kali ia beristighfar, memohon ampun karena rasa ikhlas menerima takdir seakan mulai kembali terkikis.
"Kak Zahra shalat dhuha apa tidur?" tanya Kayla sesampainya Zahra di ruang IGD. Zahra hanya menatap seraya tersenyum tipis.
"Kak Zahra baik-baik saja kan?" tanya Kayla karena tak mendengar tanggapan dari Zahra.
"Aku tidak apa-apa." sahut Zahra seraya mendudukan tubuhnya.
"Terus kok lama?"
"Maaf, keasikan bermuhasabah jadi lupa waktu."
"Oh, bikin Kayla khawatir saja."
"Maaf"
"Ya sudah lupakan. Oh ya, 30 menit yang lalu Kak Zahra dipanggil staff kantor untuk segera menemui Direktur Rumah Sakit di ruangannya."
"Direktur sudah kembali dari Jerman?" tanya Zahra setelah beberapa saat terdiam.
"Sudah tadi pagi dan sekarang ada di ruangannya."
Zahra kembali terdiam. Ingin sekali saat ini ia menolak bertemu dengan atasannya itu bukan karena apa-apa, hanya saja suasana hatinya tengah kacau. Cukup lelah baginya menyunggingkan senyuman palsu yang seakan menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal kenyataannya hatinya tengah berduka. Sekelebat sosok itu tiba-tiba saja memporakporandakan hati dan jiwanya, bahkan kata-kata Farid yang tadi sempat membuatnya baper seakan semuanya kembali sirna.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
BONUS VISUAL CAST "LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA"
"
Gimana suka nggak?? cocok nggak?? OK lah suka-suka Author🤭🤭 Pembaca ngikut saja😉😉.. Thank's to all, Sahabat.. tetap setia ya🙏🙏
DAN JANGAN LUPA VOTE NYA..
__ADS_1