
Ketika cahaya matahari dan hujan saling bereaksi, Maka hadirlah Pelangi
Sama halnya, ketika cinta yang hadir di antara luka yang menganga
Maka dipastikan kebahagiaan akan datang setelahnya
Tak ada yang tahu akhir dari sebuah perjuangan seorang hamba
Karena sejatinya Sang Sutradaralah yang memiliki kuasa penuh akan hidup seluruh hamba-Nya
Begitupun dengan aku
Tak ada kuasa bagiku menggenggam sesuatu
Jika ridho'-Mu tak aku miliki
Kini, hanya satu harapku
Izinkan aku mencicipi manisnya kebahagiaan tanpa takut kembali terluka
🍁🍁🍁
Pagi terakhir Zahra bertugas di Rumah Sakit karena lusa ia sudah harus berangkat mengemban tugas baru di kota orang. Zahra mengambil napas berat. Ada kelegaan saat ia harus pergi untuk sementara, setidaknya ia bisa mengistirahatkan hatinya yang berkali-kali harus bertarung dan bergulat dengan perasaan yang sarat akan luka. Sudah saatnya ia tenang barang sejenak sebelum perang batin kembali menghampiri.
Sudah mantapkah hatinya menerima kehadiran Farid sebagai imam keduanya? ia tidak tahu rencana Allah untuk masa depannya seperti apa, ia tidak ingin menebak ataupun berharap sesuatu, rasanya terlalu letih untuk sekedar memikirkannya. Biarlah semua mengalir bagai air, jikalau memang harus berakhir dengan Farid itu artinya laki-laki itu memang jodohnya. Sejauh dan sekuat apapun menolak, Allah punya ribuan cara dan alasan untuk menyatukannya. Ia hanya cukup menata hatinya agar ikhlas, merelakan posisi Hafiz yang kelak mungkin tergeser. Bagaimanapun imam keduanyalah yang berhak atas diri dan hatinya walau sampai kapanpun sosok Hafiz akan selalu menjadi penghuni hatinya meski tidak sama lagi kedudukannya.
Beban berat yang selama ini menggelayut kini mulai terangkat perlahan menyisakan satu hal yang sedikit berat, meninggalkan Raffa. Satu-satunya alasan yang saat ini membuat langkahnya sedikit berat. Malaikat kecil yang menjadi lentera kala mataharinya redup di peraduan. Sosok mungil yang menjadi penguat saat takdir berkali-kali menghantam jiwanya. Sosok yang begitu berarti bagi Zahra saat ini. Kehadiran Raffa sedikit banyaknya mampu mengobati rasa rindunya pada sang kekasih. Satu-satunya yang menjadi kenangan nyata yang Hafiz tinggalkan. Bukti bahwa ia dan Hafiz pernah saling terikat dan saling mencintai.
Raffa tidak marah atau menangis saat Zahra mengatakan kepergiannya, justru tersenyum manis hingga Zahra sempat bingung dengan tingkah aneh Raffa yang tidak seperti anak-anak pada umumnya jika ditinggal sang ibu pergi. Responnya begitu menghangatkan hati Zahra walau tanpa disadari sikap Raffa justru kembali membuatnya teringat pada sosok Hafiz. Bocah mungil itu benar-benar jiplakan Hafiz tanpa cela. Tidak hanya parasnya bahkan sifatnya pun menurun dari sang Abi.
Sosok Hafiz yang tak pernah sekalipun memaksa atau mengekang hidupnya. Ia yang selalu membebaskan Zahra memilih jalan hidupnya sendiri selama tidak bertentangan dengan syari'at agama dan tugasnya sebagai istri. Sifatnya lembut dan selalu mengerti apapun yang diinginkan atau dibutuhkan Zahra. Walau begitu dia adalah sosok terdepan yang menjadi benteng pertahanan Zahra. Dia memiliki cara sendiri dalam melindungi wanitanya. Ucapannya yang lembut selalu berhasil memberi ketenangan saat ujian datang menyapa gadisnya. Sosok dewasa yang selalu merengkuh tubuh rapuhnya dan menuntunnya saat ia kesulitan menemukan arah. Ya, Hafiz adalah sosok suami sempurna bagi Zahra. Walau kepergiannya telah menoreh luka di hati Zahra namun sosok itu membuat Zahra menjadi wanita yang kuat dan tegar.
Zahra kembali mengingat kalimat yang dilontarkan Raffa padanya saat Zahra mengatakan kepindahannya.
"Kalau Ummi pergi, apa Ummi akan menangis lagi?" tanya Raffa polos. Zahra tersenyum lalu menggeleng.
"*Asalkan Ummi bahagia dan tidak menangis lagi jika rindu Abi, Affa izinin. Tapi Ummi juga tidak boleh lupa pulang, biar Affa tidak kangen sama Ummi," lanjut Raffa membuat Zahra tercengang, jadi selama ini Raffa tahu jika Zahra kerap menangis diam-diam, merindukan Hafiz seraya memeluk barang apapun yang dulu menjadi milik sang suami, terutama pakaian Hafiz.
Saat rindunya pada Hafiz tak tertahan, Zahra selalu menyelimuti tubuhnya dengan pakaian milik sang suami sembari memeluk foto Hafiz atau tasbih pemberiannya. Tapi semua itu Zahra lakukan saat malam tiba, di saat Raffa tengah terlelap. Jadi bagaimana bisa bocah mungil itu tahu? sungguh Zahra tidak pernah menyangkanya*.
"Ummi,"
"Affa tidak mau ikut Ummi?" tanya Zahra. Raffa menggeleng.
__ADS_1
"*Affa di sini saja nemanin Uti sama Kakung. Ayah sama Bunda kan juga mau pergi. Nanti kalau Uti sama Kakung sedih, kasihan. Affa juga mau nemenin kak Qais biar tidak nangis terus karena ditinggal Ayah dan Bunda pergi."
Zahra tersenyum mendengar penuturan Raffa. Bocah 6 tahun yang sudah bisa berpikir sedewasa itu. Sungguh Raffa tampak seperti Abinya*.
Zahra mengusap lembut kepala Raffa.
"*Jagain Uti dan Kakung ya. Jangan lupa Affa juga do'ain Ummi."
Raffa mengangguk sembari tersenyum manis. Zahra pun menarik tubuh Raffa ke dalam pelukannya*.
"Ummi sayang sama Affa."
"*Affa juga sayang sama Ummi dan Abi."
Zahra mengeratkan pelukannya kala Raffa mengucapkan kata "Abi*".
"*Lihat, Bi. Putra kita tumbuh dengan sangat baik bahkan seluruh yang ada pada diri Raffa menurun darimu. Terima kasih Allah karena telah memberikan malaikat kecil ini untukku. Terima kasih, Bi, karena telah meninggalkan seluruh yang kamu miliki untuk Zahra melalui Raffa, terima kasih," ucap Zahra dalam hatinya.
Setetes air mata jatuh sebagai bentuk rasa syukurnya akan nikmat Allah*.
* * * * *
Raffa sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia duduk manis saat Zahra tengah menyiapkan sarapannya. Sebelum duduk, Zahra menyempatkan mengusap dan mengecup puncak kepala Raffa.
"Iya dong, kan sebentar lagi Affa masuk SD," jawab Raffa ceria.
Zahra terkekeh mendengar jawaban polos sang putra tersayang.
"Wah nanti Ummi tidak bisa melihat Affa pakai seragam putih merah. Ummi juga tidak bisa mengantar jemput Affa sekolah," ucap Zahra dengan mimik wajah dibuat sedih.
Raffa menautkan alisnya sejenak sebelum menanggapi ucapan zahra.
"Nanti sebelum berangkat sekolah, Affa video'in biar Ummi bisa lihat Affa pakai seragam SD," jawab Raffa lagi-lagi polos mengundang gelak tawa Zahra.
"Kenapa, Mi?" tanya Raffa heran karena Umminya tertawa.
"Affa lucu, cute. Ummi kan perginya tidak lama hanya satu tahun sedang Affa sekolah SD-nya enam tahun. Jadi Ummi masih bisa lihat Affa pakai seragam SD."
Mendengar penuturan Zahra, Raffa hanya manggut-manggut.
"Affa bahagia banget ya bisa masuk SD?" tanya Zahra, heran karena putranya selalu antusias jika membahas perihal satu ini.
"Kalau Affa SD kan Affa bisa lihat dede Khaliza setiap hari," jawaban polos Raffa, semakin membuat Zahra mengerutkan keningnya lebih dalam.
__ADS_1
"Kok?" Zahra heran karena yayasan sekolah Raffa dan tempat Rania mengajar berbeda jadi bagaimana bisa mereka bertemu.
"Kan sekarang dede Khalisa sekolah di tempat Umma mengajar. Jadi nanti Affa sekolah SD nya, di tempat Umma Khalisa ya, Ummi."
"Kok Affa tahu?"
"Kan waktu itu Affa pernah dengar Ummi bicara dengan Umma Khalisa,"
Jawaban Raffa membuat Zahra berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Affa suka sama dede Khalisa,"
Ucapan polos Raffa sontak membuat Zahra membulatkan matanya.
"Affa?"
"Dede Khalisa lucu Ummi, bikin gemas. Affa kan jadi suka."
Zahra hanya mengerutkan keningnya sembari menggeleng tak percaya dengan ucapan Raffa.
KHALISA ADZRA FARADINA. Putri dari sahabatnya, Rania dan Kemal yang baru berusia tiga tahun. Rania berprofesi sebagai guru SD di sekolah yang berbasis islam. Sekolah yang dinaungi sebuah yayasan islam jadi tak heran jika sekolahnya memiliki tingkatan yang lengkap dari sekolah yang diperuntukkan untuk para balita yaitu Play Group hingga tingkat atas. Itulah sebabnya Rania selalu membawa Khalisa saat mengajar karena Khalisa masuk di sekolah Play Group.
Berbicara tentang sahabatnya yang satu ini membuat Zahra rindu pada sahabat-sahabat. Zahra kembali tenggelam dalam lamunannya. Rania dan Kemal, dua sahabat yang dipersatukan Allah melalui jalan yang panjang dan berliku. Bagaimana tidak, jika Zahra dan Hafiz atau Gilang dan Prisil melalui jalan yang mudah untuk bisa bersatu. Lain halnya dengan Rania dan Kemal. Cinta di antara keduanya tidak mampu membawa keduanya pada ikatan halal. Restu orang tua Rania menjadi penghalang bagi keduanya untuk menyatukan cinta mereka dalam ikatan halal.
Butuh waktu lama bahkan hampir empat tahun, Kemal memperjuangkan Rania dan cintanya. Bukan hanya itu, keikhlasan menjadi salah satu cara Kemal mencintai Rania. Bagaimana tidak, jika saat itu Rania justru dipinang oleh laki-laki pilihan orang tuanya. Hanya ikhlas yang bisa Kemal lakukan karena sejatinya ia faham, mungkin Rania memang bukanlah jodohnya. Sekuat apapun cinta keduanya jika Allah bahkan kedua orang tua Rania tidak ridho', mereka tidak akan pernah bersama.
Namun siapa yang tahu perihal rencana Allah?. Jodoh adalah kuasa-Nya. Tidak ada yang menyangka jika di menit-menit terakhir Rania menyandang status lajang justru Allah menunjukkan kuasa-Nya. Di saat Kemal hadir sebagai tamu undangan pernikahan Rania, dia justru langsung diminta untuk menikahi Rania saat itu juga. Walau niat awal Orang tua Rania memintanya untuk menjadi pengantin laki-laki hanya untuk menutupi rasa malunya karena calon pilihannya ternyata melarikan diri di menit-menit terakhir pernikahannya. Namun berjalannya waktu kini Kemal bisa membuktikan perjuangannya, dia sekarang menjadi menantu kesayangan bagi kedua orang tua Rania. Sungguh indah rencana Allah bahkan tanpa campur tangan seorang hamba, Allah membalikkan keadaan dan menjadikan keduanya halal.
Lain cerita dengan Rania dan Kemal. Prisil dan Gilang lebih berfokus pada perasaan masing-masing. Di saat waktu belum berpihak pada mereka untuk menyatukan cinta dalam kehalalan, mereka mati-matian meredam gejolak rasa yang membuncah agar tidak mengotori niat hijrah keduanya. Gilang dan Prisil memang mantap berhijrah, meninggalkan status haram yang selama ini mereka jalani untuk lebih mendekat pada-Nya. Seperti kisah cinta Yusuf dan Zulaikha, keduanya bersatu di saat Allah menjadi satu-satunya tumpuan serta harapan mereka. Di saat mereka benar-benar mencintai sang Pemilik Kehidupan, di saat itulah Allah satukan mereka dalam ikatan Halal. Kini keduanya bahagia, membina rumah tangga dengan hadirnya jagoan kecil mereka yang kini berusia dua tahun.
Lalu bagaimana dengan Andrie dan Lintang? hingga detik ini Zahra tidak pernah berhenti bersyukur karena dua sahabat kecilnya akhirnya bersama dalam ikatan yang suci. Perjalanan mereka lumayan panjang hingga bisa berakhir di titik ini. Bukan restu yang menjadi penghalang melainkan rasa yang dimiliki salah satunya. Sejak awal rasa yang dimiliki Andrie memang bukanlah untuk gadis itu. Tahun-tahun awal kepergian Hafiz, Andrie kembali memperjuangkan cintanya untuk Zahra.
Dua tahun setia menemani Zahra yang terpuruk akan kepergian Hafiz, membuatnya menaruh harapan bahwa masa lalunya itu bisa kembali menerimanya. Namun kembali lagi, tulang rusuk memanglah tak pernah tertukar. Setiap orang memiliki jodohnya sendiri-sendiri bahkan sudah tertulis jauh sebelum kita dilahirkan. Menginjak tahun ketiga, Andrie mengutarakan niatnya untuk memperistri zahra namun lagi-lagi semua itu hanya angan yang tak bisa terealisasi.
Sosok Hafiz masih berjaya memenangkan pertarungan yang berkaitan dengan hati dan cinta yang dimiliki Zahra. Andrie tertolak dengan alasan yang sangat jelas bahwa Hafiz tidak bisa tergantikan olehnya atau siapapun. Sudah banyak laki-laki yang kalah bertarung memperebutkan hati Zahra namun tak seorang pun berhasil mengalahkan Hafiz. Bukan hanya Andrie bahkan Daffa yang berprofesi sebagai dokter bedah hebat sekalipun tak mampu merebut hati Zahra. Pinangannya tertolak sama seperti Andrie. Masih banyak lainnya yang datang dengan niat yang sama, bahkan dua di antaranya adalah putra dari kyai yang memiliki pondok pesantren, sahabat dari Abi dan Umminya. Lagi dan lagi cintanya pada Hafiz menjadi alasan baginya menolak semua pinangan yang datang padanya.
Hingga tujuh tahun berlalu akhirnya sosok Farid lah yang tidak bisa ia tolak. Keadaan yang membuatnya tak mampu menolak bahkan saat ini cinta tulus Farid membuatnya semakin berat untuk tidak menolak laki-laki itu. Dan kali ini Zahra hanya bisa pasrah. Hanya Allah yang tahu bagaimana kisahnya akan berlanjut.
Sama halnya dengan Zahra, Andrie pun pasrah akan keadaannya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya pada sang Pencipta. Bahkan saat dirinya harus menikah dengan Lintang, hanya keikhlasan yang Andrie teguhkan. Dan saat ini keikhlasan itu berbuah manis. Cinta Lintang akhirnya berbalas, kini mereka bahagia menanti buah cinta mereka yang dua bulan lagi akan hadir ke dunia. Ya, akhirnya Allah mengubah haluan cinta milik Andrie. Dia labuhkan cinta hambanya pada tempat yang seharusnya. Kini hanya Lintang yang Andrie cintai segenap jiwanya. Wanita yang kelak menjadi ibu dari anak-anaknya.
Dari kisah semuanya, membawa Zahra melihat pada kenyataan bahwa kuasa Allah tak membutuhkan alasan darinya. Dialah Sang Penentu, ke mana cintanya akan bermuara. Tetap pada tempat sebelumnya?atau justru beralih ke tempat lain yang sudah disiapkan-Nya? Wallahu 'alam..
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1