LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
SEGENGGAM KERINDUAN


__ADS_3

Jika aku bisa memilih


Izinkan aku hanya mencintaimu seorang


Cintamu sudah seperti napas dalam hidupku


Tak nampak namun begitu penting bagiku


Kehadiranmu memang selalu kutunggu


Namun kepergianmu juga tak bisa kutahan


Egoiskah aku, jika aku hanya menginginkanmu?


Aku tidak pernah menyangka


bila cinta yang dulu erat dengan kebahagiaan kini justru enggan beranjak dari kepedihan


Sesakit inikah mencintai tanpa hadirmu?


Bukan karena aku tak ikhlas akan takdir-Nya


Hanya saja, terlalu sakit hidup ini tanpa dirimu


Terlalu pedih jiwaku menahan rindu akan sosokmu


Ribuan kata yang kuuntai dalam do'aku


Ribuan liter air yang keluar dari mataku


Nyatanya tak mampu meredam rasa rinduku padamu


Rinduku semakin menyakitkan kala aku sadar bahwa hadirmu sudah tak bisa kurasakan seperti dulu


Habibi.. sungguh, aku begitu merindukanmu di setiap hembusan napasku


🍁🍁🍁


Tetesan air mengalir deras membasahi pipinya. Setelah tujuh tahun berlalu, kini ia kembali meratapi sosoknya yang tak bisa ia dekap lagi. Sudah sekian lama ia meredam rasa yang begitu bergejolak dalam jiwanya. Sudah sekian lama ia bertarung dengan lukanya, namun kini ia pasrah, kini ia kalah akan rasanya. Ia biarkan air matanya kembali menganak sungai setelah lama surut. Benteng yang ia bangun sekian lama pun hari ini luluh lantah karena rasa yang begitu menyakitkan jiwanya.


Zahra tersedu dalam tangisnya, isakan demi isakan lolos begitu saja dari bibirnya. Tubuhnya bergetar hebat. Dekapan akan benda di dadanya kini semakin erat.


"Habibi," lirihnya berkali-kali.


Luka yang dulu menyayat hatinya kini kembali menghujam. Sakit yang teramat sangat seakan tak mampu ia tampung kembali. Lantunan dzikir maupun do'a seolah tak kuasa meredam segala sesak yang begitu menyakitkan.


"Astaghfirullah, Nduk."


Suara Ummi terdengar setelah membuka pintu kamar putranya. Dengan setengah berlari, Ummi Maryam menghampiri Zahra dan mendekap tubuhnya.


"Kenapa, Nduk? bilang sama Ummi. Siapa yang sudah menyakiti kamu?" Ummi Maryam ikut meneteskan air matanya.


Baginya, Zahra adalah putrinya. Melihat tangisnya barang tentu sangat melukai hatinya.


"Ummi," lirih Zahra dalam tangisnya.


"Katakan pada Ummi, siapa yang meny.."


"Zahra merindukan Hafiz, Ummi. Zahra merindukannya.. Zahra.. " racau Zahra terisak hebat.


"Astaghfirullahal'adzim.. istighfar, Nduk.. istighfar.."


Ummi mengusap sedikit keras punggung Zahra. Ini pertama kalinya Ummi Maryam mendapati Zahra terisak setelah tujuh tahun berlalu. Selama ini, tak pernah sekalipun Zahra memperlihatkan tangisnya di depan orang lain. Wanita itu begitu pandai menyimpan lukanya, bahkan untuk menangis pun ia harus bersembunyi.


"Sakit, Ummi. Rasanya begitu sakit."


Ummi Maryam menenggelamkan kepala Zahra di dadanya. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya selain usapan lembut di punggung menantunya. Sungguh ini juga menyakitkan baginya, harus kehilangan putra tersayang begitu cepat. Namun apa yang bisa ia lakukan jika itu kehendak sang Pencipta.


Ia biarkan Zahra larut dalam tangisnya, setidaknya dengan menangis bisa membuat hatinya sedikit lebih lega. Beban yang selama ini menghimpit bisa terurai kala ia meluapkan segala sesaknya.


Lebih dari satu jam Zahra menangis hebat dalam pelukan Ummi Maryam, kini tangisnya mulai reda namun masih menyisakan suara isakan tanpa air mata.


"Sudah lebih tenang, Nduk?" tanya Ummi Maryam lembut.


Zahra melepaskan pelukannya lalu menatap getir wajah sang Ummi. Ia pun mengangguk pelan namun tak bisa menghilangkan kesedihan yang mendalam di wajah cantiknya.


"Ummi tahu, ini berat. Ditinggalkan oleh orang yang begitu kita cintai dalam waktu yang tak pernah kita duga. Tapi percayalah Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk mengganti kesedihan kita."


Ummi mengusap lengan Zahra.


"Ummi."

__ADS_1


Ummi tersenyum saat Zahra memanggilnya.


"Allah begitu sayang padamu, Nduk. Dia ingin meninggikan kedudukanmu kelak di sana, itulah sebabnya Dia mengujimu dengan mengambil orang-orang yang begitu kamu cintai. Dia percaya kamu wanita yang kuat."


"Zahra tidak sekuat itu, Ummi. Zahra.. "


"Ssttt.. Tidak boleh seperti itu, Nduk. Allah lebih tahu daripada kita," ucap Ummi membungkam Zahra.


"Kamu istirahat dulu ya, tenangkan pikiran kamu dengan berdzikir. Nanti malamkan Farid dan keluarganya datang untuk melamar. Jangan sampai mereka melihatmu dalam keadaan kacau begini, tidak baik."


Ummi menuntun Zahra, merebahkan diri di atas ranjang. Kening Ummi sempat mengerut melihat koko putih milik Hafiz tergeletak di atas kasur. Ummi pun mengulurkan tangan hendak meraih benda itu namun Zahra menahannya.


"Biarkan, Ummi. Setidaknya dengan berselimut pakaian miliknya bisa mengurangi rasa rindu Zahra padanya. Itu membuat Zahra lebih tenang," ucap Zahra menyelimuti tubuh bagian atasnya dengan koko putih yang dulu pernah Hafiz gunakan saat akad nikah.


Ummi terpaku sesaat lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Zahra. Ia dekap erat tubuh Zahra seraya membaui koko putih milik sang putra yang masih mengeluarkan bau khas miliknya walau sudah tujuh tahun berlalu. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ada rasa yang teramat dalam di hatinya kini terasa menusuk. Rindu. Ia juga merindukan putranya. Namun rasa itu ia tekan dalam, hanya Allah yang tahu seberapa besar rasa rindu seorang ibu pada putra tersayangnya.


"Apa Hafiz akan marah Ummi, jika Zahra menikah lagi? Terlebih itu dengan Farid, sahabat dekatnya."


Ummi mengangkat wajah serta tubuhnya lalu duduk di tepi ranjang, disamping Zahra.


"Bukankah kamu sangat mengenal Hafiz, Nduk? Dia bukankah sosok pemarah. Insyaallah jika Ummi dan Abinya ridho', dia juga akan ridho'," ucap Ummi seraya mengusap lembut kepala Zahra.


"Tapi Zahra sudah janji padanya. Janji untuk selalu mencintainya hingga akhir hayat Zahra. Kita juga sudah berjanji untuk selalu bersama hingga jannah-Nya."


Air mata Zahra kembali menetes.


"Kamu bisa tetap mencintainya hingga akhir. Simpan cintamu di sudut terdalam di hatimu."


"Tapi Zahra harus menduakannya, Ummi dengan kehadiran Farid."


"Cinta yang suci tidak akan pernah berubah, walau ada orang baru yang singgah di hati. Dia akan tetap menjadi penghuni di hatimu."


"Tapi Zahra mengingkari janji untuk selalu bersama hingga jannah-Nya. Mengingkari janji untuk menjadi bidadarinya di surga kelak."


"Nduk.."


"Bukankah pada akhirnya Zahra hanya akan bersama Farid?"


Ummi terdiam, tak mampu menjawab.


"Zahra ingin bersama Hafiz di surga-Nya. Zahra ingin menjadi bidadari untuknya, hanya untuknya."


Lelehan air mata kembali menetes.


"Tapi bukan Hafiz yang menggenggam tangan Zahra melainkan Farid. Iya kan, Ummi?"


"Wallahu A'lam. Serahkan segala urusan yang yang tak mampu kita jangkau, pada Allah. DIA-lah Sang Pemilik Takdir, kita cukup menjalani apa yang telah ditulis-Nya. Untuk urusan akhirat, biarlah menjadi urusan-Nya. Kita tidak perlu berpikir sejauh itu, Nduk. Tugas kita hanya beribadah dan melakukan yang terbaik agar surga menjadi tempat kita berakhir kelak," tutur Ummi membuat Zahra terdiam.


"Hafiz atau Farid sama saja, selama keduanya mampu menuntunmu ke surga-Nya."


Lagi-lagi Zahra terdiam.


"Farid laki-laki yang baik dan shaleh. Insyaallah, dia mampu menuntunmu, Nduk. Lagipula tidak ada janji yang kekal abadi di dunia ini selain janji kita pada Allah."


"Do'akan Zahra, Ummi. Semoga keputusan Zahra menerima Farid tidak salah."


"Tanpa kamu minta, Ummi dan Abi salalu mendo'akanmu. Insyaallah keputusanmu tidak salah, Nduk. Bukan hanya untukmu tapi juga Raffa."


Zahra mengangguk mendengar kata-kata lembut dari sang Ummi mertua.


"Ya sudah sekarang kamu tidur dulu ya. Mumpung Raffa sedang pergi ikut Abi, jadi tidak ada yang mengganggu istirahat kamu."


Zahra kembali mengangguk. Ummi membenarkan koko milik Hafiz yang menyelimuti tubuh Zahra sebelum ia beranjak dan meninggalkannya.


* * * * *


Malam seusai shalat isya, rumah Ummi dan Abi tampak ramai. Terdengar suara heboh dari Qais dan Raffa di ruang keluarga. Abi, Ummi, Mas Hakam dan Mbak Kayyisa juga tampak ikut berkumpul, hanya Zahra yang tidak terlihat di antara mereka. Wanita itu justru lebih memilih duduk sendiri di tepian gazebo, di taman samping rumah sembari menatap langit malam. Embusan angin seakan menjadi teman dalam kesendiriannya. Sudah menjadi takdirnya harus seperti ini dan ia juga tak bisa menyalahkannya.


"Maaf.."


Suara seseorang terdengar memutus lamunannya. Zahra mendongak, menatap seseorang yang kini berdiri di depannya. Sebuah lengkungan kini ia terbitkan untuk menyapanya.


"Jika menerima Farid terlalu berat untukmu, jangan terima lamarannya," ucap Hakam sembari mendudukan tubuhnya disamping Zahra namun sedikit berjarak.


"Lalu Zahra harus menikah dengan Mas?" sahut Zahra terdengar tenang.


"Jangan sakiti dirimu lagi."


"Akan lebih sakit jika Zahra menikah dengan Mas."


"Maafkan, Mas. Mas tidak mampu menolak permintaan Kayyisa."

__ADS_1


"Bukan Mas tidak mampu. Mas hanya tidak mau menambah beban pikirannya. Zahra tahu, Mas juga terluka namun Mas mencoba untuk menjaga perasaan Mbak Kayyisa."


"Mas mencintainya.. sangat mencintainya. Kebahagiaannya lebih penting dari luka di hati Mas."


Zahra menoleh kearah Hakam lalu tersenyum.


"Zahra juga sangat mencintai Hafiz, itu sebabnya Zahra menerima Farid. Dengan begitu dia akan tenang di sana, tidak lagi mengkhawatirkan Zahra dan Raffa di sini."


"Hafiz beruntung pernah memilikimu. Kamu wanita hebat, kuat dan setia."


Zahra menggeleng pelan.


"Zahra yang beruntung pernah memilikinya."


Hakam tersenyum lalu mengusap puncak kepala Zahra yang berbalut jilbab.


"Bahagialah setelah ini. Jangan pernah menangis lagi. Karena bukan hanya Hafiz saja yang tenang tapi Mas, Kayyisa, Abi dan Ummi juga mengharapkannya."


"Zahra baru akan menerima lamaran Farid, Mas, belum mau menikah. Kenapa pesannya seperti Zahra sudah mau menikah saja," canda Zahra.


Hakam terkekeh mendengarnya.


"Begini ya rasanya saat melepas seorang adik tersayang menikah?"


"Zahra belum mau menikah, Mas," tekan Zahra membuat Hakam semakin tergelak.


Ia mengacak puncak kepala Zahra sekali lagi.


"Mas sayang kamu."


Zahra terpaku mendengar ucapan Hakam lalu menatap ke arahnya.


"Sama seperti Mas sayang Hafiz," lanjut Hakam.


"Bahagiamu adalah bahagia kita semua," imbuh Hakam


"Terima kasih, Mas."


"Hmmm.."


"Masuk yuk, sepertinya itu mobil Farid."


Hakam bangkit saat mendengar deru mobil berhenti di depan rumahnya. Zahra ikut bangkit dan melangkah mengikuti Hakam masuk ke dalam rumah.


🌹🌹🌹


Suasana ruang tamu terasa hangat. Dua Keluarga yang sedari dulu memang dekat kini semakin erat hubungannya setelah acara lamaran resmi terlaksana beberapa saat lalu.


"Ummah dan Abah tidak menyangka loh, Nduk, jika kamu mau menerima Farid," ucap wanita paruh baya seumuran Ummi Maryam. Zahra hanya mengukir senyum untuk menjawabnya.


"Kenapa tidak langsung diresmikan saja sebelum kamu berangkat ke Jakarta, Nduk?" kini suara Abah terdengar di antara riuh bahagia dari penghuni ruangan.


Zahra terdiam sesaat sebelum menjawab. Ia mengambil napas untuk menghalau rasa gugupnya.


"Saya takut mengabaikan kewajiban saya sebagai seorang istri, Bah," tutur Zahra.


"Tugas saya di sana agak menyita waktu, belum lagi kuliah spesialis saya yang sama padatnya. Takutnya tidak fokus dan justru malah menambah dosa jika saya dan Farid menikah sekarang," imbuh Zahra.


"Owalah, Nduk. Memang kuliah kamu belum selesai to? kan sudah tujuh tahun kamu kuliah," tanya Ummah bingung.


"Kuliah kedokteran saya sudah selesai dua tahun yang lalu Ummah. Sekarang saya ambil pendidikan spesialis, insyaallah dua sampai tiga tahun lagi lulus," terang Zahra.


"Kamu ambil spesialis apa, Nduk?" tanya Abah.


Sedari tadi memang hanya Abah dan Ummah yang bertanya sedang Farid diam menyimak.


"Spesialis Anak dan Spesialis Bedah, Bah."


"Kamu ambil dua spesialis sekaligus?" Abah tercengang.


"Nggeh, Bah. Kebetulan Zahra dapat beasiswa untuk pendidikan spesialis ahli Bedah jadi sayang kalau tidak diambil sekalian."


"Masyaallah tenan calon mantu Ummah ini ya. Beruntung kamu, Rid, kalau sampai bisa memperistri Zahra," celetuk Ummah yang langsung disambut senyum bahagia serta anggukan dari yang lain.


Farid hanya mengulum senyum, sudah tidak heran bagi Farid jika Zahra sampai mendapat beasiswa, karena sedari dulu Zahra memang dikenal cerdas.


Tak lama kemudian Ummi pun bangkit.


"Ya sudah, sekarang lebih baik kita makan dulu saja. Ngobrolnya nanti dilanjut lagi. Monggo.. " Ummi mempersilahkan keluarga Farid untuk menuju ruang makan.


Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Canda tawa yang tadi memenuhi ruanganpun kini tampak hening setelah keluarga Farid pamit undur diri, tiga puluh menit yang lalu. Di ruangan ini kini hanya tersisa Zahra seorang. Ia memang belum beranjak dari tempat duduknya sedari tadi. Pandangannya tampak kosong menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang disematkan oleh Ummah sesaat setelah ia menerima lamaran Farid.

__ADS_1


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


SEKALI LAGI AUTHOR INGATKAN, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YANG BANYAK, SETELAH MEMBACA PART INI.😉😉


__ADS_2