LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
SAYATAN LUKA


__ADS_3

Cintaku padamu tak seperti air hujan


Datang dan pergi begitu saja tanpa bekas


Cintaku padamu bagai udara yang berhembus


Walau kehadirannya tak nampak namun terasa


Cintaku padamu bagai paru-paru yang terus memompa oksigen


Tidak pernah berhenti barang sejenak


Karena cintamu adalah nafas yang memberikanku kehidupan


🍁🍁🍁


FLASH BACK ON


Perlahan Zahra membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang didominasi warna putih pada dindingnya. Terasa nyeri di bagian tangan kirinya karena selang infus tertancap disana. Rumah Sakit. Ya, dirinya kini berada di Rumah Sakit.


Tak ada seorang pun saat Zahra membuka matanya karena ruangan nampak sepi. Zahra masih belum menyadari apa yang menyebabkan dirinya terbaring di ranjang pesakitan hingga ia berkali-kali memanggil nama suaminya namun nihil, tak ada satupun sahutan atas panggilannya.


Ceklek..


Terdengar knop pintu diputar dan seseorang tampak masuk ke dalam ruangannya. Zahra sudah siap tersenyum, ia berfikir itu adalah suaminya namun ternyata seorang perawatlah yang masuk ke ruangannya membuat senyum Zahra sedikit pudar.


"Alhamdulillah, akhirnya Mbak Zahra siuman." ucap perawat yang bername tag. Nina Aprilia. Perempuan berseragam putih itu tak lupa mengulas senyum.


"Gimana Mbak, apa ada yang dirasakan?" Zahra menggeleng menjawab pertanyaan Nina, si perawat.


Harapannya sangat besar bahwa suaminya lah yang pertama kali ia lihat namun nyatanya ia harus menelan harapan itu.


"Sus. Ehm.. suster tahu di mana suami saya atau keluarga saya mungkin? Kenapa tidak ada orang disini," tanya Zahra.


Perawat itu kembali tersenyum, seolah mengerti maksud Zahra.


"Mas Andrie? sepertinya sedang ke Mushola, tadi sempat ketemu di lorong menuju kesana," jawab Suster Nina membuat kening Zahra berkerut dalam.


"Bukan, Sus," ucap Zahra sembari menggeleng.


"Suami saya namanya, Hafiz," lanjut Zahra. Suster Nina terdiam sesaat menetralisir rasa kagetnya.


"Aduh, maaf Mbak kalau saya salah. Tapi setahu saya hanya Mas Andrie yang setia menunggu Mbak Zahra selama di sini. Kalau keluarga yang lain, hanya bolak balik saja bergantian," terang Suster Nina usai memeriksa tekanan darahnya.


"Saya sudah berapa lama di sini, Sus?"


"Mbak Zahra sepertinya belum sadar betul ya. Mbak Zahra sudah tiga hari di sini dan tidak sadarkan diri," ucap Suster Nina membuat Zahra terhenyak kaget.


Selama itu kah? Lalu kenapa Andrie yang menungguinya selama ini, kenapa bukan Hafiz? Zahra semakin bingung karenanya. Ia mencoba memutar otaknya untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya hingga tiba-tiba terlintas sesuatu yang membuatnya terpaku.


"Habibi," lirih Zahra dengan pandangan yang kini mulai mengabur.


Jantung Zahra seakan berhenti berdetak. Air matanya perlahan luruh membasahi pipinya tatkala ingatan akan apa yang terjadi tiga hari lalu kembali hadir di otaknya. Dadanya terasa semakin sesak saat ini sehingga tak sadar bibirnya bergetar memanggil nama kesayangan untuk orang tercintanya.


"Habibi.. hik.. hik.. ini pasti mimpi. Ya.. ini pasti mimpi. Tidak mungkin kamu pergi ninggalin Zahra. Ini pasti salah.. hik.. hik.." racau Zahra yang mulai terisak hebat membuat suster Nina bingung.


Tepat saat itu Hakam dan Kayyisa masuk, keduanya langsung terkesiap melihat Zahra terisak. Kayyisa langsung berlari menghampiri Zahra seraya memeluknya.


"Mbak.. Hafiz mana?" tanya Zahra dengan suara tersendat. Tangisnya sudah pecah.


Tidak ada jawaban dari Kayyisa maupun Hakam. Kayyisa justru semakin erat memeluk tubuh Zahra.


"Hafiz mana, Mbak?" Zahra sedikit memekik dengan air mata yang terus mengalir membanjiri wajahnya.


"Istighfar, Dek.. istighfar," ucap Kayyisa pelan sembari mengusap punggung Zahra.

__ADS_1


"Hafiz mana hik.. hik.. Zahra ingin bertemu Hafiz.. Zahra mau Hafiz, Mbak.. tidak mungkin Hafiz tega ninggalin Zahra.. tidak mungkin kan Mbak, Hafiz tidak mungkin ninggalin Zahra."


"Dek, istighfar.. ingat Allah, Dek," tenang Kayyisa dengan suara lirih.


Di sampingnya, Hakam hanya bisa memalingkan wajahnya yang tak kalah sedih. Ada setetes air yang juga jatuh dari pelupuk matanya.


"Bi.. Habibi... bohong, kamu bilang akan kembali.. jangan tinggalin Zahra, Bi.. Habibi.. Zahra mohon.. " Isakan Zahra terdengar menyakitkan.


"Mbak.. bilang kalau ini tidak benar.. hik.. hik.. Zahra mohon.. bilang kalau ini cuma mimpi.. Mbak.. Zahra mohon.."


"Istighfar, Dek.. ikhlaskan semuanya. Jangan semakin membuat langkahnya berat. Dia pasti sedih lihat kamu seperti ini.. ikhlas, Dek. Ini sudah takdir dari-Nya," ucap Hakam dengan suara berat seakan menahan sesuatu.


Zahra menggeleng, ia tidak mungkin bisa semudah itu mengikhlaskan sesuatu yang amat berat baginya. Suaminya, kekasih hatinya, segalanya bagi Zahra. Tidak semudah itu Zahra ikhlas melepas kepergian Hafiz.


"Kenapa harus secepat ini? hik.. hik.. Zahra tidak bisa hidup tanpanya..hik.. hik.. Zahra tidak akan mampu, Mbak."


Hakam dan Kayyisa hanya mampu mengusap punggung Zahra untuk menenangkan sekaligus menguatkan. Wanita itu begitu terpukul akan kabar tentang kepergian suaminya. Tidak pernah sekalipun ia berfikir Hafiz akan pergi dengan cara seperti ini. Meninggalkannya dengan tiba-tiba.


Sedih..


Hakam dan Kayyisa ikut meneteskan air matanya. Keduanya juga teramat sedih kehilangan sosok Hafiz, tapi mereka berusaha menekan rasa itu. Jika keduanya terlalu larut akan sedihnya, bagaimana dengan Zahra dan Ummi? mereka membutuhkan orang yang mampu menopang dan menguatkan hati mereka yang hancur, terlebih Zahra. Dia butuh dukungan dari semua orang. Dia takkan mampu melewati ujian yang begitu berat dalam hidupnya. Cintanya terlalu besar untuk sang suami, membuat dunianya runtuh seketika kala Hafiz diklaim meninggal dalam kecelakaan hebat di Surabaya. Kecelakaan beruntun yang merenggut banyak nyawa termasuk Hafiz.


Satu minggu lalu, Hafiz pamit akan melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya selama dua pekan. Ada pertemuan dengan klien berkaitan dengan proyek besar yang ditangani perusahaan milik ayah mertuanya. Dan selama ia pergi, Hafiz meminta Zahra tinggal di rumah Ummi dan Abinya. Lelaki itu tak pernah tega meninggalkan sang istri di rumah meski di dana ada Bi Inah dan Mang Ujang apalagi akhir-akhir ini Zahra sering sakit. Hingga tiga hari lalu, Zahra dan keluarga dibuat kaget akan kabar menyakitkan bahwa Hafiz ikut dalam kecelakaan hebat dan membuatnya meninggal.


Kabar meninggalnya Hafiz, Zahra terima tiga hari lalu dan itu mengingatkannya bahwa hari ini jenazah Hafiz akan tiba di rumah orang tuanya. Zahra pun melepas pelukannya dari Kayyisa, lalu mencabut paksa selang infus yang menancap di tangan kirinya membuat sepasang suami istri itu terperanjat. Zahra bangkit dari duduknya tanpa memperhatikan penampilannya yang kacau.


"Dek? " panggil Kayyisa.


"Zahra mau pulang, Mbak. Zahra mau lihat Hafiz, Zahra mau memastikan kalau itu bukan Hafiz," ucap Zahra sembari melangkah menuju pintu. Hakam segera menahan lengannya.


"Tapi, Dek, kamu masih harus di sini. Kondisi kamu belum memungkinkan untuk pulang," cegah Hakam.


"Terus? Zahra harus melewatkan pertemuan terakhir Zahra dengan Hafiz," ucap Zahra dengan nada tinggi setengah emosi.


"Bukan gitu maksud, Mas. "


"Mas,"


Kayyisa mengusap lengan Hakam sembari mengangguk.


"Dia berhak melihatnya," lanjut Kayyisa membuat Hakam menghela napasnya.


"Baiklah. Tapi Mas mohon, cobalah untuk mengendalikan diri," ucap Hakam.


🥀🥀🥀


Mobil yang dikendalikan Hakam pun akhirnya tiba di kawasan komplek rumah Ummi dan Abi. Sudah banyak pelayat yang datang memenuhi pekarangan rumah kedua orang tua Hafiz sehingga mobil harus terparkir beberapa meter tak jauh dari rumah. Mereka bertiga turun dari mobil. Tubuh Zahra terlihat bergetar melihat rumah mertuanya yang ramai dengan pelayat. Kayyisa mengapit lengan kiri Zahra sedang Hakam berjalan di samping kanan Zahra, berjaga-jaga jika tubuh sang adik ipar kembali roboh. Dan untuk Andrie, sebelum pulang Hakam sudah menitip pesan terlebih dulu pada perawat jaga.


Ketiganya sudah memasuki halaman yang sudah di penuhi pelayat. Semua mata menatap iba pada ketiganya terlebih Zahra. Perempuan yang mereka tahu baru lima bulan dipersunting Hafiz. Para pelayat begitu prihatin dengan takdirnya, baru lima bulan menikah sudah ditinggal meninggal oleh suaminya. Usianya baru menginjak delapan belas tahun namun sudah menjadi janda. Sungguh sangat menyedihkan takdirnya, pikir mereka.


Air mata Zahra kembali luruh tatkala masuk ke dalam rumah. Tampak Umminya menangis dalam pelukan Ummah Halimah, ibu Farid, sedang Abi-nya duduk dengan kepala menunduk dalam. Terlihat jelas kesedihan amat mendalam juga mereka rasakan. Lihat saja Ummi Maryam. Ketika melihat Zahra masuk, Ummi tak kuasa menahan isak tangis. Beliau tak mampu bangkit untuk sekedar memberikan pelukan kepada menantu tersayangnya.


Zahra menggigit bibir dalamnya menyaksikan kepedihan Ummi mertuanya yang sudah ia anggap ibunya sendiri. Zahra mencoba menghapus air matanya meski cairan bening itu tak mau berhenti keluar. Ia tidak ingin Ummi dan Abi-nya semakin sedih karena kerapuhannya. Benar kata Hakam, ia harus mengendalikan dirinya. Ia harus kuat demi orang-orang terkasih walau untuk saat ini hatinya harus hancur berkeping-keping, dunianya harus runtuh tak tersisa, sinarnya harus redup karena tak ada lagi matahari di sisinya.


Tante Sinta membawa Zahra ke dalam pelukannya. Ia tahu hati Zahra pasti tengah hancur menerima fakta yang begitu menyakitkan ini, meskipun perempuan itu mencoba terlihat kuat di depan orang-orang. Ia mengelus lembut punggung Zahra, menyalurkan kekuatan walau tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya untuk menenangkan.


Suara ambulan sayup-sayup terdengar dan suaranya semakin jelas setiap detiknya mengarah ke sebuah rumah yang tampak di penuhi puluhan bahkan ratusan pelayat. Bisa dipastikan, jenazah yang ada di dalamnya adalah sosok yang sedari tadi ditunggu. Tante Sinta mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepala Zahra di dadanya.


Ada sesuatu yang menghantam hati perempuan cantik itu kala suara ambulan itu berhenti berbunyi dan berganti suara beberapa orang laki-laki yang terdengar meminta untuk dibukakan jalan. Zahra meremas rok gamisnya erat. Tangannya tampak gemetar, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Dan air matanya semakin sulit untuk dikontrol.


Beberapa orang menurunkan dan menggotong tubuh laki-laki yang kini terbujur kaku.


"Sayang, ayo ke dalam," ajak Tante Sinta hendak menarik tubuh Zahra dan membawanya ke kamar namun segera ditahan oleh perempuan itu.


"Biarkan Zahra melihat Hafiz. Biarkan Zahra melihatnya untuk terakhir kali," ucap Zahra menahan kuat sesak di hatinya.

__ADS_1


Abi dan Hakam lebih dulu membuka penutup wajah jenazah itu dan keduanya tampak memalingkan wajahnya sesaat setelah membuka kain penutup jenazah. Ada guratan luka yang teramat dalam tampak dari wajah mereka. Tak lama Ummi bangkit dengan tubuh bergetar dituntun Ummah Halimah mendekat ke tubuh yang sudah terbujur kaku itu. Tangis Ummi semakin pecah melihat kenyataan di balik kain penutup jenazah itu.


Perlahan Zahra melangkahkan kakinya mendekat ke arah jenazah yang diklaim sebagai suaminya. Dengan tangan bergetar, Zahra membuka kain yang menutup tubuh jenazah itu. Ia memejamkan matanya seraya menggelengkan kepalanya, air mata kembali membanjiri wajah cantiknya.


Walau hatinya kuat menolak sosok tak bernyawa itu namun logikanya tak bisa memungkiri. Sosok itu mengenakan kemeja yang jelas Zahra tahu itu milik suaminya. Zahra pun menggenggam tangan itu erat seakan ia butuh pegangan untuk menguatkannya. Tangannya perlahan bergerak memeluk tubuh jenazah itu. Ia memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya di sisi tubuh jenazah yang diyakini adalah Hafiz. Perasaan ragu dan menolak kembali hadir di hatinya. Ia tidak ingin meyakini bahwa laki-laki yang ia peluk ini adalah suaminya, namun apa yang bisa ia katakan jika semua fakta kini ada di hadapannya.


"Ra, sudah. Ayo ke dalam, jenazah mau di sucikan dulu," ucap Tante Sinta lembut seraya mengusap lengan Zahra.


"Sebentar saja, Tan. Biarkan Zahra memeluknya seperti ini untuk terakhir kalinya."


Zahra enggan melepaskan pelukannya pada tubuh jenazah itu.


Habibiku..


Zahra sangat mencintaimu. Walau maut kini memisahkan kita, cinta ini akan selalu ada di hati Zahra. Cinta dan hati ini sepenuhnya milikmu.


Ingatlah, Bi. Zahra akan selalu mencintaimu sampai akhir.


Biarkan cinta ini menetap selamanya di hati Zahra, walaupun kepedihan atas kehilanganmu terus menyiksa.


Terima kasih untuk kenangan indah yang telah kamu ukir di hidup Zahra.


Terima kasih karena telah mencintai Zahra sepenuh hatimu. Zahra takkan pernah lupa itu.


Habibi..


Tunggu Zahra di sana.


Biarlah Zahra berjuang sendiri di sini, menjaga hati dan cinta yang hanya menjadi milikmu.


Biarlah Zahra berjuang untuk memantaskan diri ini agar kelak Allah tempatkan Zahra di sisimu..


*Dan biarlah Zahra berjuang sendiri menjaga dan merawat titipan yang Allah tanamkan di rahim Zahra saat ini.


Selamat, Bi karena kamu akan menjadi seorang ayah untuk putra yang kini Zahra kandung*..


Ana Uhibbuka Fillah, Ya Habibi..


Zahra terisak di samping jenazah suaminya seraya memeluknya erat. Banyak pasang mata yang menatap iba dan ikut meneteskan air matanya kala melihat seberapa hancurnya wanita cantik ini.


Zahra mendongak saat Tante Sinta kembali menepuk bahu Zahra dan mengingatkannya. Zahra mengangguk lemah seraya bangkit namun belum sempat tubuhnya berdiri tegak, ia sudah luruh dengan mata terpejam.


FLASH BACK OFF..


Tatapan Zahra masih setia pada benda yang kini melingkar di jari manisnya. Tatapan itu terasa kosong dan hampa. Kepingan ingatan yang telah menyayat hatinya kembali terlintas dalam benaknya. Tahun-tahun awal kehilangan Hafiz, ia masih berharap jika laki-laki itu suatu saat nanti akan kembali padanya karena bagaimanapun hatinya belum meyakini sosok yang telah pergi itu adalah suaminya. Sosok yang tidak bisa ia kenali walau apa yang dipakainya adalah milik sang suami. Namun waktu seakan memberikan jawaban lain padanya. Tujuh tahun telah berlalu, jika jenazah itu bukan Hafiz mengapa laki-laki itu tidak muncul hingga kini.


Zahra mengembuskan napas beratnya, ada sedikit perasaan bersalah dalam hatinya karena telah menerima lamaran Farid dalam keadaan hati yang seperti ini. Bisakah ia hidup bersama laki-laki itu di saat hatinya telah menetap pada satu orang? Bagaimana caranya ia menerima sosok Farid dalam hatinya di saat seluruh hati dan hidupnya telah Hafiz bawa pergi? Jangankan mencintainya untuk menerima saja rasanya berat, tapi ia terlanjur telah berjanji jadi mau tidak mau ia harus berusaha keras untuk menjinakkan hatinya demi Farid, calon imam keduanya.


"Ummi?"


Zahra tersentak mendengar suara pangeran kecilnya memanggil. Ia menoleh ke arah di mana Raffa, putra tersayangnya berdiri seraya mengusap air mata yang entah sejak kapan keluar. Zahra bangkit dari duduknya dan menurunkan tubuhnya mensejajarkan tinggi Raffa.


"Affa kok bangun?" tanya Zahra sembari mengusap kepala bocah tampan itu.


"Affa haus, Ummi."


"Mau Ummi buatkan susu?" Raffa menggeleng.


"Air putih saja Ummi, tadi sebelum tidur Bunda sudah buatkan Affa dan Kak Qais susu,"


Zahra pun mengangguk lalu mengangkat tubuh mungil itu, menggendongnya menuju dapur.


Setelah selesai memberi Raffa minum, Zahra kembali menggendong Raffa menuju kamarnya seraya membawa botol minum berisi air putih untuk berjaga-jaga jika Raffa kembali terbangun karena haus.


Langkahnya terhenti tepat saat pintu kamar terbuka, lantunan surah Ar Rahman menyambutnya dengan hangat. Suara indah dan khas milik sang suami terdengar begitu menggetarkan jiwanya. Ia mengambil napas dalam seraya melangkah masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Zahra merindukanmu, Habibi..


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


__ADS_2