
"Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (QS. Al Isra: 82)
“Orang-orang yang beriman akan memiliki hati yang tenang dan tenteram jika selalu ingat dengan Allah SWT, maka ingatlah karena hanya dengan mengingat-Nya, hatimu menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Semilir angin terasa menyejukkan, bunyi gemercik air yang seirama pun terasa menenangkan hati dan pikiran. Pelukkan dari orang terkasih menjadi sumber kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Zahra, wanita itu menangis karena bahagia saat dirinya mampu merengkuh kembali orang-orang terkasihnya setelah sekian lama. Rasa rindu yang selama ini begitu menyesakkan sekaligus menyakitkan, tertahan di hatinya. Namun, hari ini rasa itu seakan terobati dan terbayarkan.
"Zahra rindu dengan Ayah dan Bunda selama ini. Zahra benar-benar merindukan kalian," ucapnya dengan air mata membanjir.
Usapan lembut di kepala Zahra, dari tangan kekar milik sang ayah, membuatnya semakin terisak.
"Ssttt.. Aiya kecilnya Ayah dan Bunda kok malah nangis? kita kan sudah ada di sini sekarang," ucap seorang wanita paruh baya yang wajahnya terlihat sangat cantik dan bersinar.
"Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan Zahra sendiri," pinta Zahra memohon.
Kedua orang tua itu tersenyum lembut dengan gerakkan tangan yang terus membelai kepala putrinya.
"Zahra janji akan jadi putri shalehahnya Ayah dan Bunda. Tapi Zahra mohon, tetaplah disamping Zahra."
Zahra menenggelamkan wajahnya di dada wanita paruh baya itu sembari memeluknya erat.
"Bukankah selama ini Ayah dan Bunda, selalu ada di dekatmu?"
Zahra mendongak menatap lekat wajah laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Kepalanya menggeleng pelan merespon perkataan sang ayah.
"Kalian semua jahat, meninggalkan Zahra sendiri."
Zahra kembali menumpahkan air matanya.
"Maafkan Ayah dan Bunda, karena tidak bisa menemani kamu. Tapi kami selalu ada di sini. Menjaga dan mendo'akanmu dari sini, jadi berhentilah menangis," tutur Ayah sembari mengusap air mata di wajah Zahra.
"Zahra mau tinggal di sini bersama Ayah dan Bunda, jadi jangan pernah tinggalkan Zahra lagi," ucap Zahra.
Ayah menggeleng pelan sembari tersenyum pada Zahra.
"Tempat kamu bukan di sini, Sayang. Kamu harus pulang. Banyak orang yang sudah menunggu kamu," tutur Ayah lembut.
"Tapi Zahra mau di sini. Zahra mau tinggal bersama ayah dan bunda."
"Akan ada waktu di mana hari itu tiba. Namun.. untuk sekarang, pulanglah."
Zahra menggeleng kuat.
"Kamu tega meninggalkan orang-orang yang kamu cintai? Kamu tega meninggalkan putramu?"
Zahra mematung seketika, mendengar perkataan Bunda. Ia ingat bahwa sekarang ia memiliki Raffa. Dadanya seakan terhantam benda keras. Bagaimana bisa dia melupakan keberadaan putra tersayangnya.
Tak lama sebuah suara yang begitu ia kenal, sayup-sayup terdengar hingga ke telinganya.
"Ummi.. "
Zahra tercengang sesaat lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Tubuhnya berputar mencari sosok mungil yang tak tampak di mana pun, namun suaranya semakin lama semakin terbawa angin.
"Affa? Affa di mana?" teriak Zahra.
Zahra mulai panik karena suara Raffa mulai tak terdengar.
"Ayah, Bunda, di mana Raffa?" tanya Zahra pada kedua orang tuanya dengan wajah panik.
Bunda mengusap lembut lengan Zahra sembari tersenyum.
"Pulanglah, dia menunggumu di rumah."
"Bagaimana dengan Ayah dan Bunda?" tanya Zahra.
"Kami akan selalu di sini, mendo'akan dan menjagamu dari sini," jawab Bunda seraya membelai pipi putrinya.
"Ikutlah pulang bersama Zahra? Raffa pasti bahagia bertemu kakek dan neneknya," ucap Zahra penuh harap.
Bunda dan Ayah menggeleng dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya sedari awal.
"Sampaikan salam dan rindu kami pada Raffa. Ingatlah, jika kami selalu ada bersamamu. Jangan pernah bersedih lagi karena Ayah dan Bunda sangat menyayangimu," ucap Bunda seraya mendorong pelan tubuh Zahra hingga masuk ke dalam sungai.
Zahra terbelalak saat tubuhnya tercebur ke dalam sungai. Seolah sesuatu menariknya, ia mulai tenggelam lebih dalam lagi hingga matanya terpejam.
* * * * *
Tiga hari sudah berlalu dan Zahra masih saja terbaring tanpa membuka matanya sedikit pun. Wanita itu tampak seperti putri tidur yang terkena kutukan. Bedanya, terkadang ia tampak begitu tenang dalam tidurnya namun tak lama tubuhnya seperti terguncang dengan air mata mengalir deras bahkan bibirnya berkali-kali bergumam lirih, memanggil orang-orang yang Habibi sendiri tidak tahu siapa mereka.
__ADS_1
Habibi duduk di kursi, disamping brankar yang ditiduri Zahra. Matanya menatap begitu sendu ke arah wanita itu, napasnya berkali-kali terembus dengan berat.
"Sampai kapan kamu akan tidur, Zah? bangunlah, bukankah kamu merindukanku?"
Habibi kembali mengembuskan napasnya.
"Aku merindukanmu Zahra. Bukankah sudah kukatakan padamu, aku akan selalu ada disampingmu. Tidak bisakah kamu membagi kesulitan dan kesedihanmu padaku?. Berhentilah membuatku khawatir dan bangunlah, Zah."
Tidak ada tanggapan dari orang yang diajak bicara, Habibi mendesah frustasi. Ia pun mengusap wajahnya sedikit kasar.
"Biar Kayla yang jaga, Kak Ilash pulanglah," ucap Kayla yang baru saja masuk ke kamar rawat Zahra.
Habibi menatap Kayla sesaat lalu menggeleng.
"Kamu saja yang pulang. Kamu pasti lelah kan," jawab Habibi tanpa menatap Kayla. Netranya terus menerus fokus pada wanita yang terbaring di atas brankar.
"Sudah tiga hari Kak Ilash di sini. Kak Ilash bisa sakit kalau tidak istirahat," tampik Kayla sembari mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Sudah, pulanglah. Biar Kayla yang jaga," lanjut Kayla dengan gerakkan kepala seakan mengusir.
"Kamu saja, Kay. Kakak masih mau di sini," tolak Habibi masih bergeming di tempatnya.
"Huh.. Kak Ilash cinta ya sama Kak Zahra?" tanya Kayla yang merasa heran dengan sikap tak biasa Habibi.
Sontak Habibi mengalihkan pandangannya pada gadis yang suka blak-blakan itu. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Laki-laki itu begitu faham dengan sifat adiknya yang sering kali mudah meluapkan emosinya bahkan alasan dirinya bungkam bukan karena ia pengecut atau munafik terhadap perasaannya pada Zahra, melainkan karena Habibi tidak ingin perasaannya pada Zahra menjadi bahan bagi Kayla untuk menyakiti hati Meysha, karena bagaimanapun menurut Habibi, Meysha adalah wanita baik-baik yang mungkin hanya kesalahfahaman saja yang menjadi pemicu kedua wanita itu berseteru.
"Jika Kak Ilash mencintai Kak Zahra, apa Kak Ilash bisa memperjuangkannya?" ucap Kayla lagi.
"Berhenti membahas begituan, Kay. Pulanglah," tutur Habibi seraya mengalihkan pandangannya dari Kayla.
Kayla mendengus sebal, hatinya mulai dongkol karena kata-kata yang dilontarkan Habibi terkesan ambigu. Ia pun bangkit dari duduknya.
"Aku pulang. Ingat, Kak Zahra CALON ISTRINYA KAK FARID. Jangan macam-macam," tukas Kayla, menekankan sebagian kalimatnya untuk memancing emosi Habibi. Habibi pun melirik tajam ke arah adiknya yang sudah melangkahkan kakinya keluar.
Habibi mendesah panjang setelah kepergian Kayla. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju jendela dengan tangan berada di saku celana. Netranya menatap senja yang mulai memudar.
"Jika Engkau menentukan dia sebagai jodoh hamba, hamba mohon mudahkan jalannya Ya Rabb. Namun jika bukan, hamba mohon angkat sakitnya, angkat penderitaannya, gantilah kesedihannya dengan kebahagiaan. Hanya pada-Mu, hamba berserah diri."
Kumandang adzan manghrib mulai terdengar, Habibi segera menyudahi lamunannya dan bergegas mengambil wudhu untuk segera menunaikan kewajibannya sebagai hamba Allah. Tidak seperti biasanya yang selalu shalat berjama'ah di masjid, kali ini ia memutuskan shalat maghrib dan isya' di kamar rawat Zahra.
Habibi mengakhiri ritual shalat isya'nya dengan membaca Al Qur'an. Satu surah dari kalam Allah terlantun begitu indah dan merdu, membius siapapun yang mendengarnya.
Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dari setan yang terkutuk”.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang"
الٓرٰ ۚ تِلۡكَ اٰيٰتُ الۡكِتٰبِ الۡمُبِيۡ
Alif Lam Ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) yang jelas.
اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ قُرۡءٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Qur'an berbahasa Arab, agar kamu mengerti.
نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ اَحۡسَنَ الۡقَصَصِ بِمَاۤ اَوۡحَيۡنَاۤ اِلَيۡكَ هٰذَا الۡقُرۡاٰنَ ۖ وَاِنۡ كُنۡتَ مِنۡ قَبۡلِهٖ لَمِنَ الۡغٰفِلِيۡنَ
Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.
اِذۡ قَالَ يُوۡسُفُ لِاَبِيۡهِ يٰۤاَبَتِ اِنِّىۡ رَاَيۡتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبًا وَّالشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ رَاَيۡتُهُمۡ لِىۡ سٰجِدِيۡنَ
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
قَالَ يٰبُنَىَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡيَاكَ عَلٰٓى اِخۡوَتِكَ فَيَكِيۡدُوۡا لَـكَ كَيۡدًا ؕ اِنَّ الشَّيۡطٰنَ لِلۡاِنۡسَانِ عَدُوٌّ مُّبِيۡنٌ
Dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia.”
وَكَذٰلِكَ يَجۡتَبِيۡكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنۡ تَاۡوِيۡلِ الۡاَحَادِيۡثِ وَيُتِمُّ نِعۡمَتَهٗ عَلَيۡكَ وَعَلٰٓى اٰلِ يَعۡقُوۡبَ كَمَاۤ اَتَمَّهَا عَلٰٓى اَبَوَيۡكَ مِنۡ قَبۡلُ اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡحٰقَ ؕ اِنَّ رَبَّكَ عَلِيۡمٌ حَكِيۡمٌ
Dan demikianlah, Tuhan memilih engkau (untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan (nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui, Mahabijak-sana.
لَقَدۡ كَانَ فِىۡ يُوۡسُفَ وَاِخۡوَتِهٖۤ اٰيٰتٌ لِّـلسَّآٮِٕلِيۡنَ
Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang bertanya.
............................................................................
(QS. YUSUF: 1-111)
__ADS_1
Tepat ketika Habibi mengakhiri bacaan qur'annya, suara lirih kembali terdengar dari bibir Zahra.
"Habibi.. " lirih Zahra dengan mata masih terpejam.
Dengan cepat Habibi bangkit dan mendekati Zahra.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan Zahra.. " racau Zahra dengan air mata yang mulai mengalir. Tubuhnya kembali berguncang hebat disertai isakkan.
Habibi mulai panik. Dengan segera ia menekan tombol darurat yang berada di sisi bagian atas brankar untuk memanggil dokter.
Tak lama Friska dan seorang perawat pun masuk ke kamar rawat Zahra dengan membawa suntikan berisi cairan obat penenang. Sedari kemarin cairan itu menjadi pereda saat emosi Zahra tak terkendali di alam bawah sadarnya.
"Apa akan seperti ini terus, Fris?" tanya Habibi.
Friska terlihat mengembuskan napasnya.
"Kita do'akan saja. Dukung dia, beri dia semangat dengan sering mengajaknya bicara. Ini masa tersulitnya, mungkin sudah cukup lama dan dalam, Zahra memendam semuanya. Jadi untuk sementara biarkan dia meluapkan emosinya dulu selama itu tidak membahayakan dirinya, aku rasa tidak apa-apa. Tapi jika kondisinya semakin memburuk, kurasa tidak ada jalan lain lagi selain melakukan pengobatan dengan Electroconvulsive Therapy (ECT)," terang Friska.
"Electroconvulsive Therapy (ECT)? Apa itu?" tanya Habibi.
"Terapi kejut listrik. Tujuannya adalah untuk menciptakan kejang dengan mengalirkan arus listrik di otak pasien."
"Lalu, risiko apa yang akan dialaminya jika kita melakukan pengobatan dengan cara itu?"
Friska terdiam sesaat sebelum akhirnya ia kembali bersuara.
"Kemungkinan hilangnya ingatan," ucap Friska terdengar pelan.
Habibi mendelik tajam mendengar itu.
"Jangan main-main, Fris!" seru Habibi dengan nada tajam.
"Aku tidak main-main, Kailash. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawanya."
Sesaat, Habibi menutup wajah dengan kedua tangannya lalu menyugar rambutnya ke belakang sembari mendesah panjang.
"Kita tunggu perkembangannya besok. Jika hasilnya menunjukkan dalam keadaan baik, kita takkan melakukan itu, tenang saja," ucap Friska sembari menepuk pelan pundak Habibi, seakan tengah menenangkan laki-laki itu.
Habibi bergeming, matanya menatap sayu ke arah Zahra.
"Ya sudah, kalau gitu aku balik dulu."
"Hmmm... terima kasih," sahut Habibi tanpa mengalihkan perhatiannya dari wanita yang sudah tiga hari ini terbaring lemah.
"Semangat, Kailash. Dia butuh dukungan dan semangat dari orang-orang terdekatnya, jangan ikutan galau," nasehat Friska sebelum ia beranjak keluar dari kamar rawat Zahra.
* * *
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Habibi baru saja selesai melaksanakan tahajjudnya. Ia pun kembali duduk di kursi, samping brankar dengan tangan memegang Al Qur'an. Bibirnya kembali bergerak melantunkan ayat-ayat Al Qur'an dengan suara lembutnya.
Gerakan pelan dari jari tangan Zahra, menghentikan bacaan Habibi. Laki-laki itu dengan segera meletakkan Al-Qur'an di atas nakas dan mendekat ke arah Zahra.
"Zah?" panggil Habibi mendekatkan bibirnya di telinga Zahra yang tertutup jilbab.
"Bi.. Habibi.. " lirih Zahra dengan mata perlahan mulai terbuka.
Habibi tersenyum manis melihatnya seraya mengucap Hamdalah.
"Habibi.. " panggil Zahra dengan suara lemah.
"Aku di sini, Zah,"
"Jangan pergi. Jangan tinggalkan Zahra," ucapnya dengan mata menyorot lemah.
Habibi menggeleng pelan.
"Tidak akan. Aku akan selalu ada disamping kamu." Habibi meraih tangan Zahra lalu menggenggamnya.
Zahra tersenyum tipis lalu kembali memejamkan matanya.
"Tidurlah sebentar lagi, aku akan menunggumu di sini," ucap Habibi sembari mengecup lembut punggung tangan Zahra.
Zahra mengangguk pelan dengan mata terpejam.
"Terima kasih karena sudah kembali," ucap Habibi dengan tangan mengusap lembut kepala Zahra.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Aaahhhh... akhirnya selesai juga😔😔
__ADS_1
Ayo dong, jangan lupa Like, Komen dan VOTE nya yang banyak. Author udah UP lagi nih..🤗🤗