
Jika kau kira aku baik-baik saja
Tidak. Aku tidak pernah baik-baik saja
Luka itu masih begitu menyayat
Sakit ini masih terasa menghimpit
Tapi aku tak ingin merundung meratapi sesak ini
Aku lebih memilih berdamai dengan kepedihan ini
Dengan begitu aku masih memiliki secuil kekuatan
Untuk melangkah menata kehidupan
Berharap kelak lentera kecil mampu menggantikan terangnya matahari
Memberikan sedikit cahaya bagi hati yang telah kelabu
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Zahra melangkah keluar dari ruang operasi. Hari pertama bergabung dengan Departemen Bedah, hingga siang ini dia sudah melakukan tiga kali operasi, mendampingi dokter Liam. Zahra mengembuskan napasnya sembari melepas atribut sekali pakai yang ia gunakan saat operasi kemudian membuangnya pada tempat yang telah tersedia, seraya melangkah menuju lokernya. Ia mengambil sneli di dalam loker lalu memakainya menutupi baju OK berwarna biru yang masih membalut tubuhnya. Dengan gerakan cepat, Zahra meraih tas tangan yang berisi dompet dan ponselnya.
"Mau ke kantin? yuk, bareng," salah satu dokter yang menjadi partnernya di ruang operasi mengajak Zahra yang baru saja keluar dari ruang loker.
"Terima kasih dok tapi anda duluan saja, saya mau ke masjid dulu karena belum shalat dzuhur."
Zahra menolak halus dokter Liam Kim, dokter senior yang memiliki wajah khas negara ginseng.
"Mau saya temani?" gurau dokter Liam.
Zahra tersenyum simpul sembari menggeleng.
"Saya masih hafal jalan menuju ke sana kok, dok," Zahra menanggapi gurauan itu dengan tersenyum.
"Ha.. ha.. ha..ya sudah hati-hati dalam perjalanan ke sana, semisal ada yang mengganggu jangan sungkan untuk mengeluarkan senjata andalannya," ucap dokter Liam.
"Senjata andalan?" Zahra mengerutkan dahinya.
"Pisau bedah ha.. ha.. ha.." dokter Liam menjawab sembari melangkah meninggalkan Zahra.
Zahra mengulum senyum seraya menggeleng kecil.
Zahra menyusuri lorong rumah sakit dengan setengah berlari. Waktu sudah menunjukkan pukul 13.45 WIB saat ini. Operasi ketiganya dimulai pukul 11.00 WIB dan baru berakhir 13.30 WIB, lima menit yang lalu sehingga dia belum sempat melaksanakan shalat dzuhur.
Brugg..
Tanpa sengaja tubuh Zahra menabrak seseorang tepat di tikungan terakhir menuju masjid. Hampir saja ia terjungkal ke belakang jika saja tangan seseorang tidak sigap menahan pinggangnya.
Kedua netra itu pun bertemu dan saling mengunci dalam jarak yang dekat. Tak butuh lama karena detik kemudian keduanya melafalkan istighfar secara bersamaan. Baik Zahra maupun Habibi segera menegakkan tubuhnya.
"Maaf," ucap mereka kembali bersamaan.
Zahra menundukkan kepalanya sedang Habibi mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Terima kasih,"
Zahra mengangkat kepalanya seraya menatap sesaat. Habibi tersenyum kecil.
"Hmmm.. lain kali hati-hati," Zahra mengangguk lalu berpamitan.
Dengan kepala menunduk, Zahra melangkahkan kakinya meninggalkan Habibi yang masih terdiam di tempatnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" langkah Zahra terhenti saat suara itu kembali terlontar untuknya.
Zahra menghela napas dalam lalu membalikkan tubuhnya menghadap Habibi yang kini telah menatapnya.
"Saya baik-baik saja seperti yang anda lihat," ucap Zahra sembari mengulum senyum walau air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, sekuat mungkin ia menahannya agar tidak terjatuh.
Habibi menatap Zahra tanpa ekspresi namun dari sorot matanya tampak jika laki-laki itu seakan tengah mencari kebenaran dari ucapan yang dilontarkan wanita di depannya.
"Bohong. Kamu sedang berbohong padaku."
"Segeralah, waktunya hampir habis," ucap Habibi akhirnya seraya mengangguk pelan.
Zahra yang mengerti maksud Habibi segera berbalik. Tepat saat tubuh itu berbalik, air mata yang tadi ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh membasahi pipinya.
"Sesungguhnya aku tidak baik-baik saja. Sekuat apapun aku menahan, kehadiranmu tetap menyakitkan untukku."
Zahra melangkahkan kakinya dengan hati yang berkecambuk. Air matanya sudah menganak sungai di wajahnya.
"Apa yang membuatmu menangisiku? kesalahan apa yang telah aku perbuat sehingga membuatmu terluka begitu dalam? Tak bisakah kamu katakan sebabnya agar aku tidak mengkhawatirkanmu?"
Habibi terdiam menatap tubuh Zahra yang bergetar. Tatapannya tampak sendu. Pertemuan ketigakalinya dengan Zahra semakin menaikkan rasa penasaran yang sudah bersarang di hatinya sedari awal.
"Kenapa air mata itu harus selalu kamu suguhkan saat bertemu denganku."
🍃🍃🍃
__ADS_1
Zahra menengadahkan tangannya usai melaksanakan shalat dzuhur. Akhir-akhir ini tepatnya setelah pertemuannya dengan Habibi, gemuruh di hatinya semakin tak karuan. Air mata yang biasanya mampu ia tahan pun seakan tak mampu ia kendalikan lagi terlebih jika di depan laki-laki itu, laki-laki yang membuatnya teringat pada sang kekasih hati, laki-laki yang membuatnya sulit menahan gejolak rasa yang selama ini terpendam, laki-laki yang tanpa ia sadari sudah membuatnya melambungkan asanya.
"Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini yang selalu lalai akan perintah-Mu. Ampuni segala dosa dan khilaf yang telah aku perbuat selama ini. Beri aku kekuatan Ya Rabb, menghadapi semua ujian-Mu ini. Beri aku hati sekuat baja saat aku berhadapan dengannya.
*Allah h*aruskah Engkau mengujiku seperti ini? terlalu sulit untuk hamba melalui semua ini. Terlalu sakit hati ini saat semua harap dan asa kembali kutumpukan.
Hamba tahu ini hanyalah sebagian dari ujian-Mu. Engkau hanya ingin menguji seberapa besar hati hamba mengikhlaskan kepergiannya. Dan seberapa besar tekad hamba untuk memulai dan menerima kehidupan yang baru dengan laki-laki lain.
Kepada-Mu ku pasrahkan hidup ini. Kepada-Mu kutitipkan jiwa dan raga ini. Ku mohon Ya Rabb, genggamlah hati ini agar tak kembali ku gantungkan semua harapku pada selain-Mu. Dan cukupkan segala perih ini agar aku tak menjadi makhluk-Mu yang lemah dan kufur akan nikmat-Mu.
Ya Allah, kutitipkan dia pada-Mu. Tempatkan dia di tempat yang terbaik di sisi-Mu. Sampaikanlah rinduku ini padanya. Sampaikan padanya untuk tidak mengkhawatirkan istri dan putranya karena kami akan baik-baik saja. Dan sampaikanlah padanya bahwa kami selalu mencintainya.
Zahra mengusap wajahnya yang sudah banjir dengan air mata. Setelah berdzikir dan berdo'a, ia menyempatkan untuk membaca Al Qur'an sebelum beraktivitas kembali pada pekerjaannya.
Zahra duduk di undakan teras masjid sembari bersandar pada salah satu tiang penyangga bangunan di belakangnya. Jiwa dan raganya merasa lelah saat ini. Banyak hal sudah ia lalui dan menguras semuanya, baik itu tenaga maupun emosinya. Rasanya ingin sekali ia beristirahat sejenak. Niatnya mengistirahatkan diri dari semua hal yang menguras energinya serta menata hatinya, sepertinya harus urung karena kehadiran Habibi.
Posisinya yang membuatnya sulit saat ini. Keinginannya untuk mencari tahu tentang sosok Habibi sesungguhnya harus ia telan mentah-mentah saat ia sadar bahwa dia telah mengikat janji dengan pria lain. Kehadiran Farid tak bisa ia abaikan begitu saja. Zahra tak memiliki cukup keberanian menyakiti hati laki-laki itu walau hingga detik ini hatinya masih menolak sosok Farid. Dan kehadiran Habibi justru semakin mengukuhkan posisi Hafiz di hatinya.
"Zahra bingung, Bi. Ke mana Zahra harus menentukan langkah ini. Banyak hati yang saat ini dipertaruhkan. Banyak sekali harapan yang telah digantungkan pada Zahra. Haruskah Zahra mengorbankan perasaan Zahra padamu hanya untuk melihat mereka semua tersenyum bahagia? atau justru Zahra memperjuangkan hati dan janji Zahra padamu meski tahu akan banyak hati yang tersakiti karenanya," gumam Zahra sembari menghela napas panjang dan mengeluarkannya dengan berat.
Zahra mendongak menatap langit yang kini tampak teduh.
"Zahra rindu kata-katamu yang selalu menenangkan hati," ucapnya sembari tersenyum getir menatap langit.
"Zahra rindu tatapan teduh dan senyum hangatmu," Zahra menjeda kalimatnya sesaat seraya mengontrol hatinya agar tak kembali meluapkannya dengan tangisan.
"Zahra juga rindu usapan lembutmu di kepala Zahra."
Zahra menatap langit yang saat ini seakan tengah menampilkan sederet kenangan masa lalunya yang indah. Senyumnya mulai terbit saat sosok Hafiz seolah muncul disana dan menyapanya.
"Begitu cepat waktu berlalu, Bi, tapi begitu singkat kebersamaan kita. Walau begitu sudah banyak hal yang kita lalui bersama hingga waktu tujuh tahun bahkan tak mampu menghapus semua kenangan tentangmu," Zahra kembali bergumam sendiri.
"Kalau semesta ini mengizinkan. Zahra ingin menjadi satu-satunya untukmu seperti dirimu yang menjadikan Zahra satu-satunya bidadari yang dalam hidupmu," lanjutnya.
Air matanya mulai menetes perlahan. Zahra lebih mendongakkan kepalanya ke atas.
"Kamu pasti sedih melihat Zahra seperti ini, iya kan Bi? karena tanganmu tak mampu lagi menghapus air mata Zahra."
"Maafkan Zahra yang membuatmu khawatir."
Zahra mengusap air matanya.
"Haruskah Zahra menerima Farid? agar dia bisa mewakilkanmu, menghapus air mata ini."
"Zahra yakin kamu pasti akan cemburu melihat Zahra bersamanya, iya kan?"
Zahra tersenyum dalam tangisnya, mengingat betapa pencemburunya Hafiz.
"Zahra rindu saat kamu merajuk karena cemburu."
"Maaf jika Zahra harus selalu menangis saat mengingatmu," ucapnya sedikit tersendat karena air matanya terus mengalir.
"Ini salahmu, Bi. Kenapa waktu itu kamu meminta Zahra menunggumu. Kenapa kamu harus mengatakan kamu akan kembali dan meminta Zahra untuk menjaga hati serta cinta Zahra untukmu. Tidakkah kamu tahu bahwa kata-katamu itu membelenggu hati Zahra. Tidakkah kamu tahu bahwa itu melukai hati Zahra, karena kata-katamu adalah harapan yang menyakitkan untuk Zahra. Sampai kapan Zahra harus menunggu agar semua ini terlepas. Cintamu terlalu erat menggenggam hati Zahra."
Zahra terisak pelan sembari menelungkupkan kepalanya di atas lutut.
Air mata itu menetes. Hatinya bagai tersayat belati tajam saat mendengar semua curahan hati dari seorang wanita yang kini menangis hebat di belakangnya.
Posisi mereka saat ini saling bersandar pada tiang penyangga yang sama. Zahra yang tidak menyadari kehadiran siapapun di dekatnya. Sedang Habibi, niat awal kembali ke masjid hanya untuk mengambil jam tangan yang tertinggal justru berakhir duduk di balik pilar yang Zahra sandari. Rasa penasaran terhadap Zahra membuatnya menyeret kedua kakinya untuk mendekat, terlebih saat dia melihat wanita itu tampak asik dengan dunianya sembari menatap langit.
"Seberat itukah beban yang kamu pikul? Sedalam itukah luka yang menancap di hatimu sehingga aku hanya bisa melihat tangis serta isakkan menyakitkan itu keluar dari mata dan bibir indahmu?
Allah.. seandainya Kau izinkan, jadikan aku sebagai penawar untuk luka hatinya. Izinkan aku menjadi seseorang yang memiliki hak untuk menghapus air matanya, seseorang yang memiliki kuasa memeluk tubuhnya untuk menyalurkan ketenangan dan kekuatan padanya.
Walau aku tahu akan sulit menggapai hatinya yang telah terikat dengan seseorang itu. Tapi aku percaya pada-Mu, tidak ada yang lebih berkuasa dari pada Engkau, sang Pemilik Hati setiap hambanya."
Habibi berdiri dari tempatnya lalu melangkah meninggalkan Zahra yang masih tenggelam pada posisinya.
🍃🍃🍃
Sore ini Zahra memiliki janji temu dengan Meysha di salah satu cafe dekat Rumah Sakit. Setelah ia mengecek jadwal kuliahnya, ia pun segera bergegas menuju cafe tersebut. Tidak butuh lama untuk sampai di cafe karena letak kampusnya memang bersebelahan dengan Rumah Sakit. Terlihat Meysha sudah lebih dulu sampai dan duduk di salah satu meja saat Zahra melangkah memasuki cafe.
"Assalamu'alaikum, Mey."
"Wa'alaikumus salam. Duduk, Ra."
Zahra menarik kursi yang berada tepat di depan Meysha. Gadis itu sebelumnya tampak sedang membaca, saat Zahra masuk ke cafe.
"Sibuk banget ya, Ra. Sampai sulit untuk bertemu denganmu padahal satu tempat kerja," keluh Meysha.
Zahra tersenyum mendengar ocehan Meysha yang terdengar merajuk.
"Baru proses adaptasi, Mey jadi maaf kalau aku sedikit sibuk," ucap Zahra sedikit tidak enak dengan temannya yang satu ini.
"Sedikit apa, banget iya kali," sahut Meysha dengan bibir mengerucut lucu.
"Ya Allah, Mey, sudah seperti pacar aku saja kamu pakai merajuk gitu. Kan kamu juga dokter, tahulah bagaimana sibuknya pekerjaan aku," canda Zahra sembari menggeleng melihat tingkah Meysha.
__ADS_1
Mendengar itu Meysha justru berdecak sebal.
"Kamu sedang PMS, Mey? atau jangan-jangan baru putus sama pacar kamu ya?" tebak Zahra.
"Allahu Rabbi. Gimana mau putus Ra, orang jadian saja belum," aku Meysha dengan wajah putus asa.
"Cinta tak berbalas?"
"Belum tahu, Ra. Aku juga masih bingung sama hati aku."
"Maksudnya?"
"Aku masih ragu, Ra. Aku takut jika rasa yang aku miliki untuknya ini hanya sebatas sebagai pelarian dari sakit hati aku."
"Mey?"
"Aku pernah gagal menikah, Ra," Meysha menunduk dalam.
"Allah pasti punya rencana lain yang lebih baik untukmu, Mey," hibur Zahra merasa iba.
Tak pernah menyangka jika temannya ini memiliki pengalaman buruk yang cukup menyakitkan.
"Aku tahu, Ra. Hanya saja sulit sekali menghapus luka itu."
Zahra tersenyum getir, tidak ada kata yang mampu ia ucapkan untuk menghibur karena ia sendiri juga memiliki luka yang hingga saat ini tak mampu ia obati.
"Aku terlalu menaruh harapan padanya sehingga rasa yang ku miliki untuknya terlalu dalam. Dan karena itulah luka ini masih membekas meski sudah lama."
Zahra masih terdiam menatap Meysha yang kini sudah berkaca-kaca.
"Kamu pasti bahagia ya, Ra bisa hidup bersama Si Jus Alpukat itu."
"Jus Alpukat?" Zahra mengerutkan keningnya, bingung dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Meysha. Siapa jus alpukat?
Meysha menyipitkan matanya merespon kebingungan Zahra.
"Laki-laki yang dulu selalu setia menunggu kamu waktu kuliah. Itu loh anak FE yang tidak pernah absen bawa jus alpukat untuk kamu. Siapa tuh namanya? lupa aku."
Zahra berpikir sejenak lalu tiba-tiba ia terkikik.
"Kenapa, baru ingat? parah kamu, Ra. Lelaki super perhatian seperti dia, kamu lupakan. Eits, tunggu.. apa jangan-jangan kalian sudah putus?"
Mata Meysha yang tadi berkaca-kaca kini berubah sorotnya menjadi penasaran akan cerita Zahra.
"Dia sedang menunggu istrinya yang sebentar lagi melahirkan," tutur Zahra membuat mata Meysha membulat sempurna.
Tampak gadis itu menelan ludahnya sebelum kembali berucap.
"Kamu ditinggal nikah sama dia?" ucap Meysha terdengar menggebu.
Zahra pun mengangguk dan menampakkan wajah sedihnya.
"Astaghfirullahal'adzim, aku kira cintanya beneran sama kamu. Kok bisa? wah bisa kualat dia menyia-nyiakan perempuan shalihah seperti kamu."
Zahra menahan tawanya. Ingin sekali dia mengatakan bahwa dialah yang kualat karena telah menyia-nyiakan lelaki sebaik Andrie. Ya, laki-laki yang disebut Si Jus Alpukat oleh Meysha adalah Andrie. Selama kuliah, Andrie memang rutin setiap hari membawakannya jus alpukat terlebih saat Zahra mengandung Raffa. Laki-laki itu selalu setia menunggu jam kuliah atau praktiknya berakhir. Membawakan jus alpukat, membawakan bekal berisi buah-buahan, camilan, atau apapun itu yang jelas perhatiannya disalahartikan oleh teman-temannya. Mereka yang sama sekali tidak mengetahui Zahra tengah mengandung, beranggapan bahwa Andrie dan Zahra berpacaran.
Zahra tersenyum mengingat kembali perjuangan Andrie. Laki-laki yang sudah ia patahkan hatinya dua kali. Laki-laki yang hingga detik ini bahkan selalu memperlakukannya dengan baik, menyayangi Raffa seperti putranya sendiri.
"Ra?"
"Dia kakak aku," ucap Zahra.
"Kakak?" kaget Meysha.
"Bisa di bilang seperti itu, kami sudah bersama sejak kecil. Orang tua kami juga bersahabat bahkan kedua orang tuanya menganggap aku putrinya," tutur Zahra.
"Terus kenapa kalian tidak menikah saja sekalian? kan enak, sudah saling mengenal dan tahu luar dalamnya."
"Jodoh itu kuasanya Allah, Mey. Dan aku lebih nyaman dengan hubungan kami saat ini."
"Hmmm.. kamu benar dan cinta memang tidak bisa dipaksakan," ucap Meysha sembari mengangguk.
"Mey, sudah mau maghrib. Sepertinya kita shalat di masjid rumah sakit saja dulu, baru setelahnya kita ke apartemen," ucap Zahra.
"Kamu sudah membawa semua barang-barang kamu?" tanya Meysha.
"Sudah. Hanya dua koper dan sekarang sudah ada di mobil."
Meysha mengangguk lalu keduanya beranjak meninggalkan cafe menuju masjid yang ada di rumah sakit.
Sore ini Zahra memutuskan untuk pindah ke apartemen khusus pegawai dan kebetulan Meysha adalah salah satu penghuni di sana. Meskipun gadis itu penduduk asli kota jakarta namun Meysha memilih tinggal di apartemen. Alasannya adalah jarak rumahnya ke rumah sakit sangatlah jauh selain itu panggilan mendadak dari Rumah Sakit membuatnya lebih nyaman dan aman tinggal di apartemen yang letaknya lebih dekat.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Alhamdulillah, satu part telah terselesaikan.
Happy Reading Sahabat semua dan jangan lupa usai membaca, tekan BINTANG untuk support Author. Berapapun itu insyaallah menjadi berkah. Dan juga tinggalkan jejak anda di kolom Komentar agar Author senan tiasa memperbaiki karya Author kedepannya.
Jazakallahu Khairan..🙏🙏
__ADS_1