LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
KEYAKINAN HATI


__ADS_3

Matahari mulai merangkak naik, hawa dingin yang tadi sempat menyelimuti kini terasa mulai menghangat. Kehangatan ini pula yang dirasakan oleh orang-orang yang kini tengah berkumpul sembari bercanda tawa. Bahkan sesekali terdengar gelak tawa di antara mereka.


"Harus ya pulang hari ini? besok kan masih hari minggu. Kenapa tidak besok saja sekalian. Ya, ya.. besok pagi ya biar nanti malam kita barbeque-an dulu," rengek Lintang pada sahabat-sahabatnya.


"Kalau kita pulangnya besok terus kapan dong kita istirahatnya, lusa kita sudah kembali ke aktivitas masing-masing loh, Lin," sahut Sisil.


"Ya kan pulangnya pakai pesawat, satu sampai dua jam juga sudah sampai rumah. Masih bisa istirahat," balas Lintang.


"Kamu tidak kasihan sama bumil yang satu ini, hem? Rania butuh istirahat lebih banyak. Kasihan dia, lusa sudah balik mengajar lagi," ucap Kemal sembari merangkul istrinya yang kini tengah mengandung anak keduanya.


Terdengar helaan napas disertai decakkan dari bibir Lintang.


"Kapan-kapan kita main lagi ke sini kalau Rendra sudah agak besaran jadi kita bisa piknik ke tempat yang bagus-bagus di Bandung, Lin," ujar Rania menenangkan sahabatnya.


"Iya sekalian nunggu Rania melahirkan dulu. Biar kita tidak punya beban kalau pergi-pergi," timpal Gilang.


"Yah, lama dong."


Lintang mengerucutkan bibirnya.


"Apa mau sekalian nunggu Zahra dan Farid menikah, biar Bu Bos dan Pak dosen tu yang menanggung semuanya," ucap Kemal yang langsung dihadiahi tatapan kaget Zahra.


"Kok jadi aku?" ucap Zahra.


"Biar enak perginya, Ai. Jadi berpasang-pasangan gitu," giliran Andrie yang menjawab.


Zahra hanya mendengus pelan mendengarnya sedang Farid tersenyum getir, ia teringat percakapan Zahra dan Andrie semalam.


"Oh ya, Raffa ikut pulang bareng Bunda dan Ummah kan?" tanya Sisil pada Raffa yang kini berada di pangkuan Gilang.


"Raffa bareng aku, dua hari lagi aku pulang ke Semarang," jawab Farid.


"Loh, memang tidak apa-apa kamu pulang ke Semarang? tidak nunggu cederanya pulih dulu?" sahut Rania.


"Cederaku sudah lumayan membaik, nanti di Semarang kan bisa lanjut kontrol sampai pulih. Tidak apa-apa kan, Ra?" terang Farid lalu beralih menatap Zahra.


Zahra tersenyum sembari mengangguk.


"Selama kamu tidak melakukan aktivitas berlebih pada bagian cederamu, In Sya Allah tidak sampai dua bulan tulang kembali pada posisi semula," terang Zahra.


"Ummah, Khalis mau pulang bareng Kak Affa?" celetuk Khalisa dengan suara khas anak usia tiga tahun.


Semua orang kini beralih menatap bocah menggemaskan itu.


"Khalis pulangnya sama Ummah dan Abah ya. Kasihan Oom Farid kalau kamu ikut terus nanti rewel," tutur Rania pada putrinya.


Mendengar penuturan Rania, Khalisa justru menangis sembari menarik lengan Raffa hingga tubuhnya ikut tertarik. Raffa pun turun dari pangkuan Gilang lalu mengusap lembut kepala Khalisa.


"Khalis tidak boleh nangis kalau mau bareng Kak Affa pulangnya," tenang Raffa pada bocah mungil itu seraya mengusap pipinya yang sudah basah. Khalisa mengerjapkan matanya lalu memasang senyum manis sembari mengangguk pada Raffa.


"Kayaknya tidak perlu nunggu lama deh, Ra, tu dua bocah dinikahkan," celetuk Kemal yang langsung mendapat cubitan keras di lengannya.


"Sakit, Yang," aduh Kemal sembari mengusap lengannya yang dicubit Rania.


"Lagian kamu ini loh, Mas, kalau bicara tidak dipikir dulu. Anak baru tiga tahun sudah berpikir untuk menikahkannya."


"Biar tidak zina nantinya, Sayang. Tu lihat dua bocah itu sudah main sentuh-sentuhan saja."


"Masih anak-anak, Mas. Jangan ngaco deh pikirannya."


Rania dan Kemal masih berdebat lucu sedang yang lain hanya tertawa melihat keduanya. Zahra menggelengkan kepalanya melihat mereka semua lalu mendekati Raffa dan Khalisa. Ia mengangkat tubuh Khalisa dan menggendongnya lalu meraih tangan putranya.


"Khalisa mau dibawa kemana, Ra?" tanya Kemal dan Rania bersamaan.


Zahra berhenti melangkah lalu memutar kepalanya.


"Lama-lama di sini, pikiran anak-anak bisa teracuni oleh kalian," ucap Zahra lalu kembali melangkah.


Tawa pun pecah seketika sesaat setelah Zahra mengatakan itu. Gilang menepuk keras pundak Kemal sembari terkekeh.


"Berobat gih, keluarkan racun yang ada di kepala kamu, biar tidak nular ke anak-anak," kelakar Gilang yang di balas gelak tawa oleh yang lain.


* * * * *


Hari minggu seharusnya menjadi hari bersantai bagi para pekerja, karena di hari itu mereka bisa menikmati masa libur mereka sebelum kembali bergulat dengan pekerjaan, esok hari. Namun hal itu tidak berlaku bagi dokter residen seperti Zahra. Banyak waktu yang harusnya menjadi hari bersantainya justru harus berakhir di tempat kerjanya.


Bagi dokter koas, dokter intership dan dokter residen seperti dirinya, rumah sakit sudah seperti rumah bagi mereka. Hampir keseluruhan waktu yang mereka miliki, mereka habiskan dengan bekerja untuk memperdalam serta meningkatkan keahlian mereka. Zahra sendiri pun begitu, waktunya habis di rumah sakit tepatnya di ruang operasi. Selain mengasah kemampuannya di bidang bedah tentu saja ia juga harus mengumpulkan jam terbang operasi agar kemampuannya diakui.


Hanya kampus, tempat lain yang Zahra singgahi. Bahkan apartemen hanya sebatas persinggahan sesaat baginya karena ia lebih sering menghabiskan waktu tidurnya di rumah sakit.


Zahra tengah menata makanan di meja makan. Sudah ada beberapa makanan yang ia masak sendiri untuk Farid, Raffa dan Khalisa. Ya, Rania dan Kemal akhirnya memberi izin pada putrinya yang ingin pulang bersama Raffa. Zahra mengambil nasi untuk tiga orang yang kini sudah duduk diam di kursi masing-masing. Ia seperti seorang Istri dan ibu untuk keluarga kecilnya dengan melayani mereka di meja makan.


"Aku menunggu hari-hari seperti ini, bisa kita alami di masa depan," celetuk Farid membuat Zahra mendongak untuk menatap laki-laki itu.


"In Sya Allah," jawab Zahra singkat seraya mengukir senyum kecilnya.


Farid pun ikut tersenyum. Meski dalam hati, ia tahu jika Zahra masih belum bisa menerimanya sepenuh hati. Namun Farid tak ingin menyerah dan berputus asa, ia akan terus meminta pada Sang Pemilik Cinta agar bisa membalikan hati Zahra untuknya, menjadikan wanita itu sebagai pelabuhan terakhir dari perjalanan hidupnya.


"Ada beberapa camilan untuk Raffa dan Khalisa yang kutaruh di lemari dapur dan lemari pendingin. Kamu bisa memberikannya pada mereka setelah mereka bangun," tutur Zahra pada Farid yang kini tengah duduk memangku laptopnya. Farid pun mengangguk merespon ucapan Zahra.


"Istirahatlah, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja saat ini. Tubuhmu masih perlu beristirahat setelah menerima goncangan dan benturan satu bulan lalu," nasehat Zahra pada Farid yang tengah fokus pada laptopnya.

__ADS_1


Farid mengalihkan perhatiannya pada Zahra lalu tersenyum manis.


"Aku sudah lebih baik, Ra. Kamu tidak perlu cemas."


Zahra mengembuskan napas pasrah. Farid memang tipe laki-laki yang tidak bisa abai pada tanggung jawabnya.


"Ya sudah, kalau gitu aku pamit ya,"


"Pulang jam berapa?" tanya Farid cepat.


"Tidak lebih dari tiga jam. Hari ini aku hanya melakukan operasi satu kali setelahnya aku mampir ke perpustakaan Kampus sebentar untuk mengembalikan buku, baru setelah itu aku pulang," jawab Zahra yang segera di angguki oleh Farid.


"Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu. Aku pergi sekarang ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumus salam. Hati-hati di jalan, Ra."


☘️☘️☘️


Zahra mengayunkan kakinya sedikit lebih cepat, menyusuri lorong fakultas menuju tempat parkir. Saat keluar dari perpustakaan tadi, ia bisa melihat awan gelap tampak menghiasi langit seolah tak lama lagi akan turun hujan. Dan benar saja, belum sampai ia di tempat parkir. Hujan dengan derasnya turun ke bumi membuat Zahra memilih untuk berteduh.


Zahra pun bersandar pada dinding di lorong terakhir sebelum menginjakkan kaki di lapangan dekat tempat parkir. Hujan begitu deras hingga Zahra sedikit merapatkan tubuhnya. Tiba-tiba saja angin berhembus kencang, menggerakkan air hujan ke arahnya. Sontak, Zahra mengangkat tangan menutupi wajahnya.


Tepat ketika air hujan itu mengarah pada Zahra, seseorang dengan sigap berdiri di depannya. Perlahan Zahra menurunkan tangannya yang ia gunakan untuk menghalau air hujan ke wajahnya, saat ia merasa tak ada air hujan yang membasahinya. Zahra mengangkat kepalanya.


Degg..


Sebuah punggung lebar tepat berada di depannya seakan tengah menghalangi air hujan yang mengarah pada tubuh Zahra. Melihat siapa pemilik punggung itu, perlahan Zahra menarik kedua bibirnya ke atas dengan mata berkaca-kaca dan tak lama kemudian butiran air yang sebelumnya menghiasi mata itu pun turun membasahi pipinya. Zahra sempat menahan napas agar isakkannya tak lolos dari bibirnya. Ada kerinduan yang sebelumnya membuncah kini seakan menguar kala melihat sosoknya.


Keheningan tercipta untuk beberapa waktu, hanya ada suara air hujan yang jatuh menimpa bumi. Keduanya pun tampak sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Sudah lama saya tidak pernah melihat anda," lirih Zahra terdengar di antara suara derasnya air hujan setelah sekian lama mereka terdiam.


"Ada yang harus saya urus di Jerman," jawab Habibi dengan mata terpejam menghindari air hujan yang hendak menerobos matanya. Wajah serta tubuh bagian depannya sudah basah terkena air hujan.


Zahra kembali terdiam. Tidak ada alasan baginya untuk kembali bertanya mengenai urusan Habibi karena itu bukan haknya.


"Apa kamu baik-baik saja selama saya tidak ada?" tanya Habibi kembali memecah keheningan di antara mereka.


"Saya tidak pernah baik-baik saja setelah kepergiannya," aku Zahra dengan kepala menunduk dan kembali meluruhkan air matanya.


"Apa dia mengkhianati cintamu, dengan pergi meninggalkanmu?"


Zahra menggeleng seolah Habibi melihatnya.


"Tidak. Dia tidak pernah mengkhianati cintaku."


"Lalu?"


Mata Habibi sedikit membulat, tubuhnya menegang saat mendengar laki-laki yang dicintai oleh wanita tercintanya telah meninggal. Lalu apa yang ia harapkan dari perjuangannya untuk mencari tahu semuanya jika laki-laki itu telah tiada. Tidak mungkin laki-laki itu adalah dirinya karena sekarang ini ia masih hidup. Lalu bagaimana dengan potongan puzzle yang berputar di kepalanya, yang seolah-olah itu adalah kilasan ingatan milik seseorang yang ia sendiri tidak tahu.


Habibi menghela napas dalam, mencoba mengurai sesak yang kian hari kian menekannya hingga ia merasa sulit dan sakit dalam waktu bersamaan.


"Tujuh tahun lalu, dia mengatakan padaku bahwa dia akan kembali. Dia memintaku untuk menjaga hati dan cintaku untuknya, tapi.. " lirih Zahra seakan sulit untuk mengatakan itu semua.


"Zahra," panggil Habibi memotongnya.


"Salahkah jika aku menunggunya? Salahkah jika aku masih mengharapkannya?" ucap Zahra mulai tak mampu mengendalikan emosinya dengan derai air mata mengabaikan panggilan Habibi.


Habibi mengusap wajahnya lalu memutar tubuhnya hingga ia bisa melihat wajah cantik itu dalam jarak yang sangat dekat. Mata Habibi seketika menyendu melihatnya, selain karena rasa rindu yang menguasainya juga karena ia melihat betapa hancurnya wanita di depannya ini.


"Kamu yakin dia telah meninggal?" tanya Habibi, seketika membuat Zahra mendongak menatapnya dengan wajah banjir air mata.


Habibi mengepal erat kedua tangannya yang berada disamping tubuhnya. Ia menahan sekuat mungkin lara itu, menekan perih yang mulai terasa menyayat hatinya kala air mata itu luruh tanpa henti.


Zahra menggeleng pelan dengan netra tak putus dari iris hitam milik Habibi. Dosa, ya keduanya tahu dosa yang mereka lakukan saat ini namun hasrat akan kerinduan yang sudah tidak bisa mereka tampung, dan lagi luka yang seakan mengharap untuk dibasuh membuat mereka lupa dengan apa yang mereka lakukan.


"Aku tidak ingin meyakini itu semua namun waktu seakan menjawab dan mengikis keyakinananku."


"Bagaimana jika waktu hanya ingin menguji hati dan kesetiaanmu padanya?"


"Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menguji kesetiaanku padanya. Haruskah ia melakukan ini padaku?"


"Lalu bagaimana dengan laki-laki yang kini menyandang status sebagai tunanganmu? bukankah itu sudah menjawab bahwa kesetiaanmu padanya telah goyah."


Zahra tersentak mendengar kalimat Habibi, ia memejamkan matanya untuk menghalau perih itu.


"Keadaan yang tak membiarkanku untuk memilih sesuai dengan keinginanku," tutur Zahra dengan mata masih terpejam.


"Apa sudah ada benih cinta untuknya hadir di hatimu?"


Zahra membuka matanya dan kembali menatap Habibi dengan mata bulat yang mulai melebar.


"Jika cinta itu sudah hadir di hatiku haruskah aku menangisi keputusanku setiap waktu karena harapan akan seseorang yang ku inginkan masih terus menguasai."


Keheningan sejenak terasa setelah Zahra mengatakan itu. Hanya ada interaksi dari tatapan keduanya yang kini saling menembus pertahanan masing-masing.


"Zahra,"


"Habibi,"


Ucap keduanya bersamaan lalu kembali terdiam.

__ADS_1


"Aku merindukanmu."


"Zahra merindukanmu, Habibi."


Lagi, mereka mengucap kalimat secara bersamaan. Lelehan air mata kembali lolos. Kini bukan hanya milik Zahra seorang namun juga Habibi. Laki-laki itu meneteskan air matanya.


"Jika aku adalah laki-laki yang tujuh tahun lalu pergi meninggalkanmu, apa kamu percaya?"


Zahra terdiam sesaat lalu tak lama ia menggeleng pelan meski hatinya menjawab lain. Jika benar menurut dugaan Zahra, Zahra ingin tahu sejauh mana Habibi akan berjuang untuk dirinya. Ia juga ingin memastikan kebenaran perasaan Habibi untuknya.


"Kenapa?" tanya Habibi pelan.


Suaranya nyaris tak terdengar karena teredam derasnya hujan.


"Karena dia takkan pernah melupakanku. Dia tak akan pernah bisa mengabaikan bidadari hatinya. Karena aku adalah napasnya, karena aku adalah jantung bagi hidupnya," terang Zahra sembari menatap dalam netra Habibi.


"Bagaimana jika itu bukan keinginanku? Bagaimana jika keadaanlah yang membuatku lupa padamu dan kenangan kita?"


"Setidaknya hatimu tidak lupa, jika ia telah memiliki seorang pemilik. Mata boleh saja lupa siapa yang ia lihat, tapi hati takkan pernah lupa siapa yang ia cintai," ucap Zahra kembali mengingatkan pada kalimat yang pernah diucapkan Kayla pada laki-laki itu.


"Bagaimana jika hatiku mengingat semua itu?"


Zahra terdiam menatap serta merasai hal yang tampak dari iris hitam itu.


"Hatiku mencintaimu, Zahra."


Zahra melihat itu semua, tidak ada sedikit pun kebohongan yang terpancar dari mata Habibi. Mata itu sungguh tampak seperti mata Hafiz, Habibinya. Kini hatinya justru teremas, terasa ngilu membayangkan antara Habibi dan Farid. Siapa yang kelak akan terluka karena pilihannya. Untuk Zahra sendiri, jangan tanyakan bagaimana hatinya saat ini. Perih karena luka di hatinya semakin terasa. Hidupnya seakan dipermainkan takdir yang berkali-kali harus menghujam hatinya.


"Katakan satu hal saja yang bisa membuatku percaya dan yakin bahwa kamu adalah Hafiz, Habibiku."


Habibi menghela napas panjang lalu mengembuskannya. Haruskah ia mengatakan apapun yang pernah ada dalam mimpinya, haruskah ia mengatakan potongan puzzle yang terus berputar di benaknya pada Zahra. Satu bulan usahanya nyatanya ia belum menemukan apa-apa untuk membuktikan bahwa dialah laki-laki yang dicintai oleh Zahra.


"Uhib.. "


Drrrtt.. 🎶🎶


Drrrtt.. 🎶🎶


Drrrtt.. 🎶🎶


Kalimat yang akan Habibi ucapkan terpotong oleh dering ponsel milik Zahra. Awalnya Zahra abai namun dering ponsel itu terus berbunyi tanpa henti hingga ia terpaksa mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum," salam Zahra setelah menghapus air matanya dan menormalkan suaranya.


"Wa'alaikumus salam. Ra, apa urusan kamu sudah selesai?"


Zahra terdiam sejenak sembari menatap wajah Habibi.


"Sudah. Apa kamu membutuhkan sesuatu? atau anak-anak rewel?"


"Tidak, anak-anak baik-baik saja. Aku hanya ingin memberitahumu kalau sekarang Ummi dan Abi ada di sini."


"Ummi dan Abi ada di apartemen?"


"Hmmm.. Ummah dan Abah juga."


"Nduk." Terdengar suara di seberang sana berganti.


"U-ummi. Ummi dan Abi kenapa tidak mengabari Zahra kalau akan ke Jakarta, Zahra kan bisa jemput di Bandara."


"Tidak apa-apa, Nduk. Kita tidak ingin mengganggu pekerjaan kamu. Tadi Farid bilang di telepon katanya kamu lagi ada operasi jadi kita memutuskan naik taksi sampai ke apartemen kamu."


"Maafkan Zahra, Ummi."


"Sudah tidak apa-apa, Nduk. Oh ya, kamu bisa pulang sekarang kan?"


Zahra menutup matanya sekejab sembari mengembuskan napasnya.


"Zahra pulang sekarang, Ummi."


"Ya sudah, kalau gitu Ummi tutup teleponnya ya. Kamu hati-hati di jalan, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumus salam."


Zahra memasukan ponselnya ke dalam tas. Lalu kembali menatap wajah Habibi dengan sendu.


"Maaf," ucapnya seraya bergeser dari hadapan Habibi.


Tanpa menunggu Habibi merespon ucapan maafnya, Zahra melangkah menerobos hujan meninggalkan Habibi yang masih berdiri mematung.


Ada sesak kala kata maaf itu meluncur dari bibir wanita tercintanya. Sejenak Habibi sempat mematung di tempatnya lalu detik kemudian ia berbalik mengejar Zahra yang belum jauh. Sesampainya ia tepat di belakang Zahra, Habibi langsung menutup kepala dan tubuh Zahra dengan jas yang sebelumnya ia pakai hingga Zahra berhenti melangkah dan mendongak menatap Habibi yang kini sudah berada di depannya tengah membenarkan jas yang tersampir di tubuhnya.


"Jangan membuatku mengkhawatirkanmu," ucap Habibi sebelum akhirnya ia melangkah meninggalkan Zahra menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari mobil Zahra.


Zahra sempat termangu sesaat sampai kesadarannya kembali setelah Habibi meninggalkannya.


"Zahra percaya padamu. Zahra yakin itu kamu, Bi. Tapi, biarlah waktu yang menjawab semuanya," lirih Zahra menatap punggung Habibi yang mulai masuk ke dalam mobil.


Zahra menggenggam erat ujung jas dan merapatkannya lalu berlari menuju mobilnya.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2