LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA

LANTUNAN DZIKIR CINTA, AZZAHRA
KATA HATI


__ADS_3

Zahra dan Kayla berjalan bersisian memasuki gedung rumah sakit. Sudah tiga hari ini Kayla tinggal di apartement Zahra dan kondisinya pun sudah lumayan membaik dari sebelumnya.


Ruangan tempat Zahra dan Kayla bekerja berada di lantai yang sama yaitu lantai satu. Kayla yang masih bertugas di IGD sebagai dokter koas sedang ruangan Zahra ada di paling ujung bersebelahan dengan ruang operasi. Tiba-tiba langkah keduanya terhenti saat mereka sama-sama melihat Habibi dan Meysha berdiri di depan lift yang masih tertutup.


Dengan langkah kaki cepat Kayla berjalan ke arah mereka berdua, tampak dari wajah Kayla seakan hendak mengeluarkan amarahnya lagi sedang Zahra masih tetap berdiri di posisinya. Ada perasaan tidak nyaman bertemu dengan mereka berdua terlebih hatinya merasa belum siap akan hal itu. Zahra masih menatap mereka dari tempatnya berdiri, tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat.


"Tidak cukupkah kalian membuat hati orang lain terluka, tidak cukupkah kalian membuatnya menderita selama ini. Di mana hati kalian?" teriak Kayla pada Habibi dan Meysha.


"Kayla,"


Keduanya tampak terkejut dengan kehadiran Kayla yang tiba-tiba.


"Kalian sungguh hebat, bisa tersenyum bahagia di atas sakit orang lain," sarkas Kayla.


"Kay, maaf aku.. "


"Jangan pernah meminta maaf, jika kamu sendiri masih tetap memilih menyakitinya. Aku tidak menyangka kamu akan sejahat ini Kak Mey, kamu tidak punya hati."


"Kay.. "


"Tidak kah Kak Mey melihat, di sana dia tengah berjuang sendiri? Bagaimana bisa Kak Mey lupa. Dan sekarang.. secepat ini kah hati Kak Mey berpaling. Di mana cinta yang dulu selalu Kak Mey katakan padanya? Di mana cinta itu sekarang? Bagaimana bisa Kak Mey meninggalkannya seorang diri, di mana hati Kak Mey?" teriak Kayla yang mulai terisak.


"Kayla cukup. Kamu tidak malu di lihat orang-orang seperti ini? ini rumah sakit," geram Habibi, saat melihat orang-orang disekitarnya tengah memperhatikan mereka.


"Cukup? Kak Il bilang cukup? tidak, Kayla tidak akan pernah berhenti berjuang untuk mereka yang hatinya tersakiti oleh keegoisan kalian semua."


"Kay.. " panggil Meysha dengan lirih, air matanya tak kalah membanjir dari Kayla.


"Jika memang keputusan Kak Mey tetap meninggalkannya. Aku mohon menikahkah dengan siapapun yang kamu mau tapi jangan dengan Kak Habibi. Aku mohon.. haruskah aku bersujud di kakimu, Kak Mey."


Kayla sudah siap menurunkan tubuhnya namun Habibi menahannya.


"Kay, apa-apaan kamu? Sudah kubilang cukup. Apa kamu tidak mendengarkanku," tegas Habibi sembari mencengkeram kuat lengan Kayla.


Kayla menatap nanar wajah Habibi. Dengan keras ia menghentakkan lengannya agar cengkeraman itu terlepas.


"Mata boleh saja lupa siapa yang dia lihat, tapi hati.. hati harusnya tidak lupa siapa yang dia cintainya," ucap Kayla dengan penuh penekanan pada Habibi.


"Coba Kak Il lihat dan rasakan di sini. LIHAT DAN RASAKAN. Siapa yang sebenarnya dicintai olehnya," imbuh Kayla seraya menunjuk dada Habibi.


Mendengar itu, Habibi sontak terdiam. Ada rasa ngilu di dalam sana saat Kayla mengatakan itu. Habibi tahu betul siapa wanita yang dicintai oleh hatinya. Ia sangat tahu itu namun saat ini semuanya seakan berat terlebih setelah tahu beban yang di pikul oleh Meysha dari tante Amilia. Ia juga tidak yakin, apakah wanita yang ia cintai bisa mencintainya juga.


"Kayla," pekik Zahra seraya berlari ke arah gadis itu. Tubuh Kayla sudah luruh ke lantai.


Habibi tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan Zahra. Dengan segera ia mengangkat tubuh Kayla ke UGD, meninggalkan Meysha yang masih mematung.


Setelah tiga puluh menit melalui proses pemeriksaan akhirnya Kayla dipindahkan ke ruang rawat inap. Gadis itu masih saja tak sadarkan diri. Wajahnya sangat pucat, di sekitar matanya tampak gelap dan cekung menandakan bahwa berhari-hari ini gadis itu begitu menderita.


"Kayla pergi dari rumah tiga hari lalu, setelah perdebatan panjang dengan Tante Amilia dan juga Meysha," ucap Habibi pada Zahra yang kini duduk di samping brankar Kayla.


Zahra menatap Habibi sekilas sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangannya ke arah Kayla.


"Dia datang ke apartement saya saat itu dan menunggu saya pulang hingga pagi dengan duduk di atas lantai di depan kamar saya," terang Zahra membuat Habibi kini menatapnya.


"Kamu pulang pagi?"


"Ada operasi mendadak saat itu dan berakhir tengah malam jadi saya memutuskan tidur di rumah sakit hingga subuh, baru setelah itu pulang," jelas Zahra yang balas menatap Habibi.


Terdengar helaan napas panjang dari Habibi. Tiga hari ia ikut sibuk mengurusi acara pemakaman ayah Meysha sehingga tidak ada waktu untuk mengetahui kemana Kayla pergi.


"Terima kasih sudah menampungnya,"


"Tidak masalah, Kayla sudah seperti adik bagi saya."


"Saya bingung apa yang seharusnya saya lakukan sekarang. Antara memilih Kayla atau Meysha. Saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua," ungkap Habibi pada Zahra.

__ADS_1


Zahra terdiam mendengar curahan hati Habibi. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua karena kedua temannya itu tak sedikitpun bercerita tentang masalah mereka padanya.


"Apa anda sudah bertanya tentang apa yang menjadi masalah di antara mereka berdua?" tanya Zahra. Habibi menggeleng.


"Mereka sama-sama bungkam ketika saya bertanya bahkan Tante Amilia pun tak berani bercerita apa-apa kepada saya,"


"Maaf jika saya lancang bertanya. Tapi di mana orang tua anda dan Kayla? bukankah saat ini Kayla sedang membutuhkan mereka?" tanya Zahra setengah menunduk, ia hanya merasa heran karena tidak mengetahui keberadaan kedua orang tua Habibi dan Kayla terlebih saat kondisi Kayla yang seperti ini.


"Mereka ada di Jerman. Papah sedang mendampingi Mamah yang tengah menjalani pengobatan," terang Habibi tanpa rasa canggung.


"Zahra, haruskah saya menikahi Meysha?" tanya Habibi yang seketika membuat Zahra mengangkat kepalanya seraya menatap manik hitam milik Habibi. Panggilan itu membuat hati Zahra mencelos.


Keheningan terasa menyelimuti setelah beberapa saat lamanya belum ada kalimat yang keluar dari bibir Zahra. Wanita itu masih bergeming.


"Apa anda mencintai Meysha?" satu kalimat yang akhirnya bisa Zahra katakan walau kenyataannya terasa sangat berat baginya untuk melontarkan kalimat itu. Habibi menatap dalam mata Zahra seraya menggeleng.


"Saya hanya menganggapnya sebagai adik tidak lebih," jujur Habibi.


"Atau jangan-jangan.. Kayla yang anda cintai?" ucap Zahra hati-hati.


"Apa perlu saya yang membedah kepalamu, dokter Zahra."


Zahra mendelik mendengar kata-kata Habibi.


"Bagaimana bisa seorang kakak mencintai adiknya dalam artian seperti itu. Kamu jangan ngawur," pungkas Habibi.


"Saya kan hanya bertanya, Pak. Dengan begitu kan lebih mudah mana yang harus anda pilih," ucap Zahra seakan membela diri karena argumen yang telah ia lontarkan tanpa pemikiran lebih dulu.


"Jangan memanggil saya dengan sebutan Pak ketika kita sedang berdua. Saya tidak setua itu," ucap Habibi.


"Anda juga memanggil saya dokter padahal saya bukan dokter anda," balas Zahra.


Habibi mendengus pelan membuat Zahra kembali terbelalak namun detik kemudian ia tersenyum menahan tawanya melihat sikap Habibi yang tampak lucu di matanya.


"Oke, sekarang menurut kamu apa yang seharusnya saya lakukan, Zah?"


"Zah?" Habibi menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Zahra.


"Jangan pernah memanggil saya seperti itu," ucap Zahra menahan emosinya sembari membuang wajahnya ke samping.


Habibi terdiam merasakan perubahan sikap di diri Zahra.


"Saya tidak membawa brownies saat ini jadi jangan keluarkan air matamu di depan saya," ucap Habibi yang mulai menyadari air muka Zahra berubah sendu.


"Kamu yang membuat saya kesulitan menahannya keluar."


"Apa salah saya sehingga saya harus menjadi pemeran atas kesedihan yang kamu rasakan?"


"Tidak ada," ucap Zahra sembari menggeleng pelan.


"Katakan pada saya, apa kesalahan saya?" Habibi masih tetap keukeh meminta penjelasan.


Zahra menutup matanya sembari menggeleng, tampak air matanya sudah mengalir di pipinya.


"Zahra, tidak bisakah kamu membuat saya tidak merasa tersakiti karena melihatmu menangis? Berhenti membuat saya merasa bersalah atas apa yang tidak saya ketahui."


"Maaf.. tapi bisakah anda tidak terlihat seperti dirinya? sungguh ini sangat menyakitkan untuk saya melihat dirinya hidup dalam diri anda. Saya tidak cukup kuat menahan semua rasa yang selama ini saya simpan," tutur Zahra seraya menahan isakkannya.


"Kamu yang membuatnya seolah-olah hidup dalam diri saya, bukan saya. Bahkan saya tidak tahu kesalahan apa yang saya lakukan hingga membuatmu tersakiti," ucap Habibi terdengar emosi.


Habibi mengusap kasar wajahnya, ia benar-benar frustasi saat ini. Dua wanita saling menyakiti karenanya dan sekarang tambah satu wanita lagi yang tersakiti olehnya. Bodohnya lagi adalah ia tidak tahu apa-apa tentang semuanya.


Zahra terisak menyadari kesalahannya selama ini. Ya, Habibi benar. Dialah yang seakan-akan menghidupkan sosok Hafiz dalam diri laki-laki itu.


"Maafkan saya.. " lirih Zahra setelah menghapus air matanya.

__ADS_1


Habibi masih bergeming seraya menatap wajah Zahra. Dari sana ia bisa melihat dengan jelas bahwa wanita itu menyimpan luka di hatinya.


"Jangan pernah melihat sosoknya dalam diri saya jika itu melukaimu. Namun, jika kehadirannya dalam diri saya membuatmu kembali bahagia. Tidak masalah bagi saya menjadi bayangannya di matamu. Saya ikhlas.. " ucap Habibi terdengar lembut seraya beranjak dari tempatnya.


"Zahra sangat merindukanmu, Habibi," lirih Zahra sukses membuat Habibi berhenti melangkah.


Ia memutar kepalanya ke arah Zahra seraya mengepalkan kedua tangannya. Ada sesuatu yang menghantam keras di dadanya hingga meninggalkan jejak luka di sana. Ingatannya kembali pada suatu hal yang membuat hatinya seakan teriris seketika saat mendengar kalimat itu untuk pertama kalinya keluar dari bibir wanita tercintanya, lima tahun lalu.


Semuanya tampak nyata saat ini di matanya, persis seperti yang ada dalam mimpinya selama ini. Mimpi yang selama bertahun-tahun telah menghantuinya.


Habibi menatap lamat-lamat wajah Zahra yang sudah basah karena air matanya. Dari mata itu jelas terlihat kerinduan yang teramat dalam tersimpan di dalamnya.


"Siapa dirimu sebenarnya? kenapa kamu tidak berhenti membuatku mengkhawatirkanmu bahkan dalam kehidupan nyata sekalipun."


Habibi hendak melangkah ke arah Zahra, namun langkah itu terhenti saat mendengar suara Meysha di belakangnya.


"Kak, Ilash bisakah kita bicara sebentar?" ucap Meysha tiba-tiba di ambang pintu.


Sontak Habibi mengalihkan pandangannya ke arah Meysha seraya mengangguk. Habibi menatap Zahra sebentar sebelum akhirnya ia melangkah keluar menyusul Meysha.


* * * * *


Habibi mengikuti langkah Meysha yang berjalan menaiki lift hingga lantai lima lalu melanjutkan perjalanannya menggunakan tangga menuju rooftop rumah sakit. Tidak ada pembicaraan yang keluar dari keduanya selama perjalanan menuju tempat itu. Keduanya masih diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Meysha melangkah ke arah pagar pembatas rooftop dengan tatapan kosongnya. Ia kembali memikirkan kata-kata yang keluar dari bibir Kayla. Gadis itu benar, kenapa ia bisa seegois ini, mementingkan sesuatu yang jelas bertolak belakang dengan hatinya. Kenapa ia bisa lupa jika ada seseorang yang tengah membutuhkan dirinya, seseorang yang tengah berjuang di antara hidup dan matinya. Seseorang yang begitu ia cintai selama ini.


"Apa yang ing.. "


"Meysha akan menemani Kak Kailash di Jerman," ucapnya memotong kata-kata Habibi. Tatapannya mengarah jauh ke depan sana.


Habibi mengerutkan keningnya, ia bingung dengan apa yang diucapkan wanita di depannya. Habibi tidak merasa dirinya akan ke Jerman dalam waktu dekat ini apalagi sampai Meysha harus menemaninya.


"Maaf, membuat Kak Ilash berada dalam situasi ini. Meysha tahu, Kak Ilash tidak menginginkannya. Kak Ilash hanya terpaksa mengiyakan keinginan Papah karena merasa tertekan dan tidak memiliki pilihan. Meysha juga minta maaf karena telah membuat Kayla tersakiti. Meysha sudah memutuskan akan mengikuti kata hati Meysha."


"Mey, maksud kamu apa? saya tidak mengerti."


Meysha terdiam sesaat lalu berbalik menghadap Habibi yang menatapnya penuh tanya. Wanita itu justru mengerutkan keningnya menatap raut bingung yang di tunjukan oleh Habibi.


"Kak Ilash tidak mengerti maksud Meysha?"


Habibi menggelengkan kepalanya dengan alis terangkat satu.


"Meysha mencintai Kak Kailash,"


Degg..


Habibi terlonjak mendengar pernyataan Meysha yang menurutnya tiba-tiba. Ia masih mematung dengan lidah kelu, tatapannya menyorot tajam pada netra bulat milik Meysha.


"Mey, sa.. "


NGUING... NGUING... NGUING...


Alarm darurat terdengar nyaring bahkan hingga ke rooftop. Keduanya sempat terkesiap untuk sesaat, namun detik kemudian dengan segera baik Habibi maupun Meysha bergegas berlari menuruni tangga tanpa peduli apa yang terjadi di antara mereka sebelumnya.


Habibi berlari lebih dulu meninggalkan Meysha yang tengah sibuk dengan telponnya. Sampai di lantai lima, ia berdiri cemas di depan lift sembari menelepon seseorang namun sambungannya belum juga terangkat.


"Ada kecelakaan beruntun, Kak. Banyak yang menjadi korbannya dan seluruh dokter yang tidak bertugas di minta ke ruang IGD untuk segera membantu," terang Meysha yang sudah berdiri di samping Habibi dengan napas terengah.


Seketika Habibi menengok ke arah Meysha dan memperhatikannya. Wanita itu tiba-tiba saja menarik lengan Habibi saat Habibi tak kunjung masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Alhamdulillah, satu part kembali selesai. 😊😊


Gimana part ini, adakah yang sahabat pembaca pikirkan???? Sudah menemukan clue dari rasa penasaran kalian semua??? Sepertinya masih penasaran ya.. atau semakin tambah ni rasa penasarannya🤭🤭

__ADS_1


Oke, tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa setelah membaca WAJIB menekan LIKE, KOMEN dan yang pasti WAJIB VOTEEEE.. banyakin dikit ya he.. he.. he😁😁😉😉


Salam sayang dan sejahtera dari saya untuk sahabat 😘😘


__ADS_2