
"Apa Tuan tidak bisa menginap sehari lagi di sini..." Raut wajah Xi Yan terlihat cemas.
Kansuke tadi berkata kepada Xi Yan bahwa ia dan keponakannya berniat pergi ingin melanjutkan perjalanannya.
"Aku mengerti kekhawatiranmu tentang itu, tetapi menurutku mereka tidak akan berani lagi kesini," ucap Kansuke sambil memegang pundak Xi Yan.
Xi Yan mengangguk.
"Izinkan aku membalas budi kebaikan Tuan..." Xi Yan memberikan sekantong kecil yang berisi sekitar ratusan koin perunggu dan perak, "Hanya ini yang bisa saya berikan kepada Tuan."
"Ini sudah sangat membantu, untuk perjalanan seminggu," ucap Kansuke, "Sekali lagi kami berdua mohon pamit..."
"Silahkan Tuan," Xi Yan dan semua pelayan mengantar mereka berdua sampai ke depan.
Kansuke dan Kimura kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.
**
"Jenderal Saji terbunuh!?" Tanaka Be kaget mendengar kabar bahwa jenderalnya itu telah tewas.
Tanaka Be adalah pemimpin termuda dalam sejarah Keluarga Bangsawan Tanaka, sebulan lagi ia akan berusia 24 tahun, dan dia menggantikan Ayahnya yang telah meninngal 2 tahun yang lalu.
"Aku harus melihat langsung mayatnya, baru aku percaya bahwa dia telah tiada," katanya.
Tanaka Be merasa tidak yakin jenderalnya itu tewas, karena Saji Obata adalah salah satu jenderal terkuat di bawah kepemimpinannya. Maka dengan itu, ia merasa harus melihat mayat sang jenderal dengan kedua matanya.
"Menurut Tuan Tang Ryu, mayat jenderal Saji akan tiba di sini dalam 5 hari perjalanan..." Ujar anggotanya.
"Mengapa sangat lama sekali?" tanya Tanaka Be.
"Saya juga tidak tahu Tuan, saya cuma menyampaikan apa yang informan Ketua Tang Ryu sampaikan kepada saya," jawab anggotanya.
Tanaka Be menghela nafas sejenak, kemudian membuka suara kembali, "Kita lupakan pembahasan soal itu. Aku ingin tahu, apakah Klan Uesugi berhasil di kudeta sepenuhnya..."
"Sepertinya begitu Tuan, menurut laporan yang saya terima, dan juga sudah menyebar kemana-mana. Ketua dan seluruh Tetua Klan Uesugi telah tewas."
Tanaka Be terlihat tersenyum tipis mendengar kabar dari anggotanya.
Lanjut anggotanya berkata, "Dan bisa di katakan bahwa kudeta yang kita rencanakan berhasil."
Senyum Tanaka Be semakin lebar, ia sangat senang setelah mendengar kabar tersebut.
"Bagus. Aku sangat senang mendengar itu. Dengan ini, semua Klan tidak akan memandang sebelah mata Keluarga ini," raut wajah Tanaka Be terlihat sangat bahagia.
Dia berdiri dari kursi kehormatannya, mengangkat wajahnya memandang langit-langit kediamannya dengan senyum licik terpatri di bibirnya.
"Kamu boleh pergi, jangan lupa beritahu aku kalau, mayat jenderal Saji sudah tiba..." Ucap Tanaka Be yang masih dalam memandang ke atas.
__ADS_1
"Siap Tuan! Saya mohon undur diri."
Setelah anggotanya sudah tidak lagi terlihat, ia kembali menurunkan kepalanya, senyum licik yang semakin terlihat di bibirnya.
"Permainan ini sepertinya akan sangat menyenangkan," ucapnya pelan.
Dia tidak tahu bahwa kehancuran akan segera terjadi padanya.
**
Uwaahhh...
"Paman, Aku mengantuk," ucap Kimura. Matanya terlihat sayu, yang menandakan ia telah mengantuk.
"Sabar nak, kita akan segera mencapai jalan besar semoga saja di sana terdapat penginapan."
Mereka sudah berjalan dari pagi sampai malam. Namun, masih belum juga menemukan jalan besar.
Kansuke terus memacu kudanya, sambil menghindari jalan gelap yang artinya tidak terkena oleh cahaya bulan. Mungkin, karena itu juga perjalanannya membutuhkan waktu lama karena harus menghindari jalan yang seperti itu.
Beberapa saat kemudian, terlihat dari kejauhan di depannya terlihat jalan setapak yang lebar, jalan itu cukup untuk 3 kereta kuda lewati secara bersamaan.
Akhirnya ia sampai di jalan tersebut, Kansuke meningkatkan laju kecepatan kudanya agar cepat menemukan penginapan. Jalur jalan itu lurus tanpa sedikitpun ada belokan. Sekali-kali ada warga yang lalu lalang.
Kansuke yang merasa sudah berjalan jauh mengikuti jalan itu. Namun, masih belum juga menemukan sebuah penginapan. Lantas membuat Kansuke, bertanya kepada beberapa warga yang terlihat duduk di pinggir jalan.
"Maaf, saya ingin bertanya Tuan di mana tempat penginapan di sekitar sini..." Tanya Kansuke kepada warga yang tengah duduk tersebut.
Warga itu tidak menjawab pertanyaannya.
"Paman..." Ucap Kimura pelan yang terlihat gelisah.
"Ada apa Kimu-"
Perkataan Kansuke terputus karena, di kagetkan oleh sebuah tendangan menyamping dari seorang warga yang berada di depannya. Kansuke langsung melompat turun dari kudanya sambil menggendong Kimura.
"Setelah mencarimu kemana-mana bahkan sampai memporak porandakan penginapan itu, tak kusangka kami akan bertemu dengan mu di sini," ucap salah seorang dari mereka.
Ke lima orang yang ia kira adalah warga biasa ternyata, ketika ia memperhatikan mereka satu persatu, matanya kemudian menangkap seseorang yang bertemu dengannya tadi pagi. Yah. Lelaki bertubuh gempal itu terlihat tersenyum ke arahnya.
"Masih ingat denganku," kata lelaki bertubuh gempal itu, yang kakinya sekarang di perban.
"Apa benar dia yang menyerangmu," ucap salah seorang lelaki yang terlihat paling tua dari mereka.
"Benar Bos."
Kansuke mengambil jarak aman dari mereka, sedangkan Kimura berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Seperti, dugaanku bahwa dia adalah pemimpinnya. Terlihat jelas dari auranya yang terpancar," gumam Kansuke sambil menganalisa kekuatan mereka masing-masing.
Musuhnya sengaja tidak menyembunyikan aura kekuatannya. Bukan itu saja, bila seseorang ingin menyembunyikan aura kekuatannya ia harus mempunyai tenaga dalam yang cukup, yang artinya semua orang di hadapannya belum mempunyai banyak tenaga dalam.
"Meskipun kekuatanku berada di atas orang itu, tetapi tetap saja aku akan kalah menghadapi mereka sekaligus," Kansuke kembali bergumam.
"Serang!!!" Seru pria itu, kepada seluruh anggotanya.
"Sepertinya aku akan terluka parah..." Ucap Kansuke pelan sambil tersenyum tipis, "Kimura, tenang saja paman akan melindungimu."
Kansuke menyambut serangan mereka dengan sebuah tangkisan, yang juga sekali-kali. Bila, ada sedikit celah ia mencoba membalas menyerang.
Pemimpin mereka hanya terdiam tidak bergerak dari tempatnya.
"Jika pemimpin kalian tidak bergerak menyerangku, bukan hal mudah untuk membunuh kalian berlima."
"Jangan meremehkan kami!" salah seorang dari mereka berkata.
"Kalau begitu tunjukkan kemampuan kalian," kata Kansuke dengan senyuman mengejek.
Selama, beberapa hari bersama Kimura sudah tahu sifat sang Paman yang sering bercanda. Kimura yang berlindung di belakang Kansuke hanya menggeleng kepala, saat mendengar Pamannya itu sedang bercanda walau dalam pertarungan sekalipun.
Beberapa waktu pun berlalu, tetapi masih belum terlihat siapa yang akan menang antara Kansuke dan ke lima orang itu.
Kelima orang tersebut melompat mundur, sesekali menoleh ke bosnya yang terlihat masih belum bergerak.
"Jika kalian kalah melawan dia, akan ku buat kalian menjadi bahan eksperimenku," ucap pemimpinnya.
Ke lima orang itu bergidik ketakutan setelah mendengar ucapan bosnya.
"Kalian tidak akan bisa mengalahkan ku tanpa di bantu oleh pemimpin kalian..." Kansuke melangkah maju selangkah, "Wahana bermain sepertinya, sudah berakhir. Ayo kita mulai pertarungan yang sebenarnya!"
Kansuke menyerang mereka dengan kekuatan penuh, yang lantas membuat ke lima lawannya sedikit kaget, tidak menyangka.
"Mengapa kekuatannya tiba-tiba bertambah?!"
"Aku juga tidak mengerti!"
Berbagai pertanyaan mereka lontarkan, tapi tidak ada yang tahu jawabannya.
"Tapi dengan berlima, kita pasti bisa mengalahkannya."
"Jaga omongan kalian, berkata seperti itu sama saja seperti menghinaku, kalian harus berlatih beberapa tahun lagi jika ingin mengalahkanku!" ketus Kansuke.
"Terima ini."
Tarian Maut! " seru Kansuke.
__ADS_1
Trang, Trang, Srashh...
Kansuke memberikan luka yang serius kepada mereka berlima sekaligus...