
"Apa kondisimu sudah baikan...?" Tanya Akuma, sambil membawa beberapa buah di tangannya. Dia sepertinya baru saja kembali dari mencari makanan.
"Ini makanlah." Akuma menyodorkan buah itu. Ini menjadi interaksi pertama selayaknya manusia yang telah berkenalan satu sama lain. Dan ini pertama kalinya interaksi itu terjadi antara Akuma dan dengan Kimura.
Kimura mengambil buah yang Akuma sodorkan, "Makasih banyak, Kek." Ucapnya.
Akuma hanya mengangguk, "Setelah buah itu telah habis kamu makan, aku akan menceritakan tentang mengapa kamu bisa berada di sini."
Tidak berniat berbicara lebih lama lagi, Kimura hanya mengangguk pelan membalas perkataan Akuma, ia lalu memakan buah itu dengan sangat lahap seperti seseorang yang kerasukan.
Dalam beberapa waktu berlalu saja, Kimura telah memakan habis seluruh buah pemberian Akuma. Dia merasa sangat lapar sekali.
Bukan karena sedang lapar ia menghabiskan buah itu dengan lahap dan cepat, dia juga sudah sangat penasaran ingin mendengar Kakek di depannya bercerita tentang mengapa dia bertemu dengannya dan berada di sini.
Akuma hanya tersenyum melihat kelakuan anak remaja itu, "Sebelum aku bercerita, coba kau berbalik, aku ingin mengobatimu sekali lagi."
"Apa Kakek seorang Tabib?" Pertanyaan ini Kimura sudah ingin lontarkan, karena ia merasa Kakek yang berada di depannya sangat mengerti dalam hal pengobata.
"Aku bukan seorang Tabib. Hanya saja, soal pengertian tentang ilmu pengobatan sedikitnya aku mengetahui." Ucap Akuma sembari naik ke atas lalu duduk di belakang Kimura.
Kedua telapak tangannya kembali ia tempelkan ke punggungnya. Dia ingin menyembuhkan sepenuhnya dengan mengalirkan sedikit qi nya ke jaringan aliran tenaga dalamnya.
Kimura sedikit terkejut, kenyamanan dia rasakan saat telapak tangan itu menyentuh punggungnya. Ini pernah ia rasakan saat bersama ayahnya.
"Tebakanku kali ini mungkin benar, apa Kakek seorang Samurai." Ucap Kimura.
"Tidak...Tebakanmu salah lagi, hehe." Akuma tertawa kecil, "Tapi sepenuhnya hampir benar." Ucapnya.
"Apakah Kakek seorang yang menguasai ahli bela diri Ninja?" Tanyanya lagi, dia sangat penasaran dengannya.
"Salah lagi..."
"Lalu apa Kek, aku sudah menyerah bermain tebak-tebakan." Kimura berkata dengan nada pasrah.
__ADS_1
Akuma menarik kembali kedua telapak tangannya, "Tebakanmu hanya separuhnya saja yang benar, aku bukan seorang Samurai, Ninja, atau apalah itu."
"Aku hanya seorang Ronin saja." Lanjut Akuma. "Dan aku tidak memiliki senjata atau pusaka apapun saat ini, sehingga aku tidak bisa di katakan sebagai seorang Samu-."
"Ronin? Aku kira seorang Samurai tanpa Klan seperti itu sudah tidak ada, Kek." Potong Kimura sopan sembari membalikkan badan memandang Akuma."
Seorang ahli bela diri yang memakai senjata Katana dahulu menguasai seluruh kekaisaran atau lebih tepatnya mereka yang menjadi seorang pemimpin kekaisaran. Namun, setelah era kekacauan berganti menjadi era kedamaian. Mereka membentuk sebuah organisasi untuk menjadi tempat bersatunya berbagai ahli bela diri pemakai Katana.
Lanjut Akuma, "Ucapan mu tidak sepenuhnya salah dan benar. Gelar Kakek saat ini hanya seorang Ronin, karena tidak memiliki Klan, tetapi jangan salah Nak, Kakek dahulu juga mempunyai Klan. Namun, tujuannya saja yang berbeda dengan Klan lain."
Kimura mengangguk mengerti lalu berkata, "Kalau anak ini tidak lancang, bolehkah anak tahu nama Klan, Kakek...?" Tanyanya.
Akuma sekilas matanya menunjukkan kesedihan, tetapi segera kembali tersenyum. Kimura melihat kesedihan itu walau beberapa detik tidak ingin melanjutkan topik pertanyaan tersebut.
"Aku ingin bertemu dengan Nenek yang kemarin, Kek." Kata Kimura mengalihkan arah pembicaraan.
Sikap anak ini sungguh dewasa sekali, batin Akuma.
"Tapi, Kek..." Kimura terlihat bingung mencari-cari pakaiannya.
"Di dalam lemari kayu itu, aku menyimpan pakaianmu yang sudah ku bersihkan." Akuma menunjuk lemari kecil yang sudah hampir terlihat rusak. Kimura lantas membuka lemari itu lalu mengambil pakaiannya.
**
Akuma dan Kimura telah berada di depan sebuah gubuk yang ukurannya tidak terlalu besar dari yang lain. Semasa di perjalanan ke sini banyak warga yang memperhatikannya, Akuma memberitahunya bahwa Kampung ini tidak terlalu besar hanya sekitar 20+ kepala keluarga saja.
"Awalnya sebentar aku berniat datang ke tempat, Tuan." Ucap Ohori sembari berjalan pelan menghampiri mereka berdua.
"Kimura, ingin menemui Nenek." Balas Kimura.
"Kebetulan sekali, Nenek masak makanan yang lezat. Ayo masuk." Ohori menarik tangan Kimura, mengajaknya masuk ke gubuknya.
Di sisi lain Akuma hanya tersenyum tipis melihat perlakuan Ohori, lalu ikut berjalan menyusul mereka berdua.
__ADS_1
Selangkah lagi Akuma melewati ambang pintu masuk gubuk, tiba-tiba ia telinganya menginvasi sebuah suara yang sangat dia kenal.
"Bagaimana Kabarmu, Tuan." Sapa salah seorang dari dua orang yang duduk di dalam gubuk.
Di dalam gubuk Ohori sekarang, terlihat kedua lelaki yang sudah lumayan terlihat tua sedang menyantap bubur daging.
"Baik-baik Tuan, bagaimana kalau kalian berdua?" Akuma bertanya sembari duduk di samping lelaki yang menyapanya.
"Baik Tuan." Jawabnya ramah.
Sementara, lelaki yang satunya sedari tadi memandang Akuma dengan kebencian.
Yamaguchi adalah orang yang menyapa Akuma, dia memiliki bentuk wajah oval dengan kumis dan janggut sudah memutih. ia sudah berusia sekitar 86 tahun, sedangkan lelaki yang memadang Akuma dengan tatapan kebencian namanya Damato tak jauh berbeda dengan Yamaguchi. Damato juga sudah terlihat tua dan hanya berbeda 5 tahun saja dengannya, usiaanya sekarang adalah 81 tahun, badannya yang gempal sangat cocok dengan wajahnya yang garang dan kepala plontosnya.
"Makanlah..." Ohori memberikan masing-masing semangkok bubur daging kepada Kimura dan Akuma. "Jika kamu ingin nambah, tanya Nenek yah." Ohori berkata sembari mengelus kepala Kimura.
"Iya, Nek." Ucap Kimura sembari mengangguk tersenyum.
"Aku jadi tidak mempunyai selera makan, Nona Ohori." Damato berdiri dari duduknya.
"Kenapa Tuan..." Tanya Ohori.
Damato tidak menjawab, dia hanya memandang Akuma terus menerus dengan tatapan penuh kebencian. Akuma yang merasa sedang di pandang hanya menundukkan kepala sambil menyantap buburnya.
Damato merupakan seorang Samurai yang lumayan di segani dahulu. Namun, pada suatu kejadian ketika dia dan istrinya yang juga pergi berburu di bagian dalam hutan dan secara tidak sengaja tempat berburunya waktu itu di dekat Jurang. Akuma menculiknya ke sini meninggalkan istrinya yang masih berada di atas pada waktu itu.
Kebencian itulah yang membara di dalam hati Damato sampai sekarang terhadap Akuma. Damato melangkah keluar meninggalkan mereka berempat.
Yamaguchi yang juga pernah menjadi seorang Samurai merasakan Aura berbeda ketika berada di dekat anak itu.
"Apa ini hanya perasaanku saja." Yamaguchi berkata dalam hati sambil terus memandang ke arah Kimura yang sedang asyik menyantap bubur. Kemudian ia menghendikkan bahu, melupakan itu.
Mereka berempat berbincang-bincang membahas masalah apa saja yang terjadi di Kampung ini. Tak lupa Akuma memperkenal Kimura kepada Yamaguchi.
__ADS_1