
"Hei, sini-sini..."
Kimura bersama para kawanan siluman serigala itu, saat ini terlihat asyik bermain.
Dia melompat naik ke atas pohon, dan tak di sangka sebuah kejutan mengejutkan Kimura, karena serigala itu juga ikut melompat ke atas dan bertumpu pada dahannya.
"Wah! Aku tak mengekspek bahwa kau juga bisa naik kesini!" kata Kimura tak percaya.
"Gor..gorrr."
Siluman serigala itu terdengar seperti berbicara menggunakan bahasanya.
Kimura hanya tersenyum melihat interaksinya dengan seorang hewan yang membuatnya merasa terkesan aneh, "Aku berikan kamu nama Okami."
Pemimpin dari siluman serigala itu terlihat mengangguk, mengerti dengan ucapan Kimura.
Saat ini cuaca sangat terik sekali akibat matahari seperti memayoritaskan cahayanya turun melalui dari titik lubang jurang di atas kampung.
"Ayo kita pulang..." Kimura berkata sembari melompat turun.
Ia kemudian menoleh ke atas memandang para sahabat barunya.
Siluman serigala-serigala itu kemudian melompat turun dari atas pohon ke bawah, tepatnya langsung berbaris rapi di belakang Kimura.
Kimura yang berdiri paling depan menuntun para siluman serigala itu, untuk kembali ke kampung. Karena saat ini mereka sekarang berada di area tempat latihannya selama setahun ini, di dekat sungai air hitam.
Seorang Tuan yang memiliki sebuah pengikut. Bisa di gambarkan dari situasi Kimura sekarang, yang terlihat sebagai Tuan dan para kawanan siluman serigala sebagai pengikut.
"Kenapa kalian tidak mengikutiku," ucap Kimura sambil menoleh kebelakang memandang serigala-serigala itu.
Para siluman serigala, tak bergerak mengikuti Kimura. Saat ini pun mereka terlihat kepalanya fokus ke sungai di sekitarnya.
Kimura kemudian mengikuti arah pandang mereka. Pandangannya terjatuh ke atas air sungai.
"Apa itu?"
Kimura mengerutkan dahi memandang pusaran angin kecil di atas air dari sungai itu.
Namun, tak lama pusaran angin kecil itu menghilang. Sebuah asap berwarna hitam muncul dari tempat pusaran tadi berada.
"Ha-Ha-Ha...."
Suara tertawa seseorang yang pemiliknya tak di ketahui, membuat Kimura heran mencoba mencari-cari sumber dari tertawaan itu.
"Siapa kamu...Jangan menjadi pecundang dengan cara bersembunyi!"
__ADS_1
Tak menemukan pemilik dari suara tawa itu, lantas ia berasumsi untuk mengatakan bahwa orang itu adalah pecundang yang hanya berani bersembunyi saja. Dia tahu yang memiliki suara itu adalah seorang lelaki, karena identik tipe suara khas pria.
"Ha...ha...ha..."
Suara tertawa dari orang itu kembali terdengar. Namun, dengan perlahan-lahan menunjukkan wujudnya.
Kimura yang merasa sumber dari suara tertawa itu telah jelas, dan ia menetapkannya berasal dari asap hitam yang berada tepat di atas air dari sungai itu.
Tiga seseorang bertopeng terlihat muncul dari dalam asap hitam tersebut. Mereka berbaris berjejer, tapi ada seorang pria bertopeng putih di tengah dari dua orang bertopeng hitam. Pria bertopeng putih itu, berdiri selangkah di di depan dari keduanya. Dia terlihat sebagai pemimpimnya.
"Sebenarnya aku telah lama menunggu kesempatan ini," ucap pria bertopeng putih sembari berjalan di atas air.
"Dan tepat pada saat ini, kurasa adalah yang paling sesuai," Ia kembali berkata dan berhenti berjalan setelah merasa telah kakinya menginjak tanah.
Kimura tiba-tiba menjadi waspada, pikirannya kembali ke suatu kejadian yang telah berlalu lama dalam kehidupannya. Tak lain dan bukan dia ingat betul bahwa orang itulah yang membunuh ibunya.
"Aku telah menunggu kesempatan ini...
"Dan langit akan menjadi saksi kematian yang akan ku berikan secara mengenaskan kepadamu."
Nada dari setiap kata yang mulut Kimura lontarkan sangat dingin. Seumpamanya jika suara dapat membunuh, mungkin hanya dengan perkataan saja ia telah banyak menghabisi nyawa orang, ketika mendengar nada suara berisi kedinginan itu.
"Seperti yang telah Tuanku beritahu bahwa kau memang adalah boc-"
"Aaahh."
Sekarang ia mendapati dirinya, terhempas dan berhenti karena badannya menabrak sebuah batang pohon.
"Kemampuanmu sangat luar biasa, aku sampai tak bisa membaca pergerakanmu," ucapnya sembari berdiri.
Dua pria bertopeng hitam yang datang bersamanya segera kembali berdiri di kedua sisi belakangnya.
"Tapi, mungkin karena tadi aku terlalu meremehkanmu yang lantas kau membuatku sedikit terkejut dengan serangan cepat yang tak pernah ku lihat dari seorang anak kecil seumuranmu," jelasnya, mencoba membela diri atas serangan yang telak mengenai tubuhnya.
Saat ini Kimura telah berubah, menjadi seperti yang pertama kali waktu ia berhadapan dengan orang itu.
Aura berwarna merah yang ia sendiri sampai saat ini tak tahu bahwa itu adalah seperti sebuah Aura Naga Api yang telah menjadi sebuah legenda, meluap-luap keluar dari semua sendi tubuhnya dan terlihat perlahan-lahan menyelimuti seluruh badannya. Rambutnya terlihat menegang ke atas membentuk seperti sebuah duri buah durian.
"Hanya itu kemampuanmu..." Kimura berkata dengan kedua tangan terkepal geram.
"Aku sama sekali tidak arogan. Hanya saja aku ingin menunjukkan apa arti kekuatan sebenarnya..."
Setelah berkata demikian, dengan cepat yang tak bisa di jangkau oleh mata biasa. Kimura telah menghilang dari tempatnya berdiri.
"Rasakan ini!"
__ADS_1
Dan tiba-tiba Kimura berada di hadapan pria bertopeng putih itu, dengan tinjuan berselimutkan Aura Naga Api bersiap ia daratkan di tubuh lawannya.
Pria bertopeng putih sedikit kaget melihat serangan yang cepat itu, akan tetapi ia masih bisa menghindarinya. Lalu kemudian mengambil jarak menjauh.
"Ah..." desahnya sambil tersenyum menandakan ketertarikan.
Namun, nasibnya berbeda dengan kedua bawahannya. Yang sekarang tengah menghindari serangan ganas dari Kimura.
Kimura sekarang terlihat seperti orang kerasukan.
Buam...
Buam...
Ia menghancurkan pepohonan-pepohonan yang sebelumnya menjadi tempat berlindung musuhnya.
Aura Naga Api terlihat semakin kental dan banyak menutupi badannya.
Buam...
Buam...
Kimura terus menyerang, akan tetapi tetap saja musuhnya masih bisa menghindar meskipun dengan usaha yang keras.
Kedua pria bertopeng hitam itu, dengan perlahan berusaha mendekat ke arah Tuaannya. Dan kemudian kembali berdiri di belakangnya setelah bersusah payah menghindari serangan Kimura.
"Ku lihat kalian berdua kesulitan menghindari serangannya," ucap sang pria bertopeng putih, setelah kedua anak buahnya kembali berdiri di kedua sisi belakangnya.
"Kecepatan dan kekuatan dari pukulannya sangat menakjubkan, Tuan." Salah seorang dari mereka berkata pelan.
"Benar. Aku juga dapat melihatnya, tetapi bagaimanapun caranya kita harus mewujudkan perintah Tuan kita terlaksana dengan hasil yang di harapkan..."
Pria bertopeng itu kembali membuka suara, "Dan aku yakin dia tak akan sanggu melawan kita, jika kita bertiga memakai kekuatan penuh. Gunakan katana kalian! Anak itu telah datang!"
Mereka bertiga kemudian mengeluarkan senjata mereka. Bersiap menyambut serangan yang datang.
Namun, pada saat beberapa langkah lagi pandangan mereka bertemu. Kimura hanya melewati mereka bertiga, tanpa memberikan serangan.
Kimura berdiri di hadapan sang pemimpin siluman serigala yang telah ia beri nama, Okami.
"Bantu aku menyelesaikan pertarungan ini dengan cepat...
"Serang mereka, Okami!" perintah Kimura.
Okami langsung bergerak bersama serigala yang lain menyerang ketiga individu bertopeng itu.
__ADS_1