Legend Of Samurai

Legend Of Samurai
Ch 20 : Roh Pedang Katana


__ADS_3

Kedua pedang katana yang terlihat berbeda warna itu melayang di depannya, sekitar 1 meter dari atas kepalanya.


Kimura sama sekali tak mengetahui bahwa pedang katana yang di berikan padanya itu bisa melayang di udara, seperti ruangan ini tidak memiliki gravitasi.


"..."


Selama beberapa detik, Kimura memandang kedua pedang katana yang sekarang sedang melayang, tanpa bersuara sedikit pun. Namun demikian, dia belum bisa mempercayai itu, karena menurutnya itu sesuatu yang di luar nalar manusia.


"Apa aku berada dalam mimpi?" tanyanya kepada diri sendiri, sambil mencubit lengan tangannya dengan sekuat tenaga.


"Aaah," lirihnya merasa kesakitan, saat mencubit lengannya, "Jelas ini bukan mimpi, tetapi mengapa kedua pedang katana itu..."


Ekspresi kagetnya sekarang berganti, mulutnya sekarang menganga dengan tatapan yang fokus kepada kedua pedang katana yang melayang di atasnya. Saat ini, mengeluarkan aura yang antara satu sama lain berbeda.


Tiba-tiba dirinya merasakan ketidak nyamanan, yang membuat sedikit tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Kimura merasakan perasaan yang membuatnya mengansumsikan bahwa itu adalah perasaan yang berarti menandakan ketakutan.


Sementara, kedua pedang katana itu terlihat masih melayang dalam keadaan diam tanpa bergerak, seperti seseorang yang sedang saling memandang satu sama lain.


Keheningan yang tercipta dari suasana antara kedua katana dan di tambah dengan Kimura yang masih memandang dalam diam ke objek matanya lihat, tetapi ada satu hal yang Kimura tidak sadari, bahwa dalam keheningan itu, aura berwarna hitam dan putih perlahan - lahan menyelimuti seluruh sudut dan ruangan gubuk ini.


Kimura hanya fokus terhadap kedua senjata yang biasa di pakai seorang Samurai itu, dan sama sekali tidak menyadari bahwa semakin lama dirinya terlihat seperti ingin di telan oleh aura yang di keluarkan kedua pedang katana itu.


"Ah..." Kimura menoleh ke sekelilingnya, ia baru menyadari ada sesuatu yang aneh. Namun, sudah terlambat dia sudah sama sekali tidak bisa melihat identitas dari gubuk tempatnya berada.


Aura berwarna hitam dan putih bercampur menjadi satu memenuhi area jangkauan kedua bola matanya, sehingga bisa di katakan ia tidak bisa melihat apa-apa lagi, selain kedua aura yang bercampur menjadi satu itu...


**


Sebuah ruangan berbentuk bulat, berdiameter kurang lebih 5 meter menjadi tempat yang sekarang kedua kaki Kimura pijak. Namun, yang berfungsi sebagai pijakan di sini bukanlah lantai. Kimura merasa seperti berada diatas sebuah awan, tetapi mampunyai bentuk dan warna berbeda dari awan yang berada di langit.


"Tempat apa ini?" gumamnya pelan, tetapi dengan nada penuh pertanyaan.


Kimura terus melihat ke bawah, karena matanya tidak sanggup untuk melihat ke depan, yang terlihat sebuah cahaya yang sangat menyilauka. Kedua kakinya saat ini menginjak warna yang berbeda. Kaki kanannya menginjak sebuah aura berwarna putih, sedangkan kaki kirinya berada di area aura hitam. Bisa di katakan, ruang hampa ini sama persis dengan lambang Yin dan Yang.


"Ini mirip dengan mimpiku yang dahulu, tetapi suasana dan eksterior nya sedikit berbeda..."

__ADS_1


Kedua kaki Kimura perlahan - lahan di selimuti oleh aura yang berbeda itu, hingga berhenti tepat di pahanya.


Dan setelah itu, terlihat 2 siluet berwarna hitam muncul di tengah-tengah cahaya yang menyilaukan penghilatannya itu, dan beberapa lama kemudian, cahaya itu memudar, dan seketika menghilang sempurna. Dan memperlihatkan siluet itu kepada kedua mata Kimura dengan jelas.


Dua orang lelaki yang sudah SANGAT sepuh dengan rambut, janggut panjang, sepenuhnya telah memutih. Namun, pakaian yang di gunakan keduanya berbeda. Lelaki yang berada di sisi kanan Kimura, memakai pakaian berwarna serba putih dari atas ke bawah, sedangkan di sisi kirinya, model pakaiaannya sama yaitu kain panjang yang menutupi seluruh tubuh, tetapi dengan warna yang sepenuhnya hitam.


Boleh di katakan, hanya tinggi badan yang bisa membedakan antara mereka berdua.


Kedua bola mata Kimura berpindah - pindah ke satu sisi ke sisi lain, memandang mereka berdua.


"Si-siapa mereka," gumamnya pelan, raut wajahnya sedikit panik, karena merasa ada yang aneh.


"Ah...Ah...Ah," kedua kakinya tidak bisa dia gerakkan sama sekali. Yang lantas membuatnya panik dan sedikit ketakutan.


Lelaki sepuh berpakain serba hitam terlihat berjalan menghampiri Kimura.


"Telah ku katakan, kita berdua akan bertemu lagi," kata lelaki sepuh itu sembari berhenti dan berdiri tidak jauh dari sisi kiri Kimura.


Kimura yang sibuk dan panik ingin menggerakkan kakinya, segera mengangkat wajah menoleh ke sumber suara.


"Namaku Kuro Seishin, kau boleh memanggilku Kuro."


Kimura hanya mengangguk, sambil menelan ludah. Saat dia memandang mata seseorang yang sekarang sedang berbicara dengannya itu, entah mengapa naluri ketakutannya tiba-tiba keluar ketika bertatap dengan mata yang hanya di penuhi warna hitam.


"**Kamu tidak perlu takut, aku tak mempunyai niat aneh, tidak seperti yang tlah kau ekspektasikan. Kita tidak punya waktu untuk berlama - lama..."


"Ku beritahukan kepadamu, kami berdua adalah roh dari pedang katana yang kau telah lihat."


Kimura menoleh memandang Lelaki sepuh yang berdiri diam di sisi kanannya. Namun, Kimura segera memalingkan wajahnya memandang ke arah lain, saat bertatap mata dengan mata yang sepenuhnya berwarna putih.


"Hanya ada empat pusaka pedang roh yang berada di dunia ini..." lanjut lelaki sepuh yang bernama Kuro itu.


"Kami bertemu denganmu, karena ingin meminta bantuanmu untuk mengumpulkan pedang katana roh lain."


Kimura tidak berani merespons, seluruh indaranya tak berani berfungsi, kecuali indra pendengarannya saja yang terus fokus mendengarkan.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menyampaikan itu dan tolong kau bantu aku. Pedang katana ini, ku serahkan padamu, hanya kau yang bisa memakainya sekarang..." Roh yang bernama Kuro itu, mengangkat jari telunjuknya, lalu menempelkannya ke tengah-tengah kening Kimura.


"Aku sudah mengalirkan sedikit energiku roh kedalam dirimu sebagai pengikat antara engkau dan diriku. Maka, kini kita sudah terikat, dan jika kau sudah bertambah kuat, kita pasti akan segera bertemu lagi."


"Aku tidak mengerti apa maksudmu?" tanya Kimura.


"Tak usah banyak bertanya, Nak. Suruh Kakek tuamu itu untuk melatihmu, agar kau cepat bertambah kuat..." Sela lelaki sepuh yang sedari diam berdiri di sisi kanannya, saat menyebutkan kata "Kakek tuamu" dengan nada yang menandakan kekesalan.


"Sampai bertemu lagi..." Ucap mereka berdua bersamaan, setelah seketika itu menghilang.


**


Kimura menemukan dirinya sedang terbaring di atas ranjang kayu gubuk.


"Kamu telah sadar rupanya..."


Kimura menoleh ke sumber suara itu, ia menemukan pemiliki dari suara adalah Kakenya sendiri.


"Mmm...Iya, Kek," jawab Kimura sedikit heran atas perkataan Kakeknya.


"Sejak kapan aku pingsan? " katanya dalam hati.


"Ambil ini," ucap Akuma sembari memberikan pedang katana berwarna hitam, warisan Klannya, "Nak, kamu harus membawa katana ini terus, karena sudah terikat denganmu."


"Mengapa Kakek bisa mengetahuinya?" tanya Kimura kepada Akuma.


"Karena, Kakek adalah pemilik dari pedang roh ini," Akuma berkata sambil menunjukkan pedang katana yang gagang dan besinya berwarna putih.


Kimura ingin kembali membuka mulut, tetapi segera di potong oleh pertanyaan yang keliar dari mulut Akuma, "Apa yang mereka katakan padamu?"


Kimura lantas menceritakan secara detail, kejadian di ruang hampa itu. Membutuhkan waktu beberapa saat untuk menceritakannya.


"Oh..." Akuma mengangguk - anggukan kepala berulang kali, sebagai respons atas penjabaran Kimura. "Aku telah memprediksi itu," katanya sembari tersenyum tipis.


Lanjut perkataannya, "Besok kita akan memulai latihannya."

__ADS_1


__ADS_2