
Kaisar sangat melarang keras seseorang memasuki hutan ini, namun di dalam kelegelapan yang hanya cahaya bulan saja menjadi penerang.
Terlihat puluhan orang mengeroyok seorang lelaki yang sekilas berusia 30th. Tubuh lelaki itu sudah di penuhi banyak luka, tapi masih berusaha melawan dengan tenaga dalam yang tersisa sedikit.
"Sebentar lagi kita akan bertemu Ketua dan Tuan Hanbei." Gumam Kansuke tersenyum pahit. Aura di katananya sudah mulai memudar.
Tenaga dalamnya hanya sanggup di gunakan untuk bertahan, menangkis serangan lawan yang datang. Karena jika di gunakan untuk memakai jurus tenaga dalamnya akan habis tak tersisa.
Akibatnya, bisa saja yang paling fatal ia dapatkan adalah kematian.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu." Ucap sang lawan sambil menyeringai.
"Terus apa yang kau inginkan dari kami." Balas Kansuke sambil mengerinyit kesakitan.
"Kau tidak perlu tahu itu, yang jelas aku mempersilahkan kau menyerah."
Cuihh...
Kansuke meludahi wajah musuhnya.
"Kata "menyerah" tidak ada dalam diri seorang samurai..." Ucap Kansuke sambil memegang perut.
"Ya. Semangat juang mu ku acungi jempol, tapi tetap demi eksperimenku kau harus ku bawa." Ia memakai rantai berwarna hitam yang sedari tadi tersimpan di pinggangnya.
Lanjutnya, "Dengan tenaga dalammu yang tersisa itu, akan ku gunakan senjata andalanku untuk menghisap tenaga dalammu..."
Sang lawan bergerak cepat menyerang Kansuke.
Kansuke terus menghindari serangan rantai itu dengan susah payah.
Arghh...arghh...
Kansuke 2 kali terkena serangan itu. Kekuatan dari serangannya tidak terlalu kuat. Tetapi...
"Rantainya menghisap tenaga dalamku." Gumamnya sembari mempertahankan kesadarannya.
Melihat Kansuke yang sudah lemas tak berenergi, sang lawan berniat memberikan serangan terakhir.
Rantai tersebut kemudian melilit Kansuke yang sudah tak sadarkan diri.
"Bawa dia ke markas! Kita harus cepat mengobatinya." Perintahnya kepada salah seorang anggotanya.
"Tapi anak yang melarikan diri itu bos..." Tanya salah seorang anggotanya.
"Oh iya. Aku baru ingat, begini saja kalian sebagian bawa dia ke markas, sedangkan yang lain ikut bersamaku."
"Siap bos." Jawab mereka serentak.
Setelah separuh anggotanya pergi membawa Kansuke, ia berniat pergi mencari sebagian anggotanya yang masuk jauh ke dalam hutan karena ingin menangkap Kimura.
Mereka sudah berjalan jauh masuk ke dalam hutan. Namun, masih belum juga bertemu dengan anggotanya yang lain.
"Lihat jejak langkah kaki itu." Bosnya menunjuk jejak kaki yang ada di depannya.
"Kenapa dengan jejak kaki itu bos." Kata salah seorang anggotanya yang terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Dasar bodoh...!" Ia memukul kepala anggotanya. "Itu pasti jekak kaki anggota yang lain, kalian ikuti itu."
Mereka semua mengikuti jejak kaki tersebut. Namun, langkah kaki mereka semua terhenti ketika merasakan aura mengerikan di sekitarnya.
"Aura apa itu bos?" Tanya salah seorang anggota, mereka semua kelihatan ketakutan.
Yang di tanya pun tidak menjawab, ia sedang berdiri mematung dengan keringat dingin mengucur dari pelipis.
"Cepat pergi! Sepertinya aura itu berasal dari penunggu dari hutan ini!" Nada suaranya seketika menjadi pelan.
"Tapi, anggota yang lain bagaimana bos."
"Kita tunggu di markas, kalau mereka berhasil membawa anak itu pasti juga akan kembali kemarkas." Ucapnya seperti berbisik.
"Ayo pergi!."
Selepas berkata seperti itu ia dan anggotanya semua langsung berlari keluar dari hutan dengan wajah ketakutan.
**
Kimura jatuh berlutut, kondisinya sangat lemah wajahnya pucat pasi dan darah keluar dari hidung dan telinganya. Katana yang berada tangan kanannya mengeluarkan cahaya berwarna hitam
Sekelilingnya di penuhi oleh badan belasan orang yang terpotong menjadi beberapa bagian. Tanah hutan ini di banjiri oleh darah.
Terlihat dari nafas Kimura bahwa ia seperti kelelahan. Di depannya terlihat masih ada musuh yang tersisa, orang itu berjalan terluntai luntai di tangannya terdapat pedang.
Orang itu berjalan ke arah Kimura sembari menahan rasa sakit yang berada di dadanya. Kimura sudah tidak sanggup berdiri darah semakin banyak keluar dari kedua hidung dan telinganya.
Orang itu tersenyum sambil bersiap-siap mengangkat pedang di tangannya ingin menebas Kimura yang masih dalam posisi berlutut di tanah.
"Ma..mati ka..kau." Ucap orang itu terbata-bata.
Serangan itu tidak pernah sampai, orang itu sudah jatuh di tanah dengan kepala terlepas dari tubuh.
Kimura mengangkat kepala pelan. Matanya sekilas melihat seseorang berambut putih keperakan panjang hampir sepunggung, kulitnya sangat putih seputih susu.
Warna putih kulitnya semakin terasa karena dia memakai pakaian panjang berwarna hitam.
"Anak ini sudah tak sadarkan diri rupanya." Ucap lelaki berambut putih keperakan itu.
Kimura sudah tidak sanggup menahan agar tidak kehilangan kesadaran.
"Aaaahh!"
Lelaki berambut putih keperakan panjang hampir sepunggung itu merasakan panas ketika tangannya menyentuh badan Kimura.
"Auranya sangat tidak asing. Sepertinya ini sebuah takdir yang mempertemukanku dengan dia." Lelaki itu tersenyum simpul, sambil mengangkat badan Kimura. "Aku harus menggunakan sedikit qi hanya untuk mengangkatnya. Tapi tidak apa-apa lah setelah ini aku akan segera bersemedi."
Lelaki itu membawa Kimura masuk bersamanya lewat Jurang yang di kenal mempunyai aura menakutkan dan mengerikan itu.
**
Lapangan Sekte Klan Uesugi di penuhi oleh ratusan mayat yang di tumpuk menjadi satu, karena mayat-mayat itu akan di bakar. Karena terlalu banyak mayat yang harus di bakar mereka baru selesai hari ini.
"Tuan. Kami sudah melumuri minyak ke seluruh mayat." Lapor salah seorang pasukan kepada Tang Ryu.
__ADS_1
"Kalau begitu kalian bakar, sampai menjadi abu." Ucap Tang Ryu dengan raut wajah rumit.
"Baik Tuan!" Pasukan itu memberi hormat lalu melangkah keluar Vila bambu.
Tang Ryu saat ini sangat pusing, pikirannya berputar-putar kepada seseorang yang mayatnya tidak ia temukan.
Yap Kansuke. Ia tidak menemukan mayat sang tangan kanan ketua. Tugas bagian admistrasi adalah mencatat seluruh samurai beserta anak dan istri yang tinggal di dalam Sekte Klan. Total yang menempati Klan adalah sekitar ratusan keluarga tergabung dengan berbagai murid di sini totalnya adalah 2.037.
Angka itu yang Tang Ryu lihat ketika memanggil seseorang yang bekerja di bagian admistrasi untuk menunjukkan data-data lengkap dari semua orang yang tinggal. Bukan hanya Kansuke yang membuat pikirannya pusing, tapi anak dari salah satu Tetua yang membunuh jenderalnya. Yaitu Hanbei, anak yang waktu peresmian kelahirannya ia hadiri ternyata tidak ada di pengungsian.
"Ahhh." Tang Ryu mengacak-ngacak rambutnya.
Pikirannya masih terus berputar-putar memikirkan 2 orang nama yang kemungkinan sudah meninggalkan Klan.
"Aku harus segera mencari dan menangkap mereka. Mereka berdua bisa jadi ancaman yang berbahaya di kemudian hari." Tang Ryu berkata dengan nada serius sambil kembali duduk dan meneguk secangkir teh.
Beberapa saat kemudian, Tang Ryu yang tengah asik menikmati tehnya di panggil oleh salah seorang pasukannya.
"Tuan!" Raut wajah pasukannya terlihat panik.
"Ada apa?" Tanya Tang Ryu.
"Di lapangan, Tuan Katewaki sedang bertarung melawan seorang samurai yang tidak tahu berasal dari mana!"
Tang Ryu hanya tersenyum tipis, "Sepertinya itu Hiyashi ketua dari Klan Edo."
"Mari kita ke sana." Ia berkata sembari memakai pakaiannya dan memasang katana di pinggangnya.
"Ayo!" Ucapnya sembari berlari cepat keluar Vila Bambu.
**
"Dasar samurai rendahan." Hina Katewaki sembari menangkis serangan lawannya.
Katewaki adalah salah satu letnan berpangkat tinggi yang di bawa Saji Obata, sedikit lagi ia akan di angkat menjadi jenderal.
Dia lah yang membunuh Nagasaki Tetua terhebat nomor 2 Klan Uesugi menjadi serpihan daging. Dengan mengayunkan ke-2 kapaknya ia seperti ingin memotong leher lawan.
"Rasakan ini!" Katanya sembari menyerang balik, karena menurut ia lawannya sudah masuk dalam jebakan.
Matanya terbelalak, lawannya sekarang sudah menghindar cukup jauh sembari memberikan luka sayatan di dadanya.
"Ka...kau bagaimana?" Ucap Katewaki tak percaya jurus serangannya berhasil di hindari dan malah ia terkena serangan balik lawan.
"Perkenalkan namaku, Edo Hiyashi Ketua Klan Edo." Tegasnya. Setelah memperkenalkan diri, ia kembali bergerak cepat menyerang.
"Halilintar penerkam!" Seru Hiyashi.
Pedang katananya tiba-tiba di selimuti aliran petir. Ia kemudian bergerak menyerang lawan yang masih terlihat kaget.
"Binasalah engkau!"
BUAM......
Ledakan tiba-tiba terjadi, menggetarkan sebagian Vila Bambu yang berada dekat dari lapangan.
__ADS_1
Setelah kepulan asap dari ledakan hilang, terlihat Tang Ryu dengan darah yang mengalir keluar dari mulutnya, menangkis katana Hiyashi.
Hiyashi tak menyangka akan ada yang menangkis serangannya. Dan lebih tak di sangkanya yang menangkisnya adalah Tang Ryu yang ia kenal sebagai wakil ketua Klan Uesugi.