Legend Of Samurai

Legend Of Samurai
Ch 21 : Permulaan


__ADS_3

"Seni berpedang adalah seni membunuh..." Akuma berkata sembari mendaratkan beberapa serangan ke badan Kimura, beberapa kali dengan pedang kayu.


Keduanya sekarang berada di sebuah lahan kosong yang cukup besar, berdekatan dengan sungai air hitam, sekitar puluhan meter saja yang memisahkan keduanya dari sungai itu. Akuma memilih ini sebagai tempat latihan, karena menurutnya tempat ini jarang ada warga yang berlalulalang di sini dan menurutnya dengan area yang luas akan menjadi lebih leluasa untuk mereka bergerak.


"Tapi..." Lanjutnya.


"Pedang hanyalah alat untuk membantu seseorang yang mempelajari seni berpedang untuk mencapai ambisinya, dan aku sekarang melatihmu sekarang untuk menanamkan sejak dini naluri membunuh itu kepadamu."


Selepas berkata demikian, Akuma berhenti memukul Kimura. Kimura yang terlihat, badannya telah di penuhi luka lebam saat ini sedang menunduk dalam posisi pedang kayunya sebagai penyangga.


Matanya terlihat berkaca-kaca ingin mengeluarkan kesedihannya.


"Menangislah, keluarkan semua kesedihan yang terpendam dalam dirimu itu." Ucap Akuma.


"A-Aku tidak bisa, Kek..." berkata Kimura, sambil terisak - isak.


"Kau pasti bisa, bila kau ingin menjadi yang terkuat harus ada konsekuensi yang kamu harus terima. Dan di sini lah Kakek berada, menjadi pembimbingmu agar kamu bisa menerima segala kesakitan dan kemudian menjadi kebal terhadap kesedihan." Akuma berusaha memberikan motivasi yang berguna baginya.


"Maafkan dengan cara pelatihan yang Kakek berikan kepadamu. Namun, inilah yang bisa Kakek ajarkan padamu untuk membuatmu lebih berkembang ke depannya."


Kimura masih berdiam dalam posisinya, sedangkan Kakeknya terus berbicara panjang dan lebar seolah tidak akan pernah berhenti.


"Masih banyak tahap yang harus kamu lakukan, Nak. Untuk mencapai tujuanmu, ini baru sekedar permulaan karena aku ingin melihat kemampuan awalmu. Besok akan menjadi hari pertama, kamu akan memulai latihan yang sangat keras. Apa kamu siap! Tanya Akuma dengan nada berseru ingin membarakan semangatnya.


Narasi yang di berikan Kakeknya, ia dengar sangat baik dan menyimpannya ke dalam memorinya hingga berusaha membuatnya menjadi sebuah ingatan yang tertanam di otak.


"Siap...Aku sudah siap atas situasi apapun yang akan menimpa hidupku," Katanya pelan, sembari berdiri.


"Aku akan menjadi kuat. Kek!" Kimura berlari menyerang dengan sebuah pedang kayu yang berada di tangannya.


Kakeknya yang melihat semangat itu hanya tersenyum tersenyum tipis, sambil menangkis serangannya dengan sangat mudah. Satu hal yang Kimura tidak sadari dan hanya Akuma saja yang mengetahuinya, saat ini di kedua pundaknya sekarang terlihat aura berwarna merah seperti api mengembul-ngembul, walau dalam skala kecil.


"Kamu memang unik, Nak." Gumam Akuma sembari terus menangkis serangan yang tak bertenaga dari Kimura.


Akuma mengetahui anak yang sudah ia anggap seperti cucu ini memang memiliki bakat, tetapi dia sangat skeptis tidak mengetahui bahwa bakat yang di milikinya sangat unik.


Ciri khas seorang Samurai adalah sebuah kekuatan dari sebuah tebasan, tapi menurutnya Kimura berbeda dengan yang lain, kelembutan, kecepatan, dan ke efektifan dalam serangan, itulah yang menjadi bakat terpendam yang membuatnya berbeda dari Samurai yang berada di dunia ini.


"Kamu adalah muridku yang paling unik di antara ribuan samurai yang telah ku latih." Akuma kembali bergumam, meskipun dia bisa menangkis serangan anak itu dengan mudah, tetapi di bandingkan dengan anak seumurannya yang lain, Akuma merasa anak ini berada jauh di atasnya.


"Kecepatan yang lumayan mengesankan, Nak." Ucap Akuma tersenyum tipis sembari melompat mundur.


"Makasih atas pujiannya. Kek."


Dalam pertarungan yang terbilang singkat itu, Akuma melihat wajah cucunya itu sudah terlihat sangat lelah sekali.


"Tapi itu bukan berarti, latihan permulaan ini sudah selesai. Ingat kan, Kakek tadi berkata apa kepadamu, bahwa kamu harus menyentuh Kakek dengan seranganmu baru itulah Kakek menganggap kamu lolos dalam permulaan ini..."

__ADS_1


Terbitnya matahari dari ufuk timur, Akuma dan Kimura telah berlatih tanpa istirahat yang panjang. Mereka hanya beristirahat untuk mengambil nafas saja. Dan sampai saat ini belum berhenti.


Setelah Akuma berkata demikian, keduanya kembali melanjutkan latihan, yang sebenarnya berbentuk tugas yang Kimura harus lakukan.


Beberapa waktu berlalu, atau bisa dikatakan beberapa telah jam berlalu, karena terlihat matahari telah berada di titik kulminasinya yang menandakan hanya menunggu waktu saja untuk segera langit berganti menjadi kegelapan. Kimura dengan nafas terputus - putus dan keringat membasahi seluruh badannya, terus masih berusaha untuk menyentuh badan Kakeknya menggunakan serangannya.


"Sepertinya kita akan melakukan ini terus meskipun dalam kegelapan."


Sedetik setelah perkatannya itu keluar dari mulutnya, Kimura dalam gerakan zig-zag yang tak bisa ia lihat dengan jelas, telah berada di hadapannya mengacungkan pedang kayunya tepat ke arah jantungnya berada.


"Sepertinya aku harus menarik kembali kata-kataku yang barusan..." Ucapnya tersenyum tipis dengan nada perkataan yang menyiratkan sedikit kekaguman.


Kimura yang kepalanya menunduk dan masih dalam posisi menyerang, mengangkat kepalanya memandang Kakeknya," Apa aku sudah lolos dan bisa menjadi murid Kakek," ucapnya sembari tersenyum.


"Tentu saja." Balas singkat Akuma, sambil mengelus rambut Kimura.


Lanjut perkataannya,


"Ayo pulang..." Katanya, mengajak.


**


Sesampai di gubuknya, mereka berdua langsung segera bergegas membersihkan tubuh, karena seharian berkeringan berkeringat.


Setelah membersihkan tubuh, akibat kelelahan yang keduanya rasakan dari latihan yang terus menerus seharian itu, mereka berdua kemudian berbaring di atas ranjang, ingin meluruskan dan agar merilekskan sendi-sendi tubuh mereka akibat selesai latihan.


Tuk...Tuk...


"Tuan. Apa anda sedang berada di dalam!" Panggil seseorang terdengar berasal dari depan pintu gubuk.


Akuma dan Kimura yang mendengar itu, refleks bangkit dari tidurnya ingin mengetahui siapa pemilik dari sumber ketukan dan suara tersebut.


Kimura yang terlebih dahulu turun dari ranjangnya duluan, lantas membuka pintu.


Nozomi yang dalam gendongan Yamaguchi adalah yang saat ini berada di hadapan mata Kimura.


"Silahkan masuk, Tuan." Ucap Akuma yang berdiri di belakang Kimura, ketika mengetahui tamu yang datang adalah Yamaguchi dan cucunya yaitu Nozomi.


Kimura segera memberi jalan untuk tamunya masuk.


Yamaguchi kemudian melangkahkan kakinya masuk. Saat berjalan melewati Kimura, Nozomi mendengus pelan ke arahnya sambil memalingkan wajah kesal.


"Telah lama aku tidak mengunjungi tempatmu ini, Tuan." Ucap Yamaguchi setelah berada di hadapan Akuma.


Akuma hanya tersenyum membalas sebagai respons. "Sebaiknya kita duduk terlebih dahulu, karena menurutku malam ini akan menjadi pembicaraan yang panjang." Akuma tersenyum tipis sembari gestur tangannya mempersilahkan untuk duduk di kursi kayu.


Yamaguchi mengangguk, lalu kemudian duduk di kursi kayu itu. Tetap Nozomi berada dalam pangkuannya.

__ADS_1


"Tuan. Kedatanganku ke sini hanya ingin memperkenalkan cucuku ini kepadanya." Pandangan Yamaguchi jatuh terhadap Kimura.


Nozomi yang mendengar itu, seketika menarik-narik pakaian Kakeknya. Raut wajahnya sedikit malu-malu.


Akuma yang melihat itu hanya tersenyum dan sedikit bingung. "Aku tidak mengerti maksud perkataan, Tuan."


"Susah di jelaskan, Tuan. Cucuku ini terlalu labil." Bisiknya, sembari mengedipkan satu mata ke Akuma.


Akuma segera mengetahui ke mana arah pembicaraan ini, segera memanggil nama yang menjadi peran utama dari situasi ini. "Kimura..."


Kimura sedang berdiri dalam diam memandang mereka segera datang, setelah mendengar namanya di sebut.


"Ada apa, Kek," Katanya pelan.


"Coba perkenalkan dirimu ke Adikmu ini." Ucap Akuma.


Kimura menjadi salah tingkah mendengar perkataan Kakeknya. Soalnya dia tidak tahu bagaimana memulai interaksi perkenalan antara keduanya.


Akuma yang melihat cucunya itu terlihat bingung dari raut wajahnya, segera berkata. "Perkenalkan saja namamu."


Kimura segera mengikuti arahan Kakeknya, ia mengulurkan tangan dan mengucapkan namanya sebagai awal perkenalan.


"Hai, Namaku Kimura, dan boleh ku tahu namamu," ucapnya, sembari mengulurkan tangan.


"Hmm..." Nozomi membalas uluran tangannya sambil tetap memalingkan wajah.


Lanjutnya...,


"Aku pikir kamu sudah mengetahui namaku."


"Nama cucuku ini, Nozomi Okuhara. Kamu bisa memanggilnya dengan sebutan Zomi." Ucap Yamaguchi.


Setelah perkenalan itu, Kimura meminta diri untuk kembali tidur karena merasa, besok tubuhnya harus dalam kondisi bugar ketika melakukan latihan.


"Kedatanganku di sini, bukan hanya untuk memperkenal cucuku ini, tetapi ada yang ingin kikatakan kepadamu, Tuan. Ku dengar anak yang bernama Kimura itu, akan kau latih?" Tanya Yamaguchi.


"Benar, Tuan. Aku memutuskan untuk melatihnya karena bakat dalam dirinya sangat tinggi, akan sia-sia bila tidak melatihnya mengembakangkan bakatnya itu." Jawab Akuma.


Yamaguchi mengangguk, lalu kemudian kembali berkata. "Kedatanganku juga berhubungan dengan latihannya. Aku dan Damato juga ingin ikut mengambil bagian untuk melatihnya."


"Aku sangat bangga cucuku apabila di latih oleh seorang Samurai seperti anda, Tuan." Ucap Akuma.


"Makasih, Tuan." Balas Yamaguchi.


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perbincangan keduanya membahas hal lain. Waktu serasa begitu cepat berlalu hingga terlihat waktu sekarang menunjukkan sudah tengah malam.


Yamaguchi kemudian mohon undur diri untuk kembali ke kediamannya, karena Nozomi sekarang telah tertidur pulas dalam pelukannya. Sehingga ia harus mengantarkan cucunya ini kembali ke kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2