
Anak kecil datang mengerumungi Akuma dan memeluknya, Nozomi juga ikut menjadi salah satu yang ikut memeluk. Hanya Kimura saja dari semua anak yang tidak bergerak seici pun. Perasaan nya kembali lega ketika melihat kedatangan Kakeknya dalam kondisi sehat tanpa sedikitpun luka.
Terlihat jelas, bahwa Akuma sangat di sayangi oleh para warga dan anak-anak yang masih berusia di bawah remaja. Meskipun, mereka tidak tahu bahwa Kakek- Nenek mereka dahulu di culik olehnya. Rahasia itu di simpan rapat-rapat oleh Akuma, tetapi Ohori menjadi orang kedua selain Akuma yang mengetahui rahasia itu, karena dia adalah warga generasi pertama, seumuran dengan Kakek - Nenek mereka yang telah tiada. Sedangkan, Yamaguchi dan Damato adalah generasi kedua.
Akuma mengelus kepala anak-anak itu, agar mereka mendapatkan kepuasan dari di balasnya kasih sayang yang mereka berikan.
"Minggir dulu ya, Kakek ingin lewat..." Ucap Akuma dengan nada pelan kepada anak-anak yang menghalang jalannya.
Seluruh anak-anak yang mengerumunginya segera berhambur, masing-masing mereka kembali ke Orang tuanya. Sedangkan, Nozomi berlari ke arah Yamaguchi yang terlihat bergestur bersiap-siap menggendongnya.
"Cucu Kakek ini pasti berbuat nakal hari ini..." Ucap Yamaguchi sembari menyentil hidung Nozomi dengan jari telunjuknya.
"Nozomi, tidak berbuat nakal kok, Kek." Ucapnya dengan senyum tipis yang manis terpatri di bibir mungilnya.
"I-itu sana..." Lanjut Nozomi.
"Anak itu yang nakal Kek." Katanya sembari menunjuk seorang anak kecil lelaki.
Yamaguchi mengerinyitkan keningnya, lalu mengikuti arah telunjuk cucunya itu. Matanya melihat seorang anak kecil lelaki yang telah bertemu sebelumnya dengannya.
"Mengapa cucu Kakek yang manis ini, berkata seperti itu kepadanya?" Tanya Yamaguchi, sedikit penasaran ingin mendengar jawaban cucunya.
"Begini Kek, tadi kan Nozomi mengajaknya berkenalan...Namun, anak itu tidak membalas ajakan berkenalan Nozomi!" Jawabnya sambil mendengus ke arah Kimura.
Yamaguchi hanya tersenyum melihat tingkah cucunya, yang berbeda dari kebanyakan anak-anak seumurannya yang berada di Kampung ini.
"Nanti Kakek akan perkenalkan kamu kepadanya, oke..." Ucap Yamaguchi.
__ADS_1
"Ti-tidak mau...Tidak mau!" Balas Nozomi sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya. Dia lantas meminta turun dari gendongan Yamaguchi, dan berlari ke kedua Orang Tuanya yang berdiri tidak jauh darinya.
Sementara, Akuma sekarang telah berada di dekat Kimura. Entah mengapa, Akuma merasakan perasaan yang sama dengan perasaan yang Kimura rasakan. Rasa lega mayoritas memenuhi hati dan perasaannya ketika melihat anak lelaki yang sudah dia anggap sebagai cucu itu.
"Nona Ohori, aku mengucapkan terima kasih banyak, karena telah menjaga seluruh warga dan terutama cucuku." Ucap Akuma, yang perkataanya tertuju kepada seorang perempuan parah baya yang berdiri di dekat Kimura.
"Sama - sama, Tuan Akuma. Lagi pula, itu sudah menjadi tugasku untuk menjaga cucuku ini semua." Balas Ohori dengan nada ucapan merendah - serendah rendahnya.
Ohori merasa ini sudah menjadi tugas tetapnya, karena hanya ini yang bisa dia lakukan kepada para warga.
Akuma hanya membalas mengangguk sebagai respons. Dia kemudian bergerak melangkah ke pusat atau tengah-tengah tanah keseluruhan gubuk ini.
"Aku sebagai pemimpin dari Kampung ini." Katanya pelan. Namun, terdengar oleh seluruh warga, karena ia menggunakan sedikit qi memperbesar jangkauan suaranya.
"Ingin memberitahu agar warga-warga yang sedang memikirkan nasib perkebunannya. Aku tegaskan, agar kita bergotong royong dan bersama-sama membuat kembali apa yang sudah kita buat sebelumnya. Di gudang, masih ada tersimpan benih-benih sayuran yang bisa di kembang biakkan menjadi banyak dan yang layak untuk di konsumsi. Dengan kesabaran dan kegigihan kita pasti akan kembali ke keadaan seperti sebelumnya, dengan pangan yang berlimpah." Jelas Akuma, pada saat berpidato kharisma dan wibawanya terpancar keluar.
Di sisi lain Damato sedikit kagum melihat ketenangan dan kepemimpinannya.
"Ck, tidak mungkin!" Ucap Damato sembari melangkahkan kakinya keluar, dia ingin kembali ke kediamannya.
Tak lama setelah mengumandangkan pidato selayaknya seorang Kaisar. Akuma beserta Kimura dan seluruh warga lainnya meninggalkan gubuk evakuasi ini dan kembali ke tempat mereka masing-masing.
**
Malam Harinya...
Pada saat malam tiba, seperti biasa kegelapan memayoritaskan suasana di Kampung ini. Meskipun, sedikit cahaya bulan menyinari lewat lubang jurang yang berada tidak jauh di atas Kampung ini berada.
__ADS_1
Namun demikian, suasana mencekam dan mistis sangat terasa menyelimuti seluruh area perkampungan ini.
Kimura saat ini sedang berbaring di atas ranjang yang terbuat dari kayu, memandang langit-langit gubuk telah menjadi kegiatan rutinnya setiap malam hari tiba, selama ia tinggal di sini. Sementara, Kakeknya saat ini sedang pergi sudah sedari sore dan belum kembali sampai saat ini.
Duk..Duk..Duk..Duk..
Suara seperti ketukan yang entah berasal dari mana, tiba-tiba menginvasi dalam gubuk ini. Kimura menghiraukan suara itu, karena menurutnya dari apa yang indra pendengarannya dengar, asal suara tersebut kemungkinan berasal dari cicak yang sedang menempel di atap.
Namun, semakin lama dan semakin Kimura hiraukan suara itu. Volume dari suara yang terdengar seperti ketukan itu semakin besar, hingga menganggunya.
"Suara itu berasal dari mana?" Tanya Kimura terhadap dirinya, sendiri karena jelas tidak seseorang pun yang berada di dekatnya.
Kimura lantas bangun dari posisi baringnya, lalu berdiri kemudian membuka pintu, "Tidak ada siapa-siapa..."
Dia kemudian menenangkan dirinya, dan memfokuskan dirinya, agar mendengar arah suara itu berasal. Kimura perlahan-lahan berjalan mengikuti arah telinganya yang mulai mendeteksi tentang dari mana suara itu berasal.
Duk..Duk..Duk..Duk..
Kimura berhenti tepat di depan sebuah lemari kayu yang yang sudah terlihat tua. Berbeda dari prabotan lain yang berada di gubuk ini. Karena lemari kayu itu terletak di tempat paling sudut dari gubuk. Seperti sengaja di simpan di situ, agar susah di lihat oleh seseorang.
Lemari kayu itu terus bergerak, seperti di dalamnya sedang ada yang sengaja menggoyang-goyangkannya. Kimura yang penasaran dengan isi di dalam lemari kayu itu, lantas membukanya.
Keterkejutan membuat sedikit Kimura tersentak kaget. Dia melihat di dalam lemari kayu terdapat sebuah kotak kayu yang berwarna perak dan berbentuk lonjong sedang bergerak-gerak. Dengan memberanikan diri, Kimura membuka kotak kayu berwarna perak itu.
"Ah..." Kimura melompat ke belakang, karena kaget melihat dua buah katana seperti sedang saling berbenturan.
"Itukan...Pedang katana warisan Klan ku..." Ucapnya, karena salah satu dari pedang katana keduanya yang terdapat di dalam kotak kayu itu adalah katana yang selama ini dia bawa ke mana-mana.
__ADS_1
"Aku baru ingat dengan katana ini..." Katanya sambil terus memandang ke kedua katana yang sekarang bergerak keluar sendirinya dari lemari kayu.