
"Tetua Hanbei...Mohon Tetua keluar sebentar ada yang ingin saya bicarakan." Yoshi berkata dengan intonasi sedang, meskipun dia tidak menyukai Hanbei, tetapi dalam silsilah Samurai, seorang Tetua yang memiliki kewenangan lebih tinggi harus di hormati. Dia saat ini telah berada di gerbang Vila Bambu kediaman Hanbei.
Sementara, di halaman Vila Bambu tersebut terlihat seorang wanita yang sedang menyapu membersihkan halaman. Wanita yang sekilas berusia 30 tahunan itu, adalah istri dari Hanbei, sekaligus ibu dari Kimura. Namanya Ito Azumi.
"Iya...Tunggu!" Azumi yang mendengar seseorang seperti sedang memanggil nama suaminya langsung berlari menuju ke arah sumber suara dan membuka gerbang.
"Salam Adik-Chan apakah Tetua Hanbei ada di dalam?" ucap Yoshi terlihat ia seperti salah tingkah.
Azumi hanya tersenyum, lalu mengatup kedua tangan di depan wajah nya membalas salam Yoshi.
"Mohon maaf Tetua, suamiku belum kembali sepertinya ada yang sedang ia kerjakan," ucap Azumi.
"Oo..oh. Iya adik-Chan, tetapi bolehkah aku menunggunya di sini sampai Tetua Hanbei datang," Yoshi berkata dengan tutur kata yang sangat ramah.
Azumi tidak langsung menjawabnya, dia terlihat sedang berfikir, takut nanti di marahi oleh suaminya atau anggota Klan yang tidak sengaja melihatnya memasukkan tamu lelaki ke kediamannya.
Ada peraturan tertulis di Klan ini apabila seorang samurai yang sudah berkeluarga. Jiika, di berikan tugas oleh Ketua dari Klannya dan harus meninggalkan keluarganya dalam waktu yang cukup lama, maka sang istri yang di tinggal pergi oleh suaminya, harus menjaga kediaman tempatnya tinggal agar tidak memasukkan seorang lelaki ke dalam, selain keluarganya.
Namun, menurut Azumi ia tidak akan melanggar karena yang menjadi tamunya sekarang adalah seorang Tetua dari Klan ini sendiri.
"Kalau begitu silahkan menunggu di dalam Tetua..." ucap Azumi seraya mempersilahkan tamunya masuk.
"Akai... lebih baik kamu kembali ke aula nanti guru akan segera menyusul," kata Tanaka Yoshi terhadap Akai.
Perasaan lega segera menyelimuti hati Akai, setelah mendengar perkataan dari gurunya, "Siap guru," balasnya, dengan wajah yang seketika berubah menjadi sumringah.
"Anak pintar..." gumam Tanaka Yoshi sambil tersenyum tipis.
"Apakah ada masalah Tetua...?" tanya Azumi dengan polosnya, melihat Tetua itu tidak berjalan masuk.
"Um.. tidak apa apa," jawab Tanaka Yoshi.
"Kalau begitu mari masuk Tetua..." ucap Azumi.
Yoshi hanya mengangguk tersenyum, lalu melangkah masuk.
**
Beberapa waktu berlalu, terlihat Yoshi sudah mulai gusar menunggu Hanbei yang entah kapan akan datang, tetapi kegusaran itu seketika hilang ketika melihat Azumi membawa secangkir gelas teh.
__ADS_1
"Sambil menunggu suamiku, silahkan Tetua minum terlebih dahulu..." Azumi mempersilahkan Yoshi untuk minum.
"Makasih atas keramahannya Adik-Chan..." Yoshi berkata seraya mengambil secangkir teh dan meneguknya, setelah itu kembali berkata, "Apakah Adik-Chan mencintai Tetua Hanbei?"
Azumi tidak mengekspektasikan pertanyaan tersebut akan di dengarnya, apalagi pertanyaan itu di sampaikan oleh seorang Tetua.
"Mengapa Tetua bertanya demikian?" tanya Azumi, terlihat bingung.
Tanaka Yoshi yang sudah tahu akan di tanya balik. Dia kemudian kembali Membuka suara, " jawab saja adik-Chan pertanyaanku." Katanya pelan.
Azumi yang merasa tidak nyaman atas pertanyaan itu, berniat pergi meninggalkan tamunya sendirian.
Namun, segera di tahan oleh Tanaka Yoshi yang memegang tangannya, "Adik-Chan sedari dulu aku sudah mencintaimu, saat pertama kali kita bertemu," Yoshi memegang erat tangan Azumi.
Pertemuan pertama mereka terjadi pada saat Hanbei dan Yoshi di berikan tugas. Mereka berdua singgah di salah satu Kedai, karena ingin mengisi perut yang sudah beberapa hari belum di isi setelah perjalanan yang terus menerus tanpa istirahat.
Azumi yang menjadi pelayan di tempat makan tersebut segera menghampiri mereka berdua menawarkan berbagai macam menu makanan. Yoshi yang melihatnya pada saat itu seketika memiliki ketertarikan. Namun, Azumi lebih menyukai Hanbei yang terkesan pendiam dan dingin.
Waktu itu pun terus berlanjut setiap mereka berdua di berikan tugas. Mereka pasti sempatkan untuk mampir ke Kedai tempat Azumi bekerja.
Karena keseringan mampir ke kedai itu dan terus bertemu Azumi, benih-benih cinta pun mulai tumbuh di hati Hanbei. Beberapa tahun kemudian Hanbei mengajak Azumi untuk ke Klannya, lalu melangsungkan pernikahan dan menjalani kehidupannya di sini.
"Tetua Yoshi, tolong lepaskan!" Azumi agak merintih kesakitan ketika tangannya di genggam oleh lelaki itu.
"Apakah Tetua sudah kehilangan akal ?! Aku ini sudah mempunyai suami yang sangat aku cintai!," Azumi berkata dengan intonasi sedikit meninggi.
"Aku tidak perduli kamu sudah punya suami atau tidak. Segera, aku akan membunuh Hanbei kalau Adik-Chan ingin ikut bersamaku," ucap Yoshi dengan muka memelas, tetapi dengan nada bicara sedikit berubah.
Bukannya menjadi tenang, Azumi malah semakin murka dan memberontak mendengar suaminya ingin di bunuh.
"Lepaskan aku, lepaskan aku Tetua, lepaskan!" Azumi berusaha meronta, namun dengan tenaga yang ia miliki tetap saja itu tidak menghasilkan apa apa.
Karena sudah tidak memiliki jalan lain dan lelaki di depannya ini sudah tidak bisa di ajak bicara, ia lantas mengambil Vas Bunga Kaca yang berada di sampingnya lalu menghantamkannya ke wajah Tetua itu.
Dahi Tanaka Yoshi mengeluarkan darah, akibat hantaman Van Bunga tersebut. Tapi, seperti orang yang sudah kehilangan kewarasan, dia semakin senang setelah mendapat hantaman dari Azumi.
"Lagi-lagi, Adik-Chan!" ucapnya sembari tersenyum menggoda.
Azumi berteriak minta tolong ketika melihat lelaki didepannya membuka kimononya setengah badan yang hanya menunjukkan dadanya.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang mendengar suaramu Adik-Chan. Semua murid dan guru sedang berada di aula utama." Nada ucapannya semakin berubah, terlihat telah di kuasai oleh nafsu bejatnya. Setelah berkata demikian, ia mulai menyentuh bagian badan Azumi.
Melihat Azumi yang semakin meronta, dia lantas mengikat kedua tangan Azumi, dengan menggunakan tali pinggang Jubahnya.
Awal sebuah kehancuran pun terjadi...
**
Hanbei yang berniat berjalan bersama Kimura untuk pulang, tak sengaja bertemu dengan tangan kanan sang Ketua Klan yaitu Uesugi Kansuke. Kansuke adalah tangan kanan dari Ketua Klan dan sering di percayakan untuk menjalani tugas yang di mandati ketuanya.
"Tetua Hanbei... Aku di perintahkan Ketua untuk menyampaikan pesan agar anda segera menemuinya," Kansuke berkata sambil badan membungkuk memberi hormat.
"Anda selalu bersikap seperti itu kepadaku Tuan Kansuke," ucapnya. Ia yang tidak nyaman di beri hormat seperti itu, segera mengangkat badan Kansuke.
"Dan anda juga selalu bersikap seperti ini, Tetua Hanbei. Ini yang saya sangat kagumi dari anda," balas Kansuke, sembari tersenyum tipis.
"Jika tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, saya mohon undur diri, Tetua. Ada urusan lain yang lebih penting yang saya harus urus," ucap Kansuke.
"Silahkan tuan Kansuke," balas Hanbei sembari tersenyum ramah.
Namun sebelum pergi, mata sang tangan kanan Ketua itu, tidak sengaja menangkap seorang anak lelaki yang sekilas sedang beranjak remaja, berdiri di sisi kanan Hanbei.
"Apakah ini anak Tetua Hanbei?" tanya Kansuke.
"Um," Hanbei hanya mengangguk.
"Bolehkah, aku mengetahui nama keponakanku ini, ucap Kansuke.
Hanbei kemudian menyuruh Kimura memperkenalkan dirinya, "Nak. Coba perkenalkan dirimu kepada paman Kansuke."
Mendengar perkataan Ayahnya, Kimura kemudian maju melangkah kemudian memberi hormat dengan cara seperti kebanyakan samurai memberi hormat kepada majikannya.
"Perkenalkan nama junior ini adalah Uesugi Kimura," ujar Kimura, masih dalam posisi memberi hormat.
Kansuke tersenyum, melihat kesopanan dan tata krama yang Kimura tunjukkan. Jarang sekali seorang samurai anak zaman sekarang memiliki kepribadian seperti anak itu.
"Kalau begitu aku pamit Tetua Hanbei, mohon maaf menganggu kebersamaan kalian berdua..." ucap Kansuke sembari sekali lagi memberi hormat.
"Tidak sama sekali, Tuan Kansuke," balas Hanbei ramah.
__ADS_1
Hanbei menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap Kansuke yang sudah berada jauh di depannya.
Selepas kepergian Kansuke, mereka pun berdua segera bergegas pergi ke kediaman Ketuanya.